Lelaki Berusia Sehari

Karya . Dikliping tanggal 22 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
PINTU kayu bercat putih perlahan terbuka. Seorang lelaki melayang keluar dari baliknya. Ia seakan tersedot oleh udara pagi yang penuh energi hari ini. Dadanya mengembang, sesak dengan rasa bahagia. Pagi telah hadir lagi, setelah kelam semalam! Tersenyum, ia mengunci pintu rumah. Kau akan bertanya-tanya heran, untuk apa ia membawa tongkat. Sedangkan punggungnya begitu tegak, langkahnya begitu mantap. Dimasukkannya kunci rumah ke dalam saku celananya, dimulainya perjalanan hari ini sambil bersiul-siul riang. Disapanya satu dua tetangga yang melambaikan tangan kepadanya saat keluar dari rumah masing-masing. Ada juga yang sedang sibuk mencuci motor atau mobilnya di halaman dan menyapa sambil tertawa. Ya, lelaki ini dikenal baik oleh tetangganya. Setiap pagi, ia selalu memulai perjalanan dengan menularkan keceriaan pada semua yang berada di sekitarnya.
“Selamat pagi! Semoga pagimu selamat!” serunya sambil melambaikan tangan, disahuti oleh tawa riang dan balasan ucapan selamat pagi juga dari mereka yang mendengarnya. 
“Lelaki yang ramah, ia tetangga yang menyenangkan,” kau dan semua yang melihatnya pasti akan berkata begitu. Ia memang sosok seorang lelaki gagah berkulit coklat muda dengan senyum riang terbentang di wajahnya. Rambutnya hitam tebal tercukur rapi, bersinar memantulkan cahaya matahari pagi yang menyinarinya. Lelaki itu sehat dan kuat, langkah-langkahnya lebar tak tergesa dalam perjalanannya. Beberapa ekor anjing ia lalui saat berjalan menapaki batu-batu trotoar yang tersusun rapi. Anjing-anjing itu sibuk berlari kecil, mencoba menarik-narik tali pengikat yang melingkar di leher mereka agar lepas dari tangan para pemilik yang berusaha mengikuti dari belakang. Bahkan anjing-anjing pun menyapa lelaki itu dengan gonggongan nyaring di antara lenguh napas dari mulut terbuka dan lidah yang terjulur. 
“Pagi yang cerah! Semua makhluk berbahagia di pagi secerah ini!” lelaki itu mendesahkan napas panjang sambil menengadah pada langit biru dan gumpalan awan putih. Ditatapnya matahari pagi yang tersenyum padanya dari persembunyiannya di balik rindang pepohonan, dibalasnya senyuman itu dengan anggukan bersemangat. Ya, ia memang sehat dan bahagia pagi ini. Ketukan tongkat yang bersahut-sahutan dengan langkahnya riang, seakan menyuarakan degup jantung yang lancar memompa darah merah ke seluruh tubuh. Ia, lelaki sehat yang berbahagia, telah memulai perjalanannya dengan baik. 
Matahari kini tak lagi malu-malu. Sinarnya benderang menimpa atap rumah, pohon-pohon, batu jalanan dan apa saja di muka bumi. Juga puncak kepala lelaki yang masih terus berjalan. Dua-tiga butir keringat mulai menitik di pelipis, tapi tak melunturkan senyum ceria yang terus tersungging di wajahnya. Kini ia berpapasan dengan beberapa perempuan yang selesai berbelanja. Mereka menyapa lelaki itu sambil melenggang berjalan pulang. Di tangan mereka menggantung keranjang belanjaan, penuh berisi sayur-mayur dan buah-buahan yang mereka beli pagi ini. Begitu menggiurkan, warna-warni menyiratkan nikmatnya santapan yang akan terhidang di meja makan suami mereka nanti. 
