Relawan Berbadan Tegap

Karya . Dikliping tanggal 15 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
LELEHAN air mata menemaniku lagi malam ini. Ketika tahu kejadian itu memang aku sangat merasakan kesedihan begitu mendalam. Bagaimana tidak?
Kisah dimulai saat SMA. Dodi menjadi teman paling unik. Perkenalan kami dimuali saat jam istirahat. Suasana panas siang itu membuatku bergegas menuju kantin. Dengan seenaknya dia mengambil minuman botol yang aku incar dari awal dan tersisa satu-satunya. Kami sama-sama menjulurkan tangan, tapi akhirnya aku menariknya. Dia yang berhasil mengambil minuman incaranku.
“Sial,” batinku. Lebih sial lagi. aku jutstru terkesima melihatnya.
Penampilannya yang rapi membuatku sekejap lupa untuk marah. Sedetik kemudian aku tersadar dan berusaha merebut minuman itu. Terang saja aku kalah, dia laki-laki berbadan tegap sedangkan aku hanya seorang wanita bertubuh mungil. Dengan santainya dia segera membayar lalu mengeloyor. Sambil bersungut-sungut akhirnya aku mengambil minuman lain.
Di antara butiran yang masih menggenang, aku tersenyum mengenang pertemuan pertama kami dulu. Dodi siswa pindahan dari Solo. Keluarganya menitipkan kepada tantenya yang guru fisika di sekolah kami.
Di kelas XII kami ditempatkan. Sejauh itu kami justru tak begitu akrab. Dia suka jail, meski kuakui dia siswa cerdas. Tak jarang dia membantu teman-teman yang mengalami kesulitan soal pelajaran.

Kisah kedekatan kami justru mulai terjalin saat duduk di bangku kuliah. Entah berawal dari mana, yang pasti kami mulai menjadi patner yang cukup baik saat menjadi relawan gunung meletus di sebuah daerah. Aku mulai respek kepada Dodi manakala ia dengan hati-hati memapah seorang nenek yang kerepotan menaiki sebuah tangga, saat evakuasi korban. Satu lagi pemandangan yang membuatku kagum kepadanya, saat dia menggendong bayi berumur sekitar kurang setahun. Ibu si si bayi berjalan menaiki tangga dengan hati-hati mengikutinya dari belakang menuju tempat evakuasi.

Baca juga:  Kasandra
“Asty, bantu aku membawa tas-tas ini. Jangan berdiri saja mematung. Apa sih yang sedang kamu pikirkan?” seru Ine mengagetkanku.
“Eh, iya,” jawabku singkat dan bergegas menghampiri Ine.
“Kamu sakit?” tanya Ine setelah aku membantunya membawa sebuah tas besar milik pengungsi.
“Ah, tidak. Cepat kita ambil tas-tas itu lagi,” jawabku mengalihkan perbincangan.
Sungguh hari itu aku dibuat linglung dan jantung berdegup lebih kencang.
Hari berikutnya, sengaja aku tak bergabung menjadi relawan. Hanya sekadar ingin memastikan jika hatiku baik-baik saja. Beberapa bulan terakhir kami menjadi lebih dekat. Itu pun bukan tanpa sepengetahuan Ine, sahabatku. Meski aku selalu menjelaskan tak ada perasaan apa pun kepada Dodi, tetapi naluri Ine sebagai orang yang paham tentang perubahan sahabatnya, ia meyakinkan aku kalau aku perlahan akan suka Dodi. Biasanya aku hanya membalas dengan gelak tawa dan geleng-geleng kepala.
“Asty, tadi kamu dicari Dodi tuh,” ucap Ine dari seberang usai melakukan evakuasi korban hari kedua.
“Alamaakk,” batinku. Detak jantungku mendadak berdegup kencang mendengar nama itu disebut.
“Sial, apa aku beneran kesengsem sama dia?” Batin mulai memberontak.
“Soi, kok diam?”
***
SUDAH kesekian kalinya aku, Ine, dan tentu saja Dodi terjun menjadi relawan. Masih ada beberapa teman lain yang selalu menjadi patner kami melakukan kegiatan kemanusiaan. Gunung meletus, gempa, tanah longsor dan banjir ibarat sebuah medan pengabdian. Namun, untuk kegiatan kali ini aku tak bisa ikut. Nenek sakit keras dan keluarga harus ke Subang untuk menjenguknya. Longsor kemarin sore, disertai banjir jauh dari tempat kami. Ibu tak mengizinkan aku ikut serta.
Ine, Dodi dan rombongan lain berangkat di hari yang sama aku berangkat ke Subang. Belum dipastikan kami sekeluarga akan berapa lama di sana. Hanya berharap mudah-mudahan keadaan nenek cepat membaik dan ibu mengizinkanku menyusul mereka ke lokasi bencana. Sampai hari ketiga nenek masih di ICU. Aku pun tak mudah mengubungi Ine atau teman yang lain. Kondisi di sana tak memungkinkan kami berhubungan via seluler.
Berita mereka hanya bisa kupantau dari televisi meskipun tak mendengar kabar mereka secara langsung. Paling tidak, aku tahu kondisi seperti apa yang mereka hadapi di lokasi. Sementara, kami bergantian menjaga nenek. Kondisinya masih terbilang stabil, meski belum dipindah ke ruang perawatan. Aku mencoba meminta izin ibu untuk menyusul mereka. Belum boleh. Sesaat kemudian teleponku berbunyi. Ine.
“Ya, halo, Ine. Apa kabar? Bagaimana kondisi di situ?” Langsung saja aku nyerocos.
“Sabar Asty, aku belum mengucap salam. Hahaha,” kata Ine sambil terkekeh. “Kami baik-baik saja, kamu pasti melihat berita di televisi kan? Korban sudah berhasil dievakuasi semua,” lanjutnya.
“Syukurlah, akhirnya aku bisa lega. Kapan kalian pulang?”
“Kemungkinan besok pagi, kondisi di sini mulai normal. Kami menginap semalam lagi di sini. Bagaimana kabar nenek?”
“Nenek masih di ICU. Keadaan cenderung stabil, tapi masih belum bisa dipindah ke ruang perawatan.”
***
LEGA rasanya mendengar kabar teman-teman, termasuk Dodi, baik-baik saja. Dokter sudah mengijinkan nenek pindah ke ruang perawatan. Aku pun sudah tak sabar bertemu Ine dan yang lain mendengarkan cerita mereka selama di lokasi bencana.
Malam ini giliranku menjaga nenek. Ditemani kakakku yang baru pulang dari luar kota. Nenek dan kakak sudah terlelap. Aku masih senang dengan kabar dari Ine yang akan pulang esok bersama rombongan lain.   Tentunya kabar nenek juga yang berangsur membaik. Mataku mulai sayu, mengantuk. Berita malam di televisi masih terdengar sayup-sayup dan semenit kemudian aku terkesiap. Ada berita longsor susulan dan banjir bandang menerjang di lokasi yang sama di mana Ine dan rombongan bertugas.
Kepalaku pun terasa berputar kemudian gelap. []

Nur Rokhmi Hidayati, Kedungwringin 002/004 Jatilawang bayumas.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nur Rokhmi Hidayati
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 14 Juni 2015