Mafioso de Ndeso

Karya . Dikliping tanggal 18 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
”KOMUNITAS adalah rezim. Tahukah kau bahwa ia sama buruk dan kuatnya dengan partai. Demokrasi hanya alat. Maka ketika kau memutuskan berjalan sendirian, sadarkah kau bahwa itu adalah perjalanan yang bakal melelahkan. Marahlah jika kau sedang berada di dalamnya, akuilah bagi kalian yang terkena kanker sakit hati dan sekarang meninggalkannya. Tetapi aku telah memutuskan untuk berjalan sendirian. Ya, komunitas itu rezim, dan aku tidak bisa terima. Tetapi jika itu kaidah sosialnya, maka aku akan jadi pemenang! Nantikan kedatanganku!”
Marco menendang pintu terkunci itu. Memang tak ada tanda tangan di bawah tulisan itu. Tetapi siapa
pun di antara anak buahnya bisa memastikan siapa penulisnya.
Ya, baru sesore tadi Antonio dimaki-maki oleh Marco. Wajahnya dikapyuk bir basi dan sebuah tamparan keras mendera rahangnya. Alasannya, Antonio dianggap salah ucap dan melenceng dari kesepakatan bersama.
”Kenapa? Bukankah aku hanya menyatakan simpati?” 
”Dalam tradisi kita,” – Marco sedang menandaskan aturan kelompok sambil tangannya memainkan pisau lipat dengan lincah – ”Tidak boleh ada simpati. Simpati hanya cenderung menjauhkan kita dari kebenaran.”
Ctaak! Maunya Marco sebenarnya supaya pisau itu menancap di meja, tetapi malah mental berbalik nyaris menyobek pipinya, jika tak tergopoh ia menghindarinya. Antonio mengikik. Marco melotot.
Antonio sudah lama menginginkan sesuatu yang bersahaja. Seperti hidup yang lumrah, yang biasa-biasa saja. Tapi atas nama komunitas tidak pernah bisa. 
”Kita harus satu suara!” Seru Marco setiap kali Antonio menunjukkan sikap-sikap kemandiriannya.
”Bukan. Maksudku……”
”Pokoknyaaaaaaa…….” Bukankah cuma tentara yang memiliki kata ‘pokoknya’.
***
Yang membuat heran Antonio adalah, bagaimana mungkin Marco tahu bahwa ia telah melakukan suatu hal. Lagipula, sebenarnya ini komunitas apa sih? Dia sedang berada dalam genggaman mafia apa sih? Mafia dukun beranak? Gaya-gaya hidup komunitas sok-sok kesepakatan. kesepakatan itu hanya untuk mereka yang dianggap junior. Kalau senior kesepakatan itu adalah sukasuka.
Dalam kepenatannya ia tinggal di rumah. Mendadak terdengar gelegar knalpot yang tak asing lagi di telinganya. Ia adalah bagian dari komunitas.
Franco turun dari harley KW-nya dengan lagak penguasa daratan bumi mafioso Italiano. Bandana menclok kepala, rompi kulit, jins belel sepatu lars high hil, rokok marlboro, geretan zippo, cliiink! Entah peranti apalagi yang tak mendasar dan hanya menambah serem yang nemplok di tubuhnya.
Antonio sebenarnya muak dengan orang ini. Franco adalah manusia dengan tipe ‘busa’, menyerap dengan sempurna. Maka suaranya adalah mutlak suara komunitas. Atau tepatnya, suara Marco. Sungguh ketololan yang menggelikan manusia hidup hanya menyediakan diri untuk jadi mesin foto copy.
Setelah menyapa, eh tepatnya menyalak. Ya menyalak. Setelah menyalak dengan sangkaan bisa dianggap mewakili volume suara orang optimis, kemudian Franco mendaratkan nasihat-nasihat emasnya sebagai mesin fotokopi,
”Kau tahu, Marco sangat sayang kepadamu.” Saat Franco bicara ia merasa tak perlu memandang mata lawan bicaranya. Antonio memandang dengan kantung mata nyaris seperti gondola.
”Saat kau diburu oleh hantu Benny, kau ingat, bagaimana Marco mati-matian menyuruhku untuk menyembunyikanmu di bawah rak piring cafe LeMonia.”
Bagaimana menyuruh seseorang dengan cara mati-matian? Hantu Benny? — ah tuyul kali! Terserah mulutmulah! Ah, tak tergambar dalam benak Antonio.
”Dan kau tahu, saat kau berurusan dengan Bruno. Hanya tinggal setitik debu di ujung pisau nyawamu melayang. Kalau tidak ada Marco, kau bukan siapa-siapa kini.”
Selama Franco bicara dengan tak perlu memandang mata lawan bicaranya itu, Antonio menatap lekat
muka Franco. Dan kian detik kian mata Antonio seperti kelereng mati. Maniknya tak bergerak. Tiba-tiba saja ia punya cita-cita untuk meludahi mulut Franco. Semoga tiba saatnya.
”Dan kau tahuu…..”
