Kidung Sandur

Karya . Dikliping tanggal 9 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Tabloid Nova
Senga’-senga’ ana’ potoh
Tadha’ maleng ekasogi
Mon dhulat bunga sakejjha’
Mon palang etangkel oreng
Ta’ etemmoh babathangngah
Bolanah posing asareh

    Grhhh!! Kejung (kidung) itu lagi! Dua tangan Murakkab mencengkeram kepalanya kuat-kuat, sementara ujung dua jempol disumbatkan ke lubang telinga. Namun, kejhung sandur yang dilantunkan Nyaeh dengan suaranya yang kadang melengking mengikuti nada panjang, lalu tiba-tiba merendah seperti orang menuruni bukit perlahan-lahan dan diakhiri dengan cengkokan seperti jalan tikungan, tetap menusuk, memaksa masuk, meskipun Murakkab berusaha menyumbat telinga rapat-rapat. Entah kenapa, akhir-akhir ini Murakkab selalu dihantui kejhungan Nyaeh. Kadang, saat lelap-lelapnya tidur, tiba-tiba Murakkab terbangun kaeran telinganya merasa dijejali suara Nyaeh yang sedang ngejhung.


    Siang itu pun, sedang sibuk-sibuknya merapikan dan menata poster-poster, stiker, spanduk bergambar lelaki gagah berjas hitam yang siap dikirim ke anak buahnya, konsentrasi Murakkab malah pecah seperti gelas dibanting ke lantai. Isi kepalanya berhamburan.

    Kejhung sandur itu lagi! Dengus Murakkab, meringis. Wajah Murakkab seolah tengah menahan sakit kepala. Lelaki itu berusaha mengusir suara kejhungan yang menusuk telinganya. Kulit wajah Murakkab berkerut-kerut. Matanya memejam rapat.

    “Kenapa? Sakit kepala?” Marinten, istri Murakkab bertanya seraya meletakkan secangkir kopi mengepul di dekat tumpukan spanduk yang selesai dilipat.

    Murakkab tidak menyahut. “Mau saya belikan obat?” Marinten menawarkan jasa. Ujung jempol yang menyumbat telinga dan kejhung sandur yang terus menusuk membuat Murakkab tidak mendengar tawaran Marinten.

@@@

Bagi Murakkab, Nyaeh memiliki seribu mata yang selalu siaga mengawasi Murakkab setiap saat. Ketika uang Nyaeh berkurang, Nyaeh bisa menebak dengan benar kalau Murakkab yang mengambil dan Murakkab diganjar pukulan sapu lidi berkali-kali, hingga bekas sapu lidi itu tergambar memar di kulit betisnya tidak hilang sampai tiga hari. Kalau sudah begitu, seharian Murakkab pergi dari rumah. Ia bersembunyi di kolong jembatan, menangkap anak mujair di sana. Murakkab baru pulang setelah Buk Nipuh datang mencari dan membujuknya pulang. Hanya Buk Nipuh yang tahu tempat persembunyian Murakkab saat ia kabur dari rumah.

    Menjelang tidur, Nyaeh melanjutkan kejhung sandur sambil memilah-milah sirih temu urat. Dari lirik-lirik kejhungan, lantas Nyaeh menjelaskan betapa pentingnya sebuah kejujuran. Jujur bertutur. Jujur belalakon, jujur bersedulur.

Baca juga:  Kasur Tanah

    “Orang yang tidak jujur tidak akan menemukan saudara. Kebahagiaan hanya tinggal sekejap. Kekayaannya tidak akan berkat. Seluruh perkataannya tidak ditanggap.” Demikian Nyaeh menjabarkan syair kejhungan-nya.

    Tentu saja Murakkab merasa tersindir karena diam-diam telah mengambil uang Nyaeh dan ia pura-pura tertidur pulas. Membungkus tubuh dan kepala dengan sarung besar peninggalan mendiang eppa’-nya. Sebagai bekas penyanyi kethoprak sandur, suara Nyaeh memang merdu. Namun tidak lantas membuat Murakkab menyukai kejhungan-nya.

