Mbah Mo dan Bulan September

Karya . Dikliping tanggal 15 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
SETIAP bulan September tiba, Mbah Mo selalu teringat akan masa lalunya. Ia tidak pernah paham kenapa dirinya kemudian dimusuhi, susah mencari pekerjaan, dan hidupnya terlunta-lunta karena banyak orang tak sudi untuk menolong. Sudah lebih dari separuh hidupnya, ia hanya bekerja sebagai pemulung, tanpa keluarga. Hidupnya juga hanya sembarangan, dari rumah kardus satu ke rumah kardus lain. Di pinggiran rel kereta api.
Setiap bulan September tiba, Mbah Mo ingat, di masa remajanya ia suka nonton pertunjukan tari di alun-alun. Ada seorang perempuan seksi yang biasanya ditunggu-tunggu untuk tampil di panggung. Berpakaian jarik dan kemben yang menonjolkan daging atas kedua buah dada. Banyak orang menyebutnya ronggeng. Penari inilah yang kemudian, seingat Mbah Mo, akan melagukan tembang-tembang Jawa termasuk di antaranya genjer-genjer. Mbah Mo hanya tahu bahwa ia sering sangat terpukau dengan penampilan perempuan seksi itu. Sebagaimana penonton lain yang di matanya sama terpukaunya. Maka, bagi yang punya uang berlebih akan memberikan saweran. Bagi yang nakal malah sekalian menyisipkan uang tersebut di lekukan vertikal dada sang penari!
Setiap bulan September tiba, Mbah Mo akan selalu teringat, sudah puluhan kali ia menonton pertunjukan yang ada penari ronggengnya itu. Sampai suatu waktu, di malam hari, tiba-tiba saja listrik di kampungnya mati. Ia dibangunkan secara kasar oleh dobrakan pintu orang yang kemudian berteriak keras supaya ia keluar rumah. Beberapa orang di antaranya membawa obor. Salah satu di antaranya lantas memukul tengkuknya dan ia pun terkapar pingsan. Ketika siuman, ia sudah berada di tangsi tentara, bersama dengan teman-teman lainnya, seusia.
Setiap bulan September tiba, Mbah Mo terkenang dengan teman-temannya itu, teman-teman yang setiap harinya menemani lari-lari keliling tangsi, push up dan jika tak mampu melakukan semuanya dengan baik, maka akan ada hadiah popor senapan melayang ke badan.
Setiap bulan September tiba, Mbah Mo akan selalu ingat, sejumlah tentara memintanya jalan jongkok sampai tepat di depan salah seorang tentara. Tentara tersebut tidak memintanya berhenti. Maka, tentu saja, Mbah Mo menabrak kakinya. Dan ia marah. Lagi-lagi popor senapan mengenai punggungnya.
Setiap bulan September tiba, Mbah Mo akan ingat, seorang tentara menanyainya dengan banyak pertanyaan.
”Kenapa kamu orang suka pertunjukan penari ronggeng itu?” demikian salah satu isi pertanyaan itu.
”Saya suka karena cantiknya. Yang penting memikat hati, putih, dan mulus,” begitulah jawaban jujur Mbah Mo yang malah dikira main-main oleh si tentara dan membuat pundaknya kembali mendapatkan dampratan popor senapan.
”Tahu nggak apa itu genjer-genjer?”
”Tahu. Nama sayuran. Nama daun. Enak jika dimasak. Saya paling suka dioseng-oseng.”
”Oseng-oseng popor maksudmu?!” dampratan popor kembali mengenai pundak Mbah Mo.
Dalam hitungan pagi hari saja, Mbah Mo ingat, pernah ia sarapan popor senapan sekitar lima kali. Itulah pengalaman Mbah Mo yang dalam ingatannya disebut sebagai apel pagi. Pengalaman itu bisa saja setiap hari. Bisa beda tentara yang menanyainya, namun pertanyaannya bisa sama. Tentu, Mbah Mo menjawabnya akan sama, karena hanya jawaban itulah yang ada di dalam otaknya.
