Ziarah Desember

Karya . Dikliping tanggal 4 Januari 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
SATU keranjang mawar merah segar dari Bandungan sudah kusiapkan. Hanya itu yang selalu kubawa setiap kali ziarah. Tidak perlu bunga kanthil, kenanga dan melati. Bagiku mawar merah punya makna yang jelas. Simbol keharuman sekaligus keberanian. Dua hal itulah yang harus dimiliki semua orang jika harus berhadapan dengan kematian. Meninggalkan nama harum berupa karya-karya nyata dan keberanian menghadapi ketidakpastian setelah masuk ke alam kematian.
Bagiku surga dan neraka itu janji sekaligus pertanyaan. Semua agama menjanjikan surga jika kita hidup tidak bergelimang dosa. Sementara neraka dijanjikan bagi mereka yang hidupnya penuh dosa dan kesalahan yang tidak diampuni oleh Sang Pencipta. Menjadi pertanyaan yang sampai detik ini belum kutemukan jawabnya, yakni mungkinkah Sang Pencipta tega menghukum seumur hidup makhluk ciptaan-Nya sendiri? Bukankah itu seperti seorang bapak yang tega menghajar sampai mati anak kandungnya sendiri?
Entahlah. Mungkin semakin banyak orang yang tidak lagi percaya adanya hukuman seumur hidup dan sepanjang masa di neraka abadi. Api neraka dan siksa kubur dianggap dongeng. Buktinya dunia tidak semakin tentram, justru semakin menakutkan. Kejahatan ada di mana-mana. Pembunuhan pun seolah sudah menjadi budaya justru ketika bangsa-bangsa mengaku sebagai kaum beradab.
Ah, memikirkan hal-hal semacam itu hanya membuat kepala jadi pusing. Biarlah hal itu jadi bahan pemikiran para filsuf dan tokoh-tokoh agama.
Pagi ini aku hanya akan ziarah. Tempat yang kudatangi bukan kuburan, tapi sebuah apartemen mewah! Setahun yang lalu aku berdiri di barisan terdepan saat melakukan demo menentang pembangunan apartemen itu. Tiga kali kena gebuk polisi. Dua kali wajahku berdarah-darah dihantam pentungan tentara seusia anakku yang bungsu.
”Bongkar apartemen! Selamatkan kampung kami!” teriak beberapa orang beringas.
”Apartemen perusak lingkungan!” teriak yang lain tak kalah sengitnya.
”Kami butuh pasar , bukan apartemen!” beberapa perempuan yang ikut demo menyuarakan keinginannya.
Aku tidak peduli dengan semua itu. Tapi aku tetap menentang mati-matian pembangunan apartemen tersebut.
Tetapi siapa sekarang ini yang bisa menang melawan pemodal kuat yang menempel erat para pejabat yang sedang berkuasa? Risikonya besar melawan mereka. Buktinya para penentang pembangunan apartemen itu satu demi satu mundur teratur. Ada yang merasa capek dan tidak akan membuahkan hasil. Ada yang justru berbalik sikap mendukung pembangunan apartemen karena dijanjikan lapangan kerja. Tidak sedikit yang lalu diam setelah masing-masing diberi uang dalam jumlah lumayan.
Aku tidak mendapat apa-apa ketika mundur teratur menentang pembangunan apartemen itu. Sebab sudah bisa kuperhitungkan, sekuat aku menentang, jauh lebih kuat mereka untuk menggilas tubuhku yang mulai rapuh. Tubuh ini sudah tidak sekuat duapuluh tahun lalu. Tiga kali kena gebuk polisi tulang-tulang rasanya remuk. Butuh waktu sebulan untuk kembali sehat.
Hmm.  Apartemen itu sudah berdiri megah. Penghuninya rata-rata kelas menengah ke atas. Harganya lumayan mahal untuk ukuran kantong penduduk asli. Setiap menit mobil lalu lalang keluar masuk halaman apartemen.
”Bapak mau ke mana?” tanya petugas keamanan begitu aku berdiri di pintu masuk apartemen.
”Ziarah,” jawabku.
”Ziarah? Ini apartemen, Pak, bukan kuburan!” tukas petugas keamanan itu dengan wajah sinis.
”Sudah berapa lama Anda bekerja di sini?”
”Sejak apartemen ini diresmikan Bapak Bupati, saya langsung ditunjuk jadi kepala keamanan di sini.”
”Anda dulu polisi?”
”Ya. Saya minta pensiun dini.”
”Bukan dipecat?”
Orang itu tersenyum sinis. ”Saya mengundurkan diri dengan terhormat, Pak. Tiga bintang jasa saya miliki. Kenapa saya mundur, karena saya tidak mau pindah tugas ke luar pulau Jawa. Itu alasan saya.
