Telinga Komandan

Karya . Dikliping tanggal 13 Juli 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
KOMANDAN pasukan dekat bandara itu perwira berpangkat kapten. Namun, Hamidanlah komandan sesungguhnya, meski hanya satu serdadu di sana yang mengenalnya. Hamidan tak bertugas di sana, meski ia juga seorang tentara. Pensiunan tentara tepatnya. Rumahnya dekat bandara.Masih berada dalam jangkauan efektif peluru.Begitu ia menggambarkannya. Kalau berdiri di kebun belakang yang penuh pohon kelapa, ia bisa menembak pesawat baling-baling. Antar jemput karyawan, yang pagi dan sore mendarat dan lepas landas di sana.
Sebagai prajurit yang pensiun dini, ia pernah menjadi penembak terbaik. Jangankan benda besar seperti pesawat, menembak kuping komandannya pun ia mampu. Seperti yang pernah dilakukannya, dan membuat ia dipecat dari dinas. Namun, ia tak mau menembak lagi meski diperintah oleh siapa pun. Ia sudah pensiun dan tak lagi punya senapan.
Pagi tadi–ketika pesawat baru mendarat-terdengar rentetan tembakan yang mengejutkan orang-orang sekitar bandara. Hamidan baru saja turun dari tempat tidur dan hendak membuka jendela. Badannya agak letih sehingga setelah salat subuh, ia tidur lagi. Ia menajamkan pendengaran untuk memastikan suara desingan peluru di antara gemuruh mesin pesawat. Setelah yakin, ia berlari ke kebun belakang. Di sana–di balik pohon kelapa–berdiri tiga anak muda. Ketiganya memegang senjata api laras panjang, meski hanya satu yang memuntahkan peluru. Hamidan bisa memastikan sumber tembakan berasal dari pemuda yang berlindung di balik pohon kelapa paling dekat dengan pagar.
Setelah melepaskan tembakan, tiga anak muda itu kabur dengan melompati pagar menuju kebun sebelah yang dipenuhi pohon pisang. Hamidan sepertinya mengenal seorang di antara mereka, pemuda yang menyandang senjata api Kalashnikov gagang lipat. Tampaknya, hanya seorang dari mereka yang bersenjata organik, dua lainnya memakai senjata replika.
Tubuh mereka lenyap di kebun pisang. Hamidan kembali ke kamar, ingat jendela yang masih tertutup. Ia tak berpikir pesawat terkena tembak atau tidak.
*** 
Ilustrasi karya Pata Areadi

Satu dari tiga pelaku ditangkap menjelang sore di rumah mertuanya. Ia sudah berganti pakaian dan rambut dipangkas rapi, tapi tentara tetap mengenalinya. Namanya Dahlan, lebih dikenal dengan Ayah Panser karena pernah menghadang patroli panser tentara dengan gagah berani. Dua regu tentara mengepung rumah dan menyeret pemuda itu dari tempat tidur istrinya. Senjata Kalashnikov ditemukan di bawah tempat tidur, setelah Kopral Samsul mengancam akan membawa istrinya kalau ia tidak buka mulut.

Baca juga:  Pulang
Kopral Samsul paling berjasa atas tertangkapnya pelaku penembakan pesawat sipil yang ternyata melukai dua karyawan perusahaan eksplorasi gas. Panglima operasi mendatangi markas, mengapresiasi tertangkapnya Ayah Panser yang sudah lama dicari. Kedatangannya disambut yelyel khas militer. Suasana begitu gembira, seperti para nelayan yang baru saja mendapat tangkapan besar.
Kapten Agus memberikan laporan lengkap sejak penyerangan pesawat jenis ATR 72-600 milik perusahaan asing, sampai tertangkapnya Ayah Panser. Sebegitu lengkapnya laporan itu seolah ia sendiri terlibat di dalamnya. Panglima menyimak serius, sesekali mengangguk penuh hormat.Kebanggaan memancar dari matanya, ia seperti melihat dirinya semasa berpangkat kapten saat melihat kecerdasan Kapten Agus.