Lelaki itu tersenyum simpul sambil terus melangkah. Ia sedang memikirkan, betapa para perempuan itu tak sadar diri mereka pun adalah hidangan di tempat tidur suami mereka malam hari. Malam hari yang jalang, sungguh berbeda dengan pagi ceria yang bersahabat. Senyum lelaki itu membeku sesaat, teringat akan malam hari, yang sarat dengan mimp-mimpi mencekam. Ia tak bersahabat dengan malam. Tidak sama sekali! Ia mengusap pelipisnya yang basah. Dengan heran dipandanginya beberapa helai rambut yang turut terusap dan menempel di telapak tangannya. Lututnya mulai terasa nyeri, terutama saat melangkahi dua anak tangga pada trotoar yang ia tapaki. Syukurlah kubawa tongkat ini, gumamnya pada diri sendiri. Lelaki itu melanjutkan perjalanannya dengan bersemangat.
Tepat saat matahari bersinar tegak lurus di atas tubuhnya, lelaki itu telah bersimbah keringat. Ia kini melewati sebuah taman kota yang mulai dipenuhi orang-orang yang sedang istirahat makan siang. Pintu-pintu gedung perkantoran terbuka lebar, para pekerja berhamburan keluar, bersiap menikmati rehat tengah hari mereka. Lelaki itu menatap sinis kaum perempuan bergaun kantor dan para lelaki yang berdasi aneka warna. 
“Kalian semua beralasan bekerja demi mencari nafkah, padahal kenyataannya kalian sibuk bermain mata dengan rekan kerja,” lelaki itu mendesis di sela-sela napas yang mulai terengah. Dihentikannya sejenak langkah yang makin berat. Dengan tangan bertumpu pada tongkat ia beristirahat sejenak sambil terus menatap kegenitan para perempuan terhadap rekan kerja lawan jenisnya, dan betapa para lelaki beradu gagah mengembangkan dada agar terlihat lebih jantan dibandingkan sesama lelaki di sekitarnya. 
Seperti menyaksikan kehidupan di hutan rimba, gelak lelaki itu sambil meringis merasakan nyeri di lutut yang semakin menjadi. Saat itu angin berembus kencang, memberikan sejenak sejuk ke tubuh lelaki yang mulai membungkuk bertelekan pada tongkat. Sambil menarik napas panjang, lelaki itu menengadah menatap matahari di atas kepala. Bola api itu balas menatap dengan sorot yang garang, membakar kornea mata si lelaki hingga ia terpaksa mengerjapkan mata karena silau. Diangkatnya tangan untuk melindungi mata, dan saat ditempelkannya ke kening yang basah oleh keringat, ia merasakan lembar-lembar rambut yang semakin banyak berguguran dari kepalanya. Dipandanginya telapak tangannya dengan heran, lalu ia menoleh ke belakang, ke arah trotoar yang telah ia lalui sedari tadi. Alangkah terkejutnya ia, menyaksikan betapa rambutnya telah berceceran di sepanjang trotoar itu. Panik dirabanya kembali kepalanya, dan terasa rambut yang ia cengkeram terlepas dari kulit kepalanya, menggumpal di genggaman tangan. 
“Ah, kenapa dengan diriku? Apa yang terjadi?” lelaki itu bertanya-tanya sambil menatap jejak rambutnya di sepanjang trotoar yang telah ia lalui, dan berakhir di bayang-bayang yang berada tepat di bawah kakinya. Baru disadarinya bahwa rambut yang berguguran itu adalah rambutnya yang telah memutih. Aku menua! Aku menua, dan tak ada yang bisa kulakukan untuk mencegahnya, batin lelaki itu sambil tercenung. 
Waktu terus berjalan dengan lambat, seolah mengiringi langkah lelaki yang mulai menua itu. Kini ia benar – benar merasakan nyeri pada lutut sangat menyiksanya. Tiap langkah terasa sangat sulit dilakukan dengan hampir seluruh massa tubuh bertumpu pada tongkat yang membantunya berjalan. Matahari mulai condong ke arah barat, bayang-bayang tubuh semakin memanjang mengikuti dari belakang. Napas lelaki itu terengah-engah, langkah-langkahnya tertatih bersama kertap tongkat mendetak trotoar. Lelaki itu mengusap kepalanya sekali lagi. Ia tak merasakan helai rambut menyambut usapan tangannya. Yang terasa adalah kulit kepala yang basah oleh keringat. Dengan heran dipandanginya telapak tangan yang tak lagi dilekati helai-helai rambut yang terusap. Kulit tangan yang berkeriput, ruas-ruas jari yang membengkok kaku dan terasa sakit bila digerakkan. 
