Haji Gusuran

Karya . Dikliping tanggal 21 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
HAJI Markum sudah tiga kali naik haji. Setiap kali hendak naik haji, ia selalu mengukur tanahnya. Dari hasil menjual tanah itu, ia memperoleh ongkos naik haji sehingga Haji Markum terkenal dengan sebutan haji gusuran. Ia selalu menggusur atau menggeser tanah buat ongkos naik haji.Meski haji gusuran, ia amat bangga karena dikampungnya, baru segelintir orang yang bisa ke Mekah.
Tahun ini, Haji Markum bermaksud berangkat haji untuk keempat kalinya setelah menunggu hampir 10 tahun. Sekarang daftar tunggu naik haji memang lama, tidak seperti 10 atau 20 tahun lalu. Seperti di tahun-tahun haji sebelumnya, Haji Markum akan mengukur tanahnya. Ongkos berangkat haji sudah ia lunasi dengan cara meminjam di bank. Haji Markum harus melunasinya dengan cara menjual tanahnya.Jatuh temponya bertepatan dengan hari keberangkatannya ke Tanah Suci.
Namun, sejauh ini belum ada orang yang menawar tanahnya. Kabarnya karena tanah yang dijual tak bisa dilalui mobil. Akhirnya, Haji Markum banting harga, tetapi masih belum laku juga.
Saat bersamaan, tetangganya, Mursalih dan istrinya juga berencana berangkat haji. Mursalih tidak menjual tanah untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Ia tak punya tanah untuk dijual.Tanah yang ditempatinya hanya seukuran tempatnya tinggal, rumah berukuran sederhana.Namun, siapa yang bisa menyangka kalau dirinya akan berangkat haji juga.
Haji Markum termasuk orang yang menyepelekan Mursalih.
“Mursalih, mana bisa elo berangkat haji. Buat makan sehari-hari aja elo cengap-cengap! Ongkos haji tuh mahal.“
“Pak Haji, kalau Allah sudah berkehendak, semua bisa kejadian! Niat saya tulus, mudahmudahan Allah meridai…“
Haji Markum mencibir. Ia yakin kalau Mursalih hanya bermimpi.
Mursalih dan istrinya cuma pedagang sayuran.Setiap hari, suami-istri ini mencari sayuran ke pelosok kampung, seperti daun singkong, melinjo, daun pisang, nangka muda, asem taun, dan pepaya muda. Penghasilan bersihnya di bawah Rp50 ribu rupiah saja. Namun, Mursalih dan istrinya masih bisa menyisihkan Rp1000-Rp2000 perak buat kelak membayar ongkos haji.
“Mursalih, ongkos naik haji itu tiap tahunnya naik. Mana cukup celengan elo buat ongkos naik haji?“ “Naik haji itu kan jika mampu. Kalo enggak mampu enggak apa-apa.“
“Tapi saya ingin melihat Kakbah.“
Rupanya Mursalih sudah membulatkan tekadnya untuk berangkat haji. Ia sangat merindukan Tanah Suci. Itulah sebabnya Mursalih gigih bekerja dan menabung meski penghasilannya tak seberapa. Sejak berpuluhpuluh tahun lalu, Mursalih yakin niatnya yang tulus ke Masjidil Haram akan terwujud. Tahun inilah saatnya Mursalih dan istrinya akan berangkat memenuhi panggilan-Nya.
***
Suatu malam saat tertidur lelap, Mursalih dan istrinya dikejutkan tangisan tetangganya. Mursalih dan istrinya mendengar keluhan tetangganya itu soal anak kesayangannya yang dirawat di rumah sakit. Tetangga itu tak mampu membiayai operasi anaknya yang mengidap kanker ganas.
Mursalih dan istrinya bingung. Keduanya ingin membantu, tapi uang yang mereka miliki untuk persediaan ongkos naik haji.
