Berkah Atmo Krinding

Karya . Dikliping tanggal 13 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
TANGGAL 30. Air muka masyarakat Krinding berubah gembira. Krinding yang lima tahun ini dikelilingi pabrik-pabrik, menjelang sore tumpah ruah oleh buruh. Tak hanya mereka saja, sanak keluarga juga ikut keluar berbaur memastikan ayah, ibu, anak, atau saudaranya sudah ada di tengah keramaian Krinding. Tak sulit buat mereka mencari karena ada hape atau SMS yang saling memandu keberadaan mereka. Satu-satunya simpang empat di Krinding mendadak macet. Tapi tak ada klakson, sopir membentak atau orang menjerit hampir tertabrak. Semuanya seperti paham. Pedagang makanan, pakaian, pulsa isi ulang, peralatan sembahyang, barang-barang Tiongkok “sepuluh ribu tiga’’ menggelar dagangan. Menderetkan gerobak, meja lipat, bangku panjang, atap plastik biru-jingga. Membentuk tepian di dua sisi jalan ke utara mengarah ke pohon sawo di ujung kanan, bersebelahan dengan satu-satunya deretan ruko di Krinding. Apalagi sebentar lagi mau Lebaran. 
Namun dalam waktu setengah jam keriuhan itu mendadak hilang. Hanya manusia mengular membentuk antrean rapi menuju arah pohon sawo. Mereka bebas berdiri, duduk, jongkok sambil beringsut sedikit demi sedikit mengikuti gerakan antrean. Sudah tiga tahun ini beberapa makam yang dituakan di Krinding yang dulu ramai diziarahi kini sepi, hanya sedikit orang tua yang masih setia ke sana. Entah siapa yang kali pertama memulai setiap tanggal 30 orang menziarahi makam baru di bawah pohon sawo di dalam ruko. Tidak seperti makam kebanyakan menempati tanah yang luas, makam yang satu ini ada di dalam ruko. Sebelum ruko dibangun makam sudah ada di situ. Jadilah demi menghormati makam yang tidak boleh dipindah dan juga tak satu pekerja pun yang berani memindahkannya karena takut kualat, dibuatlah satu buah ruko untuk makam tersebut.

Tak ada kejelasan siapa yang pertama menemukan makam itu, siapa yang pertama menziarahi, apalagi memastikan siapa yang dikubur di situ. Tapi orang menyebutnya Mbah Atmo, lengkapnya Atmo Bancasworo. Ritus utama Krindingan demikian orang menyebut keramaian itu, ialah sungkem kepada makam Mbah Atmo. Konon sungkeman itu dipercaya bisa mengurai problem yang sedang dihadapi. Orang rela antre berlama-lama, panas atau hujan. Karena telah menjadi kebiasaan, sambil menanti giliran, orang memesan bakso, mencamil gorengan atau menyeruput kopi sambil berbuka puasa. Kebiasaan ini dianggap sebagai laku kepada makam. Jika dulu orang membawa kembang tujuh rupa kini orang membeli segala rupa. Tujuannya agar sebelum orang mendapat berkah dari Mbah Atmo ia juga harus rela memberkahi sesamanya: para pedagang di sekitar makam ini lebih dahulu. 

***

‘’SIAPA?’’ bisik Musromi kepadaku. Aku mengerenyit, menggeleng.

‘’Baru kali ini kulihat. Mungkin orang Krinding yang mudik dari rantau.’’ 
Jam menunjukkan pukul lima sore, Musromi sudah tak sabar ingin cepat-cepat mendapat giliran, demikian juga aku. Sudah berkali-kali isteri dan anakku mengirim SMS, entah sudah menghabiskan apa saja mereka di meja pedagang. Tibalah orang asing di depan Musromi masuk ke ruko makam. Di
depan nisan berbahan kaca gelap lama ia Cerpen Senu Subawajid bergeming, sambil mulutnya berkomat-kamit. Sekali-sekali menyeka keringatnya. Merunduk dan menceracapkan apa-apa yang hendak diutarakan. Lama ia menyentuh batu nisan dengan jemarinya sebagai tanda hormat. Orang percaya, menyentuh nisan Mbah Atmo membawa energi, yang siapa tahu membawa berkah seperti diharapkan.

