Besok Pagi Aku Akan Mati

Karya . Dikliping tanggal 1 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Tabloid Nova
HARI ini aku masih sempat melihat sinar matahari. Juga senyummu yang berbaur dengan air mata kesedihan. Tapi mungkin besok tak akan lagi. Karena besok pagi aku akan mati. Peti matiku sudah disiapkan. Nisan bertuliskan namaku juga sudah sampai, tadi siang. Bahkan aku bisa membaca namaku sendiri di atasnya. Lengkap dengan tanggal kelahiran dan tanggal kematianku. Dan kamu masih saja bicara tentang cinta?
“Mungkinkah nanti di sana kamu akan menungguku Wuni?”
“Aku juga belum tahu keadaan di sana seperti apa, Mas.”
Haruskah aku ceritakan kepadamu tentang kata-kata yang selalu diulang-ulang oleh ustad Ali kepadaku dalam waktu tiga hari terakhir ini? Tentang cara mati yang paling baik menurut agama kita. Yakni dengan menyebut nama Tuhan dan Rosulnya. Apakah kalau sudah seperti itu nanti aku akan bisa menentukan sebuah tempat di mana aku bisa menunggumu? Aku menggigit bibir sampai terasa asin. Darah yang keluar sedikit dari bibirku, seolah memberitahuku. Dini hari nanti ia akan keluar lebih banyak lagi, membusai dari dinding jantungku, menembus sela-sela kulit dadaku.
“Kamu berbicara seperti kalau kamu hanya akan pergi ke Singapura saja, Wuni.”
“Ustad Ali selalu bilang bahwa aku memang  akan pergi ke sebuah negeri, Mas. Negeri yang sangat jauh, lebih jauh dari Singapura.”
“Wuni, sudahlah. Bisakah kita berbicara selain hal itu? Waktu kita tidak banyak. Hanya sampai pukul 4 sore, dan setelah itu…”

Kulihat kamu menelan ludahmu sendiri. Jakunmu turun naik karenanya. Matamu yang berkabut menatapku lekat-lekat, dan napasmu mulai agak sesak. Tuhan, seandainya waktu bisa dihentikan sejenak saja. Aku ingin Engkau melakukannya. Bukan untuk menunda kematianku. Hanya agar kebersamaan bersama lelakiku ini bisa berlangsung lebih lama lagi.

“Aku akan menulis sepucuk surat terakhir untukmu, Mas. Mas Sam ingin membaca kalimat tentang cinta, berapa kali?”
“Wuni… “
Kutatap semak kecil di atas sepasang matamu. Semak kecil seperti barisan perdu beluntas yang berbaris rapi di depan kantor lapas klas IIA wanita yang selama ini aku huni. Sebelum kemudian aku dipindahkan jauh di pulau terpencil ini untuk menjalani eksekusi hukumanku. Setiap kali aku kangen alismu, maka aku pandangi semak beluntas itu, Mas. Semak yang di dekatnya ada kolam jernih dengan bunga teratai putih menyembul di permukaannya. Kolam itu seperti matamu yang setia menyimpan sekuntum cinta putih untukku. Sekarang aku hanya berani menatap alismu, tanpa berani turun untuk menatap sepasang matamu. Aku tak bisa menduga seberapa dalam luka yang tersimpan di sana. Dan itu semua tersebab olehku.
“Kalau begitu, aku pun akan menulis surat untukmu Wuni! Akan kuletakkan di dalam peti mati, persis di dekat wajahmu.”
“Percuma Mas. Kau pikir aku akan mampu membacanya?”
“Kenapa? Apa kamu mulai ragu dengan kata-kata ustad Ali? Bahwa seseorang yang mati itu sesungguhnya tidaklah mati. Karena akan selalu ada kehidupan setelah mati. Tidakkah cintamu akan menguatkan ruhmu agar mampu membaca surat cinta dari suamimu?”