“Kalau uang ini kita berikan ke mereka, tabungan kita akan berkurang. Kita bisa gagal berangkat ke Tanah Suci tahun ini, Pak.“
“Tapi kalau tidak kita bantu, dari mana mereka mendapat bantuan? Kita tetangganya, Bu.“
“Tetangga dia bukan kita saja, Pak. Haji Markum juga tetangganya.“
“Kenapa kamu menyebut Haji Markum?“ 
“Selain kita, hanya Haji Markum yang mungkin bisa menolongnya.“
Mursalih dan istrinya menemui tetangganya yang sedang bersedih.Setelah mereka bercakap-cakap, ketahuan kalau mereka tak dapat pinjaman dari Haji Markum meski mereka sudah memintanya.Mursalih dan istrinya tambah bingung.
“Baiklah kalau begitu, kami akan membantu,“ ujar Mursalih sambil memaksakan senyum.
“Enggak usah, Bang! Abang pasti lebih membutuhkan uang itu buat ongkos naik haji.“
“Enggak apa-apa. Anak Abang harus segera ditolong!“ “Tapi kalau kami pinjam, bagaimana kami menggantinya?“ “Udah deh enggak usah dipikirin. Yang penting anak Abang selamat!“ Mursalih memberikan uang kepada tetangganya sebesar Rp20 juta. Tetangga itu memeluk Mursalih sambil menangis karena terharu.
***
Haji Markum tersenyum mendengar kabar kalau Mursalih membantu tetangganya. Berbeda dengan istrinya yang malu karena tak bisa membantu.
“Gue bilang juga apa. Si Mursalih kagak bakalan bisa naik haji!“ “Tapi dia udah bisa bantu ngobatin anaknya si Midun, Bang!“ “Justru itulah, si Midun menjadi jalan kegagalan si Mursalih naik haji!“ “Abang kok ngomong gitu? Kita yang salah, Bang. Kalau aja kita yang bantu, pasti Mursalih bisa berangkat haji karena duitnya enggak kepake!“ “Ini semua udah digariskan Allah!“ “Jadi Abang enggak ngebantu tetangga yang kesusahan juga udah digariskan Allah?“ Haji Markum terdiam, lalu menatap istrinya sambil tersenyum mengangguk. Istrinya hanya bisa menghela napas berat.
Haji Markum keluar rumah dan berpapasan dengan Mursalih yang tengah berjalan sendirian.
“Mursalih, elo dapet kloter berapa?“ “Belum dapat, Pak Haji. Saya belum ngelunasin semua biayanya.“
“Elo gimana sih? Bukannya pembayaran terakhirnya besok?“ “Iya sih, Pak Haji.“
“Yaaah, ini semua emang udah jalannya, Mur! Elo kagak usah sedih!“ “Kalau Pak Haji sendiri gimana?“ “Gue sih tinggal berangkat aja. Udah dapet kloter. Lusa gue sama bini gue udah berangkat ke asrama haji. Jangan lupa, entar malem elo mampir ya. Ada pengajian di rumah gue.“
“Insya Allah, Pak Haji.“
“Jangan sampe kagak dateng! Ini pengajian perpisahan karena gue mau berangkat haji.
Banyak makanannya!“ “Iya Pak Haji.
Permisi Pak Haji, saya mau metik sayuran.
Assalamualaikum.“
“Wa’alaikumsalam.“
Haji Markum memandangi kepergian Mursalih sambil geleng-geleng kepala, “Mursalih… Mursalih… Biar elo metik sayuran penuh dua truk, kayaknya kagak bakalan mampu buat nutupin biaya ongkos haji lo!“ 
***
Pengajian di rumah Haji Markum ramai. Mereka datang bukan hanya ingin melepaskan kepergian Haji Markum ke Tanah Suci, tapi juga ingin mencicipi hidangan dan membawa pulang bungkusan berkat.
Mursalih dan istrinya juga datang. Dalam hati, Mursalih sendiri sedih bukan main. Seharusnya, ia melakukan hal yang sama.Setidaknya, dia bisa melakukannya dengan acara sederhana.