    “Barangkali perasaanmu saja. Mana mungkin orang yang sudah meninggal masih bisa ngejhung?” Buk Nipuh menatap tak percaya.

    “Tidak Buk! Suara Nyaeh benar-benar nyata! Aku jelas mendengarnya. Bahkan tadi malam aku bermimpi makam Nyaeh ambruk!” sanggah Murakkab dengan rupa galau.

    Buk Nipuh tersenyum lembut. Masih seperti biasa. Dulu, setiap kali Murakkab mengadu tentang perlakuakn Nyaeh yang dinilai keterlaluan, Buk Nipuh selalu menanggapi dengan selengkung senyum di bibirnya. Mendengarkan baik-baik, dan hanya satu-dua patah kata memberi pemahaman tanpa kesan menggurui. Buk Nipuh memahami betul kalau Murakkab hanya butuh tempat mengadu. Bukan nasihat. Telinga Murakkab sudah sesak dijejali nasehat Nyaeh.

    “Padahal spanduk, poster, dan stiker itu harus segera sampai ke tangan anak buah. Tapi kepalaku nyut-nyutan karena selalu mendengar suara kejhungan Nyaeh.” Murakkab merutuk-rutuk.

    Buk Nipuh mendesah pelan.

    “”Barangkali Nyaeh rindu padamu. Ziarahlah ke makamnya.”

    “Rindu?” bibir  Murakkab yang sedikit pucat menyungging sinis. Selama ini, Murakkab  merasa diperlakukan tidak adil oleh Nyaeh. Kalau Buk Nipuh yang berbuat salah-seperti sayur keasinan atau ada batu kecil dalam nasi yang tidak dibuang- Nyaeh menegurnya dengan suara rendah, dan sekadar mengingatkan agar besok tidak berulang kembali. Namun ketika Murakkab salah memilih sirih temu urat,  Nyaeh langsung mencak-mencak dengan suaranya yang keras dan ceruk mata melebar. Kadang ludah merah campur sirih di mulut Nyaeh sampai menyembur.

    “Kerjamu tidak pernah becus! Coba perhatikan uratnya! Apa bertaut?” bentak Nyaeh serasa menunjuk urat-urat di selembar daun sirih di tangannya.

Baca juga:  Pemesan Batik

    Perlakuan-perlakuan semacam itu menjadi akar hitam yang menjalar liar di dinding kepala Murakkab, merambat ke dadanya.

    “Nyaeh sayang sama kamu. Nanti aku temani kalau kau mau ke pekuburan.”
    Kembali bibir Murakkab menyabit sinis, getir.

    “Siapa tahu kau tidak dihantui kejhungan itu lagi.”

    “Untuk apa aku menziarahinya? Selama ini, hanya Buk Nipuh cucu Nyaeh, sementara aku bukan.”  Suasana beku beberapa saat. Tanpa angin dan desahan napas.

    “Kalau Nyaeh masih hidup, beliau pasti tidak senang kau jadi pendukungnya Mudamin,”suara Buk Nipuh hampir tidak terdengar.

    Murakkab mengangkat wajah. Buk Nipuh membalas tatapannya. Sudut bibir Buk Nipuh tertarik ke samping sehingga menimbulkan cekukan dangkal di kedua pipinya. Senyumnya tertelan prihatin.

    “Kau tahu sendiri siapa Mudamin, kan? Saat menjadi kalebun saja, dana pembangunan desa banyak disunat,” lanjut Buk Nipuh, hati-hati.

    “Aku hanya bekerja sebagai tim suksesnya dan mendapat upahnya, itu saja!”

    “Tapi itu namanya mendukung orang yang tidak laik dijadikan pemimpin. Bagaimana kalau nanti ia terpilih?” Buk Nipuh bertanya lirih.

    Murakkab membisu.