Mungkin Antonio tak lagi mendengar berapa banyak jasa yang dijual oleh Franco kepadanya.  Antonio jijik. Jadi, bagaimana tata cara orang berteman? Dengan ikatan kesepakatan buta? Jual beli jasa? Setor muka? Atau bagaimana? Ia ingat, pernah suatu hari selama dua hari ia tak merapat ke komunitas, tiba-tiba ia mendapatkan dirinya di tengah kerumunan, disidang. Oh, interaksi macam apakah ini? Mungkin ini yang disebut pergaulan ala kapitalisme. Siapa yang paling banyak membuat jasa, iakah yang berwenang mengadili? Bisa juga. Tapi tidak juga. Lha? Lebih-lebih kalau ia mendengar ungkapan dari mereka tentang dirinya, ”Kalau tidak kenal sama kita-kita, mana bisa dia seperti dia yang sekarang?”
Hohoho, seolah seseorang tak memiliki talenta dan jalan hidupnya sendiri, ya.
Antonio merasa cerdas tiba-tiba, dengan memahami ini semua sebagai suatu strata atau tingkatan pergaulan – kalaulah haram hukumnya untuk dibilang kasta. Jadi siapa menginginkan kasta Brahmana, ia musti merebut kursi itu, betapa pun caranya. Aneh, padanan ini mungkin cukup kurang ajar untuk menggambarkan kasta dalam kancah perebutan kekuasaan sosial. Bukankah kasta itu sendiri adalah jenis talenta dalam manusia? Antonio mana mau berpikir jauh soal itu. Ia hanya ingin mengambil bahan sederhana untuk bisa memahami persoalan dengan sederhana pula.
Ya, rasanya Antonio ingin menjadi pemenang. Tetapi ia tidak ingin menjadi mesin fotokopi. Ia tidak
ingin menjiplak pola-pola pergaulan yang eksploitatif seperti itu. Ia ingin menjadi murni, terlepas dari lingkaran sosial yang menjeratnya. Tetapi bagaimana dengan janjinya yang ia tempelkan di atas pintu itu? Akan jadi pemenang? Nantikan kedatanganku? Benarkah seperti itu? Lalu macam apa bentuknya?
***
Antonio teringat cerita kakeknya, Tiputanama, bagaimana sebuah kekuasaan di Jepang bernama Shogun Tokugawa menyingkirkan Shogun Kasai. 500.000 ronin Shogun Kasai kemudian menjadi perusuh. Pemerintah membentuk pasukan penjaga keamanan Machi Yoko untuk menghabisi roni Shogun Kasai. Ronin amblas, Machi Yoko malah memulai karier barunya sebagai preman Yakuza. Yakuza dimanfaatkan oleh pemerintah masa lalu untuk memerangi mancuria dan china dalam perang
dunia kedua. Nah! Jadi?
Oh ya, dengar pula bagaimana kakeknya, Tiputanama, yang ahli dongeng itu bercerita tentang legenda dari bumi Jawa, tentang seorang pangeran yang membangun kekuatan bersama para gerombolan rampok dan garong dalam perang bertajuk 1825-1830? Padahal sang Pangeran seorang ulama yang mengukuhkan dirinya sebagai Ratu Adil.
Yah, mungkin saja. Hidup memang arus diatur dalam kesepakatan-kesepakatan. Diri dianggap lemah jika tak memiliki pergesekan dengan orang lain. Maka orang lain diperlukan untuk meningkatkan tekanan, agar magma perlawanan menjadi aktif. Komunitas harus hidup dan dihidupi dari suatu kesepakatan yang — namanya saja kesepakatan – tentu saja tak boleh dilanggar. Maka kesepakatan itu memberlakukan sanksi! Dalam sistem organisasi yang mencita-citakan sesuatu, kesepakatan dan sanksi harus diperlakukan secara keras, justru supaya membuahkan efek jera para pelanggar kesepakatan dan membuahkan hasil cita-cita yang maksimal.
Tetapi, wahai..(sekali lagi wahai!) – batin Antonio – siapakah mereka? Siapa? Ini komunitas apa? Bajak laut dari Segitiga Bermuda? Gerombolan mafia obat dari Brasil? 
”Praaaannn!!! Praandoyooo!!” Nah lu, suara Mak si Fran, eh, Pran mulai memanggil. Marco yang nama  aslinya memang Prandoyo Purbowaseso itu gelagapan.
”Jangan bilang! Jangan bilang kalau aku di sini!” Bisik keras Prandoyo kepada Antonius Pujo Kusumo.
”Memang kenapa?”
”Aku nggak mau disuruh belanja tepung ke pasar Gede!”
Antonius Pujo Kusumo ngikik, Prandoyo mendelik. Anak penjual gorengan ini gayanya.  Sebagaimana pula Marco yang bernama asli Marto. Sumartoyo. Berapa jumlah anakanak muda seperti ini yang mengadopsi sesuatu hanya untuk bisa keren? Kasihan. Komunitas apa? Taik! Ini Cuma rombongan kampungan biasa yang tak punya pekerjaan dan rindu dihormati banyak orang tapi tak tahu cara. Apa yang mereka pertaruhkan dengan sandiwara menjadi mafioso? Pencarian harga diri dan eksistensi yang taik.
Jadi, kenapa aku harus takut melawan mental para kuli bangunan ini? Keparat! Sungguh kebodohan mengetahui diri sendiri dalam pusaran air got, tetapi tetap tinggal di dalamnya hanya karena alasan solidaritas! ❑ – k
Omahkebon, Mei 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Whani Darmawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 16 Agustus 2015