Puisinya Israel – Di Bibir Kopi

Karya . Dikliping tanggal 4 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Puisinya Israel 

Hempas rampas
Sekak retak
Jerit marit
Darah marah
Lirih bertindih
Tajam menikam
Menggumpal mengepal
Rudal membrutal
Ada getir setelah mata lebam,
Sehabis alngit jingga
Pada sujud puing
Dengarlah
Di sudut kayu bongkah
pada bekas letupan
Atap-atap Kolong langit
Debu yang bercampur debu
Runtuh berserak
Tulang-tulang menggeletak
Sepenggal sampai sepeninggal
Debu yang bercampur debu
Sampai pada malam bertemu malam
Pagi siang sore
Masih dalam tapa yang memeram rasa
Tak ada beda
Tak ada ampun
Tak ada karsa
Kepada Allah, Bapak ataupun Sang Maha Semesta
“Tenangah sayang, setelah ini akan ada ketenangan menang, setelah 
matamu benar memejam menggenang”
Cirebon, 30 September 2014

Di Bibir Kopi

Sungguh aku jenuh
Merasa hampa ketika hilangnya asa
Lantunan pahit di bibir kopi
ENtah terperanjat atau terperangah
Aku tak tahu mana arah
Februari 2014

Nur Widowati, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Nur Widowati
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 4 Oktober 2015