Bapak yang Berkumis dan Bau Kopi

Karya . Dikliping tanggal 1 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
Aku rindu Bapak…. 
Aku rindu Bapak…. 
Aku rindu kumis Bapak…. 
Aku rindu bau Bapak… 
Bapak bau kopi….
Aku rindu Bapak…
MENULIS apa, Zadib?” Ibu mengelus lembut kepalaku. Ibu sudah pergi. Dulu. Dulu saat mengirimku ke dunia. Ini Ibu Baru. Ibu Baru sayang padaku. Aku sayang pada Ibu baru. Tapi aku rindu Bapak. Rindu kumis Bapak. Rindu bau Bapak. Bapak bau kopi. Aku suka kopi. Ibu Baru bau
permen karet. Aku tidak suka. Aku meremas kertasku. Ibu Barutidak boleh lihat. Nanti Ibu Baru sedih.
Ibu Baru tidak boleh sedih. Aku bisa ikut sedih. Aku tidak suka sedih. Kata Bapak anak laki-laki tidak boleh sedih. Tapi Bapak tidak ada. Yang ada hanya Ibu Baru. Aku tetap tidak boleh sedih.
”Sudah malam, lekas tidur, Sayang. Besok kamu harus sekolah. Ibu berangkat kerja dulu ya.” 
Ibu Baru mengecup keningku. Aku mengecup pipinya. Bau permen karet. Aku tidak suka. Aku suka bau kopi. Aku pergi ke tempat tidur. Di dinding di atas kakiku ada sebuah foto. Foto Ibu dan Bapak. Lengan Bapak merangkul pundak Ibu. Ibu tersenyum. Bapak juga tersenyum. Ibu berambut panjang. Warna rambut Ibu hitam. Bapak berambut pendek. Bapak punya kumis. Aku rindu kumis Bapak. Tapi Ibu dan Bapak sekarang tidak ada. Aku rindu Ibu. Tapi aku lebih rindu Bapak.
Bapak pergi karena aku sering mengamuk. Aku mengamuk sambil menyebut Ibu. Aku mau Ibu. Teman-teman mengejekku. Aku tidak punya Ibu. Kata teman-teman aku lahir dari batu. Ibuku batu. Padahal ibuku bukan batu. Ibuku punya rambut panjang berwarna hitam. Batu tidak punya rambut. Ibuku bukan batu.
Aku mengamuk meminta Ibu. Aku mau teman-teman lihat ibuku. Ibuku bukan batu. Lalu Bapak pergi. Bapak pergi mencari Ibu. Bapak pergi lama sekali. Aku tidak sekolah selama Bapak pergi. Bapak Guru datang. Teman-teman datang.
”Zadib, sudah seminggu kamu tidak sekolah, kamu sakit?” Bapak Guru memegang keningku.
Aku menggeleng.
”Bapakmu mana?”
Aku menggeleng. Aku ingin bilang Bapak mencari Ibu. Tapi nanti teman-teman mengejekku. Aku tidak mau iejek. Jadi aku diam saja. 
”Kalau ibumu mana?” Fikar bertanya sambil tertawa. Teman-teman lain ikut tertawa. Tapi aku tidak bisa ikut tertawa. Jadi aku teriak. Teman-temanku berdiri dari kursi. Mereka mundur ketakutan.
”Zadib mengamuk! Hati-hati!” Fikar berkata lantang. Aku semakin keras berteriak. Aku ingin mereka diam. Mereka tidak boleh mengejekku. Aku tidak suka diejek.
”Zadib, tenang ya, teman-teman hanya bercanda.” Bapak Guru mendekatiku. 
Aku diam. Bapak Guru baik padaku. Aku tidak mau Bapak Guru ketakutan. Ibu pergi. Bapak pergi. Aku tidak mau Bapak Guru pergi. adi aku diam agar Bapak Guru tidak ketakutan.
”Sudah idiot, tidak punya ibu lagi.”
”Bapaknya juga pergi. Kasihan ya….”
”Tidak ada yang mau bersamanya. Dia kan idiot.”
Satu per satu teman-teman bersuara. Suara mereka tidak enak. Aku tidak suka mendengar suara seperti itu. Aku berteriak lagi. Aku tidak ingin menakuti siapa pun. Aku berteriak agar suara-suara itu
hilang. Tapi semuanya berlari keluar rumah.

