Adila

Karya . Dikliping tanggal 26 Desember 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Matra
PERLAHAN-LAHAN IA MENCUCI TANGANNYA. Tapi ia lakukan berkali-kali, untuk meyakinkan dirinya bahwa tangannya tak lagi menyebarkan aroma Baygon. Dari ruang tamu, ia mendengar suara ibunya yang sudah menyeruduk seluruh isi rumah. 
“Mana Dila, Yem?”
“Baru selesai makan, Nyonya!”
“Dilaaaaa!”
Ia segera melap jari-jarinya dengan seksama. Panggilan ibunya yang kedua kalinya dibiarkan memenuhi udara. Seperti biasa. Ia tahu, sebentar lagi ibunya akan muncul di muka pintu dapur dengan rentetan mitraliur dari bibirnya sehubungan dengan kebisuannya. 
Benar saja. Ibunya, yang siang itu pulang kantor untuk makan siang, membuka pintu dapur dan memandang anak gadisnya yang berusia 14 tahun dengan wajah gusar. 
“Tuli, kamu Dila?”
Dila diam tak menjawab. 
“Makan apa tadi?”
“Telur dadar.”
“Lo, si Yem kan masak ayam goreng.”
“Nggak ingin.”
“Lo, kenapa? Itu kan lebih sehat. Masa setiap hari makan telur dadar melulu.”
Dila menyelip keluar dapur sementara ibunya masih meneruskan kritiknya mengenai makanan Dila yang tak pernah memenuhi persyaratan gizi. Dia mengambil salah sebuah buku kegemarannya yang sudah dibacanya kurang lebih 16 kali. Ia ingin sekali menambah jumlah bukunya, tapi ibunya lebih suka membelikan rok atau blus baru daripada melihat anak gadisnya, yang dianggap kurang pergaulan itu, terlalu larut dalam dunia fantasi buku-bukunya. 
“Dila … !!”
Diam-diam ia menyelinap ke kamar mandi dan duduk di atas jamban. Diambilnya salah satu buku tulisan D. H. Lawrence yang berjudul The Rainbow. Ini memang bukan novel yang cocok untuk anak remaja seusianya, tapi Dila adalah seorang anak yang tak dibatasi oleh konvensi. Ia bisa melakukan apa saja menembus garis-garis ruang dan waktu. Ia hidup tanpa pagar. Dan The Rainbow sudah hampir menjadi salah satu rumah yang dikunjunginya setiap hari, setiap kali ia menyelinap masuk kamar mandi. Ia merasa akrab dengan Ursula Brangwen, tokoh utama yang mempunyai adik-adik yang selalu mengganggu ketentramannya. 
“Ursula …” bisik Dila, “apakah kau selalu menikmati waktu-waktumu ketika kau berhasil mengunci diri dari teriakan-teriakan ibumu?”
Ursula, gadis bermata jelita itu memandang Dila yang duduk di atas jamban seperti seonggok pakaian dekil yang pasrah, “Dila sayang, ada apa dengan suaramu? Kau seperti letih ….”
“Ursula. Aku tak mengerti kenapa aku lahir untuk harus selalu menjadi bayang-bayang ibuku. Semua tindakan dan pemikiran yang lahir dari diriku selalu salah. Karena itu, aku pikir, kamar mandi ini adalah tempat yang paling membahagiakanku. Bak kamar mandi, gayung, odol, sabun, air dan bahkan taik di dalam jamban itu tak akan berteriak-teriak sekalipun aku ingin telanjang selama lima jam. Mereka semua mengerti dan mentolerir keganjilanku ….”
Ursula tertawa terbahak-bahak. Ia kemudian teringat salah satu pengalamannya. “Kau suka telanjang, Dila?”
“Ya, menurutku, alangkah repotnya kita dengan kewajiban mengenakan tetek bengek ini di tubuh kita. Apalagi perempuan, Ursula. Bukankah kau juga setuju, ketelanjangan adalah sebuah kebahagiaan?”
Ursula kembali tertawa, meskipun kali ini kedua mata indahnya menerawang. “Ya, aku pernah menari-nari telanjang di atas bukit, di bawah bulan, sementara kekasihku Skrebensky terlalu gagap untuk memahami apa yang tengah terjadi ….”1
“Alangkah menyenangkannya jika bisa kurasakan itu,” sambut Dila.
