Dua Cerita tentang Uang Dua Ribu

Karya . Dikliping tanggal 22 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

Legenda Uang Kumal

AKU baru saja membeli sebungkus nasi di sebuah warung sederhana dekat tikungan, lalu memperoleh kembalian berupa selembar uang kertas dua ribuan yang kumal. Warna abu-abunya sudah makin kelabu. Tepi-tepinya sudah sangat tipis dan sobek-sobek. Lembar uang itu terbagi menjadi dua sobekan tepat di tengah-tengah gambar. Pangeran Antasari dan disambungkan kembali dengan selotip yang juga sudah lepas pada kedua ujungnya.
Sebetulnya aku mual melihat lembaran uang kumal. Memang, dari tahun keluarannya, yakni 2009, uang itu belum terlampau lama beredar. Namun, kalau saja, katakanlah, dalam dua atau tiga hari berpindah tangan sekali, berarti uang ini sudah berada pada hampir seribu tangan yang berbeda. Pastilah tangan-tangan itu tidak semuanya steril. Lagi pula, mana ada tangan yang masih memegang uang receh dua ribuan steril dari kuman.
Maka, kuterima saja uang kumal itu dengan isi perut yang menggelora, lalu kubenamkan begitu saja di saku celana. Aku harus cepat-cepat mencuci tangan dengan sabun antiseptik supaya kuman-kuman dari uang kumal itu tidak berpindah ke nasi yang hendak kumakan.
Aku cuma bisa mereka-reka cerita. Mungkin saja tak lama setelah keluar dari percetakan, uang ini termasuk dalam tumpukan uang yang akan dibagi-bagi saat Lebaran. Ada yang menyebutnya angpau, mengambil istilah dari kebiasaan warga Tionghoa saat Imlek. Si anak yang menerima angpau lalu membeli kembang api dengan uang itu. Oleh si penjual kembang api, uang itu disimpan sebentar, sebelum dipakai buat kembalian.
Dari situ uang dipakai buat membeli rokok. Karena seorang pedagang tak pernah lama-lama menyimpan uangnya, uang itu pun dipakai lagi buat kembalian. Bisa saja suatu saat uang itu kembali ke bank, bersama uang dua ribuan lainnya, dan diterima serta dihitung oleh jemari nan putih halus dan mulus. Di bank pun tak lama, uang itu dipakai buat kembalian ketika seseorang membayar kredit pemilikan rumah. Berapa tangan sudah?
Suatu saat uang dua ribu itu pun diterima seorang pengemis. Pakaiannya kumal dan tangannya kotor. Lalu ia membeli jajanan di pinggir jalan. Uang itu pun masuk ke belakang payudara di balik kutang lusuh seorang perempuan paro baya, yang kemudian membeli sayuran buat makan malam.
Uang itu mungkin pernah kembali kepada orang yang sama. Siapa tahu? Lalu terbuka lebar kemungkinan suatu saat uang dua ribu itu menjadi rebutan dua preman pasar mabuk ciu. Keduanya berkelahi saling menyabung nyawa. Mereka berkilah bukan nilai uannya yang membuat mereka berkelahi, melainkan harga diri. Betul juga harga diri senilai dua ribu rupiah.
Siapa pula yang bisa menolak kemungkinan uang dua ribu itu pernah bertualang berkeliling Indonesia, dari Jakarta, ke sebuah desa bernama Jipang di pelosok Jawa Tengah, kemudian terbawa ke Jogja, lalu menuju Balikpapan, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara, Aceh, dan seterusnya? Yang jelas tentu saja tak pernah ke luar negeri karena rupiah –apalagi hanya senilai dua ribu– tak laku di negeri orang.
Kau pun bisa mengembangkan imajinasimu ke mana uang itu terus beredar. Ada ratusan cerita yang bisa berkembang dari perjalanan selembar uang.
Setelah berpikir dalam empat atau lima hitungan, aku punya tiga pilihan. Pertama, aku akan menyobeknya, atau membakarnya. Dengan demikian, kisah panjang uang ini berakhir di tanganku. Akhir cerita yang tragis. Tapi dipikir-pikir kejam juga jika begitu. Lagi pula, aku selalu mendapat pelajaran sejak kecil bahwa membuang uang itu sama sekali pamali, tak boleh dilakukan. Sekecil apa pun nilainya, uang tetaplah uang, patut dihargai.
Kedua, aku akan menyimpannya, siapa tahu beberapa tahun atau puluh tahun yang akan datang uang ini menjadi langka sehingga nilainya menjadi mahal, seperti oeang repoeblik Indonesia yang kini menjadi benda langka dan bisa lebih tinggi nilainya ketimbang harga batu akik pancawarna. Sayangnya aku bukanlah seorang penyimpan yang baik. Lagi pula, melihat barangnya sekarang yang kumal, bisa-bisa aku muntah karena mual. Kolektor uang pun pasti enggan menyimpan uang lama yang lusuh.
Pilihan ketiga, aku akan memberikannya saja kepada seorang peminta-minta. Bukankah bagi mereka uang dua ribu sangat berharga? Pahalaku pun tentu akan berlipat ganda. Mudah-mudahan uang tu bisa menahan palu godam di akhirat kelak, seperti kata pak ustad.
Eh, bagaimana kalau suatu saat uang itu kembali kepadaku? Pasti dia sudah menciptakan banyak cerita baru.