Meski kalau mau pangkat saya langsung naik setingkat.”
Kuamati wajah kepala keamanan itu. Tidak lupa, dia yang pernah gebuki tubuhku dengan pentungan rotan. ”Ketika masyarakat kampung di sekitar apartemen demo, Anda sudah kerja di sini?”
Orang itu menggeleng. ”Saya masih dinas. Sayalah komandan pengendali pasukan huru-hara yang melawan para demonstran!”
Aku mengangguk sambil tersenyum. ”Benar dugaanku. Dulu Anda yang pertama kali menempeleng wajahku dan dengan tongkat rotan gebuki tubuhku. Masih ingat?”
Orang itu menatap wajahku dengan saksama. ”Lupa-lupa ingat, Bapak yang dulu berdiri di barisan terdepan waktu demo?”
Aku mengangguk.
”Waktu itu Bapak membawa poster?” Aku menggeleng.
”Bapak yang jadi korlap para demonstran?”
Aku menggeleng lagi. ”Aku tidak kenal dengan para demonstran. Kalau aku ikut menentang pembangunan apartemen, hal itu semata-mata karena urusan pribadi.”
”Bapak mau minta ganti rugi?”
”Tanahku tidak ada yang dicaplok apartemen. Jadi tidak mungkin minta ganti rugi!”
”Lalu kenapa Bapak ikut demo?”
”Karena aku punya kenangan manis dengan tempat ini. Tapi kenangan itu hilang karena adanya apartemen. Oleh sebab itu izinkan aku ziarah di tempat yang kumaksud. Hanya ziarah, tidak demo!” kataku tak sabar. Dua orang petugas keamanan yang lain datang. Mereka mengamati wajahku.
”Pak Sam ya?” bentaknya kemudian.
”Ya kenapa?” balasku. ”Dari mana kalian tahu namaku?”
Dua petugas keamanan itu tersenyum. ”Foto-foto Bapak ada di kantor kami. Juga foto para demonstran penentang pembangunan apartemen ini.”
”Lalu?” tanyaku.
”Bapak tidak boleh masuk area apartemen. Itu sudah jadi keputusan manajemen!” jawab kepala keamanan.
”Aku hanya ingin ziarah. Tabur bunga, tidak lebih!” kataku.
”Ini bukan kuburan, Pak.”
”Aku tahu!” teriakku. ”Kuberitahu ya, di samping kantor pemasaran itu, dulu ada pohon kembang kantil yang besar.  Di bawah pohon itulah untuk pertama kali aku mencium istriku. Menyatakan cinta, lalu sering pacaran di situ pada malam hari. Sekarang istriku sudah di surga. Dulu sebelum dia meninggal aku berjanji, setiap bulan Desember akan ziarah ke tempat-tempat yang penuh kenangan indah untuk kami berdua.
Setelah dari tempat ini aku akan ziarah di mall di tengah kota. Dulu tempat itu gedung bioskop. Tiap malam minggu kami biasa nonton film di situ. Dan terakhir nanti baru aku ziarah di kuburan tempat istriku istirahat untuk selama-lamanya. Paham?”
Tiga orang petugas keamanan itu lalu saling pandang. Satu orang kulihat menyilangkan jari telunjuknya di dahi. Menganggap aku orang tidak waras.
”Bapak membawa apa?” tanya kepala keamanan akhirnya.
”Bunga mawar merah kesukaan istriku.”
Keranjang berisi bunga mawar merah itu lalu kuserahkan. Mereka memeriksa dengan alat pendeteksi logam. Karena tidak ditemukan logam, keranjang itu lalu ia kembalikan lagi. ”Bagaimana?”
”Bapak hanya akan tabur bunga?”
”Ya!”
”Silakan, Pak,” jawab mereka serempak.
Dengan mantap aku melangkah menuju tempat yang kutuju. Tempat yang dulu pernah tumbuh pohon kembang kantil. Kutaburkan tiga genggam mawar merah sambil kubayangkan ketika untuk pertama kali kucium istriku. Ia malu-malu namun tidak menolak.
”Terima kasih telah memberi izin aku ziarah di sini. Desember tahun depan kalau aku masih hidup akan kembali ziarah lagi,” kataku kepada kepala petugas keamanan.
”Ya, Pak, semoga tahun depan kita masih bisa bertemu lagi!” balasnya.
Masih ada dua tempat yang harus kuziarahi. Mall Metropolitan di tengah kota dan kuburan di pinggir kota. θ – g
Dayu, Jalan Kaliurang, 2015.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Sardjono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 3 Januari 2016