“Kau ingin menari bersamaku?” tanya Ursula mengulurkan tangannya. Dengan mata berbinar, Dila menyambut tangan Ursula. Mereka melepas pakaian dan berpegang tangan sambil berputar-putar, meloncat-loncat riang, saling memercik air, saling teriak dan menyanyi-nyanyi. Hanya beberapa menit kemudian, sayup-sayup Dila mendengar suara ibunya memanggilnya. Mukanya mendadak pucat. Hanya dalam dua detik, Ursula lenyap dari mukanya. Pyarrr! Dan ia sendiri di tengah kamar mandi. Telanjang. Basah. Novel The Rainbow yang tergeletak di atas jamban kuyup kena percikan air. 
“Dilaaaa!!! Ngapain sih kamu?”
Tergesa-gesa Dila mengeringkan tubuhnya dan mengenakan pakaiannya kembali. Ketika ia keluar kamar mandi, ibunya memandangnya dengan tatapan bertanya. 
“Kok mandi siang-siang? Sudah ayan kamu, ha?” 
Dila masuk ke kamarnya. Ia memandang semprotan Baygon di pojok kamarnya yang tegak sendirian. Digaruk-garuknya pantatnya yang mendadak terasa gatal. 
“Dila!” sentak ibunya tiba-tiba. Ditepisnya tangan Dila. “Apa-apaan sih? Jorok kamu. Ayoh, cuci tangan ….”
Dila memandangi ibunya dengan wajah malu dan setengah bersalah. Dia kemudian memandangi dada ibunya yang kelihatan begitu subur. Kapankah dadaku akan semunjung punya ibu, pikirnya seraya mencuci tangannya bersih-bersih. 
“Jangan lupa bikin pekerjaan rumah, Dila. Ibu ke kantor lagi! Jangan ke mana-mana dan jangan menonton video tetangga. Kalau ayah pulang, telepon ibu ke kantor. Keju di lemari es jangan diganggu gugat. Awas kalau kamu comot. Kalau nenek telepon, katakan kita akan mampir ke rumahnya hari Minggu. Dan kalau Tante Murti mampir, serahkan saja bungkusan yang ada di atas radio. Awas, jangan ngupil atau menguap depan Tante Murti. Nanti dikira ibu tak pernah mengajar sopan santun padamu. Jangan garuk-garuk kepalamu atau membanding-bandingkan besar pinggulmu dengan pinggulnya. Oh, ya, bilang ayah, mungkin kalau ibu terlalu capek, nanti malam kita batalkan saja rencana ke resepsi kantor ayah itu. Toh tak terlalu penting …!!!” Tak lama kemudian, terdengar deru mobil ibunya meninggalkan halaman rumah.
DILA SEDANG MENGADUK-ADUK cairan Baygon itu dengan jarinya ketika terdengar cericit mobil bobrok ayahnya. Seperti tersengat kalajengking ia segera berlari mencuci tangannya.
“Halo, sayang ….” Ayahnya masuk dan langsung mencium ubun-ubunnya. Dila tersenyum.
“Ada yang baru, ayah?” tanya Dila sambil melirik tas kantor ayahnya. 
“Ah, ya, tadi ada beberapa buku baru yang harus diresensi. Ada satu yang barangkali cukup menarik untukmu, tapi bukan buku fiksi. Judulnya Summerhill. Itu adalah nama sebuah sekolah yang unik di Suffolk, Inggris ….” Ayahnya membuka tasnya dan menyerahkan sebuah buku yang tebal bersampul putih dengan potret seorang anak yang sedang berlari. Dila menatap sampul muka itu selekat-lekatnya. 
“Kenapa sekolah ini begitu istimewa, Yah?”
“Sebuah sekolah, apalagi di Inggris yang terkenal dengan kedisiplinan dan kekakuannya, bukan saja merupakan sebuah lembaga ilmu, Dila. Tapi, ia juga merupakan lembaga peraturan. Sekolah hampir identik dengan penjara untuk beberapa anak yang tak butuh pagar, seperti kamu ….”
Dila masih menatap ayahnya. 
“Keistimewaan sekolah ini, adalah bagaimana mereka mencoba menanamkan rasa tanggungjawab pada murid-muridnya—dari tingkat taman kanak-kanak hingga SMA—justru melalui kebebasan yang hampir absolut.”
