Nyanyian Purbani – Berdendang di Negeri Garis Bakar Matahari –

Karya . Dikliping tanggal 27 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Nyanyian Purbani

(nyanyian pelancong mencari jalan pulang)


parit panjang
membentang jauh
jadi sungai-sungai melingkar
gemuruh lautan
tangis

sungguh indah
batas ungkap
orang-orang sejenak
menentramkan tidur
dari kegaduhan yang begitu sempurna
air mata
membicarakan sedu-sedan
sejak dulu

tuding-menuding
teriakan-teriakan
tak sudah
tak henti
gedung didirikan
dihancurkan
nyawa digadaikan
atas nama kedamaian
kemerdekaan
juga keangkuhan
langit dibor
bumi ditenggelamkan
caci-maki meja perundangan
peraturan-peraturan digodok di bara magma
lantas tidur
sidang melipat uang
sambil busung dada

Baca juga:  Museum Luka

kota tenggelam
banjir bandang
sampah jeritan

tak binatang
tak manusia
tak tumbuhan
nyanyian panjang
belajar menangis riang.

Tangerang, 8 Januari 2013

Berdendang di Negeri Garis Bakar Matahari

menarilah di pelupuk matahari
laut yang menderukan riak gelombang
jungkung layaran waktu napas kehidupan dilajukan
dibelah cahaya-cahaya gemilar
garis bakar matahari
anak-anak negeri belajar mengolah tanah
keringat dididihkan
sambil menulis sejarah peradaban
derukan lagi
wahai gending agusng
suara-suara bajak
agar pikuk kota besar
ditidurkan gerisik angin dusun
atau perempuan-perempuan lugu
menembangkan musim bersolek
kelak akan melahirkan anak-anak menggergaji angin
berdendang di negeri garis bakar matahari
rumah jendela dunia
berselimut kabut
dan orang-orang terlalu sibuk mendengkur.

Baca juga:  Kedatangan Renggali

Tangerang, 031213


Erry Amanda, pencinta seni.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Erry Amanda
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 27 September 2015