“AKU makhluk celaka!” rutuk lelaki itu sambil terus memandangi tangannya dengan muak. Ia mulai bertanya-tanya, kapan tiba di tujuan perjalanan. Terlalu lama, terlalu panjang, keluhnya dalam hati. Pun demikian, tetap dilangkahkannya kaki melanjutkan perjalanan. Bayang-bayangnya lekat mengikuti dari belakang, matahari merah jingga kini bertempur dengan langit kelabu, seolah pertanda bahwa hari pun turut menua bersama lelaki itu. Hari telah menjelang senja, lelah mulai menguasai tubuh lelaki yang kini membungkuk, menahankan nyeri pada lutut dan tulang punggungnya. Ia kini lelaki tua yang tak putus bertanya-tanya dalam hatinya. 
Malam telah memenangkan pertempuran. Matahari kini terbunuh sempurna. Di langit, gemintang kerlap-kerlip memainkan konser tanpa nada merayakan kemenangan malam. Tapi lelaki yang kini renta tak turut bersuka. Punggungnya terbungkuk menahankan nyeri tak terperi dari kedua lutut. Seluruh rambutnya punah, yang tersisa kulit kepala berkerut seolah mengisahkan kepahitan hidup seorang anak manusia dipaksa dewasa oleh dunia.
“Di mana akhir perjalananku? Terlalu jauh aku telah melangkah. Mengapa lama sekali tiba?” tersiksa oleh kertap tongkatnya sendiri yang semakin berat, lelaki renta meratap. Ia tak lagi ingat, ke mana tujuan kepergiannya. Perlahan, perlahan sekali dipaksakannya leher yang kaku menoleh ke belakang. Jalanan kini sepi, hanya ada satu dua ekor kucing bermata kilau berkeliaran menikmati malam. Sepanjang trotoar, helai-helai rambut putihnya yang berguguran juga kilau memantulkan cahaya bulan. Perlahan, perlahan sekali ia menengadahkan kepala. Purnama membalas tatapannya dari sela-sela lipatan langit malam. 
“Terkutuk! Hendak ke mana aku ini?” lelaki renta kini meradang. Dicobanya mengingat-ingat tujuan perjalanan. Sia-sia. Ia bahkan tak ingat titik awal keberangkatannya. Seluruh kenangan perjalanan turut terbunuh bersama matahari. Tak ada yang bisa dilakukan lelaki itu selain berhenti di tempat atau melanjutkan perjalanan. Menggeram, ia tak mau menyerah. Dipaksakannya langkah demi langkah, setapak di depan setapak, walau tertatih. Ke depan, entah apa pun yang ada di sana. Lelaki renta terus melangkah, terus hingga akhirnya langkahnya terhenti …
“Aah! Ini rumahku!” termegap, didapatinya ia berdiri di depan pintu rumahnya sendiri, yang ia tinggalkan tadi pagi di awal perjalanan. Kini ia tersadar, sesungguhnya ini adalah perjalanan pulang. Dengan jari gemetar ia merogoh kantung celana mencari anak kunci, lalu dimasukkannya ke lubang di daun pintu. Didorongnya dengan susah payah pintu putih hingga berderit terbuka. Menyeret langkah yang lelah, ia masuk ke dalam rumah. Sebidang ruangan lengang berlantai papan menyambut kedatangannya dalam gelap. Hanya ada pembaringan di pojok ruangan. Dengan lega ia rebahkan tubuhnya di atas pembaringan. Tongkatnya terjatuh dengan suara keras ke lantai. 