Baca juga:  Polar Bear

Sudah setengah jam laki-laki berumur 35 tahunan itu termanggu di depan nisan, orang tetap saja sabar menanti. Konon kesabaran juga bawaan yang harus diberikan saat menziarahi makam ini. Kecuali Musromi dan aku yang menggerutu, karena gerak antreannya tertahan orang asing itu.

Laki-laki itu terdiam, pikirannya melayang.

Tiga hari sebelum ia dipindahkan ke pabrik di Krinding yang adalah kota kelahirannya, Mistani isterinya berpesan, ‘’Cari talangan, Mas. Tagihan warung masih bisa kita berdalih, uang sekolah juga, uang buku bayar separuh dulu, kredit rumah kena denda tak apalah, yang penting tagihan Mas Subrangil kita bayar. Tak tahan aku dengan lagaknya, mentang-mentang kaya….’’

Ingatan Mistani menerawang saat Mas Subrangil berkilah, ‘’Buatku uang tak  harus diganti uang, yang penting kamu punya niat baik, aku sudah senang….’’
Siapa tahu di Krinding ini harapan isterinya terkabul. Namun setengah jam telah lewat. Juru kunci makam mulai terusik lamanya laki-laki itu, yang mendadak mendaraskan keringat dingin dari dahi dan lehernya. Batu nisan Mbah Atmo seperti layar yang menampilkan rekaman hidupnya yang kelak akan terjadi. Di Krinding ia tak mendapatkan berkah apa-apa. Tubuhnya lunglai di samping makam. Orang ramai beringsut ke dalam melihat apa yang terjadi. Orang itu dilarikan ke puskesmas. Perawat
membaca nama di KTP-nya, Lukiman.
***
DI teras rumah, pikiran Mas Subrangil sekelam batu nisan hitam Mbah Atmo. Dua tahun menduda dan sudah sekian lama dekat dengan banyak perempuan, tak seorang pun jadi isterinya. Ia sebetulnya lebih suka berpetualang daripada niat untuk mencari pendamping. Kini jiwa petualangannya mendarat di tubuh Mistani. Isteri Lukiman itu masih membuat matanya tak berkedip.

Mas Subrangil sudah di depan pintu rumah Mistani. Mistani seperti bunga yang sebentar layu di vas porselin orang kaya. Hati kecilnya membisik, aku bangga dengan kemolekan paras dan tubuh ini, sampai-sampai orang kaya seperti Mas Subrangil pun bertekuk lutut. Tujuannya memang menagih utang, tapi ia juga seorang perempuan biasa yang ingin mencoba hidup senang. Kesetiaan pada suami miskin bukanlah kesetiaan buta. Apakah dengan merelakan dirinya dicicipi Mas Subrangil berarti dirinya berharga murah? Menurutnya, tidak. Ia lumayan mahal jika dinilai dengan jumlah utang kepadanya yang berakhir lunas. Butuh semalam dari rumahnya ke Krinding, Lukiman tak perlu tahu apa konsekuensi suami yang tak mampu menafkahi keluarga. Ia perempuan yang mempunyai hak untuk menikmati hidup dengan bebas utang, meski yang ia layani bukan suaminya sendiri. Cinta memang tak ada, tapi rasanya sama, batin Mistani. Yang penting ia tetap isteri Lukiman.

Baca juga:  Saat Hujan Turun

Tentu tak lunas sekaligus agar Lukiman tak curiga, Mistani bilang bahwa Mas Subrangil mau memberi waktu dan utang bisa dicicil. Lukiman lega, ia bisa tetap bekerja di Krinding sementara waktu tanpa harus direpotkan antre ziarah berkah di makam Mbah Atmo. Mistani sedikit lega dari kejaran penagih utang, bahkan kadang kala Mas Subrangil memberinya uang lebih yang cukup untuk melunasi utang yang lain. Meski Mistani tak mencintai Mas Subrangil, tapi jujur ia terkesan dengan pelukan hangatnya. Ia tersenyum sendiri. Senyampang Lukiman di Krinding dan ia setiap malam kesepian.

***
TANGGAL 15, bulan berikutnya. Lukiman berketetapan untuk pulang. Ini hari terakhir kerja sebentar lagi Lebaran. Riuh di perempatan Krinding. Ia menanti satu-satunya bus dari Krinding menuju kotanya. Musromi dan aku seperti biasa terselip di antara antrean makam Mbah Atmo.
‘’Bukankah itu orang yang pernah kita lihat dulu ?’’
‘’Iya Mus, betul dia itu. Mau ke mana?’’ 
Lukiman bergegas menaiki bus.