Dila mengangkat alisnya. Ayahnya mengerti, itu tandanya ia masih butuh keterangan yang lebih lanjut. 
“Misalnya, mereka tidak wajib hadir di kelas, mereka boleh mengeritik pengajar, mereka punya ‘pemerintah kecil’ yang terdiri dari murid-murid itu sendiri. Di balik semua keanehan kurikulum semacam ini, toh anak-anak itu keluar dari sekolah tersebut dengan tingkat pengetahuan yang sama bahkan lebih daripada sekolah normal ….”
Kedua bola mata Dila membesar. Ayah Dila tersenyum. 
“Banyak yang pro, tapi banyak pula yang kontra,” lanjutnya. “Itu hal yang biasa … sayangnya ….”
Telepon berdering. Yem pun muncul. Dari nyonya, katanya. Dan pembicaraan terputus. Dila tahu, paling tidak mereka akan berbicara selama setengah jam. Ibunya akan menanyakan apa saja yang dikerjakan ayahnya di kantor, makan siang dengan siapa, apakah sekretarisnya yang cantik itu masuk kantor hari ini, jam berapa ayahnya pulang kantor dan lain sebagainya. 
Dila mengambil buku itu. Dibukanya halaman pertama. Ada kata pengantar dari Erich Fromm yang membicarakan prinsip kebebasan bagi pendidikan. Lalu, ada sajak Kahlil Gibran tentang ‘Anak’ yang akhir-akhir ini menjadi populer dan hampir klise karena dikutip di mana-mana. 
“Dila, ibu ingin bicara denganmu …” seru ayahnya dari ruang tamu. 
Dia segera melesat ke dalam kamar mandi orang-tuanya yang memiliki bak rendam. Diisinya dengan air panas hingga cermin kamar mandi berembun. Digosok-gosoknya cermin itu perlahan dengan jarinya. Dan tiba-tiba, melalui cermin itu, ia melihat sebuah wajah lelaki tua yang muncul dari balik punggungnya. 
“Siapa kau?” tanyanya heran. Ia menoleh. 
Lelaki berambut putih menghembuskan asap rokoknya tanpa menjawab. Matanya yang berwarna abu-abu menatap Dila tersenyum.
“Dila, kau mengerti apa arti masturbasi?”
Dila menganga lantas menggeleng perlahan. 
“Pernahkah kau mencoba menyentuh alat vitalmu dan merasa nikmat?”
Dia mengangguk. Sambil menelan ludah ia mencoba membayangkan gigi ibunya yang berkilat-kilat. “Ibu menarik leher bajuku dan hampir menamparku jika ayah tak mencegahnya. Aku tak mengerti kenapa ….”
Lelaki tua itu terkekeh sambil menggelengkan kepala. “Banyak orang-tua di dunia yang lebih suka melihat anaknya melakukan tindakan kriminal daripada melihat anaknya bermasturbasi ….”
Dila jongkok di atas jamban dan mencoba mengingat wajah lelaki tua itu. Ah, ya. Sekarang ia baru merasa jelas. Lelaki itu ada di sampul belakang buku yang baru saja diberikan ayahnya. Pendiri sekolah ajaib yang bernama Summerhill.
“Tuan Neill?”2
Si Tua berambut putih dan bermata ramah itu mengulurkan kedua tangannya yang keriput. “Kemarilah, Dila … kemarilah ….”
Entah bagaimana, tiba-tiba Dila sudah berada di pelukan Neill. Ketika tangan tua itu mengusap-usap kepala Dila yang mungil, mendadak Dila merasa dadanya penuh sesak. Airmatanya tersembul di ujung mata. Ia buru-buru menghapusnya dengan gerak yang kasar. 
“Menangislah, jika kau ingin …” bisik Neill dengan suara parau. Dila menggigit bibirnya menahan diri. Airmata adalah musuh utama ibunya. Selama ini Dila tak pernah mengenal airmatanya sendiri. Jadi jika tiba-tiba saja air sungai itu mengalir sederas-derasnya, ia tak mengerti dari mana sesungguhnya benda asing itu bermuara. Neill terus mengusap-usap kepala Dila yang kecil hingga akhirnya Dila merasa leluasa untuk berurai airmata.