    “Kau tahu berapa dana pembangunan jembatan desa yang disunat kemarin? Katanya, lebih dari 50%! Akibatnya, kau lihat sendiri. Jembatan itu ditafsir akan segera ambruk tak lebih dari usia dua tahun!”

    “Itu bukan urursanku. Tugasku hanya merampungkan pekerjaan. Itu saja!” Elak Murakkab.

    “Tapi kau mendukung orang yang nyata-nyata tidak benar. Barangkali itu yang membuatmu dihantui kejhungan Nyaeh,” suara Buk Nipuh sedikit mendaki.

    “Ah!” Murakkab melengos tidak percaya.

@@@

    Bayang sebatang pohon nyiur melintang dia atas jembatan. Langkah Murakkab terhenti di ujung jembatan yang baru setahun lalu selesai dibangun. Ketika Murakkab masih menjadi kalebun.

    Dulu, jembatan yang melintang di atas sungai curam itu hanya terbuat dari bambu berpenyangga kayu. Ketika sungai tidak mampu menampung banjir saat musim hujan dan mengambrukkan jembatan, segenap warga bergotong-royong memperbaikinya.

    Sekarang jembatan bambu sudah diganti jembatan jor dengan dana bantuan pemerintah. Pohon-pohon tarebung yang tumbuh di tepi sungai ditebang hingga jembatan tidak terkesan menyeramkan.

Baca juga:  Sofa Hijau Toska

    Kembali terngiang-ngiang Buk Nipuh tadi siang. Namun Murakkab segera menepisnya. Yang penting, upah dari Mudamin dan janji-janji yang dihamburkan kalau terpilih sebagai anggota legeslatif tunai diterimanya. Persetan uang itu didapatkan darimana oleh Mudamin.

    Murakkab melanjutkan perjalanan, menyebrangi jembatan. Satu plastik kresek berisi stiker, spanduk dan poster-poster ditentengnya.

    Matahari menukik, nyaris tenggelam dalam awan batu yang mengelabu pekat di ufuk barat.

@@@

    Sudah satu jam langit menumpahkan hujan. Dari balik jendela, Murakkab menyaksikan kabut menebal di kejauhan. Pelepah nyiur kering jatuh terempas angin, membujur di seruas jalan di seberang halaman.

    Kilat berkelebat cepat. Petir menyentak. Angin mengempas. Buru-buru Murakkab mundur dari bingkai karena kabut gerimis menyerang ke arahnya. Petir bagi Murakkab seperti suara hentakan Nyaeh, bukan serupa murkanya banakeron seperti yang sering dikatakan seorang ibu pada anaknya yang merengek ingin hujan-hujanan.

    “Kab, gawat Kab!”

    Murakkab mendengar teriakan bernada cemas di luar. Murakkab membuka pintu. Di depan rumah, Mudamin berdiri dengan wajah cemas dan tubuh basah kuyup.

    “Ada apa, Pak?”

    “Air sungai meluap, Ka! Jembatannya ambruk! Orang-orang justru mengamuk di rumahku. Melempari rumahku dengan batu. Izinkan aku berlindung di rumahmu,” bibir Mudamin menggigil. Membiru.

    Murakkab dan Marinten saling pandang dengan tatapan bingung, tidak bisa melarang saat Mudamin menerobos masuk. Belum sempat Murakkab menutup pintu, terdengar teriakan-teriakan lantang di antara deru hujan

    “Orang-orang itu mengejar kemari!” Suara Marinten bergetar cemas.

    “Keluar kau, Min! Aku tahu kamu bersembunyi di dalam!” Teriakan-teriakan orang yang sudah memadati halaman meluapkan kemarahan. Masing-masing menggenggam batu di kedua tangan.

    Murakkab tercekat di ambang pintu. Tangan Marinten gigil merengkuh lengan Murakkab. Murakkab teringat makam Nyaeh yang ambruk dalam mimpinya saat batu-batu besar dilemparkan ke rumahnya.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muna Masyari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Nova” pada 7 Juni 2015