Kepala Kosong

Karya . Dikliping tanggal 7 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
BUAH jatuh memang tak akan jauh dari pohonnya. Tapi jatuhnya ke mana dulu? Kalau jatuhnya ke tanah bisa jadi seperti itu. Tapi, kalau ke bantaran sungai yang mengalir deras airnya, aku yakin buah tersebut akan pergi jauh meninggalkan pohonnya.
Ya, seperti itulah kiranya keadaanku sekarang. Isi kepalaku tak seperti isi kepala ayah. Hal itu yang kerap membuat rumahku seperti neraka. Ayah kerap membawa perempuan ke rumah, walau secara diam-diam agar tak diketahui tetangga. Perempuan-perempuan tersebut kerap ayah datangkan sebagai balas dendam kepada ibu, karena dikiranya aku jelmaan hasil perselingkuhan ibu dengan lelaki lain.
Hanya wajahku yang serupa ibu; alis tersulam indah, bibir merah muda alami dengan lengkungan sempurna mirip pelangi, hidung bangir lancip, dan pipi merona dengan lesung yang kerap membuat orang gemas menyubitnya.
***
TIGA tahun. Ya, selama itu rumahku menjelma lemari pendingin. Beku. Tak ada dialog yang melebur suasana kaku antara ayah dan ibu, juga denganku.
“Katakan! Dengan lelaki mana kau berani bermain api?” Bola mata ayah memerah laksana saga ketika menerima buku raporku yang diserahkan ibu. Buku rapor yang penuh angka merah. Saat itu aku baru duduk di bangku sekolah dasar klas satu.

Ibu menggelengkan kepala dengan kening yang terlipat tiga. Tanda tak mengerti maksud perkataan ayah.

“Apa dengan si Jaka, tukang becak langgananmu?” nada bicara ayah semakin meninggi. Telunjuknya menekan angka di buku raporku yang nilainya mengenaskan.

Ibu baru mengerti. Gelengan kepalanya semakin kencang, menolak tudingan ayah. Lagipula, mengapa ayah sampai mengira kalau ibu ada jalinan asmara terlarang dengan Mang Jaka, yang setiap hari setia mengantar-jemput aku ke sekolah? Kami keluarga terhormat, kaya raya. Tak bisa dijadikan alasan hanya karena gara-gara Mang Jaka memiliki wajah rupawan dengan dada bidang. Bukankah ini kesalahan ayah sendiri yang menikahi ibu dengan alasan keelokan rupa? Aku yakin ibu setia kepada ayah, walau ayah tercipta dengan rupa alakadarnya.

***

SETELAH tiga tahun, pertahanan ibu musnah. Ia tak sanggup menguatkan hati oleh kesabaran, melihat ayah setiap pekan membawa perempuan-perempuan dengan wajah yang berbeda-beda. Ibu mengajak ayah ke rumah sakit untuk membuktikan kalau aku hasil pembentukan sperma ayah dan sel telur ovarium ibu. HAsil tes DNA: dalam darahku mengalir darah ayah.

Namun ayah masih tak menerima kenyataan kalau aku ini benar-benar anak kandungnya. Nilai raporku yang hingga kelas tiga sekolah dasar masih dihiasi angka-angka merah, itulah yang membuat keraguan terbit di hati ayah.

Baca juga:  Senja di Ganesha

“Sekarang tak ada alasan kan untuk tidak mengirim Tiara ke Ibumu?” Pertanyaan ayah ke ibu masih terdengar dingin. Walau tak sedingin tahun-tahun sebelumnya.

Di balik dinding kamarku, aku mencuri dengar. Jarum pendek di jam dinding memang sudah menunjuk angka sepuluh. Ayah dan ibu pasti mengira aku sudah dibuai mimpi ketika ibu menyanyikan lagu nina bobo kala jam delapan bertandang. Nyatanya, aku hanya pura-pura. Suara-suara di luar kamarku selalu berhasil ditangkap telinga hingga tengah malam. Termasuk suara perempuan yang kerap dibawa ayah pada akhir pekan.

“Aku masih biss mengurus Tiara, Pah.” Suara ibu lemah tergerus isak yang semampu tenaga ia tahan.