“Ada apa dengan saya?” tanya Dila terisak-isak sambil membenamkan mukanya ke dalam jas Neill yang lusuh dan kusam. Neill tetap menjawabnya dengan usapan kedua tangannya yang keriput di atas rambut Dila. Entah sudah berapa lama Dila tak pernah merasakan hangat dan basahnya airmata. 
“Adila …” bisik Neill serak, “lihatlah itu ….” Neill mengangkat wajah Dila dan memutar tubuhnya yang kecil agar ia bisa melihat pemandangan di sekelilingnya. Hei … ia tidak lagi berada di kamar mandi orangtuanya yang berwarna biru. Mereka kini berada di sebuah halaman gedung tua yang besar. Di bawah pohon rindang, Neill dan Dila melihat seorang anak lelaki kira-kira seusia Dila, berambut pirang, berkulit pucat dan bertotol cokelat di wajahnya berlari mengelilingi gedung tua itu dengan seember bensin. Disiramnya bensin itu ke sekeliling gedung sekolah dan sebelum api sempat berkobar, dua pembantu Summerhill dengan sigap menyiram api kecil itu dengan sekarung pasir. Anak lelaki itu memberontak ketika lengannya ditarik salah seorang guru. Tuan Neill menggeleng dan segera mengajak anak kecil itu ke kantornya. Dila menguntit mereka dari belakang. 
“Apa itu api?” tanya Neill padanya. 
“Sesuatu yang membakar …” jawabnya setelah beberapa saat. Tuan Neill mengangguk dan berjalan perlahan mendekati anak lelaki itu. 
“Jika ada orang yang berbicara tentang api … apa yang terlintas di kepalamu?”
“Neraka.”
Neill menggumam, “Bagaimana dengan botol? Apa sih sebuah botol itu?”
Anak lelaki itu memandang Neill dengan rupa tolol. Setelah beberapa lama ia membuka mutlunya. “Sesuatu yang panjang dengan lubang pada ujungnya.”
“Aha ….” Neill tersenyum. “Sekarang, jika kita membicarakan benda panjang yang berlubang ujungnya, apa yang terlintas di kepalamu?”
Anak lelaki itu memandang ke bawah sejenak dan menjawab dengan wajah polos, “Joni saya. Si Joni saya ini memiliki lubang di ujungnya.”
Dila menontoni tanya jawab antara kepala sekolah dan murid ini sambil mengerutkan kening. 
“Nah … ceritakan pada saya tentang si Joni,” kata Neill dengan nada ramah. “Pernahkah kau memegangnya?”
“Sudah lama tidak. Dulu saya sering melakukannya.”
“Lo, kenapa berhenti?”
“Sebab kepala sekolah saya yang dulu bilang itu adalah dosa terbesar di dunia.”3
Neill menggelengkan kepalanya. Diusapnya kepala anak itu seraya meyakinkan bahwa menyentuh si Joni itu tak lebih buruk atau lebih baik daripada jika ia menyentuh hidung atau telinganya. Anak lelaki itu tersenyum, mengangguk dan pergi.
Neill memandang Dila. “Kebrutalannya yang destruktif, hingga menimbulkan keinginan membakar gedung sekolah itu, disebabkan kekangan gurunya untuk bermasturbasi. Di kepalanya, guru-guru atau orangtua menanamkan bahwa neraka adalah sumber api tempat para pendosa dicemplungkan ….”
Bibir Dila yang sejak semula terkatup erat perlahan-lahan mengembangkan senyum. Dia menunduk, menatap dadanya yang tipis. Terbayang kembali dada ibunya yang membukit. Sambil memejamkan mata, dielus-elusnya dadanya sendiri, seperti mengharap agar terjadi keajaiban yang menyebabkan dadanya tumbuh sebagus milik ibunya. 
“Dilaaaaaaa!!!”
Dila membuka matanya dengan rasa kaget. Gila. Ke mana perginya lapangan rumput tua itu, gedung sekolah yang berwarna merah bata dan anak kecil itu? Dan … ke mana kawanku Neill???
“Neill …” bisik Dila seperti ingin menangis. 
“Dila …!!” Terdengar gedor di pintu kamar mandi. 