Sepulang dari rumah Haji Markum, Mursalih dan istrinya berpapasan dengan Midun yang baru pulang dari rumah sakit. Midun tampak sedih sekali karena ternyata uang yang tempo hari dipinjamnya masih kurang. Anaknya harus dioperasi lagi.
Mursalih pun meminta Midun ke rumahnya besok. Istri Mursalih heran. Di tempat tidur, istrinya kembali mempertanyakan sikap suaminya yang semakin membuatnya bingung.
“Abang gimana sih? Kalau si Midun itu pinjam uang kita lagi, maka keberangkatan kita ke Tanah Suci semakin enggak mungkin!“ “Kagak apa-apa. Kasihan si Midun. Mau ke mana lagi dia minjem, kalo bukan sama kita?“ “Abang kasihan sama si Midun, tapi kagak kasihan sama diri Abang sendiri!“ “Kenapa harus kasihan sama diri Abang. Justru Abang merasa bahagia bisa menolong tetangga yang lagi kesusahan.“
“Tapi kan Bang, kita jadi gagal naik haji.“
“Kita emang gagal ke Tanah Suci, tapi Insya Allah niat kita naik haji mudah-mudahan bisa jadi pahala.“
Saat bersamaan, Haji Markum dan istrinya ternyata tidak bisa tidur. Dia baru saja mendapat kabar kalau pembeli tanah yang rencananya akan bayar panjar esok hari tiba-tiba membatalkannya.
“Bang, kalau tanah itu kagak laku, terus gimana kita bisa ngelunasin pinjaman bank.“
“Gue juga bingung. Yang jelas, rumah kita pasti bakalan disita bank!“ “Bang, sekarang sih enak kita bakalan berangkat haji, tapi entar kita pulang haji, kita mau tinggal di mana?
“Itu dia yang lagi gue pikirin!“ Haji Markum benar-benar tak bisa tidur.Pikirannya mengawang-awang. Berbeda dengan Mursalih yang tidur nyenyak sambil mendengkur.
Lusanya, Haji Markum kembali berangkat ke Tanah Suci untuk keempat kalinya, sedangkan Mursalih dan istrinya terpaksa menunda kepergiannya. Entah tahun depan, dua tahun lagi, entah kapan. Midun tak tahu kapan akan mengganti uangnya. Meski begitu, Mursalih tetap yakin kalau dia dan istrinya akan berangkat haji.
***
Sudah dua bulan sejak Haji Markum dan istrinya menunaikan ibadah haji ke Baitullah, tapi Haji Markum dan istrinya tak terlihat di kampungnya. Mursalih sempat mencari-carinya karena biasanya Haji Markum akan bercerita setiap kali pulang dari Mekah.
“Saya juga enggak tahu k emana Haji Markum.Jangan-jangan dia malu karena rumahnya disita bank!“ “Saya sendiri heran sama Haji Markum, masa pergi haji uangnya boleh pinjam? Sudah begitu, dia memaksakan terus pergi haji padahal sudah sering. Dia naik haji mau pamer apa ibadah?
Kan dia tahu, masih banyak orang yang belum kebagian naik haji seperti saya atau Bang Mursalih…“
“Sudahlah,“ ujar Mursalih, “Mudah-mudahan Haji Markum baik-baik saja tinggal di rumah saudaranya di kampung lain.“
“Bang Mursalih sendiri kapan berangkat haji?“ Mursalih tak bisa menjawab. Ia hanya tersenyum. Ia belum tahu kapan ia akan berangkat haji. Meski begitu, Mursalih merasa dirinya sudah seperti berangkat ke Tanah Suci.Hari-hari belakangan ini jiwanya semakin tenteram. Langkahnya semakin ringan.Pikirannya semakin tenang. Ibadahnya tambah giat. Ini belum tentu dapat dirasakan oleh orangorang yang baru pulang haji seperti Haji Markum.*** 
2015 
Zaenal Radar T, menulis novel, cerpen, dan skenario. Bermukim di Tangerang Selatan
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Zaenal Radar T
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 20 September 2015