“Aku lelah. Lelah. Perjalanan ini… hhh… terlalu melelahkan,” keluhnya dengan napas terputus-putus. Matanya yang perih buram memandang langit kelam dari balik jendela di dinding sisi pembaringan. Sesekali kaca jendela terlihat bergetar ditepuk-tepuk angin yang semakin riuh. Tiba-tiba kilat tanpa suara menerangi langit dalam hitungan detik, tampak dedaun pohon di halaman melambai-lambai tertiup angin kencang. Ada helai-helai putih berkilau terlihat melayang-layang di udara, berputar melingkar seperti pusaran. Helai-helai rambutnya. Angin berdesau di luar rumah, seolah turut meratapi nasib lelaki malang yang menua dalam sehari. 
“Jadi beginilah akhirku. Di pembaringan, di gigil malam seperti ini,” lelaki itu memaksakan sebentuk tawa keluar dari kerongkongannya yang tercekat. Semua keceriaan dan semangatnya di saat terang tadi punah, kini ia tua bangka yang nyaris ditinggalkan ruhnya. Sekujur tubuhnya kaku, kedua ujung kakinya mengejang. Ada yang meronta-ronta di dalam raganya, berontak ingin bebas dan menari bersama helai-helai rambut putih di luar. Kelopak mata lelaki renta kini setengah tertutup, diberati rasa nyeri yang berdenyut di balik tengkorak.
“Begini caraku mati? Sendirian, tanpa tangis dan doa dari sesiapa?” lelaki renta sudah kehabisan tenaga. Malam pekat, kini bintang pun menghilang. Bulan purnama menggantung sendirian, menyaksikan lelaki renta meregang nyawa. Napasnya kini tinggal satu dua.
Menjelang dini, lelaki renta tak lagi bisa membuka mata. Ada yang berdesir meluncur keluar dari ubun-ubun, berangsur meninggalkan tubuh seiring suara tercekik dari kerongkongan.
“Terkutuklah dunia! Kau tak lebih dari rumah bordil bagi kaum muda!” setelah rutukannya yang terakhir, melayanglah nyawa lelaki renta. Tubuhnya terbaring diam, tak lagi meregang. Angin berdesing semakin kencang, helai-helai rambut putih terbang berputar-putar. Berputar, terus berputar melewati jendela masuk ke rumah. Semakin lama semakin banyak. Seluruh ruangan berpendar oleh kilau helai-helai rambut putih yang kini terbang seperti kunang-kunang di dalam rumah yang gelap. Pendarnya memberi seberkas sinar yang jatuh di atas jasad tergeletak di pembaringan. Kerut-kerut derita tampak jelas menggelayuti wajah pasi lelaki renta. Satu persatu helaian rambut putih mendarat di kepala jasad lelaki renta dan melekat di sana. Perlahan warnanya berubah menghitam. Bersamaan dengan semakin banyaknya rambut melekati kepala, keriput di wajah dan tubuhnya berangsur hilang. Rona pias di wajah jasad itu pun menghilang, lelaki itu tampak seakan sedang terlelap.
Terdengar kokok ayam. Sekali. Dua kali. Subuh telah tiba, matahari sebentar lagi kembali berkuasa. Dada lelaki di pembaringan tampak naik turun, pertanda bahwa ia bernapas! Perlahan, kelopak matanya bergetar membuka, sudut bibirnya bergerak menyunggingkan senyum. Ya, lelaki itu hidup kembali, tepat saat matahari terbit. Direntangkannya kedua tangan lebar-lebar, lalu diusapnya rambut hitam lebat yang kembali membungkus kepalanya. Ia muda, sehat dan tegap.
“Ah, hari yang baru! Aku tak sabar ingin segera memulai perjalananku!” lelaki itu berseru sambil mendongakkan kepalanya. Seluruh tubuhnya memancarkan semangat kehidupan. Segera ia bangkit dari pembaringan, meraih tongkat yang tergeletak di lantai, dan sambil tersenyum bergegas melangkah menuju pintu. Diiringi cericip burung dan sinar matahari pagi, ia siap memulai perjalanannya hari ini. o
Marina Novianti lahir di Medan, 21 November 1971. Kini tinggal di Bogor.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Marina Novianti
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Minggu 20 September 2015