Tuan Chairil

Karya . Dikliping tanggal 5 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
RAMBUT lelaki tigapuluhan yang duduk di bangku pelabuhan itu kumal seperti sekian bulan tak tersentuh air shampoo. Wajahnya kusam serupa langit berlapis awan. Setangkup bibirnya yang kering pasti terus mengisap sigaret murahan. Matanya cekung tak bercahaya. Menatap jauh ke lautan. Terkadang menyelisik di celah-celah deretan kapal yang betlabuh.
Orang-orang yang aku tanya tentang lelaki itu mengatakan, “Ia orang gila!” lanjut orang-orang, “Hampir setiap hari, ia selalu membaca puisi. Ia pula sering meneriakkan nama Aryati.”
Semakin penasaran aku untuk tahu siapa sebenarnya lelaki itu. Karenanya, bila sedang emncari udara menjelang senja di tepi pelabuhan, aku menyempatkan ngopi di warung milik Barzizah. Mencari tahu identitas lengkap lelaki yang mengingatkanku pada salah seorang nama penyair besar

di negeri ini. Negeri yang tengah dijajah oleh bangsanya sendiri.

“Penyair besar?” kata Barzizah sambil tertawa ngakak. “Masak penyair besar seperti orang gila. Bisa ngopi, ngrokok, dan nyarap; kalau aku kasih. Mbok jangan mengada-ada? Nanti aku bisa ikut gila!”
“Benar, Yu!” Ucapku tegas. “Keyakinanku, ia adalah Chairil Anwar. Penyair besar yang kembali dilahirkan di muka bumi untuk mendapatkan cinta Aryati. Gadis pujaannya yang terus mengganggu di alam kematian sebelumnya.”
“Sudahlah, Dik Win! Jangan ngelantur! Apakah kau sudah ikut gila? Masak orang mati dapat lahir kembali di dunia?”

Tak mau berdebat panjang-lebar dengan Barzizah, aku tinggalkan warung sesudah membayar secangkir kopi. Menghampiri lelaki yang masih duduk di bangku pelabuhan. Dari caranya memandnag laut, aku semakin yakin. Ia adalah reinkarnasi Chairil. Terlebih ketika ia menunjuk mercucuar pelabuhan, sambil membaca puisinya Senja di Pelabuhan Kecil dengan penuh misteri.

Baca juga:  Sang Penyair
“Luar biasa!” pujiku sambil bertepuk tangan atas bacaan puisi yang baru saja dituntaskan oleh lelaki itu. “Sungguh baca puisi yang sempurna. Aku kagum kepadamu, Tuan Chairil.”
“Dari mana kau tahu namaku?”
“Dari caramu membaca puisi. Dari caramu menghisap sigaret. Dari caramu memandang lautan yang menyerupai bentang kehidupan,” jawabku enteng. “Aku mengagumimu lebih dari politikus negeri ini yang sekadar pintar beretorika, namun hatinya sebusuk bangkai tikus.”
“Tapi tak segila dirimu?”
“Apa aku gila?”
“Hanya orang gila yang mengagumi orang gila seperti diriku ini.” Lelaki itu tertawa aneh. “Tapi tak mengapa? Di zaman jungkir balik, orang waras akan dianggap gila. Orang gila dianggap waras. Politikus-politikus yang korupsi bermiliar-miliar rupiah dianggap wajar. Orang-orang jujur yang mengabdi pada keluhuran budi lewat sastra dianggap gemblung.”
Sebagaimana lelaki itu, aku tertawa lepas. Selang beberapa saat, aku mendadak sedih. Manakala wajahnya tampak menyiratkan kedukaan. Kedua matanya berkaca-kaca serupa sepasang batu cincin yang telah sempurna digosok dengan serbuk intan. Air matanya meleleh di pipi yang kusut.
“Kenapa kau bersedih?”
“Sudah berbbulan-bulan aku menunggu Aryati-ku di sini, namun tak pernah kunjung datang. Kapal-kapal yang datang hanya mengantarkan TKW liar dan penyelundup narkoba.”
“Barangkali Aryati tak pernah datang, sebagaimana Ratu Adil yang hanya ada di alam ide orang-orang Jawa,” celetukku. “Karenanya, aku mulai curiga. Aryati hanya ada dalam alam idemu. Ide dari seorang penyair yang selalu merasa kesepian dari cinta dan keadilan di tengah zaman jungkir-balik.”
Lelaki itu terdiam. Demikian pula, aku. Terdiam dalam kebisuan senja yang turun bersama dinginnya udara dari puncak bukit. Tidak sebagaiamna ia yang tetap duduk di bangku, aku tinggalkan pelabuhan dengan kapal-kapal

yang mulai menyalakan lampunya.

Sepanjang perjalanan pulang, aku merasa diriku senasib dengan ellaki itu. Merasa kesepian di dlama rumah yang bermandikan cerlang cahaya, namun tak memberikan cinta dan keadilan. Rumah yang menyerupai bangunan negeri ini. Terkesan megah dengan slogan besarnya, namun tak memberikan kenyamanan cinta dan keadilan pada seluruh rakyatnya. Karenanya, keputusanku telah bulat untuk hidup menggelandang seperti lelaki di pelabuhan itu. Hidup cara orang gila, agar dapat melupakan segala persoalan yang mendera.
Pagi hari, aku tinggalkan rumah. Dengan t-shirt kumal, jeans robek di bagian lutut, dan sandal jepit selen; aku menuju pelabuhan. Tak ada tujuan, selain kembali menemui lelaki itu. Belajar menulis dan membaca puisi padanya. Sambil berharap datangnya cinta dan keadilan dari langit atas negeriku yang telah menyerupai perahu dengan koyak-moyak layarnya.
Setiba di pelabuhan, aku tak melihat lelaki itu. Hanya orang-orang yang berkerumun di warung Barzizah. Mereka ramai membicarakan tentang orang gila yang ditangkap oleh sekawanan security pelabuhan. Mereka pula ramai membicarakan bahwa para security itu telah menghajar orang gila, sebelum melemparkan tubuhnya yang dekil ke atas truk sampah.
“Apakah orang gila yang dimaksud, Tuan Chairil?” tanyaku pada Barzizah. “Kenapa ia diangkap? Salah apa, Yu?”
“Mengganggu orang-orang di pelabuhan.”
Aku tertawa lantang, saat mendengar jawaban Barzizah. Bukan menertawakan pemilik warung itu, melainkan kenaifan tindakan dari sekawanan security pelabuhan yang tugasnya tak lebih sebagai kacung penguasa. Menertawakan penguasa yang matanya tak lagi jeli membedakan mana orang gila mana orang waras. AKu terus tertawa sambil menyusuri tepian pelabuhan itu. Hingga orang-orang yang masih berkerumun di warung itu, mengatakan kalau aku telah gila. [] -g
Cilacap, April 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sri Wintala Ahmad
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 3 Mei 2015