Kecubung Es

Karya . Dikliping tanggal 20 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

DAUN itu putih. Cemerlang tertimpa matahari. Di antara rimbun daun-daun lain yang sempurna hijau, daun putih itu tampak seperti benda asing yang dipasang begitu saja pada ranting. Aku tak tahu sedang berada di mana. Tak kurasakan angin. Tak kudengar apa-apa, kecuali bisikan kecil dari dalam kepalaku sendiri. Bisikan untuk bergerak memetik daun itu. Entah bagaimana tiba-tiba saja tubuhku melayang, kakiku terlepas dari tanah, bergerak naik. Daun itu dingin. Di tanganku ia bagai lempengan es, dan cahaya matahari menembus permukaannya, menimbulkan pendar transparan yang ajaib.

KEJADIAN itu semata mimpi. Kuceritakan kembali pada Man Kalep ketika ia datang ke rumah. Di jari manis tangan kirinya, melingkar sebuah cincin besar dengan batu berwarna hijau. “Ini tembus cahaya,” katanya dengan anda bangga. Lalu dinyalakannya senter pada telefon selulernya. Cahaya senter itu menerpa dari bawah batu cincin, menembus tubuh batu dan menampakkan serat-serat di dalamnya.
“Tapi kalau kita bisa dapatkan batu putih itu, paling tidak derajat kita terangkat. Kau tahu, sekarang ramai orang mengumpulkan batu-batu semacam ini. Kemarin kulihat, beberapa orang yang dulu menambang emas, sekarang sudah beralih menjadi pengasah batu. Mereka pinjam uang untuk modal membeli gerinda. Tapi hanya sedikit di antara mereka yang memiliki batu yang benar-benar bagus,” tutur Man Kalep.
“Tapi kan cuma mimpi. Lagi pula, aku tak tertarik dengan batu,” balasku.
“Ah, kau boleh tidak tertarik. Tapi setidaknya, bantulah aku. Aku percaya itu bukan sekadar mimpi. Kamu baru saja pulang dari Tana MAda kan?”
“Benar, tapi itu kan karena ada pekerjaan. Dan tidak ada hubungannya dengan segala macam batu.”
“Kamu seperti tidak tahu saja bagaimana Tana Mada itu. Itu tanah mistik, barang siapa yang menginjakkan kaki di sana, bisa mendapatkan berkah, bisa pula mendapat tulah. Dan mimpimu itu, pastilah sebuah berkah. Begini saja, kapan kamu siap, kita berangkat ke sana. Semua biaya aku yang tanggung.”
Aku memang baru saja pulang dari Tana Mada. Suatu tempat di timur pulau Sumbawa. Kita harus menyeberangi selat selama dua jam untuk sampai ke Pulau Sumbawa. Lalu menempuh perjalanan darat selama beberapa jam sebelum tiba ke Tana Mada. Konon, dahulu kala, seorang anbiya dari tanah Arab telah datang ke sana. Dengan kesaktiannya, ia mengangkat sebuah gunung lalu meletakkannya di tengah-tengah padang. Gunung itu gunung keramat. Penuh dengan batu-batu mulia yang tak ternilai harganya. Dengan itu kerajaan dibangun dan berkembang menjadi wilayah yang makmur.
Tentu saja aku tidak percaya dengan bualan semacam itu. Bagiku, itu tak lebih dari hiburan bagi para jelata yang hidup sengsara. Meski tak terlalu teliti, aku pernah membaca sebuah buku sejarah Tana Mada yang ditulis seorang sarjana Perancis. Jelas itu lebih berkenan dan masuk akal. Bahwa apa yang terjadi dalam perjalanan sejarah hanyalah intrik politik dalam memperebutkan kekuasaan. Meski itu juga tak terlalu penting buatku. Tawaran Man Kalep membangkitkan hasrat dalam diriku. Bukan, bukan lantaran godaan akan batu mulia. Melainkan ingatan yang tak lekang pada Malinka.
**
MALINKA adalah satu-satunya orang yang memelukku saat aku hendak berangkat pulang dari Tana Mada. Di terminal, sewaktu senja temaram di guyur hujan, matanya berlinang. Rengkuhannya kuat seolah tak ingin aku naik ke dalam bus dan lenyap dari sana. Pesan terakhirnya saat bus akan berangkat menggetarkan sesuatu yang tidak bernama dalam dadaku.
Dengan niat yang demikian kuat untuk bertemu Malinka, aku menyetujui rencana Man Kalep. Biarlah dia yang mengurus semua biaya, juga mengarang alsan untuk disampaikan kepada istriku. Kami berangkat dengan bus malam agar sampai tujuan menjelang pagi tiba. Kami menginap di sebuah losmen murah. Menyusun rencana dan menduga-duga dimana kiranya batu putih itu bisa kami temukan.
Semenjak berangkat aku telah beberapa kali mengirim pesan pendek pada Malinka. Tapi taka da jawaban. Kukira, ia tak terlalu percaya bahwa aku akna kembali lagi mmenemuinya. Biarlah, nanti itu akan menjadi kejutan buatnya.
Dalam beberapa hari, tak ada yang terjadi. Batu putih itu tidak kami temukan. Malinka juga tidak kunjung membalsa pesan-pesanku. Aku gelisah. Man Kalep mengira aku gelisah lantaran tak ada kemajuan dalam usahanya mendpaatkan batu putih itu. Ia berusaha menenangkanku. Tapi, matanya tak bisa berdusta bahwa ia sendiri juga gelisah. Lalu kami menemui seorang pengumpul batu, jauh di sebuah dusun di bawah tebing bukit.