“Ini bukan perkara mengurus! Ini perihal harga diriku! Mau disimpan di mana mukaku ini jika pada akhirnya, lambat-laun, semua orang mengetahui kalau anakku tak memiliki isi kepala!”

Aku mengumpulkan air mata di atas bantal, ketika aku tahu sebenarnya ayah sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Dan senjatanya kini sudah ayah pegang: catatan di bawah rapor kelas tiga menyebutkan aku naik usir ke kelas empat. Ayah tersenyum penuh kemenangan, karena sebenarnya sudah dari dulu, semenjak nilai raporku membuat malu di kelas satu, ayah ingin menyingkirkanku dari rumah.

Akhirnya aku pindah sekolah agar bisa duduk di kelas empat. Bukan di salah satu sekolah di kota tempatku dilahirkan. Bukan sekolah favorit seperti sekolahku yang dulu. Tapi di sekolah kampung, tempat ibu dilahirkan. Rumah nenek menjadi tempat tinggalku sekarang.

Ayah tak mau reputasinya hancur. Isi kepala ayah –yang seorang dosen penggenggam ilmu eksak sebuah perguruan tinggi ternama di kota ini– tak diragukan lagi kejeniusannya. Pantas memang, jika ayah sempat tak percaya kalau di tubuhku mengalir darahnya.

***

LIMA tahun. Selama itu aku mengunyah kehidupan di kampung tempat ibu dilahirkan. Jauh dari peradaban kota. Penuh kebosanan. Karena ternyata nenek lebih ketat menjagaku. Larangan-larangannya lebih melimpah ketimbang larangan ayah ketika hidup di kota. Sebulan sekali, ibu menengokku. Tapi, tidak dengan ayah. Selama lima tahun tak pernah kujumpai lagi wajahnya. Walau itu kala Lebaran menjelma di tubuh almanak. Aku tak tahu bagaimana rupa ayah kini. Apa masih menyeramkan ketika mengetahui angka-angka raporku terbakar? Entahlah.

Hanya dari lidah ibu aku mengetahui perihal ayah. Kata ibu, ayah kini sudah menikah lagi dan aku telah memiliki adik tiri. Bagi ibu itu lebih baik ketimbang ayah membawa perempuan yang berbeda-beda tiap akhir pekan. Setidaknya, dengan dimadu hati ibu teririsnya lebih kecil.

Baca juga:  Kecemasan Adalah Rumah Kayu - Tuhan, Perahu Doaku - Renungan Menjelang Berbuka - Doa Rahasia - Pelabuhan Rindu - Kudekap Engkau, Cinta

“Sekarang, kau ikut ibu lagi ke kota, Tiara.” Ibu mengemasi barang-barangku di kamar.

“Benarkah Bu? Apa kini ayah sudah bisa menerimaku sebagai anaknya?” Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku; antara kaget dan tidka percaya.

“Kau sekarang punya sesuatu yang dibanggakan. Lihat, kau bisa masuk sepuluh besar tiap semester.” Ibu membuka-buka buku rapor SMP-ku.

“Ibu rasa, ayahmu tak akan membanding-bandingkan lagi isi kepalamu dengan isi kepalanya.”

Dug! Dadaku berdegup.

Aku tahu betul tingkat kemurnian angka-angka di buku rapor tersebut, tak sesuai dengan isi kepalaku. Bukankah ibu sendiri yang setiap bulan sebelum UAS, kerap bertandang ke rumah-rumah guru, agar nilaiku tak terbakar? Ah, aku tahu ini akal-akalan ibu saja agar aku bisa kembali ke kota. Tapi, bagaimana jika ayah tahu yang sebenarnya, kalau isi kepalaku masih sama seperti dulu? Sudahlah, itu urusan nanti. Ini kesempatanku untuk kembali mencicipi kehidupan kota. Sudah jemu rasanya aku terkurung dalam kesunyian kehidupan kampung.

***

“KALAU kau tak bisa masuk kelas IPA, kau kembali lagi ke rumah nenekmu.” Begitulah sabda ayah suatu hari setelah mendapati nilai matematika terbakar di semester awal kelas X.

Kulihat wajah ayah beraut kecewa. Kembali aku mendapati wajah yang dulu begitu menakutkan: wajah ayah yang dilumuri amarah dan langsung menuduh ibu telah berselingkuh, setelah matanya beradu pandang dengan nilai di rapor masa kecilku yang berantakan.

