Dongeng Setelah Tidur

Karya . Dikliping tanggal 31 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
Gigil dini hari tembus hingga ke tulang. Suara jangkrik yang sudah langka di perumahan ini menusuk gendang telinga. Seperti biasa, tangan ibu menyentuh pundakku. Meraba wajahku. Menelisik mataku yang tentu saja sudah terjaga ketika tangannya menyentuh tubuhku.
KHALISHA, kamu belum tidur? Pasti kamu menunggu ibu mendongeng ya?” Senyum ibu merekah. Memang begitu, ibu tak pernah jemu menerbitkan sepucuk senyum di bibirnya. Parasnya selalu dihiasi bingkai ceria. Tak pernah sedetik pun menyulam sendu.
Kutarik napas panjang. Mata menyileti jam yang bermukim di dinding kamar. Jarum panjang dan jarum pendek sama-sama berdempetan di angka empat. “Aku sudah bangun, Bu. Ini sudah subuh.”
Tapi, ibu tak menggubris perkataanku. Ia amlah terlihat antusias. Lidahnya kembali dimainkan, akan memulai cerita.
**
KISAH yang ibu dongengkan bukan tentang Cinderela atau Putri Salju. Dongeng-dongeng yang kerap para ibu kisahkan agar anaknya lekas tidur atau tidurnya dihiasi mimpi-mimpi indah. Mungkin dengan didongengkan kisah-kisah beraroma bahagia di akhir cerita, anak-anak itu tak usah bermimpi banyak di dunia nyata. Toh, mimpi di negeri ini mahal harganya. Begitu kiranya.
Beda dengan kisah yang lahir dari lidah ibu. Dongeng yang ia karang sendiri. Cerita yang kerap mengundnag bulu kuduk berdiri. Dongeng yang tak akan pernah berhasil membuatku terlelap bermimpi. Bahkan akan membuat mata terbuka seharian. Untungnya, ibu selalu mendongeng kala aku sudah terbangun dari perjamuan tidur, kala dini hari sudah tergelincir.
Aku tahu, mengapa ibu kerap mendongeng setelah tidur? Karena mata dan telinganya tak bisa menjamah waktu.
**
SABIT namanya. Lelaki bermata kucing. Mata yang tetap tajam walau dalam kegelapan. Bisa menembus ruang dan waktu. Ia hidup di sebuah negeri yang para pemangku kekuasaannya telah menjual mata hati mereka. Rakyat yang hidup di sana disiksa secara tak langsung. Mungkin, kalau para penguasa itu membunuh massal rakyatnya dengan bom atau tembakan senapan ribuan prajurit, perih dan luka yang dirasakan hanya sementara, hanya ketika itu saja. Selanjutnya, luka dan perih tersebut akan pudar selepas Izrail datang menjemput.

Tapi, penyiksaan mereka ini dicicil, secara bertahap. Penguasa-penguasa yang duduk manis di kursi basah itu tak sadar jika kegemaran mereka menebalkan kantong pribadi yang berasal dari keringat rakyat telah membuat menderita kaum kerdil. Banyak sarana dan prasarana setengah jadi, bangunan untuk pendidikan dan kesehatan telantar  sehingga beraneka rupa penyakit gentayangan menghantui setiap jiwa agar lekas menuju keabadian. Pun angka buta huruf tiap tahun naik persentasenya.

Harga barang-barang dan kebutuhan hidup naik, jangan ditanya. Itu sebuah keharusan dan pesta tahunan yang digelar kaum bangsawan dan penguasa untuk menambah tebal tabungan mereka dan menipiskan haraoan hidup kaum bawah. Tak terkecuali Sabit. Ia yang lahir di sebuah gang sempit dengan populasi manusia melimpah harus ikut meratapi diri. Ia kerap berputus as; mungkin hidupnya akan berakhir pada salah satu tanggal kenaikan harga.