Mata Dila berkaca-kaca. Pemandangannya berubah menjadi biru di mana-mana. Lantai kamar mandi yang basah dan jamban tempat ia duduk membaca buku-bukunya. 
“Neill …” bisiknya lagi. 
“Dila!! Sedang apa kamu??” Ibunya menggedor pintu kamar mandi. 
Dila membuka kunci pintu kamar mandi perlahan. Ibunya memandang dengan wajah heran dan dongkol. Sementara, seperti setengah bermimpi Dila nyelonong menuju kamarnya. Buku yang baru saja diberi ayahnya itu disimpannya di bawah bantal. 
“DOSA ITU ADA BERMACAM-MACAM …” kata ibu Maimunah di depan kelas. Dila yang saat itu tenggelam di dalam buku Summerhill, mengangkat mukanya. Guru pelajaran agamanya yang berkerudung itu mengambil kapur dan menulis kata: SURGA dan NERAKA dengan huruf besar, lantas menggambarkan panah-panah di sekitarnya. “Menyirikkan Tuhan dan mendurhakai orang-tua itu termasuk dosa besar, dan hukumannya adalah penjeblosan ke api neraka,” katanya sambil menggambarkan panah menuju kata NERAKA. 
Mita, kawan sebangku Dila memejamkan mata sambil menekuk bahunya. “Hih ….”
“Kenapa” tanya Dila heran.
“Takut. Aku takut masuk Neraka. Aku takut lidahku dipaku ke tanah dan ditusuk-tusuk besi panas ….”
“Lo … kamu tahu dari mana?”
“Dari buku komik yang berjudul Saleh dan Karma, cerita tentang dua orang yang masing-masing masuk Surga dan Neraka. Hih, serem ….” Mita kembali bergidik. 
Dia tersenyum dan kembali mengalihkan perhatiannya pada Bu Maimunah. 
“Berzinah pun termasuk dosa besar …” tambahnya sambil menggambar sebuah panah lagi.
“Berzinah itu … maksudnya gimana, Bu?” tanya Yanto di muka kelas.
“Bersetubuh dengan orang yang belum dikawini ….”
“Jadi, kalau bersetubuh dengan pacar juga namanya berzinah, Bu?”
“Ya ….” Ibu Maimunah mengangguk-angguk.
Dila kembali menunduk. Tenggelam dalam bukunya sendiri.
“YAH, APAKAH IBU DAN AYAH pernah bersetubuh sebelum menikah?” tanya Dila di meja makan. Ibunya seketika berhenti mengunyah.
“Apa-apaan kau bertanya seperti itu, Dila?” tukasnya dengan wajah merah padam. 
Dila menatap ayahnya yang masih berlum menjawab. 
“Kenapa, Dila? Siapa yang mengajarimu bertanya begitu?”
“Ibu Maimunah mengatakan berzinah termasuk dosa besar ….”
Ayah dan ibu Dila saling memandang. Untuk beberapa saat, mereka masih belum mampu mengisi keheningan itu. Akhirnya ibu Dila mengambil daging ayam dan memindahkannya ke piring Dila. 
“Cepat makan. Dan jangan banyak tanya. Kamu banyak pekerjaan rumah!!”
“Menurut Neill, orangtua sebaiknya mengatakan sejujurnya tentang keadaan mereka …” gumamnya sambil mencabik-cabik daging ayamnya. Namun justru gumaman itu membuat darah ibunya naik ke kepala.
“Persetan dengan Maimunah atau setan belang Neill itu!!!” Ibu Dila berdiri dan mengangkat piringnya. Dila mendongak, memandangi tubuh ibunya yang tinggi semampai dan wajahnya yang toh tetap cantik meskipun keruh. 
“Kau juga sih membelikan buku yang aneh-aneh …. Lihat dia mulai menanyakan pertanyaan seperti ini …!” Ibu Dila menyemprot suaminya sambil membawa piringnya ke dapur. 
“Bawa sini buku brengsek itu!!” teriak ibunya dari dapur. 
Dila memandang ayahnya. Dan hanya ketika ayahnya mengangguk, ia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil buku itu.
“Dilaaa!!”
Dila menyodorkan buku setebal 392 halaman itu. Dengan kekuatan luarbiasa, ibunya merobek buku itu menjadi dua dan mencemplungkannya ke tempat sampah.
