Jaka Ompong

Karya . Dikliping tanggal 12 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
Jaka namanya, tapi orangnya sudah tua. Umurnya hampir tujuh puluh. Tidak juga dia lajang. Dia sudah berkeluarga. Istrinya yang sekarang malah yang kedua. Namun demikian anaknya hanya seorang, lelaki, dari istri pertama yang sudah meninggal. Jaka pun sudah bercucu dari anak satu-satunya itu. Sayang, dia mengaku tidak bisa sering ketemu dengan keluarga anaknya karena mereka tinggal cukup jauh.
Keterangan tersebut barusan, saya sarikan dari percakapan kami saat berkenalan pada suatu pagi menjelang siang di pekarangan rumah saya. Waktu itu saya agak sibuk bersama dua orang tukang yang memperbaiki kandang anjing. Cukup lama kami bertiga tidak menyadari adanya seseorang yang mengetuk-ngetuk pintu pagar dari luar. Saya baru mendengar setelah orang itu memanggil-manggil nama salah satu tukang saya.
Saya sendiri yang pergi membukakan pintu pagar untuknya, tapi dia tidak mengacuhkan saya. Dia langsung masuk dan jalan cepat ke arah kandang anjing dengan tetap memanggil-manggil nama tukang yang seorang itu. Saya biarkan saja dia beberapa lama bicara dengan tukang itu, sedang saya tetap tinggal berdiri di pintu pagar. Saya berharap dia tidak akan lama berada di pekarangan saya.
Saat dia kembali menuju pintu pagar, saya memperhatikan dirinya dengan saksama. Langkahnya mantap, badannya tegap. Kumisnya hitam tebal dan rambutnya hitam ikal. Sosoknya memang cukup gagah. Namun demikian seluruh sikapnya tampak berubah setelah dekat dengan saya. Dia tersenyum.., ah tepatnya nyaris tertawa dengan raut muka malu sambil menyodorkan tangan. Saya kaget menyadari bahwa dia ternyata ompong sama sekali. Ompong pisan, kata penduduk asli kampung tempat saya tinggal.
Saya pun menyalami tangannya yang masih tersodor. Duh, genggamannya keras banget.
”Maaf,” katanya, ”tadi saya kira bapak tukang juga. Saya Jaka pak.” Dia menyebut namanya sambil tertawa lepas, sepertinya banyak yang lucu terkandung dalam namanya itu. Saya pun tertawa sama lepasnya karena kaget. Habis, siapa duga pria segagah itu, dengan rambut dan kumis yang masih hitam legam, ternyata ompong pisan, dan bernama ”Jaka” pula.
Ternyata dia pun jago bercakap-cakap. Berbeda dengan kebanyakan orang kita, kata-katanya sarat keterangan, bukan sarat basa-basi. Dia mengaku berasal dari Malang, blasteran ayah Madura dan ibu Jawa. Sudah empat puluh tahun dia menetap di Jakarta, tapi ”Kota Metropolitan ini”, katanya, sama sekali tidak mengenalnya.
Selain lucu, cerdas juga orang ini, pikir saya, sambil menahan tawa. Agar percakapannya yang terasa bernas itu tidak sampai mati angin, cepat-cepat saya menukas: ”Tapi Pak Jaka yang sangat mengenal Jakarta kan?”
”Maaf pak,” sahutnya serta-merta dengan raut muka kegelian, ”sangat mengenalnya sampai bosan.” Saya lihat dia memperhatikan reaksi saya. ”Makanya saya akhirnya milih tinggal di kampung ini, pinggiran Metropolitan ini, seperti bapak!”
Terenyak juga saya mendengarnya, lalu coba menebak belokan pembicaraannya. Hm, dia merasa sama seperti saya. Apakah dia menghargai atau meremehkan orang yang tinggal di kampung, pinggiran Metropolitan, seperti saya? Lagi-lagi saya lihat dia memperhatikan reaksi saya. Sepertinya dia tahu apa yang saya pikirkan mendengar kata-katanya itu, karena dia secepatnya melanjutkan.
”Apa boleh buat pak,” katanya, lalu jeda sejenak.”Semua gara-gara pekerjaan saya.”
”Gara-gara pekerjaan bapak?” tanya saya penasaran.
”Betul pak. Pekerjaan saya security!”
Sejujurnya saya tidak dapat memastikan arti security, istilahnya itu. Karena itu saya memilih diam. Bagi orang yang tampak cerdas dan gagah seperti dia, security bisa berarti bekas anggota polisi atau tentara atau informan atau intel. Namun mengingat dia akhirnya memilih tinggal di kampung pinggir kota, bisa saja dia hanya hansip atau satpam. Sekali pun demikian, saya merasa jauh lebih terpikat pada penampilannya yang terbuka daripada pekerjaannya yang beristilah kabur itu.
