Oleh-oleh untuk Anggi

Karya . Dikliping tanggal 29 September 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
INILAH acara yang paling kusuka, menghadiri undnagan launching sebuah produk. Teman-teman wartawan menganggap peristiwa semacam itu sebagai refreshing, penyegaran diri dan program perbaikan gizi. Bagaimana tidak. Materi liputan sudah disediakan komplet pihak tuan rumah. Jika nanti ada sesi tanya jawab, itu sebenarnya sekadar basa-basi belaka. Tidak elok jika wartawan diundang dan tidak mengajukan pertanyaan.
Malam ini saya dan beberapa teman jurnalis diundang menghadiri grand launching hotel bintang lima di kawasan pinggir kota. Hotel Grand Alsace, diambil dari nama wilayah penghasil anggur terkenal di Prancis Selatan. Dibiayai patungan antara pengusaha dari Prancis dan Indonesia.
Hmm. Senangnya menjadi seorang jurnalis. Kadang dimanja bak seorang pangeran. Kedatangan kami sangat ditunggu-tunggu. Para pengusaha mau tidak mau harus berbaik hati dengan insan pers. Jangan sampai melukai hati para jurnalis. Sebab ancaman boikot publikasi bisa menghancurkan usaha mereka. Meski tidak sehebat fungsinya ketika rezim Orde Baru masih berkuasa, namun keberadaan para jurnalis tetap dibutuhkan. Bagaimanapun juga masyarakat tetap butuh berita. 
Untuk liputan yang bersifat seremonial para jurnalis tahu diri. Kami biasa mengenakan baju batik dan celana kasual, bukan dari bahan jeans. Alas kaki pun sebisa mungkin sepatu, minimal sepatu sandal.
Benar kata jurnalis senior yang dulu menarik saya untuk terjun ke dunia pers. “Jadi jurnalis itu hebat. Ibaratnya kita bisa wawancara dari pesinden sampai presiden!” Benar juga. Bagi masyarakat biasa tidak mudah bertemu dengan seorang Bupati atau Walikota. Bagi kami, justru mereka yang malah mengundang.
Seperti malam ini. Kami ditempatkan secara khusus agar mudah memotret. Kamera-kamera televisi pun sudah dipersiapkan sedemikian rupa mengarah ke panggung spesial. Susunan acara tidak begitu formal. Hanya sambutan singkat gubernur dan presiden direktur Hotel Alsace. Setelah itu ramah tamah dan hiburan berupa tari-tarian daerah, musik, dilanjutkan makan malam bersama.
“Silakan cicipi masakan favorit kami, beef bourguignoon,” kata Ely, bagian humas hotel yang sejak tadi sudah akrab dengan para jurnalis.
“Makanan jenis apa itu?” tanya seorang teman.
“Kalau Indonesia punya rendang yang istimewa, maka Prancis sangat bangga bisa menyajikan beef bourguignoon,” jawab Ely. “Atau mau mencicipi soupe a l’oignon? Dikenal sebagai sup bawang Pracis rasanya hmmm… nendang sekali!” lanjut perempuan itu sambil tersenyum. Ia lalu mengantar kami ke tempat perjamuan. Masing-masing bebas emngambil makanan yang disukai. Menu tradisional juga ada, gudeg, brongkos, lodeh, sup kacang merah, pecel, urap dan entah apa lagi. Tapi sayang sekali di tempat seperti ini hanya meinkmati menu yang dengan mudah di dapat dalam hidup sehari-hari.
Saya mengambil beef bourguignoon. Kata chef yang berdiri tidak jauh dari tempat perjamuan, masyarakat Prancis suka sekali dengan menu itu. Di sana termasuk menu favorit dan mahal harganya. Tentu saja! rasanya memang hmmm….
Untuk cuci mulut saya mengambil creme brulee, campuran dari vanila, susu dan buah-buahan. Menurut chef tadi kue itu biasa dinikmati sebagai makanan pembuka. Ah, yang penting enak. begitu kenyang dan tidak ada lagi yang harus kami kerjakan, beberapa teman langsung pamit. Ely segera memanggil petugas, lalu masing-masing diberi satu tas kain dengan logo hotel dan pasti di dalamnya ada bingkisan yang bisa kami bawa pulang. 
“Untuk oleh-oleh keluarga di rumah kami bawakan croissant. Kata para pakar kuliner, ini makanan paling enak sejagat, he.. he..” ucap Ely ketika melepas kami pulang.
Dalam perjalanan pulang aku bayangkan Anggi anakku pasti senang menerima oleh-oleh roti paling enak sejagat ini. Begitu juga istriku. Roti yang bentuknya melingkar ini sepertinya belum pernah kami makan.
Bagaimana rasanya roti oleh-oleh Ayah malam ini?” tanyaku begitu anakku makan.
“Enak sekali. Tadi ayah beli di toko roti?” tanya Anggi.
“Ya. ya, di toko roti terbaik dan paling mahal!” jawabku berbohong.
“Ohoo… Ayah hebat!” Puji anakku yang baru kelas V SD itu. “Gaji Ayah besar! Kenapa Ayah tidak beli mobil?” lanjutnya.
Saya gelagapan.
“Gaji ayahmu lebih besar dibanding gaji guru sekolahmu. Ayahmu emmang hebat, Anggi!” sahut istriku seperti menyindir.