Dila berjalan menuju kamarnya tanpa suara. Ia memandangi semprotan di pojok kamarnya. Ia membuka semprotan itu, dan air Baygon di dalamnya diciumnya sejenak. Ia mengaduk-aduk cairan itu dengan jarinya berkali-kali.
“Sedang apa sih kau?”
Hampir cairan Baygon itu tumpah. Suara itu sungguh mengejutkannya. Ia menoleh. Di belakangnya berdiri seorang anak lelaki berambut cokelat, bertubuh semampai dan mengenakan jaket hitam yang sama lusuhnya dengan wajahnya.
Matanya yang menjorok ke dalam menyerang Dila dengan tatapan bertanya. Dila menggosok-gosok tangannya ke bajunya seraya mencoba mengingat wajah pucat bertotol cokelat itu. Mula-mula ia ingin menyodorkan tangannya untuk bersalaman, tetapi ia segera membatalkan niatnya karena anak lelaki itu dengan gaya acuh tak acuh menggantungkan kedua tangannya di saku celananya. 
Anak lelaki itu menjengukkan kepalanya ke dalam kaleng Baygon yang tergeletak di atas lantai. Hidungnya mengerut. 
“Apa ini?”
“Obat pembunuh nyamuk ….”
“Siapa kau?”
Dila mengerutkan keningnya. “Engkau siapa? Ini rumahku ….”
“Aaah … kau punya rumah? Kau beragama? Dan kau memiliki tanah air?” Tentu saja … tentu saja ….” Anak lelaki itu menyeringai. Sungguh menjengkelkan melihat bagaimana bibir anak lelaki itu membentuk senyum.
“Siapa sih kamu?” tanya Dila penasaran.
“Tidak penting namaku, gadis manis. Tidak penting dari mana aku datang. Dan tak ada gunanya pula menanyakan identitasku yang lain seperti para pegawai imigrasi.”
Anak lelaki itu berjongkok dekat Dila dan ikut-ikutan mencelupkan telunjuknya ke dalam cairan Baygon itu. 
Dila kembali terperosok ke dalam pesona tatapan dingin anak lelaki itu. 
“Kau pernah menyukai aku … tapi akhirnya kau menganggap aku pengecut. Kau ejek aku bahwa aku bukanlah seorang seniman seperti yang selama ini kukira …” kata anak lelaki itu sambil terus mengaduk-aduk. Mata Dila melotot. 
“Stephen? Stephen Dedalus? Kau Stephen?”4
Ia tertawa kecil. “A Portrait of the Artist as a Young Man. Para kritikus sastra sibuk menghubungkan riwayat hidup Joyce dengan penokohan diriku dalam novel kocak itu.”
“Mungkin ada benarnya bahwa novel itu adalah kurang lebih merupakan otobiografi Joyce. Meskipun ia cenderung mengejek dirinya sendiri,” Dila mencoba beranalisa.
Stephen mengerutkan keningnya. “Why do you think so?”
“Karena aku kira kau digambarkan oleh Joyce sebagai seorang yang nyeniman. Seorang anak muda yang bermimpi ingin menjadi seniman. Tapi dia mengatakannya, dengan penuh kegelian, ini adalah sebuah potret tentang seorang seniman sebagai seorang lelaki muda. Lelaki remaja. Itulah kau, Dedalus!”
Muka putih pucat Stephen mendadak menjadi merah.
“Apa maksudmu …?”
“Kau bukan seorang seniman besar. James Joyce is. Tapi engkau bukan.”
Stephen mengerutkan keningnya. “Joyce tak memberikan kesempatan padaku untuk berkarya ….”
“Ah, lihatlah puisi bego itu … yang kau tulis mendadak ketika terbangun dari tidurmu …. Are you not weary of ardent ways/ Lure of the fallen seraphim/ Tell no more of enchanted days …. Puisi apa itu? Seperti anak remaja jatuh cinta. Di negeriku, puisi macam begini biasa dibacakan untuk mengisi acara televisi kami yang bodoh-bodoh itu ….”5
Ini sudah keterlaluan. Hampir saja Stephen mencekik leher anak perempuan itu jika ia tidak buru-buru menenangkannya. “Hei, tapi aku teringkus juga oleh sikapmu pada akhir novel itu. Kenapa, Stephen? Kenapa harus kau tinggalkan semua? Keluarga, agama dan negaramu?”