“Itu namanya batu kecubung putih. Tapi, orang-orang sekarang menyebutnya kecubung es. Sulit sekali mendapatkannya. Kalaupun ada, harganya pasti mahal. Itu juga kalau mau dijual sama yang punya. Itu batu yang punya banyak khasiat. Bisa jadi obat, untuk pengasihan, atau untuk menaikkan wibawa. Dulu, batu seperti itu dipakai oleh putri-putri raja untuk kalung atau cincin. Barang siapa yang menginginkan batu itu, harus membunuh sang putri.”
Air muka si pengumpul batu lebih tampak menyelidik daripada menjelaskan. Kami tidak menceritakan lebih lanjut soal pencarian kami. Man Kalep bersandiwara bahwa dia iseng-iseng saja menanyakan hal itu karena pernah mendengar tentang khasiat batu tersebut.
Kami kembali ke losmen dengan tangan hampa. Aku baru berpikir sekarang, kenapa tempo hari tiba-tiba saja Man Kalep mengajak aku ke Tana Mada. Bukankah dalam mimpiku tak terjelaskan di mana tempat aku memetik daun putih  itu? Mungkin saja batu kecubung es justru berada di pulau kami. Tapi, sekali lagi, pikiran tentang Malinka — yang tidak pernah menjawab pesan-pesanku — lebih menggelisahkan. Aku mulai dirubung kecemasan, jangan-jangan sejauh ini aku cuma memendam perasaan sendirian.
Malinka sebenarnya tak punya perasaan  apa-apa padaku. Semua yang telah kami lalui dalam waktu singkat tempo hari bukanlah hal yang istimewa. Dan semua kata-katanya melalui pesan pendek cuma iseng-iseng saja. Kecemasan ini membuat perasaanku rentan sehingga ketika Man Kalep mulai mengeluh aku merasa dia menyalahkan aku.
“Apa pun yang terjadi, itu bukan kesalahanku kan? Jangan menekanku kalau nanti akhirnya kita tidak menemukan apa-apa,” kataku pada Man Kalep.
“Apa maksudmu? Apa aku  terlihat menekan?” jawab Man kalep tak kalah sengit.
“Entahlah, aku tak tahu. Tapi, bisa saja itu terjadi. Sebelum berangkat, aku sudah mengatakan kepadamu bahwa mimpiku tidak ada artinya. Itu sekadar mimpi, sebagaimana mimpi-mimpi lainnya.”
“Kita belum ke gunung keramat itu. Dan kita harus ke sana. Aku akan percaya bahwa mimpimu cuma kembang tidur kalau kita tidak menemukan apa-apa di sana.”
“Gunung keramat? Kamu gila. Itu jauh. Jalan ke sana sulit sekali. Tak ada kendaraan dan tak mungkin ada yang bersedia mengantar kita. Kamu tahu orang-orang sangat takut ke gunung itu. Mungkin di sana tidak ada hantu atau siluman tapi bagaimana kalau ada macan dahan? Bisa pulang tinggal nama kita.”
“Gunung keramat adalah stau-satunya kemungkinan terakhir di mana kita bisa mendapat hasil. Tak ada salahnya mencoba. Kita sudah terlanjur ada di sini. Sayang jika kita pulang berhampa tangan.”
Aku menatap Man Kalep dengan curiga.
“Kenapa?” tanyanya.
“Oh, aku tahu. Sialan. Semenjak awal kamu sudah merencaanakan untuk ke gunung itu kan? Karena itu, kamu mainkan sandiwara batu putih yang tidak pernah ada itu untuk menjebakku menemanimu. Coba jawab pertanyaanku, kenapa tiba-tiba kamu yakin bahwa batu itu ada di sini? Aku tidak bilang bahwa dalam mimpiku aku berada di Tana MAda ini.”
Man Kalep terdiam.
Tiba-tiba saja fonselku berdering. Dari Malinka.
Aku bilang kepada Man Kalep bahwa aku tetap akan memikirkan rencananya, hanya untuk membuat jembatan di mana aku bisa mengatakan kalau saat ini aku ada urusan dengan seorang kawan. Tentu saja tidak kukatakan bahwa Malinka ingin menemuiku di Amahami, suatu kawasan tepi pantai yang ramai.
**
AKU lihat Malinka duduk sendiri di eplataran yang agak menjoroik ke tengah laut. Di depannya sebuah meja kecil, ponselnya tergeletak di sana, di samping segelas jus alpukat. Malinka tersenyum padaku. Semua kecemasanku seakan runtuh ke dasar laut. Tak ada urusan dengan batu-batu sialan itu.
Sekaranga aku berada di sebentang masa remaja yang seakan-akan datang terlambat. Sesuatu telah tumbuh dalam diriku dan tak bisa kubunuh lagi. Kecantikan Malinka yang cuma dimiliki oleh perempuan-perempuan tanah ini, rambutnya yangs edikit pirang tanpa disemir, tubuhnya yang ramping seperti ceruk tebing, telah menerbitkan pada diriku cinta yang tiada terkira.
Beberapa saat setelah kami mulai bercakap-cakap, seseorang berjalan ke arah kami. Aku menengok. Man Kalep melangkah seolah ia juga telah membuat janji. Sialan, mau apa dia mengikutiku. Malinka menatapnya.  Aku menatapnya, lalu menatap mata Malinka. Ada yang mengerjap di sana.
“Maaf, bolehkah aku bergabung?” Tanpa menunggu jawaban kami, Man Kalep duduk di sisi meja yang lain, di samping kiriku, di samping kanan Malinka.
Tanpa sengaja aku melihat sesuatu yang dari tadi tak kuperhatikan: sebuah cincin di jari manis tangan kiri Malinka. Cincin itu kecil saja, seperti model yang sering dipakai perempuan. Di tengahnya, terletak sebutir batu putih yang jernih.
Kehadiran Man Kalep membuat suasana jadi kaku. Seakan-akan ada hal yang mengganjal di antara kami. Baru saja aku hendak bertanya, apakah mereka berdua sudah saling kenal, ponselku bergetar. Sialan. Untuk apa Man Kalep mengirim pesan.
Itu dia. Lihat cincin di jarinya.