‘’Aku sudah di bus, sebentar lagi berangkat. Syukurlah kalau Mas Subrangil mengikhlaskan utang-utang kita. Nanti saja utang-utang yang lain aku cicil sesampai di situ. Di Krinding ATM cuma satu dan kau tahu sendiri semua buruh pabrik di sini gajian dan THR lewat ATM. Antreannya bisa setengah hari. Bulan lalu aku tak bisa kirim karena tak ada talangan dari Pak Kustomir, manajer pabrik di sini. Katanya gajiku baru dirapel tanggal 15 bulan ini,’’ ujar Lukiman.

Kondektur memberi aba-aba berangkat. Perempuan di sebelah Lukiman bergegas turun sambil mencium tangannya. Batin Lukiman, ia berjanji kelak kembali ke Krinding akan mengontrakkan rumah di BTN yang lebih layak dan mengkreditkan motor bebek untuk Wiyati. Lamat-lamat terdengar kata-kata Wiyati semalam, ‘’Demi Mas, aku rela meninggalkan kemewahan rumah, ikhlas jadi simpanan, cinta memang harus berkorban….’’

Baca juga:  Kolam Penghabisan

Mobil Mas Subrangil tersendat di perempatan Krinding. Sekali sebulan setiap tanggal 15, ia menyempatkan menengok pabriknya di Krinding sekalian mengawasi penggajian buruhnya juga pembagian THR. Tiba-tiba terdengar dering hape milik perempuan yang duduk di sebelahnya.

‘’Iya, ya, aku sudah baca SMS-mu semalam, sebentarlah aku transfer, aku juga tak tahu di mana lokasi ATM di Krinding. Makanya, apa aku bilang dulu, aku tak setuju kamu cepat-cepat kawin dengan Lukiman. Bisanya cuma menafkahi utang. Cari pasangan hidup harus melihat bibit, bobot, dan bebet-nya. Sebagai mbakyumu, aku saja masih pilih-pilih. Ya sudahlah kamu cek saja ATM setengah jam lagi.’’

‘’Siapa ?’’ tanya Mas Subrangil.

‘’Hhh, siapa lagi kalau bukan Mistani. Mau-maunya adikku itu setia dan cinta mati dengan Lukiman
padahal tak pernah cukup ia memberi nafkah.’’

Perempuan itu melirik Mas Subrangil dengan manja. Leher Mas Subrangil mendadak seperti tersedak biji kedondong. Tepat di dekat Musromi dan aku antre, perempuan itu keluar dari mobil.

‘’Maaf, Mas, di sini ATM terdekat di mana, ya?’’

‘’Ya ini Mbak, antre saja di sini. Itu di ujung sana di bawah pohon sawo, di ruko,’’ sahutku.

‘’Lo bukankah ini antre ziarah ke makam eeh… siapa itu Mbah Atmo….’’

‘’Sama saja Mbak, makam di ruko paling kiri, sebelahnya ATM,’’ sahutku lagi.

‘’Kalau Mbah Atmo lagi baik, ya artane metu. Kalau telat gajian sama juga nggak dapat berkah si Mbah…,’’ Musromi menimpali. Semua yang antre dan pedagang terbahak.

‘’Nyebelin banget sih!’’

‘’Yus, macet! Nanti saja cari ATM lain,’’ teriak Mas Subrangil dari balik jendela.

Wajah Yusrani merah masam. ‘’Ih, sori ya, nggak level…,’’ katanya, sambil membuang muka dari kerumunan orang yang tergelak-gelak.

Brakk! Pintu mobil dibanting keras. Mobil merayap di tengah keramaian Krinding, bunyi SMS dari Ibu muncul di hape Mas Subrangil: Kalau ke Krinding, cari Wiyati. Sebulan ini adikmu kabur. Ayahmu curiga ia dipelet. Siapa lagi kalau bukan orang Krinding. Ada yang lihat terakhir ia bersama Lukiman. Katanya ia anak buahmu. Masih bujangan? Kaya? Kali ini, biji kedondong itu benar-benar mampat di tenggorokan Mas Subrangil. (62)

Cileungsi Juni 2015
Senu Subawajid, penulis tinggal di Cileungsi, Bogor
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Senu Subawajid
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 12 Juli 2015