Panggil Aku Kering

Karya . Dikliping tanggal 22 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
LAYAKNYA rerumput di savana yang lama tak terjamah butiran hujan begitulah hidupku saat ini. Kering.
Telah hampir setahun aku tinggal di kota Pelajar ini dengan menyandang status mahasiswa. Hari demi hari membosankan berlalu begitu saja. Sama sekali tak ada yang menarik. Pagi berangkat ke kampus, masuk kelas, berganti mata kuliah, sore pulang, Kadang ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Ya, hidupku hanya berkutat antara kampus, kadang perpus, dan tempat kos.
Di kampus, temanku hanya segelintir saja. Itu pun tak ada yang akrab. Hanya sekadar saling sapa saja ketika kebetulan berpapasan. Barangkali itulah yang namanya formalitas belaka. Maka, jangan tanya soal kekasih. Teman akrab pun aku tak punya, apalagi kekasih. Sialnya, masalah kekasih inilah membuatku benar-benar merasa tersiksa.
Seringkali, ketika aku menelepon teman-teman di kampungku dengan niat untuk bernostalgia dan mengobati kerinduan yang mendera, mereka malah menanyakan tentang apakah aku sudah punya pacar atau belum. Itu membuatku tersinggung. Jengkel. Dan saat mereka sudah mulai mengejekku dengan cara membanding-bandingkan antara aku dengan adikku, yang kata mereka meskipun masih SMA sudah berpacaran beberapa kali, aku pun langsung menutup sambungan telepon itu.
Dengan status belum mempunyai kekasih alias jomblo, terkadang aku merasa beruntung, namun tak jarang pula malah merasa sial. Aku merasa beruntung, karena dengan tidak berkekasih, aku jadi terhindarkan dari hal-hal yang dilarang agama. Di sisi yang lain, aku merasa sial, sebab ya itu tadi: diejek teman-teman. Aku bahkan tak sanggup membayangkan bagaimana ketika pulang kampung nanti. Akan sedahsyat apa lagi ejekan mereka terhadapku?
Kalau sudah begitu, kadang aku ingin berteriak sekeras mungkin agar beban di kepala ini enyah seiring embusan napas. Selama berhari-hari, kepalaku seolah terus dicengkeram masalah status ini. Aku harus menemukan jalan keluarnya.
Di suatu sore yang ramah, ketika sedang dalam perjalanan pulang dari kampus ke tempat kos dengan berjalan kaki, tiba-tiba aku tersadar. Ya, akhirnya kutemukan jawabannya, bahwa untuk mengakhiri status jomblo ini aku harus berusaha. 
“Bagaimana mungkin aku akan mendapatkan seorang kekasih, tanpa usaha mencarinya?” batinku saat itu.
***
SELAMA ini aku memang jarang sekali memperhatikan teman perempuan di kampus, terutama di kelasku. Bukan karena aku tidak tertarik pada perempuan. Tentu aku masihlah lelaki normal. Hal terbesar yang membuat selalu mengabaikan mereka, sikap mereka yang rata-rata masih kekanak-kanakan; yang di kampus kerjanya cuma selfie dan bergosip tak jelas. Ya, aku sadar betul bahwa mungkin itulah salah satu hal yang menyebabkan aku masih menjomblo sampai sekarang.
Namun, untuk mengakhiri status jombloku, sepertinya aku harus berdamai dengan keadaan. Proses pendamaian ini memang memakan waktu, tapi itu tak lama. Sebab, nyatanya aku mulai bisa memperhatikan mereka. Dan satu-satunya perempuan yang menarik perhatianku adalah seorang perempuan asal Pantura itu. Icha namanya.
Orangnya tidak tinggi, tapi juga tidak pendek. Manis wajahnya bak batang tebu yang tak pernah habis disesap sarinya. Kulitnya speutih mutiara di dalam kerang yang belum pernah ditemukan. Di kampus, ia seringkali memakai celana dan jarang sekali memakai rok.
Icha sama sekali berbeda dengan perempuan-perempuan lain di kampus. Tentu bukan hanya karena penampilan fisiknya saja, melainkan juga karakternya yang unik. Ia tak banyak bicara, bahkan cenderung pendiam. Perangainya amat judes mendekati tomboi, sehingga sama seali tak menampakkan bahwa dirinya adalah perempuan manja. Dan apa yang paling menjadi ciri khas Icha ialah kebiasaannya yang sering sekali datang telat. Bahkan aku masih ingat bahwa suatu hari ia pernah telat masuk kelas sampai lebih empat puluh menit. Ya, begitulah Icha.
Suatu hari, entah bagaimana mulanya, aku memberanikan diri untuk meminta pin BBM-nya. Awalnya ia tampak ragu untuk memberikannya padaku, tapi akhirnya ia kasih juga. Tentu ia tidak akan pernah tahu betapa bahagianya aku saat itu.
Hari demi hari berikutnya terasa lebih indah dari biasanya. Penyebabnya apa lagi kalau bukan karena intensnya aku chatting dengan Icha di BBM. Dari proses chatting itu, aku mulai sadar bahwa sebenarnya Icha sangat asyik orangnya. Tak sekaku yang kubayangkan selama ini. Dari situ, aku pun tahu kalau ternyata ia ikut ekstrakurikuler taekwondo kampus.
***
SUDAH beberapa hari ini pesan BBM-ku ke Icha selalu menampilkan tanda centang. Itu membuatku merasa amat rindu untuk membaca pesan-pesannya.
“Pesan ke BBM-mu kok centang terus sih, Cha?” tanyaku pagi tadi saat bertemu Icha di parkiran.
“Iya, handphone-ku pecah,” jawabnya dengan raut penyesalan seraya mengeluarkan handphone-nya dari dalam tas.
“Lho, tidak kamu bawa ke tukang servis?”
“Kemarin sudah, tapi mahal banget ongkosnya. Malah lebih mahal dari harga handphone-nya kalau dijual.”
Akhirnya Icha pun berlalu dengan motornya setelah sebelumnya kutanyakan tentang kapan ia latihan taekwondo. Ia bilang dua kali seminggu: tiap malam Kamis dan Sabtu. Dalam hati aku berjanji bahwa suatu saat aku akan datang dan menonton latihannya. 
Tapi, suatu bayangan seketika berkelebat di kepalaku. Dalam bayangan itu tergambar, bahwa suatu malam aku datang menonton Icha latihan. Namun, ketika latihan usai, ia malah bergandengan tangan dengan seorang lelaki di depan mataku.
Tegal, 2014-2015

Nurmustika Hanifiharti, Prodi Siyasah fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nurmustika Hanifiharti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 21 Juni 2015