Saya kira dengan diamnya saya, saya berhasil membuat suasana cocok untuk percakapan yang santai dan akrab. Percakapan kami pun berlanjut dengan tenang sehingga saya berani bertanya tentang pekerjaannya sebagai security itu. Sikapnya menjawab tidak berubah, santai dan lepas seperti ompongnya. Katanya security itu istilah kerennya. Orang juga menyebutnya ”hansip” atau ”satpam”. ”Bahkan saya jaga malam serabutan juga,” katanya mengaku. Keterangannya masih lebih jauh lagi, termasuk suka-dukanya sehari-hari.
SUATU malam saya merasa salah satu geraham kiri atas saya nyeri. Saya pikir sebabnya mungkin kebanjiran kuah lauk masakan rumah gaya tom yam itu. Sebenarnyasaya sudah sikat gigi, sebagaimana biasa setiap habis makan, tapi masih nyeri juga. Bisa juga gusi saya sampai terluka karena saya ngotot membersihkannya lagi dengan gesekan benang. Sebentar juga reda, begitu saya sangka.
Ternyata nyeri geraham saya itu makin ngeri, seolah-olah sebatang jarum setan beracun ditusukkan dalam-dalam ke geraham saya itu. Pada pukul dua dini hari saya tidak kuat lagi menahannya. Tepat saat itu terdengar tiang listrik dekat rumah dipukul dua kali. Sudah lama tidak ada jaga malam yang melakukan hal itu. Saya duga pelakunya Jaka Ompong. Duh, ompongnya. Tiga geraham atas saya sudah dicabut, dan bakal jadi empat jika yang satu lagi harus dicabut. Apa jadinya saya dengan hanya sisa dua geraham? Tentu ompong seperti dia!
Terus terang saya tidak mau ompong pisan seperti dia. Ketika bertemu dengannya, saya sempat agak bangga karena usia kami sama, tapi gigi saya masih cukup lengkap. Namun nyeri gigi saya sudah tak tertahankan. Sayang dokter gigi langganan saya hanya praktik pribadi pada sore hari di rumahnya. Dia meneruskan profesi ayahnya yang terkenal karena keahlian dan kesederhanaannya, tapi karena dia perempuan, suasana bersahaja di tempat praktiknya itu melantunkan kecerahan.
Maunya saya ke dokter gigi langganan saya itu besok sore, tapi saya sudah tidak tahan. Karena itu saya terpaksa menghubungi rumah sakit terdekat yang di mata umum bernama besar untuk mendaftar di poli gigi. Saya sering merasa enggan terhadap nama besar, tapi apa boleh buat. Benarlah, saya hanya dapat nomor cadangan untuk pagi. Untunglah petugas rumah sakit sempat menyarankan saya makan obat anti nyeri, yang bisa dibeli di apotek.
Salah seorang anak saya jadi repot juga keluar rumah dini hari untuk beli obat anti nyeri di apotek. Sambil menunggu dia pulang saya coba menahan sakit dengan membayangkan derita Pak Jaka setiap kali menjelang ompong.Jika dia bisa tahan, mengapa saya tidak? Benar juga, sesudah menelan sebutir obat itu, nyeri gigi saya lambat laun susut sampai hilang sama sekali. Saya jadi sempat tidur pulas dan bangun cukup segar untuk langsung ke rumah sakit. Saya berangkat sendiri. Sepanjang jalan saya banyak berpikir tentang ompongnya Pak Jaka.
Setelah empat tahun sejak terakhir saya pernah menginjak rumah sakit bernama besar ini, perubahannya luar biasa. Gedungnya bertambah luas, dan tampak makinmewah. Pengunjung pun berjubel seperti di supermal. Tapi yang paling mengagetkan bagi saya adalah semua petunjuk dituliskan dalam bahasa Inggris. Petugas pun demikian. Pertanyaan saya di mana poli gigi dijawab: Terus lalu turun ke underground.
Mula-mula saya protes dalam hati mengapa ada poli di underground. Apa cukup udara di sana. Ternyata ruangan poli itu sama lapang dan bersihnya dengan yang ada di lantai dasar. Begitu masuk saya langsung menghadapi counter dengan tiga petugas perempuan, muda-muda lagi. Setelah melapor saya diminta menunggu. Ruang tunggunya cukup luas, lengkap dengan pesawat tv tempel di dinding.
Tidak begitu lama menunggu, saya diberi tahu dapat giliran karena ada pasien yang tidak jadi datang. Seorang dari perempuan muda petugas di counter mengantar saya ke ruangan pemeriksaan. Di sana sudah ada petugas lain lagi, juga perempuan muda, tapi tidak ada dokter. Rupanya ruangan itu hanya tempat periksa tekanan darah dan ukur tinggi-berat badan. Hasilnya konon cukup baik buat saya, dan saya diminta kembali menunggu.