Baca juga:  Mati Setelah Mati
”Zadib mengamuk lagi. Lari!” Bapak Guru juga berlari. Aku sendirian. Ibu pergi. Bapak pergi. Bapak
Guru pergi. Teman-teman pergi. Aku sendirian. Tetangga yang sering memberi makan juga hanya
berdiri mengintip di depan pintu. Tidak berani masuk. Padahal aku tidak mengamuk. Aku Cuma berteriak.

***
Aku rindu Bapak…. 
Aku tidak lagi ingin Ibu…. 
Aku hanya ingin Bapak…. 
Bapak yang berkumis…. 
Bapak yang bau kopi….

DUA minggu aku tidak sekolah. Dua minggu aku menunggu Bapak. Tapi Bapak tidak pulang-pulang. Kemudian Ibu Baru datang. Rambutnya hitam panjang tapi kaku. Tidak lembut seperti Ibu.
Badannya bau permen karet. Bukan bau kopi seperti Bapak. Tapi dia baik sekali padaku. Aku menyayanginya.

”Sekarang kamu punya ibu, kamu tidak akan diejek teman-temanmu lagi.” Ibu Baru memelukku. Pipinya basah. Aku bisa merasakannya di pundakku.

”Kamu bahagia kan ada Ibu di sini? Hapus ingatanmu tentang Bapak. Sekarang yang ada hanya kamu dan Ibu.” Ibu Baru menatapku lekat-lekat.

Pipiku ikut basah. Ibu Baru pikir aku menangis karena bahagia ia hadir. Padahal aku menangis karena menyesal. Aku menyesal karena meminta Bapak mencari Ibu. Aku ingin Ibu. Tapi aku tidak ingin Bapak pergi.

”Setiap pagi Ibu akan membuatkanmu sarapan, memandikanmu, mengantarmu sekolah, melakukan hal-hal yang tidak pernah Bapak lakukan. Jadi, kamu harus bahagia hidup bersama Ibu. Lupakan Bapak.”

Aku tidak bisa mengangguk. Pipiku semakin basah. Ibu Baru memelukku lagi. Pundakku semakin basah. Sejak ada Ibu Baru aku tidak pernah menerima makan dari tetangga. Ibu Baru yang memasak. Rasanya tidak enak. Tapi aku suka. Ibu Baru memasak dengan cinta. Sejak ada Ibu Baru aku tidak pernah kesepian. Ibu Baru menemani aku setiap waktu. Ibu Baru pergi hanya saat malam.

Baca juga:  Perang Daun - Damai Air
Saat aku hendak tidur. Ibu Baru harus bekerja. Tidak seperti Bapak. Bapak menemaniku hanya saat
malam. Pagi hingga sore Bapak bekerja membangun rumah, jembatan, atau jalan. Saat malam aku harus tidur. Jadi Bapak menemani aku tidur. Tapi aku tidak bisa menemani Bapak karena aku tidur. Ibu Baru memberikan seluruh waktunya untuk menemaniku terjaga. Aku sayang Ibu Baru. Tapi aku tetap rindu Bapak.

***
Aku rindu kumis Bapak…. 
Aku rindu bau Bapak…. 
Bapak bau kopi…. 
Aku suka kopi…. 
Aku rindu Bapak…. 
Tapi Bapak tidak kembali….

SEJAK ada Ibu Baru, Bapak Guru sering main ke rumah. Sejak ada Bapak Guru, Ibu Baru tidak pergi bekerja. Ibu Baru bersama Bapak Guru di dalam kamar. Kata Ibu Baru mereka hanya memakan es krim bersama. Aku ingin ikut. Aku suka es krim. Tapi Ibu Baru bilang es krim membuatku pilek. Lalu Ibu Baru menyuruhku tidur. Bapak Guru datang hampir setiap malam. Aku senang karena Ibu Baru tidak harus pergi bekerja. Di luar gelap.