“Dari mana info tentang Ayah Panser?“ 
“Saya punya banyak sumber dari masyarakat.Karena kita baik-baik dengan rakyat, kabar tentang pemberontak selalu datang.“
Kopral Samsul kecewa dengan jawaban itu.Namanya dan prajurit lain tak disebut, seperti yang sudah-sudah. Kesuksesan menangkap otak pelaku penembakan pesawat sipil sekaligus pentolan pemberontak, seolah berkat Kapten Agus semata.
***
Sejak enam bulan lalu ditempatkan di sini, sudah banyak perlakuan semena-mena yang diterima anak buah Kapten Agus. Kepatuhan pada atasan diterjemahkan Kapten Agus sebagai kesempatan memerintah apa pun termasuk tugas-tugas tak masuk akal. Setiap pagi, anak buah harus mengambil air di rumah penduduk karena air di markas kuning dan berlumpur. Soal ini, anak buahnya tidak terlalu mengeluh sebab air itu sekalian bisa dipakai bersama. Mereka juga wajib mencuci pakaian Komandan. Itu pun masih bisa diterima. Yang membuat mereka meradang, Kapten Agus setiap bulan menyunat uang laukpauk anak buah.
Tak ada prajurit yang berani protes. Mereka hanya memaki di belakang, bahkan ada yang bersumpah akan menembak Kapten  Agus karena kezalimannya. Sudah puluhan kali ancaman itu terdengar, tapi belum ada yang berani melakukannya. Ancaman tembak juga pernah dilontarkan seorang prajurit yang tak mendapatkan izin pulang ketika ayahnya meninggal di kampung halaman. Kapten Agus melarang prajurit pulang sebelum tugas operasi berakhir. 
“Kalian sudah bersumpah menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi.Pulang tanpa izin berarti desersi!“ Anak buah yang tertindas sering berdoa agar Kapten Agus mati ditembak pemberontak atau terkena malaria. Namun, seperti keyakinan mereka selama ini, serdadu jahat ialah orang terakhir yang mati dalam peperangan. Sampai saat ini, Kapten Agus tetap sehat bahkan banjir pujian dari atasan.
Enam bulan ialah waktu yang lama di daerah operasi. Seharusnya mereka sudah serpas atau pergeseran pasukan. Pindah ke tempat lain yang lebih kondusif. Kondisi moril prajurit harus dijaga agar tidak tertekan dalam suasana konflik bersenjata. Itu aturan tertulis. Di lapangan, ada pasukan yang sudah 13 bulan di titik rawan dan tak pernah digeser sampai seorang prajurit tewas bunuh diri karena depresi.
Kapten Agus dan anak buahnya sudah beberapa kali diserang, tapi tak pernah jatuh korban. Mereka punya strategi yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun, termasuk Panglima.Setiap malam, hanya satu regu prajurit berada di markas. Selebihnya, tidur di kuburan dekat areal persawahan yang menjadi jalan masuk menuju markas dari sisi selatan. Sebelum tiba di markas komando, pemberontak lebih dulu mendapat serangan dadakan.
Tidur di kuburan barangkali bukan gagasan menarik. Kapten Agus menyadari kuburan bukan saja tempat peristirahatan bagi orang mati, juga menjadi tempat yang aman bagi orang hidup. Ia sudah menyampaikan strategi itu kepada Panglima dan mendapat pujian. Nama Kopral Samsul sebagai pemilik gagasan tak meluncur dari mulutnya.
Sehari setelah Ayah Panser ditangkap, Kopral Samsul menghadap komandannya, melaporkan rencana serangan pemberontak sebagai aksi balas dendam.