Hingga suatu ketika, harapan hidupnya kembali tumbuh. Sabit ditawari menjadi konglomerat dengan satu syarat; ia harus menjual mata elangnya.

**
“MAAF, Bu. Khalisha harus segera mandi. Sebentar lagi mau jam lima,” aku beranjak dari tempat tidur, mengambil handuk, dan menyentuhkannya ke telapak tangan ibu.
Wah, waktu di akhir zaman ini memang lesat sekali berlarinya. Padahal, Ibu merasa baru saja memulai cerita. Tahu-tahu kamu sudah akan pergi ke sekolah lagi,” ibu mendorong punggungku pelan agar aku lekas mandi.
Aku hanya tersenyum. Ibu memang baru bercerita dua puluh dua menit. Tapi, ibu memang tak pernah sadar kalau ia bercerita setelah tidur, seperti hari-hari sebelumnya, seperti yang sudah-sudah. 
Kali ini, aku malas sekali mendengar kelanjutan cerita ibu. Aku sudah membayangkan kengerian  yang akan terjadi kalau sabit benar-benar jadi menjual mata elangnya. Pasti aku akan ketakutan seharian di sekolah nanti. Sama seperti setelah aku mendengar dongeng-dongeng ibu sebelumnya.
Ya, ibu kerap mendongeng kisah-kisah seram. Di sekolah, aku dikenal sebagai anak penakut. Setiap ada orang tak dikenal menyapa, aku langsung menginjak kakinya, lantas berlari sekencang-kencangnya. Hampir setiap hari aku ngompol di kelas. Di tengah-tengah pelajaran jam menggambar.
Aku takut, Bu. Ibuku pernah bercerita tentang seorang nenek sihir yang selalu mengubah tubuh anak kecil menjadi sebesar kecoak dan dimasukkannya ke dalam botol karena anak kecil tersebut tak menyiram bekas kencingnya.”
Ibu guru terkekeh. “Kami ini ada-ada saja, Khalisha. Ibu kamu bercerita seperti itu agar kamu menjaga kebersihan diri dan kamar mandi. Bukan untuk menakuti kamu.”
“Tapi, Bu. Ibuku menjelaskan secara jelas bentuk raut wajah nenek sihir yang menyeramkan itu.”
Bu guru hanya tersenyum dan mengelus halus rambutku.
Suatu hari, bu guru datang ke rumah. Ia berbicara kepada ibu agar tak menceritakan kisah-kisah menyeramkan kepadaku karena umurku masih belia: anak kelas 3 SD. Ibu hanya tersenyum. Bu guru menjawab senyum ibu dengan tarikan napas panjang karena yang dibicarakannya sia-sia: memantul dari telinga ibu dan diserap dinding rumahku.
**
NEGERI tempat Sabit mengunyah kehidupan mendapat teror mencekam. Negeri tersebut akan dibumiratakan! Konon, menurut desas-desus yang beredar, menurut kabar burung yang terbang, teror tersebut dilancarkan oleh negeri saingan. Tapi, tak ada bukti yang mengarah ke sana.


Sebelas hari. Itu waktu yang diberikan peneror agar seluruh penghuni negeri tersebut mengosongkan diri. Para penguasa tak terima. Skeuat tenaga dan pikiran, mereka berusaha menguak tentang siapa yang menjadi dalang di balik teror yang meresahkan mereka dan seluruh penduduk. 


Kabar tentang mata elang milik Sabit sampai ke telinga para penguasa. Belasan pengawal istana diutus menjemput Sabit agar datang ke singgasana penguasa.


“Untuk apa aku harus ke istana?” Sabit menyambut pengawal istana dengan tanya sinis.


“Ini perintah Paduka. Kamu tak bisa menolak!” pengawal-pengawal istana itu berkata tegas, tak etrbantahkan.


“Tumben rakyat kecil macam saya diundang ke istana? Pasti ada apa-apanya kan?” Sabt bertanya penuh selidik.