“Aku pasti masuk kelas IPA, Pah,” jawabku menahan gemetar.

Ayah tak memperpanjang obrolan. Kulihat ia hanya menyimpulkan senyum aneh, tanda menyepelekan kemampuanku.

Kuputar kepala. Bagaimanapun caranya aku harus masuk kelas IPA. Harus! Tak akan kubiarkan diri ini kembali mencicipi ranah kampung. Seperti narapidana saja rasanya, aku dibuang oleh keluargaku sendiri. Kota ini telah menumbuhkan kembali gairah hidupku yang lima tahun lamanya mati suri di kampung. Lagian, di sini aku sudah memiliki seorang belahan jiwa. Kepadanya telah kuserahkan semuanya: jiwa dan ragaku. Semua kulakukan tanpa merasa bersalah. Karena rekaman masa lalu, saat kudengar suara perempuan-perempuan yang kerap ayah bawa ke rumah tiap akhir pekan, membuatku melakukan ini seperti hal yang wajar.

Tiga purnama berlalu. Tiga purnama lagi semester dua kelas X purna. Itu artinya enjurusan akan segera bertandang; IPA, IPS, atau bahasa. Angka-angka di rapor yang akan menentukannya. “Gunakan kecantikan parasmu. Kau tahu snediri kan Pak Novaldi sudah tiga tahun menduda. Pati ia merindukan kehangatan perempuan.”

Baca juga:  Mayat Yang Mengambang Di Danau

Bisik itu mencemerlangkan kepalaku. Ya, aku harus menggunakan cara ini. Sleain demi kelas IPA, aku memiliki misi lain.

***

“APA yang kamu inginkan?” Pak Novaldi tiba-tiba bertanya dengan nada tinggi, saat di pertengahan obrolan kami, aku perlahan-lahan menanggalkan pakaianku.

“Permintaanku mudah saja, Pak. Aku hanya meginginkan angka merah tak menghiasi raporku.”

Bola mata Pak Novaldi menelisikku dari ujung rambut hingga pangkal kaki. Aku tersenyum dalam hati. Sepertinya Pak Novaldi sudah terjerat bujuk rayu iblis.

***

AYAH terkena stroke. Aku tak bersedih. Malah melantunkan bahak tak henti-henti. Akhirnya aku menjadi manusia merdeka seutuhnya. Tak ada lagi orang yang menghina isi kepalaku.

Saat itu, aku mengira Pak Novaldi akan memuaskan birahinya kepadaku setelah tiga tahun bergelar duda. Ternyata yang kudapat tamparan keras hingga memerah di pipiku. Pak Novaldi melaporkan ulahku ke kepala sekolah dan membujuknya agar lekas mengeluarkan surat DO untukku.

Kukeluarkan senjata kalau Pak Novaldi sudah lama menjamah tubuhku hingga berbadan dua. Rahimku diperiksa. Tiga bulan lamanya usia kandunganku. Pak Novaldi membantah keras. Sidang pun digelar dengan keputusan; sidang ditunda hingga aku melahirkan. Takut dustaku terbongkar dan malah aku yang dipenjara, kukatakan kalau janin ini bukan milik Pak Novaldi.

Pernikahanku dengan Arjuna –belahan jiwaku yang juga ayah biologis anakku– digelar diam-diam. Tak ada gurat sedih terlukis di wajahku, walau masa depanku kandas. Aku bahagia bukan karena aku bisa menikah dengan pujaan hatiku. Tapi, aku bahagia karena melihat reputasi ayahku musnah. Menyaksikan kejayaannya lenyap. Ia tak akan lagi menjadi hantu di kepalaku. Kepalaku sempurna kosong. Ternyata kepalaku tak benar-benar kosong. Ada sisa yang melegenda di dalamnya: suara perempuan-perempuan yang kerap dibawa ayah tiap akhir pekan, skandal yang tertangkap telingaku di balik dinding kamar sebelum tidur. (k)

Garut, 19 Oktober 2014

Irwan Sanja, kelahiran garut 29 Mei 1985, pengajar aritmatika, tinggal di Garut – Jawa Barat.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irwan Sanja
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 5 Juli 2015