“Kita kerahkan kekuatan penuh ke kuburan. Kita habisi mereka sebelum sampai ke Mako.“
“Pemberontak justru akan menyerang kuburan, dan kita tak bisa lagi sembunyi di sana,“ Kopral Samsul tegak di depan Kapten Agus yang duduk di kursinya di seberang meja.
“Begitu laporan yang kau terima?“ 
“Siap!“ 
“Apa saranmu?“ 
Kekuatan inti digeser kembali ke markas komando, termasuk Kapten Agus untuk memimpin pertempuran. Di kuburan, cukup satu regu pasukan penghadang. Ketika pertempuran berlangsung di kuburan, kekuatan inti di markas didorong ke kuburan untuk memukul mundur pemberontak. Seperti sebelumnya, tak ada saran Kopral Samsul yang ditolak. Dalam laporan nanti, itu akan menjadi siasat yang meluncur dari kepala Kapten Agus.
***
Pertempuran terjadi malam hari menjelang waktu istirahat. Namun, Kapten Agus dan pasukannya tidak beristirahat karena sudah mendapatkan informasi adanya serangan.Informasi itu agak keliru karena serangan bukan hanya di kuburan, melainkan juga di markas.Pemberontak mengerahkan kekuatan penuh.Mereka benar-benar marah setelah Ayah Panser ditangkap.
Kapten Agus dan anak buahnya sudah siap.Namun, mereka tidak memperkirakan listrik padam sesaat setelah tembakan terdengar. Taktik yang sudah dirancang tak bisa dilaksanakan sepenuhnya di tengah kegelapan. Pertempuran menjadi lebih sulit.
Suara tembakan sahut-menyahut, ditingkahi teriakan perintah seperti nyanyian katak di musim hujan. Sesekali reda, tapi suara tembakan di kuburan terdengar jelas sampai ke markas.Seluruh pasukan melindungi diri di balik tembok dan benteng pasir di depan markas sambil balas menembak. Kapten Agus memerintahkan Kopral Samsul selalu berada di dekatnya sebab selaku putra daerah, ia menguasai medan dan memiliki banyak informasi dari masyarakat.
Tembakan masih berdesing ketika dari markas terdengar teriakan Kapten Agus. Bukan perintah, melainkan teriakan kesakitan. Ia terguling di lantai sambil memegang telinga kanannya yang berdarah. Kopral Samsul yang berada di samping segera memanggil tim medis. Mereka mengangkat Kapten Agus ke kamarnya untuk diperiksa. Ketika tubuh Kapten Agus sudah tergeletak di sana, suara tembakan berhenti dan beberapa saat kemudian lampu menyala. Tak ada luka lain di tubuh Kapten Agus selain telinga kanannya putus diterjang timah panas.
***
Dalam enam bulan terakhir, baru kali ini Kopral Samsul mendapat pujian. Bukan dari komandannya yang kini dirujuk ke rumah sakit, apalagi dari Panglima, melainkan dari Hamidan yang selama ini banyak memberikan informasi dan strategi. “Kau melakukan yang seharusnya. Musuhmu kini bukan lagi pemberontak itu, tapi kawanmu sendiri. Banyak yang terlibat, satu-dua pasti ada yang berkhianat, ada yang menjilat. Jangan sesali apa yang sudah kau lakukan. Itu risiko sebagai prajurit.“
Kopral Samsul mengangguk. Siap menerima risiko apa pun seperti yang dialami ayahnya dulu.Risiko terbesar diseret ke Mahkamah Militer dan dipecat tidak hormat, tapi seperti kata ayahnya, ia masih bisa menjadi tentara–dengan atau tanpa seragam militer–karena mereka memang terlahir untuk itu.
Ayi Jufridar, cerpenis, tinggal di Aceh. Novelnya, Kabut Perang (2010), Putroe Neng (2011), 693 KM Jejak Gerilya Sudirman, (2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya  Ayi Jufridar 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” pada 12 Juli 2015