“Kapan kita punya mobil, Ayah?” tanya Anggi lagi. “Kata BU Guru, gaji wartawan itu besar. Benar, Yah?”
Saya menelan ludah. Tiba-tibakelezatan ssoupe a l’oignon dan beef bourguignon hilang dari lidah. Malah ludahku teraa pahit. Istriku lalu pergi ke dapur mengambil nasi dan lauk untuk makan malam Anggi. Lauknya sayur lodeh kacang panjang dan tempe bacem.
“Tadi Ayah kok tidak beli sate?” tanya Anggi. Ia menggelengkan kepala ketika ibunya mau menyuapi.
“Tidak enak ya sayurannya?” kata istriku. Ia sendiri akhirnya yang makan nasi itu.
Saya menghela napas. Ingat peristiwa di hotel tadi. Makanan melimpah, semua lezat karena menu unggulan masyarakat Prancis.
“Sekarang jarang pulang membawa amplop,” kata istriku lirih begitu Anggi mencuci tangan di dapur.
“Ya. Imbauan organisasi kewartawanan agar tidak memberi uang dan barang kepada wartawan sangat efektif. Apalagi imbauan itu sering muncul dalam running text di berbagai stasiun televisi,” ktaku.
“Bagaimana teman-temanmu?”
“Untuk para jurnalis senior memang terasa sekali bedanya. Dulu setiap kali ada acara jumpa pers kita pasti dapat sekadar ongkos transpor. Sekarang paling sekadar cenderamata, makan minum, leaflet dan materi tulisan.”
“Kalau kita punya mobil Anggi tidak kehujanan dan kepanasan waktu pergi atau pulang sekolah,” kata anakku lagi.
“Anggi tidak makan?” tanya istriku.
“Anggi mau makan lauk sate atau fried chicken,” jawabnya sambil berjalan menuju meja belajar.
“Oke, akan ayah belikan sekarang!” kataku.
“Terima kasih Ayah!” sahut anakku gembira.
Sayur lodeh kacang panjang memang tidak sebanding dengan soupe a l’oignon dan beef bourguignon. Baik dari segi bahan maupun rasa. Itulah yang merasuki pikiranku ketika harus keluar rumah lagi membelikan sate untuk Anggi. Dunia seorang wartawan terkadang seperti jungkir balik: absurd! Baru saja tergelar kemewahan hidup di depan mata dan saya bisa ikut merasakan, tetapi hanya dalam hitungan menit saya harus kembali pada kenyataan hidup yang pahit di rumah. Dalam beberapa hari saya bisa menikmati semua fasilitas hotel bintang lima saat meliput seminar atau mebgikuti lokakarya, tetapi ketika pulang semua itu mirip sepotong mimpi. Karena saya harus kembali tidur di kamar pengap dengan kasur busa yang sudah tidak nyaman menyangga tubuh.
“Tadi Trisna mengancam tidak mau sekolah kalau tidak segera dibelikan motor. Ban sepeda sering gembos. Begitu alasannya.  Dan minggu ini SPP belum dibayar,” kata istriku malam itu.
Hmm.
“Setiap hari diolok-olok temannya. Mosok anak wartawan sekolah naik sepeda onthel. Anak bakul angkringan saja bisa naik motor model anyar. Begitu keluh kesan Trisna,” lanjut istriku.
Dadaku berdesir. angkringan Lik Pur di depan kantorku tiap malam pembelinya berjubel. Ia bisa menampung empat tenaga kerja. Penghasilan bersih tiap malam di atas Rp 500 ribu. Jangankan motor, mobil pun bisa ia beli atau kredit. Lik Pur pasti mampu mengangsur. Sedang saya? Juga teman-teman wartawan yang lain?
“Oplah koran kita tiap hari turun. Iklan semakin sulit di dapat,” kataku lirih supaya tidak didengar Anggi.
“Lalu?” tukas istriku cepat.
“Saya dengar tunjangan transport akan dipangkas. Begitu juga bantuan pendidikan akan dikurangi.”
“Berarti hanya tinggal mengandalkan gaji pokok?”
“Ya,” jawabku dengan nada berat.
“Media cetak harus bersaing dengan media online. Hal yang tidak terbayangkan dua puluh tahun lalu. Dulu kami mengira hanya televisi swasta yang jadi pesaing dalam meraup iklan.”
Istriku mendesah. “Jadi masa depan wartawan semakin sulit?”
Saya tidak menjawab.
“Mumpung tenaga masih kuat, apa tidak sebaiknya alih profesi saja, Mas?”
Saya yang ganti mendesah. Tidak mudah alih profesi menjelang umur setengah abad.
“Dari pada di luar tampak gagah, wartawan, tapi kenyataannya kita ini penuh keluh kesah. Jadi bakul angkringan malah lebih menjanjikan!” kata istriku sambil meraih guling dan memeluknya. “Mumpung masih ada waktu,” lanjutnya. Kalimat terakhir itu seperti bunyi alarm.
Hah! Semalam saya tidak bis amemejamkan mata. Besok pagi harus minta tanda tangan Pemimpin Redaksi supaya bisa mengajukan kasbon! Dan itu pasti dipersulit.  ❑ -k
Dayu, September, 2015

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan rakyat” Minggu 27 September 2015