Tiba-tiba aku merasa peluit kematian itu akan segera berbunyi, mas. Peluit yang akan membawa keretaku beranjak menjauh darimu, menuju stasiun terakhir yang jaraknya entah berapa juta tahun cahaya. Lelah sudah kita mencoba membelok-belokkan pembicaraan agar tidak sampai pada pokok masalah tentang maut. Namun rupanya gemerincing tongkat malaikat maut itu terlalu nyaring berdering di antara kita. 
Aku menyelusupkan kepalaku di ketiakmu. Badanmu agak hangat, mas. Adakah yang bisa kulakukan selain mengguyurkan sisa-sisa air mataku? Mudah-mudahan kamu menyukai aroma terakhir air mataku. 
“Kalau saja kamu tidak harus bekerja di Singapura, Wuni.”
“Kalau saja…” kata-kataku menggantung, diserbu isak yang menyumbat kedua lubang hidungku.
Mataku terpejam. Kamu mengelus rambutku. Kurasakan bening hangat menetes di keningku. Kamu menangis lagi, mas? Dan aku menyesal karena hanya bisa memberikan kesedihan di detik-detik terakhir hidupku. 
Sementara aku justru terlalu egois. Aku ingin menikmati saat-saat terakhirku berada dalam rengkuhanmu, menyimpan aroma ketiakmu sampai dini hari nanti. Agar aku merasa tak sendiri saat belasan anggota regu tembak itu memberondongku dengan puluhan peluru tajam. 
“Aku terlalu… bodoh.”
Dalam gelap, aku merasakan seperti ada benang kasat mata serupa tali busur anak panah. Ia menarikku ke masa-masa lima tahun lalu, ke sebuah tempat di Singapura. Kak May adalah manager restoran tempatku bekerja. Ia sangat baik. Suka memberiku tip saat aku bekerja lembur. Suatu hari, aku minta ijin cuti lebaran selama seminggu. Kak May mengijinkan aku. Sebelum kepulanganku ke Indonesia, dia  memperkenalkan aku pada seseorang. Namanya Eric. 
“Kenapa kamu mau saat dikenalkan sama Eric?” Aku terkejut. Kamu seperti bisa membaca pikiranku, mas. Tali busur kenangan itu seperti terlepas, dan aku terbawa kembali ke bangku pengunjung coklat tua, di sebuah lapas tengah pulau.
“Siapa anak buah yang akan tega menyangsikan kebaikan pimpinan seperti Kak May?”
“Dan kamu menurut saja saat Eric menitipkan sebuah tas, juga uang saku US$5000?”
“Aku ingat tujuanku bekerja di Singapura, Mas. Bukankah untuk melunasi hutang-hutang kita saat mengikhtiarkan pengobatan untuk Bu’e? Aku pikir, dengan uang saku itu aku tidak perlu kembali lagi ke Singapura.”
“Kamu tidak salah, Wuni. Akulah yang salah, sebagai kepala keluarga aku….”
“Sudahlah Mas, mungkin ini cobaan dari Allah.”
Lalu kita kembali hanyut dalam angan kita masing-masing. Masih kuingat siang yang sangat terik di bandara Ahmad Yani Semarang. Keluar dari pintu bandara, aku berusaha mencari seseorang yang membawa papan nama kertas bertuliskan namaku. Seseorang yang harus aku serahi koper titipan dari Eric. Namun sebelum menyerahkan koper, aku keburu ditangkap oleh pihak keamanan bandara. Semua berpangkal pada tas berbobot 3,5 kilogram itu, yang aku tak pernah tahu pasti tentang isinya.
“Tersenyumlah, Wuni. Aku ingin mematrikan senyummu dalam ingatanku.”