***
Bolpoin dan Paulina Vega Versi Sunda
BUS jurusan Bandung yang kunaiki melaju agak cepat ketika keluar dari pintu tol Plumbon, Cirebon. Aku duduk dekat pintu depan dan terkejut ketika seorang lelaki menerjang masuk. Meski pundaknya digayuti kantong kain, tangannya trengginas mencekal pegangan pintu,
Berdiri hampir di sebelah sopir, sejenak ia menyeka keringat yang membasahi wajahnya yang gelap. “Maaf para penumpang semua, nyuwun sewu.” Seterunya ia menyerocos dengan bahasa Indonesia versi Cirebon, kadang Sunda medok, campur aduk seperti karedok. “Ini kula tawarkan prodak-prodak anyar dengan harga promosi. Cari di mana toko di mana warung, ini pulpen tiga warna regane pasti lima rebu. Tapi berhubung kula beli langsung dari diler, kula tawarkan dua rebu perak bae. Coba dilihat-lihat, dicoba-coba. Soal beli tah nomor dua.”
Semua penumpang dibaginya satu per satu. Karena duduk di depan, aku kebagian paling dulu. Kulihat-lihat, kutimbang-timbang, memang bagus. Warnanya biru muda, bergambar tokoh kartun entah siapa. Ada tulisan made in negara tetangga, tapi tak usah disebutkan namanya, nanti dianggap SARA. Aku juga mencobanya pada kertas yang telah disediakan.
Sebenarnya aku tak sepernuhnya percaya barang yang dijajakan pengasong di bus punya kualitas bagus. Batu baterai dua ribu empat itu, yang kubeli dua hari lalu, baru sebentar dipakai sudah habis. Lampu senter pun dengan cepat meredup nyalanya. Lagi pula, aku tidak benar-benar sedang membutuhkan pulpen –tepatnya bolpoin sebenarnya. Aku punya bolpoin tiga, satu di meja kantor, dan dua di rumah.
Ketika si pengasong kembali dari mengedarkan dagangannya pun, aku sebenarnya ingin menggodanya: “Sira pasti bohong, ya?” Dan paling-paling ia akan menjawab: “Kalau kula bohong, ya jangan beli jeh”. Tapi melihat wajah lelaki itu, aku diam saja. Bahkan mendadak saja aku ingat dua anak kecilku, yang kutinggalkan di kampung karena aku bekerja di Bandung. Si penjual bolpoin pasti sedang berusaha mencari nafkah buat istri dan anak-anaknya. Aku pun merogoh saku celana, menyodorkan selembar dua ribuan, sambil berharap bolpoin itu akan berguna. Setidaknya, ya, ada juga pikiran untuk menghadiahkan bolpoin itu untuk anak pertamaku, yang sudah kelas dua SD.
Esoknya, di kantor, sebuah penerbitan buku, sengaja kupakai bolpoin itu untuk mem-proof sebuah naskah buku pelajaran. Aku senang menggunakan yang merah.
“Bagus pulpennya, Mas. Lucu. Beli di mana?” Suaranya dekat sekali di telinga. Napasnya terasa hangat mengusap pipi. Wangi melatinya menyamarkan pengharum ruangan.
“Ah,cuma beli di bus kemarin.” Dadaku mulai bergemuruh.
“Masa? Berapa?”
“Cuma dua ribu.”
“Wah, murah sekali. Nanti kalau ada lagi yang jual, beli satu lagi, ya?” Aku menoleh, terasa tangannya hingga di pundak. Dia tersenyum, sekilas mengingatkanku pada Paulina Vega, cuma sedikti lebih gemuk, dan tentu versi Sunda. Tapi termasuk langsing untuk wanita beranak dua. Senyumnya yang manis kadang-kadang membuatku lupa pada kampung halaman.
Benar seperti dugaanku, baru selesai mem-proof satu naskah, bolpoin itu mulai macet. Warna merahnya terputus-putus, wah, pasti sebentar juga habis. Ketika kubongkar, ya memang mau habis.
Anehnya, aku tidak merasa tertipu. Sebelumnya, toh, aku juga sudah menduga. Aku malah tertawa, meski agak masam. Bisa juga orang menipu. Menipu? Belum tentu. Jelas bukan si pengasong yang membikinnya. Nyata-nyata buatan pabrik, made in negara tetangga. Dia, kan, cuma menjajakan.
Aku kemudian malah berdoa semoga banyak orang yang mau ditipu secara sadar seperti aku. Dengan begitu, si pengasong memperoleh keuntungan lumayan, untuk menyalakan dapur keluarganya. Bukankah cara itu jauh lebih terhormat daripada mengamen dengan lagu yang itu-itu juga (“… daripada nyolong ayam, tiga bulan kurungan, lebih baik… dst”), mengemis atau apalagi mencopet?
Esoknya, kupakai lagi bolpoin yang biasanya.
“Mana pulpen yang kemarin?” kata si Paulina Vega versi Sunda seraya tersenyum manja. Rasanya lebih manis dibanding biasanya.
“Hilang, enggak tahu di mana.”
“Wah sayang, coba kemarin dikasih ke aku.”
“Mm…kalau buatmu… kita beli bareng aja di BIP, sambil ngopi. Mau?”
Hampir lima detik ia menatap dalam-dalam. “Kapan?”
Beberapa jenak aku pura-pura berpikir sebelum menjawab.
Siapa bilang bolpoin seharga dua ribu itu tidak memiliki manfaat besar? ***
Hermawan Aksan, lahir di Brebes. Menulis sejumlah cerpen dan novel. Tinggal di Bumiayu, Jawa Tengah.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hermawan Aksan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” Minggu 20 September 2015