Setiap bulan September tiba pula, Mbah Mo lebih suka banyak di rumah kardusnya. Tiduran. Merokok. Minum seadanya. Di jalanan, di bulan Sepember, kalau ia bertemu dengan tentara, ia masih suka mak tratap, kaget bukan kepalang. Anehnya, itu hanya di bulan September. Jika tidak di bulan September, ia biasa saja ketika bertemu dengan tentara.
Juga di setiap bulan September tiba, Mbah Mo lebih banyak cemburu melihat anak-anak muda yang dulu ketika ia seusia segitu, lebih banyak berada di dalam penjara. Kesibukannya hanya membersihkan rumputan sekitar penjara, memijiti kawan-kawannya senasib dan menuruti kemauan sipir untuk mengurusi ternak ayam, kelinci, bebek, atau apa pun milik mereka. Mengurusi kotorannya, memberi makanan dan minuman, namun tak pernah merasakan panen. Maka, begitu di masa sekarang ia melihat anak-anak muda yang begitu banyak se-nyum di jalanan, saling berangkulan dengan pacarnya begitu mesra, rasanya Mbah Mo hanya bisa merutuk kepada Tuhan.
”Ya Tuhan, apakah kamu memang benar-benar adil?”
Tentu Mbah Mo tidak bisa mendapatkan jawaban yang pasti atas pertanyaannya. Yanog pasti, yang ia rasakan, semenjak muda lebih banyak hidupnya menderita. Padahal, menurutnya, ia tidak pernah melakukan kesalahan. Ia hanya berbuat sesuai hati nurani, yang ia sukai, tanpa pernah merugikan orang lain. Namun lebih banyak orang menganggapnya salah.
Setiap bulan September tiba, Mbah Mo akan terkenang dengan teman-temannya sesama di penjara, yang lebih banyak sudah tiada. Sebagian ada yang hidupnya di hari tua sakit-sakitan. Selalu mengeluh katanya tulang-tulangnya terasa remuk. Ada yang semenjak di penjara dan di hari tuanya tuli kedua telinganya. Ada yang kedua kakinya pincang, tangannya hanya berfungsi satu, dan yang lain.
Pernah, ada seseorang bertanya pada Mbah Mo. Ngakunya sebagai wartawan. Ia menanyakan apakah Mbah Mo dendam terhadap tentara? Mbah Mo menjawab cekatan dan tegas, tidak. Sebab, menurut Mbah Mo, pada saat itu mereka juga tidak tahu apaapa. Mereka hanya bekerja saja. Bekerja. Itulah yang menurut Mbah Mo menjadikan tidak salah. Maka, tak perlu didendami, tak perlu dibenci.
Pernah pula, wartawan itu bertanya, apa yang Mbah Mo inginkan jika misalnya putaran waktu bisa berbalik? Di masa muda ia tak menemui popor senapan? Menurut Mbah Mo, jika nasib bisa kembali berbalik, ia hanya ingin hidupnya nyaman ketika nonton tarian, ketika nonton ronggeng. Ia hanya ingin kesukaannya tidak ada yang mengganggu. Baginya, itu sudah lebih dari cukup. Ia tidak ingin yang berlebih, ia hanya ingin ke mana-mana bisa tidak dipersalahkan. Apalagi memang ia sangat yakin, tidak pernah membuat kesalahan. Kecuali jika ia memang membuat kesalahan, wajar jika mendapatkan hukuman.
Setiap bulan September tiba, Mbah Mo selalu lebih banyak berdoa: ia ingin sehat lebih lama lagi. Apalagi, tubuhnya tidak ada yang mengalami cacat berarti. Pendengarannya tetap baik, matanya tetap awas, bicaranya tetap lancar, napasnya tetap teratur dan kondisi tubuhnya tetap segar meskipun usianya sudah kepala delapan. Mbah Mo hanya tahu, harapan satusatunya yang menenangkan hidupnya hanyalah berdoa. Meskipun hingga di hari tuanya pula, ia masih merasa belum menemukan jawaban atas pertanyaannya kepada Tuhan: apakah memang apa yang diberikan Tuhan padanya sudah cukup adil? ❑ – k

Perum Kasongan Permai, Agustus 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Satmoko Budi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 13 September 2015