Kamu menjauh, dan mulai mengambil selembar kertas. Katamu, kamu ingin menulis surat sambil memandang wajahku. Kulihat sepasang matamu menangis, meski bibirmu menyungging senyum. Namun jam dinding di ruang lapas tak memberi kita banyak waktu. Empat kali dentangnya begitu nyaring, seolah menggetarkan bilik jantungku. Dua petugas lapas wanita memegang kedua lenganku, menarikku dari jangkauan tatapanmu. Dan saatnya hampir tiba… 
@@
Aku dibawa ke ruang isolasi, hanya bersama ustad Ali, rohaniawan yang mendampingiku pada detik-detik terakhir hidupku. Aku menenangkan kegelisahanku dengan mencoba menempatkan diri sebagai bu’e yang akan masuk ke ruang operasi. Bu’e mengalami kegagalan dalam ikhtiar mengenyahkan penyakit kanker yang menyerang payudaranya. Kanker stadium lanjut hanya menyisakan satu pilihan, meninggal di meja operasi. Bu’e sudah menyiapkan sebuah kematian terbaik. Beliau banyak berdoa dan sholat meskipun sambil berbaring. Siapa pun tak pernah tahu akhir kehidupan bu’e kan mas? Seperti aku juga yang tak bisa membayangkan akhir hidupku nanti.
Karena aku tak ingin kehadiranmu memberatkan perjalananku, maka kuputuskan untuk tidak mengajakmu ke ruang isolasi. Malam-malam menuju ke saat dinihari, seperti sebuah penantian yang berujung pada gelap. Ustad Ali terus membimbingku untuk bedzikir dan bersalawat. Dulu aku pernah mendengar kalimat seorang kyai dalam sebuah pengajian, menyampaikan satu nasehat. Beribadahlah seolah-olah ini adalah hari terakhirmu. Dan hari terakhirku kini bukan seolah-olah lagi, mas.
Maka, akupun mulai menuliskan surat terakhirku untukmu. Bukan surat yang terbaik, karena tanganku begitu gemetar saat memegang pena. Ada bercak air mata di beberapa tempat. Biarlah, mungkin hal itu yang membuat suratku ini akan kau kenang selamanya.
Jam berdentang 12 kali, dan aku pun dibawa ke lapangan tempat eksekusi dengan tangan terborgol dan kepala tertutup selubung kain hitam. Tahukah kamu permintaan terakhirku mas? Aku ingin mati dengan mata terbuka. Aku ingin melihat gelapnya malam di dunia untuk terakhir kalinya. Dan mereka mengabulkan permintaanku.
Di saat tali yang melilit tubuhku mulai dikendorkan, dan selubung hitam penutup mataku mulai dibuka. Di saat itulah kulafazkan syahadatku yang terakhir. Ketika aba-aba hendak diberikan, dan mata  para algojoku menatap dengan awas lingkaran hitam di dadaku, saat itulah Tuhan telah menurunkan sebuah keajaiban. Ada telepon dari Kepolisian Diraja Malaysia. Mengabarkan bahwa May Ziana tertangkap tangan sedang membawa beberapa kilogram heroin di Johor Bahru. Aku diperlukan sebagai saksi. Eksekusiku ditunda sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. 
Saat itu aku benar-benar tidak tahu, bahwa di tempat lain kamu sedang meregang nyawa. Ada penyumbatan dalam pembuluh darah menuju jantungmu. Kamu dipanggil, dengan sepucuk surat yang belum selesai kau tulis. Sepucuk surat terakhirmu untukku. Pagi harinya, bukan darahku yang membusai, tetapi air mataku. Dan aku akan selalu menganggap bahwa besok pagi aku akan mati.
Utami Panca Dewi lahir di Kulon Progo pada tanggal 10 Juni. Selain menjadi seorang guru SMP, dia juga aktif menulis sejak 2011. Karya-karyanya berupa cerpen pernah dimuat di Majalah Kartini, Majalah Sekar, Majalah UMMI, Majalah Bobo, Majalah Kawanku, Majalah Gadis, Majalah Femina, Majalah Esquire, Harian Singgalang dan tabloid Nova.  Dua novelnya sedang dalam proses naik cetak. Untuk mengenal lebih dekat, bisa mencarinya di akun twitter @utamipancadewi
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Utami Panca Dewi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Nova”