“Ya. Memang. Paduka menginginkan mata elangmu. Beliau berharap mata kamu yang bisa melihat ruang dan waktu di ranah lain bisa menguak tabir perihal peneror yang teah meresahkan negeri kita,” pengawal-pengawal istana tersebut menceritakan maksud kedatangan mereka. Kali ini dengan nada biasa, tidak bernada tinggi seperti tadi.


Sabit tampak makin tak acuh.


“Tenang saja, akan ada imbalan yang bisa membuat kamu mempertimbangkan masak-masak tawaran Paduka ini. Paduka menjamin hidupmu akan sejahtera. Bahkan hingga tujuh turunan,” mereka tak jemu membujuk Sabit, setelah melihat raut wajah Sabit yang tak bersahabat.


Sabit terdiam sejenak. Setelah berpikir cukup panjang, akhirnya ia menyetujui tawaran tersebut. Tapi, ia tidak mau dikawal menuju istana. Ia berjanji akan datang sendiri ke istana esok hari.


Keesokan harinya, Sabit berangkat ke istana ketika embun masih basah. Ia berangkat sepagi buta itu hanya ingin tahu apakah di istana kemewahan, para penguasa yang seharusnya bertugas memikirkan dan memperjuangkan nasib rakyat sudah terjaga dari tidurnya atau masih terlena dalam perjamuan mimpi.


Terbit keraguan di hati Sabit untuk membantu Paduka menguak negeri mana yang meneror bangsa. Memang benar apa yang dikatakan pengawal istana kemarin kalau teror ini cukup meresahkan. Tapi meresahkan siapa dulu? Sabit merasa ini hanya meresahkan mereka saja –penghuni istana dan pejabat lainnya.


Sementara ia dan rakyat jelata lainnya tak merasa resah sedikit pun. Mereka akan tetap berdiri di tanah negeri itu walaupun isu teror yang akan membumihanguskan tempat hidup mereka benar-benar terjadi. Itu karena mereka tak mempunyai pilihan untuk berpindah ke negeri lain. Sedangkan para penguasa bisa saja dengan mudah pergi ke negeri lain. Tapi, Sabit yakin para penguasa tersebut tak ingin meninggalkan negeri ini karena sudah terlena tampuk kemewahan. Mungkin, siapa tahu, kalau di negeri orang, mereka akan diperlakukan sebagai rakyat biasa.


Sepanjang perjalanan, Sabit melihat kemelaratan bak wabah yang menjalar. Ia sempat berbalik arah untuk kembali pulang ke rumah. Tapi, tiba-tiba muncul ide gila setelah ia melihat pedagang tombak. Dibelinya satu tombak dari pedagang tersebut.


“Ini, saya persembahkan bola mata elang saya kepada Paduka,” Sabit menengadahkan telapak tangannya yang berlumur darah. Darah yang berkucuran dari bola matanya yang telah ia congkel dengan tombak yang dibelinya.


“Dasar rakyat bodoh! Pantas saja kalian terus-menerus dijerat kemiskinan kalau mempunyai otak udang seperti ini!” Paduka tampak sangat marah. Pupus sudah harapannya untuk bisa membuktikan kesaktian mata elang Sabit yang bisa menerawang batas ruang dan waktu.


“Tapi, Paduka. Saya masih memiliki mata hati saya. Siapa tahu saja Paduka yang sudah kehilangan mata hati, memerlukannya,” Sabit tersenyum mengejek.


“Pengawal! Penggal kepaa orang bodoh ini!” Paduka tersulut emosi.


Ibu mengakhiri dongengnya kali ini dengan mata berlinang. Aku tersentak. Apakah ini kisah ibu sendiri? Selama ini, aku tak tahu penyebab ibu buta dan tuli,***

Baca juga:  Tentang Kerudung Baru lmpian lbu
Sandza, pengajar aritmatika kelahiran Garut, 29 Mei.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sandza
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 30 Agustus 2015