Hikayat Jamuran

Karya . Dikliping tanggal 22 Desember 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

SIANG yang cerah telah menepi dari pandanganmu, Kanjeng Dalem. Tentu itu bukan karena awan hitam berhasil menutupi langit kotamu. Kau hanya menyadari sebuah bayang gelap bergerak perlahan, merayap di atas tanah mengepung alun-alun. Kau bertanya dalam diammu, mengapa cahaya matahari enggan meraba wajahmu lagi? Suara angin tiba-tiba seperti dengung lebah bergulung, tak putus-putus membanjiri lubang telingamu.

ANDAI saja kau percaya kata-kata terakhirnya, Kanjeng Dalem, mungkin akan berbeda jadinya. Kau lebih memilih hanyut dalam suasana dan membiarkan penggawa beserta pengawalnya menyeret dirinya ke atas tiang gantungan. Terbakar amarah hingga buta mata batinmu. Lalu dengan beribu orang lainnya, Kau menelanjangi ia dengan penuh rasa hina. Tubuhnya yang kurus, kau kuliti dengan tatapan begitu sinis. Tentu bukanlah sebuah kesulitan besar untuk para algojomu untuk membuatnya tak berdaya.
Lelaki yang kurus dan kini tergantung di tiang itu hanyalah seorang buruh tani biasa. Berkeliling atau menyeberang ke kampung lain, sambil menawarkan dirinya membantu di ladang. Barangkali Kanjeng Dalem pernah juga menikmati padi terbaik yang ia tanam atau sekadar mencicipi sayuran dari petikan tangannya. Sungguh pun hal buruk yang bisa ditemukan mata fanamu, Kanjeng Dalem, ia terlahir sebagai seorang miskin.
Jangan merasa harus sembunyi, Kanjeng Dalem, sari serbuan burung-burung yang entah dari mana datangnya. Mengepak dan menabur wewangian kepada siapa saja yang menyaksikan  kematiannya di tengah alun-alun. Bukankah itu pertanda baik, Kanjeng Dalem? Bahwa ia tak pernah benar-benar membunuh lelaki yang ditemukannya di sungai, dua minggu lalu.
**
SUARA sungai barangkali bisa menenteramkan hatimu yang sedang dilanda muram. Tak ada yang bisa kau kerjakan. Setiap kali Kau menawarkan diri mencangkul di ladang, orang-orang menggelengkan kepala seraya menunjuk ke arah tanah yang kering. Retak di sepanjang pandanganmu, tak ada gairah bibit yang akan tumbuh ditanam di sana rupanya.
Kau etrduduk dan hanya menikmati arus sungai yang menepuk-nepuk punggung batu. Tali pancingmu tak kunjung menegang. Barangkali ikan-ikan enggan menyentuh umpan, pada mata kailmu. 
Lalu, Kau membayangkan wajah istrimu lagi, Jamarun. Kau pun mulai merasa seluruh darah mengaliri tubuh beserta rasa malu. Dilepasnya, Kau dari pintu rumah, pagi itu, hendak mencari seatah kata “alhamdulillah” di ujung rezeki yang dapat dinikmati nantinya. Tak ada sarapan. Tak ada yang bisa mengisi perutmu, kecuali air dari kendi yang tiba-tiba terasa sangat dingin, sesaat menjilati dinding lambungmu.
Di bawah pohonan bambu, kau tersihir oleh pupuh alam yang senantiasa melambungkan diri. Bunyi sayap-sayap serangga, kesiur angin menanggalkan daun di tiap jasad ranting. Sungguh kau benar-benar merasa antara hidup dan maut. Tuhan benar-benar terjaga menatap dirimu.
Bukan ikan yang lewat di antara ambang nyata dan lamunan, malahan sebongkah tubuh terombang-ambing sungai do hadapanmu. Kau sekejap ingin mengusap wajah, menyadarkan diri, dan memilih tidak percaya pada apa yang dihanyutkan sungai itu. Tubuh yang mirip sebatang kayu. Kepalanya terbenam. Hanya punggung yang menyembul ke permukaan air. Kau, tanpa berpikir panjang lagi, lantas menerjangnya, menyergap tubuh itu, kau dapati seorang lelaki dengan warna kulit yang sudah memucat pasi.
“Tolong.. tolong!” Teriakanmu mengagetkan beberapa burung yang sedang hinggap di pokok kayu. 
Berulang kali kau berteriak, tetapi alam hanya memantulkan gaungnya kembali ke hatimu yang semakin gamang. Setelah jeritmu mulai terasa membatu di kerongkongan, barulah dua-tiga orang turun dari perkampungan, menghampiri.
“Dasar pembunuh!”
“Kampung kita telah menyimpan seorang lelaki yang dirasuki setan.”
“Tak ada ampun.”
“Kemiskinan telah membutakan matanya.”
“Dasar bedebah!”
Kau tak bisa lagi membedakan siapa saja yang sedang menghardikmu. Antara mereka yang ikut membantu mengangkat mayat dengan orang-orang yang tiba-tiba saja menuduhmu pembunuh.
“Giring ia ke pendopo!”
“Adili!”
“Bawa ke hadapan kanjeng dalem!”
Kau sudah berkali-kali menyatakan diri bukan pelakunya, tapi selalu ada saja sergahan untukmu. Selalu ada saja tangan mengepal siap menghujam muka dan kaki menendang perutmu. Tak ada yang bisa percaya padamu.
Aku melihat Kau diarak ke pendopo untuk menghadap Kanjeng Dalem. Kau meringis perih karena luka di wajah bercampur letih tak bisa lagi terelakkan.