Aku takut Ibu Baru dimakan wewe. Bapak bilang: jangan keluar malammalam nanti dimakan wewe. Aku tidak tahu wewe itu apa. Tapi wewe pasti menyeramkan. Aku tidak mau Ibu Baru dimakan wewe. Jadi aku senang Ibu Baru tidak pergi bekerja. Aku senang jika Bapak Guru datang. Tapi aku tidak senang. Aku tidak diajak makan es krim bersama.

Tidak hanya Bapak Guru saja yang datang. Teman-teman kerja Bapak dulu juga datang. Aku senang. Aku tidak kesepian lagi. Tapi aku sedih. Ibu Baru sering makan es krim bersama mereka secara bergantian. Tidak hanya malam. Pagi dan siang pun. Aku cemburu. Aku juga mau makan es krim bersama Ibu Baru. Tapi Ibu Baru tidak pernah mengizinkan. Katanya es krim bikin pilek. Lalu Ibu Baru menyuruhku main di luar.

Aku keluar rumah. Aku melihat Fikar dan teman-teman sedang main gundu. Aku suka main gundu. Aku mau ikut main. Aku menghampiri mereka. Mereka menatapku. Aku mengambil gundu. Mereka merebut gunduku. Aku teriak. Teman-teman ketakutan. Ibu teman-teman datang. Mereka menarik teman-teman masuk ke rumah. Aku ditinggalkan. Aku sendirian.

Baca juga:  Tikus
”Jangan main sama Zadib, bapaknya edan.” Ibu Fikar menarik tangan Fikar.
Fikar menjulurkan lidah ke arahku. Aku diejek lagi. Aku tidak suka diejek. Padahal aku punya Ibu Baru. Tapi aku masih diejek. Aku tidak suka diejek. Aku pergi ke sekolah. Aku duduk di bangku paling depan. Aku suka di depan. Aku suka melihat Bapak Guru mengajar. Aku tidak suka di belakang. Di belakang ada Fikar dan teman-teman yang nakal. Aku tidak suka mereka.

”Idiot! Hari ini ulangan. Kamu belajar nggak? Nanti nggak naik kelas lagi lo. Nggak bosan di kelas empat terus?” Fikar berteriak dari belakang.

Aku tidak menengok. Aku menutup telingaku dengan telapak tangan. Bapak Guru terlambat datang. Ia tidak datang. Ibu Kepala Sekolah masuk kelas. Katanya Bapak Guru tidak mengajar lagi. Bapak Guru dipecat. ”Gara-gara bapak Zadib ya, Bu?”

”Fikar…,” Ibu Kepala sekolah mengingatkan. Aku berlari ke luar kelas. Aku menangis. Aku berteriak. Aku berlari ke rumah. Aku masuk ke rumah. Aku masuk ke kamar Ibu Baru. Ibu Baru sedang duduk di kursi. Ada Bapak Guru.

Bapak Guru sedang jongkok menghadap ke Ibu Baru. Kepala Bapak Guru bergerak-gerak di antara paha Ibu Baru. Tangan Ibu Baru meremas rambut Bapak Guru. Aku berteriak. Aku menangis. Aku menangis sambil berteriak. 

Aku rindu Bapak….
Aku rindu kumis Bapak….
Aku rindu bau Bapak….
Bapak wangi kopi… bukan permen karet….
Bapak berambut pendek… bukan berambut panjang kaku….
Aku rindu Bapak yang dulu, Bapak yang tidak pernah bergincu…. (62)
Tiara Kharisma Dhaneswari, mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Unnes asal Kota Magelang ini aktif menulis dan berkegiatan kesenian di kampusnya.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Tiara Kharisma Dhaneswari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 31 Mei 2015