Aku balas: Maksudmu?

Man Kalep mengirim pesan lagi: Itu kecubung es, kamu harus mengambilnya.

Aku tidak membalasnya.
Suasana yang kaku harus aku cairkan. Di hadapan Malinka, aku tak mau kelihatan seperti seseorang yang ketahuan selingkuh. Di hadapan Man Kalep, aku tak mau terkesan sedang bertemu dengan kekasih gelap. Tetapi fonselku kembali bergetar:
Jangan sampai kamu sia-siakan kesempatan ini, bagaimanapun caranya, cincin itu harus ada di tanganmu sebelum dia pergi.

Sialan. Man Kalep sudah keterlaluan. Dia kira aku bisa diperintahnya melakukan apa saja. Aku akan meminta dia pergi. Kalau perlu, aku akan pura-pura setuju, dengan syarat dia harus menunggu di losmen. Baru saja aku mau membalas, fonselku kembali bergetar.
Bukan dari Man Kalep, tapi dari Malinka.
Aku terkejut. Kulihat Man Kalep sepertinya juga menerima pesan. Ia menatap layar fonselnya dengan mata membesar.
Yang menginginkan cincin ini harus membunuhku. Yang menginginkan aku harus membunuh siapa saja yang menginginkan cincin ini.

Saat itulah aku melihat daun-daun putih bagai irisan-irisan es melayang jatuh, entah dari mana. ***
Bakarti, 17 Februari 2015

Kiki Sulistyo, menggiatkan Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 18 Oktober 2015