Kanjeng Dalme pun duduk di singgasananya. Matanya menyala dan menatap penuh geram. Gerangan apa yang diperbuat Kau hingga seorang dalem harus turun dan mengotori waktunya mengurusi seorang jelata kurus seperti dirimu, pikirku pasti dalam hatinya begitu.
“Ceritakan padaku, apa yang telah diperbuat olehnya?” Suara Dalem begitu terasa menebal di tengah-tengah keheningan pendopo.
Orang-orang yang berkerumun saling menatap dan menyimpan harapan masing-masing. Lalu, seseorang bagian dari kerumunan itu pun memulai kisah. Kanjeng Dalem hanya mengangguk-angguk. Sementara Kau, Jamarun, tertunduk lesu.
“Ini kotaku, tidak bisa kau berbuat dosa tanpa penghakimanku.” Kanjeng Dalem dengan tubuh bersih nanrupawan telah begitu menyilaukan matamu, Jamarun.
Tidak ada sebab mengapa tiba-tiba matamu, Jamarun, begitu sembab. Bukan karena pukulan penggawa, melainkan kata yang bersarang jauh dari rasa iba. 
“Kurung dia. Sampai neraka akan mudah baginya diterima!”
**
PADA suatu siang yang cerah, setelah dua minggu tenggatmu berlalu, dan tanpa ada seorang pun yang mengaku telah membunuh lelaki yang hanyut di sungai itu, dirimu digiring juga, Jamarun. Tak ada pelaku lain yang tertangkap basah, kecuali dirimu. Kau pasti sudah bisa memperkirakan akan bagaimana jadinya. Tiang gantungan adalah jawaban dari keresahanmu, wahai Jamarun.
Alun-alun mendadak dipenuhi orang. Udara menyimpan gairah asing yang tiba-tiba menyeruak di tiap tengkuk orang hadir. Mengapa mereka merasa dendam padamu, Jamarun?
Tak semua dari mereka bahkan mengenalimu. Ah, seorang algojo yang angkuh bersandaran di tiang gantungan. Matanya yang menyeruak di balik topeng seakan siap menyambut nyawamu.
Lalu Kau berjalan, naik ke atas tiang gantungan. Seperti menaiki sebuah mimbar. Aku tak melihat ketakutan dalam dirimu. Justru aku merasakan orang lain yang sedang diliputi kecemasan. Aku mendnegar suara isak istrimu, Jamarun. Suara yang jauh dikirim dari seberang sana. Apa Kau pun mendengarnya?
“Gusti, jika memang Kau benar-benar menginginkanku. Angkatlah aku! Angkatlah aku dengan cara-Mu dan berikan jasad terbaik pada mereka yang maish percaya padaku.”
Aku tersenyum, Jamarun, mendengar doa terakhirmu. Aku merasa kecil di tengah doamu itu. Aku merasa tak berguna seperti ini.
“Kanjeng Dalem, bila Aku benar telah membunuh lelaki itu, maka jasadku akan meruapkan bau busuk yang menyengat ke seluruh kotamu. Sebaliknya, jika aku bukan pelakunya, Kau akan mencium wangi di sekujur jasadku.” Kalimat terakhirmu tak kunjung meredamkan kecamuk orang-orang yang hadir.
Dengan penuh percaya diri, algojo itu pun mengalungkan tali di lehermu. Dengan satu entakan saja, penopang itu roboh. Kokimu melayang di atas tanah. Oh tidak, orang-orang mengira, ajal sedang merenggut paksa jiwamu. Padahal, maut memeluk mesra dirimu. Erangan yang begitu sempurna. Tapi, mata fana mereka semua sungguh tak ada gunanya.
Siang yang cerah akan segera sirna. Saatnya burung-burung mengepung alun-alun telah tiba. Langit, ya, langit tak benar-benar dibutuhkan lagi saat mereka semua yang hadir hanya mengisi dada penuh dendam asing. Aku akan segera membubung ke angkasa. Tak ada tetabuhan yang paling ganjil kecuali suara kepak ribuan burung di atas sana, bergilirann meluncur, mengerubungi jasadmu. Bahkan mereka semua yang hadir tahu persis apa yang meruap dari jasadmu. Jasadmu yang telah habis ditelanjangi oleh prasangka dan fitnah menggila. Mereka semua lalu merasa telah dicengkeram oleh sesuatu yang menyengat, mencocok kedua lubang hidungnya.
Dan untuk Kau, Kanjeng Dalem yang terduduk merias diri dengan wibawa, sekejap gulita hari ini. Bahwa kegelapan memang harus dilimpahkan untuk kotamu. Bahwa kota yang merupa dalam wujud dendam belaka sebenarnya perlu dibersihkan. Terlalu lama kotamu digelayuti pikiran-pikilan busuk penghuninya. Sudah lama merindukan harum untuk menggugah, sungguh masih perlu bebungaan tumbuh merekah.
Lalu mengapa harus Kau, Jamarun, yang jadi persembahan? Tidak adakah seorang pemimpin bijak untuk mengundangku turun? Tidak adakah seorang pengadil yang jujur mampu menggodaku menari di udara? Ah, sudahlah. Terimalah jasad terbaik itu dari tuhan, Kanjeng Dalem. Akulah harum itu. Akulah wewangian yang melabur jasadmu, Jamarun.***
Buniwangi–Cianjur
Faisal Syahreza, lahir di Cianjur. Menulis puisi dan cerpen, bekerja sebagai penulis lepas di Bandung.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Faisal Syahreza
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 20 Desember 2015