Stephen duduk selonjor dan menumpu kedua kakinya di atas dengkul Dila. “Karena ketiga institusi itulah yang memproduksi aku untuk bersikap demikian ….”
Dila tersenyum. “Bukan karena kau menganggap kebebasan sebagai tuhanmu? Bukan karena kau menganggap seorang seniman wajib untuk lepas dari segala ikatan dan batas-batas ciptaan manusia?”
“Dila, suatu hari aku harus berlutut di muka pastur dan membeberkan seluruh dosa-dosaku. Aku pernah membohong, aku pernah dengki, aku pernah bolos misa dan yang membuat muka pastur itu berduka ketika ia mendengar pengakuanku tentang perzinahan ….”
Dila menggigit bibirnya. Wajah ibu Maimunah melesat di mukanya berkali-kali. 
“Terlalu sederhana untuk meninggalkan agamamu hanya untuk alasan-alasan itu …” gumam Dila.
“Dila! Kamu juga seseorang yang tertekan. Kau juga ingin keluar dari ketertindasanmu …” tuduh Stephen dengan nada mengejek.
“Ya … kau benar.” Dila menunduk. “Itu benar, Stephen … itu benar ….” Tiba-tiba saja Dila sesenggukan. “Neill benar. Ursula benar. Tapi ibu Maimunah dan pasturmu itu pun tak salah ….”
Stephen mengusap-usap kepala Dila dengan lembut. Jari-jemarinya yang putih pucat bertotol cokelat itu menyusupi rambut Dila yang hitam, lurus, dan halus. Dila menidurkan kepalanya ke atas bahu Stephen dan matanya terpejam.
TIBA-TIBA SAJA IA MERASA BAHUNYA diguncang-guncangkan. 
“Dila … kenapa bisa begini?”
Dila membuka matanya dengan enggan. Ia merasa seluruh kepala dan sebagian tubuhnya basah. Matanya terbelalak seketika. Aroma Baygon itu mendesak hidungnya. Gila! 
“Bangun sayang … lihat, kenapa obat semprot ini bisa tumpah ruah, Dila … ayo, cepat mandi … nanti ibu marah melihatmu seperti ini …” Ayah Dila menepuk pipi Dila dengan lembut. 
Hanya dua menit kemudian Dila menyadari bahwa ia tertidur di lantai kamarnya. Dan entah bagaimana cairan Baygon itu bisa tumpah hingga rambut dan tubuhnya kuyup. Begitu mendengar kata ‘ibu’ yang diucapkan ayahnya, ia meloncat dan menghilang ke kamar mandi. 
SETELAH YAKIN KEDUA ORANGTUANYA sudah pergi, ia berjingkat menuju lemari pakaian ibunya. Dibukanya pelan-pelan dan diambilnya kutang ibunya yang berwarna putih. Kedua jendolan yang berbentuk dada itu begitu besar. Mulut Dila menganga. Dia melihat dadanya sendiri yang masih tepos. 
Ia menyelinap ke kamar mandi orangtuanya yang berwarna biru. Dia mengenakan kutang itu di atas blusnya dan tersenyum di muka cermin. 
Matanya kemudian menjelajahi alat-alat rias ibunya. Lipstik, bedak, maskara, dan pemerah pipi. Diambilnya lipstik yang berwarna merah bata dan dioleskannya tebal-tebal ke bibirnya. Lantas dipolesnya pula pipinya dengan pemerah. Sedangkan pinsil alis berwarna hitam digunakan untuk menambah ekor alis matanya. Ditatapnya hasil karyanya dengan penuh kebanggaan. Ia telah berhasil menyulap dirinya menjadi anak burung hantu. 
Sekarang giliran koleksi sepatu ibunya. Dila ingat siaran Dunia Dalam Berita yang menayangkan benda-benda milik Imelda Marcos ketika ibu Filipina yang malang itu harus tamasya ke Hawaii. Rasanya jumlah sepatu dan tas ibunya tak kalah jauh dengan bekas ratu Filipina itu. Diamatinya satu per satu deretan sepatu ibunya. Dipilihnya sepatu berhak 15 sentimeter berwarna merah bata. Sedikit kebesaran. Tak apa. Dia berjalan mondar-mandir dan mencoba membayangkan betapa hebatnya ibunya bertahan delapan jam di kantor dengan keadaan yang menyiksa seperti itu. Dia berhenti di muka cermin dan sekali lagi mengagumi hasil karyanya yang akbar. Seekor anak burung hantu dengan sepatu hak tinggi berwarna merah bata. 
