Tukang Tulis Puisi

Karya . Dikliping tanggal 2 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
DI kamar kosnya yang sempit malam itu, dia kembali menulis puisi. Sudah tak terhitung berapa banyak puisi yang sudah dihasilkan selama beberapa tahun terakhir ini. Beberapa di antara puisinya sudah dipublikasikan di media-media massa. Tetapi, berapapun honor yang dia terima, selalu tidak pernah bertahan lama. Hari di mana ia menerima honor, di hari itu juga honornya selalu habis tak tersisa.
“Tidak kau simpan sebagian?” tanya pacarnya.
“Untuk apa?”
“Siapa tahu berguna untuk hari depanmu.”
Dia tertawa getir. Lalu mendesah. Seperti ingin melepas sebuah beban yang selama ini ia simpan. Kemudian dia tertawa lagi.
“Kenapa tertawa?”
“Haruskah perlu alasan untuk tertawa?”
“Hah, kambuh! Aku tak mau berdebat. Sekarang temani aku.”
“Ke mana?”
“Toko kosmetik. Cepatlah, sebentar lagi tutup.”
Dasar perempuan.
***
SEBENARNYA dia malas bangun pagi itu. Semalam dia menulis puisi hingga larut sepulang menemani pacarnya dari toko kosmetik. Namun kegaduhan pagi hari di dapur ibu kosnya yang berdempetan dengan kamarnya, mau tak mau memaksanya membuka mata. Dia menggeliat seperti kucing. Gemeretap tulang-tulangnya terdengar bagai ada sesuatu yang rontok dalam dirinya. Dalam hidupnya.
Sejenak dia menatap ke dinding. Ada dua ekor cecak di sana. Dia tersenyum. Lalu seperti menemukan ide baru untuk menulis puisi. Tapi sayangnya, ide itu lenyap seiring terciumnya bau masakan lewat lubang-lubang kecil pada dinding triplek yang menjadi pemisah antara kamarnya dengan dapur ibu kosnya. Dia merasa lapar. Tapi….
Kring. Pacarnya menelepon.
“Pasti baru bangun,” tebak pacarnya di ujung sana dengan suara ketus.
“Ya.”
“Semalam nulis puisi lagi? Sampai jam berapa?”
“Jam tiga.”
“Busyet! Giliran sama puisi bisa duduk berjam-jam. Coba giliran duduk sama aku. Maunya lekas-lekas saja. Apa sih yang bisa dibanggakan dari puisi-puisimu itu?”
“Hei! Kau tak bisa….”
“Ah, sudah sudah. Lekas mandi. Terus temeni aku lagi.”
“Ke mana?”
“Toko kosmetik semalam.”
“Hah, mau apa lagi?”
“Aku lupa beli lipgloss.”
Huff.

Baca juga:  Kacamata
Sejak pacarnya selalu meledek kebiasaannya menulis puisi, dia sebenarnya sedih. Sedih karena dia berpikir betapa malangnya perempuan yang tidak bisa lagi menikmati indahnya puisi.
Padahal perempuan-perempuan dulu banyak yang begitu takjub dengan puisi. Mereka begitu bangga bila kekasihnya pandai mennulis puisi. Mereka merasa terhormat kalau bisa menjadi pendamping hidup seorang penyair yang mampu melahirkan puisi-puisi penuh daya sihir. Itulah sebabnya dia memilih menjadi penulis puisi. Harapannya, akan ada seorang perempuan yang bisa membanggakan dirinya, menghormatinya, memberinya tempat yang layak sebagai lelaki romantis.
“Ini zamannya salon dan shoping, Bung. Bukan zamannya puisi. Bila kau bisa memberi dia dua hal itu, kau baru akan dihargai,” seloroh temannya suatu waktu.
“Betapa piciknya kalau begitu.”
“Sayangnya, kau tak bisa katakan itu sama pacarmu. Kecuali kau ingin jadi sasaran jurus-jurus karatenya itu.”
Temannya tertawa.
Namun tak peduli seberapa naifnya pandangan orang-orang –terutama perempuan, terutama pacarnya– terhadap puisi, dia sudah bertekad tidak mundur dari keputusan yang sudah dia buat. Dia berjanji terus menulis puisi. Gairahnya menulis puisi tak akan bisa dibendung oleh apapun. Termasuk ledekan pacarnya sendiri.
Lihat, dinding triplek di dalam kamar kosnya penuh dengan tulisan puisi. Campur baur tema puisi yang dia tulis. Tak pernah teratur. Tak pernah jelas. Seperti menggambarkan putaran nasib yang melemparnya ke sana-ke mari.
Bertumpuk-tumpuk kertas di dalam kamar kosnya yang sempit, semuanya juga penuh dengan puisi. Bahkan slip belanjaan pacarnya dia simpan dengan rapi. Halaman kosong di belakang slip itu, juga penuh dengan puisi.
Dengan puisi aku bernyanyi.

Dia mengagumi bait puisi itu meski lupa siapa pengarangnya. Atau mungkin dia memang tidak pernah mengingat siapa-siapa selain menulis puisi dan menulis puisi. Atau mungkin otaknya sudah mulai rusak karena sering mengalami benturan dengan yang namanya kesedihan, terutama saat dia lapar sementara jarang sekali puisinya dimuat koran. Atau mungkin dia sedih ketika pacarnya datang dan minta uang jajan, sementara di dalam dompetnya hanya ada tumpukan slip belanjaan yang penuh dengan puisi-puisi usang.
Dengan puisi aku bernyanyi

Ah! Bait puisi itu lagi yang muncul di kepalanya. Aih! Bau masakan dari dapur ibu kosnya itu lagi yang melintas-lintas di dalam hidungnya. Dia memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa perih. Lapar. Tapi kemudian tangannya meraih sebuah buku tulis yang penuh dengan puisi-puisi. Dia ingat, seminggu yang lalu dia pernah menulis puisi tentang orang-orang yang lapar.
Dengan perut setipis papan yang kenyang oleh angin dan harapan….

Dia menikmati puisinya. Dia menghayati puisinya. Saat seperti itu, dia seperti menemukan apa yang disebutnya momentum puitik sehingga dia bisa membaca puisi-puisinya dengan penghayatan total layaknya penyair besar sedang tampil di atas panggung. Inilah kenikmatan yang tidak bisa dipahami oleh pacarnya. Perempuan ahli karate yang gila kosmetik itu. Benar-benar perempuan sialan.
Dia bangkit dan membaca puisinya;
Akulah puisi yang sesungguhnya. Kau yang tak bisa lebur dalam keindahan rasa dan kata-kataku, silakan pergi.
Menyingkirlah sejauh-jauhnya.

“Songong lu! Kalau gue pergi,  lu bisa mati kelaparan dodol. Gue tungguin dari tadi, ternyata lu sibuk baca puisi sendiri.”
Itu suara pacarnya. Sudah berdiri di depan pintu kosnya. (k)

[] Kebumen, 2015


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Salman Rusydie Anwar
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 31 Mei 2015