Sempat saya terlelap ketika nama saya dipanggil. Di samping pintu masuk ke ruangan dokter, terbaca nama dokternya yang bergelar Prof Dr Drg. Saya mengira dia sudah tua, ternyata tampak jauh lebih muda daripada saya. ”Siang Prof,” sapa saya, dan ”Pagi Bu Suster” kepada suster pembantunya. Tidak ada sahutan, tapi suster itu membimbing saya berbaring di kursi pasien. Terlihat semua peralatan di ruangan itu jauh lebih mewah daripada di tempat praktik dokter gigi langganan saya. Di dinding tertempel juga televisi tempel sebesar yang di luar, tetapi tidak menyala. Baru kemudian saya tahu itu layar komputer.
Selama Prof Dr Drg itu memeriksa mulut saya, lalu mengetuk-ngetuk geraham saya yang sakit, saya membayangkan besarnya biaya perawatan gigi saya. Bayangan itu makin menjadi-jadi ketika saya diminta menjalani pemeriksaan sinar-X. Tanpa banyak pikir saya minta agar geraham saya dicabut saja kalau bisa tanpa pemeriksaan dengan sinar-X.
Rupanya Prof Dr Drg itu menangkap kegelisahan saya. Dengan sikap lebih ramah dia menjelaskan bahwa mencabut gigi, apalagi geraham orang seusia saya, harus hati-hati sekali. Akar gigi orang setua saya, katanya, sangat rentan kerapuhan sehingga sering ada akar gigi yang terputus. Mencabut geraham tanpa panduan hasil sinar-X timbul risiko ada akar gigi yang tersisa. Itu berbahaya, katanya. Apalagi sinar-X- nya di kamar sebelah saja, katanya. Cuma perlu tiga menit, selesai semua.
Semua yang dikatakan Prof Dr Drg itu betul terjadi. Saya pun tidak perlu membawa hasil pemeriksaan sinar-X. Sekembali ke ruangan dokter, saya melihat hasilnya terpapar jelas di layar komputer yang tertempel di dinding. Canggih juga ya. Tapi, justru karena kecanggihan itu saya memutuskan tidak jadi cabut geraham. Sejak di ruangan sinar-X pun saya sudah ragu. Bayangan Jaka Ompong melela terus.Saya tidak yakin dia pernah mengalami kecanggihan ini, tapi dia tampak baik-baik saja dengan ompongnya. Sial sekali saya tidak sempat menanyai dia sebelum pergi ke rumah sakit ini.
Prof Dr Drg itu menjelaskan panjang lebar gambar geraham saya hasil pemeriksaan sinar-X. Semua bagus katanya, dan boleh langsung dicabut. Saya merasa ciut juga. ”Yah, dan saya jadi lebih ompong,” tukas saya asal omong. Dokter itu tertawa lepas. Ompong gampang diatasi katanya. Dia lantas menerangkan beberapa macam teknik pemasangan gigi palsu. Yang paling canggih katanya, gigi palsu bisa tertanam seperti gigi asli, sedangkan bahannya jauh lebih kuat daripada gigi asli. Betul-betul asli tapi palsu, katanya, atau betul-betul palsu tapi asli.
”Asli dan palsu sudah tidak bisa dibedakan,” begitu kata saya dalam hati, dan saya bergidik mendengarnya. Rumusan itu sepertinya tidak mau keluar dari kuping saya. Mula-mula saya merasa gendang telinga saya dikili-kili oleh kata-kata itu, tapi kemudian mulai terngiang, lalu berubah jadi denyutan menyakitkan. Mendadak saya merasa konyol karena repot memilih antara asli dan palsu, pilihan yang mestinya paling gampang di dunia. Benar-benar tidak waras.
Lagi-lagi bayangan Jaka Ompong! Pernahkah gerangan dia berpikir untuk memasang gigi palsu? Bagiamana pula dia mencumbu istrinya? Yang lebih penting lagi bagaimana dia makan? Saya sungguh menyesal tidak menanyakan hal-hal semacam itu tatkala saya bertemu dan melihatnya tertawa lepas, sama sekali tidak acuh dengan ompong pisannya.
Ah, saya harus bertindak benar, pikir saya. Maka saya memutuskan menunda cabut gigi. Prof Dr Drg itu terlihat agak kaget, tapi berhasil kembali santai. Tidak apa, katanya. Kapan-kapan juga bisa dicabut. Dia lalu memberi saran agar menggosok gigi dengan odol merek tertentu, yang ternyata sudah lama saya pakai.
Kapan-kapan bisa dicabut. Dalam hal ini pun saya merasa perlu beguru kepada Jaka Ompong. Jangan-jangan dia malah tidak perlu cabut gigi, tapi hanya membuang giginya yang tanggal setelah dikili-kili dengan ujung lidahnya. Pokoknya, Jaka Ompong bagi saya mendadak jadi tokoh terpenting di dunia?
Parakitri T Simbolon, Lahir di Pulau Samosir, Sumatera Utara, Esais, Cerpenis, Novelis, dan Wartawan Senior. Karya-karyanya MemperPenghargaan dari Sejumlah Institusi. Mendapat pendidikan di Institut International d’Administration Publique, Perancis
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Parakitri T Simbolon
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” Minggu 11 Oktober 2015