Tapi, lantas saja jidatnya berkerut melihat tiga wajah penuh senyum kegelian muncul di cermin itu. Sambil bercekak pinggang Dila mencibir. 
“Now, what do you guys want?”
Ursula terbahak-bahak. Disentuhnya bahu Dila sambil memandangnya melalui cermin. “Kamu cantik, Dila ….”
“Sungguh?”
Kepala Neill dan Stephen mantuk-mantuk menyetujui kata-kata Ursula. 
Dila membalikkan tubuhnya. Ia heran melihat ketiga tokoh itu bisa bersama-sama sowan ke rumahnya. Apalagi penampilan mereka kali ini tampak rapi seperti hendak menghadiri pesta cocktail. Ursula mengenakan rok berenda putih dengan bahu terbuka, persis seperti yang dibayangkan Dila ketika Ursula dicium Skrebensky pertama kali. Neill mengenakan setelan jas lengkap sementara Stephen malah tampak ganjil karena tak lagi memakai jasnya yang lusuh. 
“Kalian mau merayakan apa?” tanya Dila sambil mengamati jas dan celana Stephen yang licin seperti habis diseterika 15 kali.
“Kami ingin merayakan reuni kita yang pertama kali, Dila ….” Neill mencium pipi Dila. 
Dila memandang mereka dengan wajah tolol.
Stephen mengeluarkan empat gelas anggur kosong dari kantongnya. Dibagikannya gelas itu. Seperti tersihir, Dila menerima gelas tersebut dan memandangi wajah-wajah yang berbinar di mukanya. 
Dengan langkah mengambang, Dila bergerak menghampiri kaleng Baygonnya yang sudah lama tegak menanti. 
“Sudah lama ia kuramu dan kuaduk-aduk …” katanya tersenyum.
Dituangnya cairan bening itu ke dalam gelas Neill, Ursula, Stephen, dan gelasnya sendiri. Kucuran Baygon itu mempercepat detak jantung Dila. Neill, Ursula, dan Stephen bersama-sama mengangkat gelas itu tinggi-tinggi. Seperti dihipnotis, Dila menggabungkan gelasnya dengan ketiga gelas lainnya. 
“Untuk kemerdekaan kita ….”
“Untuk kebebasan kita ….”
“Untuk Adila!”
Mereka meminumnya dengan penuh semangat. 
DI HALAMAN RUMAH ADILA, MOBIL-MOBIL polisi dan ambulans berserakan. 
Di dalam beberapa polisi menanyai ayah Dila dan Yem yang menangis ketakutan. Di dalam kamar, jenazah Adila yang berwarna biru diselimuti dengan kain putih sebatas leher. Ibunya memandangi wajah itu dengan geram. 
“Kutang itu …. Kutang itu harganya 30 dollar … kutang kesayanganku. Dan alat-alat rias itu, Dila … Dila ….” Ibunya menepuk-nepuk pipi anaknya yang sudah dingin. “Itu semua harganya ratusan dollar. Dan sepatu buatan Itali itu … bagaimana kau bisa berani-berani menyentuh benda-benda mahal itu, Dila? Dilaaaa? Dilaaaa???!” Ibunya mengguncang-guncang bahu Dila dengan histeris. Sementara di luar, ayah Dila masih sibuk menjawab pertanyaan-pertanyaan polisi. 
Jakarta, 10 Juni 1989
Leila S. Chudori, “Dia macan malam,” begitu komentar ibunya tentang kelahiran Leila yang terjadi tepat pukul 00.04. Leila Salicha Chudori, lahir di Jakarta, 12 Desember 1962, sebagai anak bungsu. “Saya menulis sejak di Sekolah Dasar,” ujarnya. Tulisannya banyak dimuat media massa dan beberapa novelnya sudah diterbitkan. Leila kagum pada Dostoyevsky dan Franz Kafka. (Matra, Agustus 1989)

***

Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Leila S. Chudori
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Matra” Agustus 1989