Siluet Daun Sukun

Karya . Dikliping tanggal 29 Maret 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

NAMAKU Arini. Perempuan tak bergalur, tanpa status resmi. Kelahiranku dicibuki(1) air kali, dibubuhi daun suji. Ditolong Mbok Rasiti, paraji tanpa pamrih di atas tampah(2) berlapis ketan putih. Ibuku, Wogini –atau sering disapa Owong– selalu membenci diri ini.

ORANG-ORANG desa menjulukiku perempuan bata merah: cantik menggairahkan, tetapi mudah dikebiri. Kukatakan kepada mereka, sesungguhnya takdirku pasti, tidak seperti mereka yang menyigi hidup dengan bermacam dalih. Maka, ke manapun langkah kakiku melaju, dengan lantang, selalu kusingkap sepi. Senajan kula tlembuk bodol, nanging kula bisa nyumponi(3). Aku menikmati peranku. Momentum-momentum puncak dan kekalahanku.
Ketika Wogini hamil diriku, suaminya –Wartika– jatuh dari genting dengan tulang rangka retak dan tergeletak di kasur sampai empat puluh hari. Matanya menjadi rabun sebelum waktunya. Bibirnya menebal. Kupingnya budeg berat. Wogini menangisinya dengan akting profesional, bagai main drama.

Wartika lantas picak matanya dan hidup dengan wanita lain yang kurus kering, seperti ranting cemara luruh di pinggiran sawah. Wogini ditinggalkannnya sia-sia. Tanpa nafkah, tanpa rasa bersalah dari bibir tua Wartika.

**

BANYAK orang desa yang menghinaku, sebetulnya, tidak pernah tahu bahwa kecantikan dan tubuh bagusku tak semata kutukan. Akan tetapi, merupakan doa yang dulu dikubur nenekku, Rasi, ketika diperkosa pedagang mangga di pasar tumpah kala muludan tengah ramai-ramainya.

Sepanjang usiaku, aku mengalami pernikahan demi pernikahan. Merasa tak bisa membuat keputusan sendiri. Pertama dinikahkan dengan tukang becak, melahirkan dua orang anak. Laki-laki dan perempuan. Kedua dengan sersan tentara. Tak beranak. Ketiga dengan keturunan Tionghoa kaya, mandul, tetapi dia selalu memberiku hadiah. Keempat dengan kondektur, keluar bayi prematur. Bayi yang sejak jabang disiksa.

Ketika perutku kram dan kandungan membesar dari hari ke hari, Wogini memukul perutku dengan palang pintu belakang rumah. Memperturutkan nafsunya agar bayiku tumpas, terbunuh dalam kesengsaraan. Bilur dan sakitnya tak tertahankan, menyebabkan kontraksi hebat.

Terkadang, bila aku pulang malam dan hanya mendapati lima lembar uang puluhan, Wogini berteriak-teriak, memberiku sepiring nasi aking dan menyita semua hasil menelembuk.


**

Aku tlembuk laris, berkelana hingga Subang, Anjatan, dan Haurgeulis. Keperawananku hilang dibayar lima belas ribu empat ratus perak oleh tukang daging di satu pasar. Aku jadi ingat Rasi yang dikangkangi pedagang jua.

Uang pembayaran itu aku bawa pulang. Aku ikat dengan benang dan kuselipkan dalam korset tua milik rasi yang diwariskan kepadaku. Kunikmati hari-hari kemudian dengan menenggak minuman keras Cap Motor, jenewer, bercampur dengan limun dan anggur kolesom. Mabuk berat dengan lelaki menindihku membuatku melupakan semua masalah yang menimpaku.

Meski disiksa, bakal bayi ini tumbuh atas kuasa Tuhan sehingga, pada kehamilan memasuki usia delapan bulan, sang jabang bertambah kuat dan mengakar dalam perutku. Owog menyerocos, katanya, janin itu tak boleh lahir sebab sesudah itu aku tak lagi laku menelembuk. Dia meramal seperti dukun terkenal. Tak berguna, tak punya muruah.

Baca juga:  Kau Tidak Harus Menanggung Beban dari Seluruh Kejadian di Dunia Ini

“Kamu makan nasi, bukan lumpur atau jerami. Aku yang mengurusimu dari kecil, juga menggendong anak-anakmu Ipin dan Sri, bayi dengan rona merah cantik itu. Mau makan apa kalau di perutmu buncit orok lagi? Sebagai tlembuk, seharusnya kamu jaga diri, enggak usah hamil lagi!” Semprot Owong pada hari-hari puasa, saat menelembuk tabu bagiku.

“Owog, sudah kulacurkan diriku demi memenuhi keserakahanmu, masih juga tidak terima.” Aku lantang menjawabnya.

“Kamu selalu menentang ibumu!” Owog kalap hebat. Ia melempar piring tepat ke mukaku. Nasi dna lauk pindang berhamburan ke lantai tanah liat kami.

“Aku menelembuk dari pagi ke pagi, bahkan jarang kembali ke rumah, kecuali duit sudah sekantung kresek dan mulutmu lantas tersenyum senang menerimanya.”

**

BAYI itu akhirnya lahir juga. Kuberi nama dia Abdullah. Berharap sebagai abdi Tuhan, taat dan rajin beribadah, mengencantaskan mamah-nya dari profesi tlembuk yang dihina orang-orang desa. Bayiku dipelintir dengan kekejian bertubi-tubi. Ketika bayiku menangis, tempurung kepalanya dibenturkan ke tembok atau almari kayu jati.

Anak gadisku, Sri, diperjualbelikan oleh Owog. Payudaranya diespose dan diumbar, membuat para lelaki di desa kami, bahkan pinggiran kota, bergegas datang ingin memilikinya. Kasina, dukun dengan kepala tengleng berhasil menggaetnya, layaknya memperoleh piala akbar. Selaku mamah-nya, aku tak diajak berunding.

Owog yang mengatur pernikahan ini. Syukurlah, Sri tak jadi tlembuk. Kuikhlaskan Sri, teringat dia pernah menjadi buruh nyuci dan pembantu tetangga kami atau pelayan toko. Suatu waktu, ia terpojok di satu dinding pekarangan kosong. Seorang petugas parkir menikmati tubuhnya.

“Mamah senang kamu akhirnya menikah,” kataku saat ijab kabul.

“Ya, aku tahu mamah, Owog menginginkanku jadi tlembuk. Pelacur, bukan, yang tubuhnya diperdagangkan demi lembaran rupiah?” sungut Sri dengan nada bercampur antara prihatin dan amarah.

Mamah bersyukur, Nak. Setidaknya, dengan nikah, kamu halal dan akan dihidupi dengan nafkah suamimu.”

“Aku anak tlembuk, Mamah. Orang-orang memperturtkan perkataan itu setiap kali lewat. Itu yang selalu terngiang. Tlembuk bodol. Pelacur tak payu, bukan?”

“Sri, Mamah menelembuk demi hajat hidup sekeluarga. Tidak ada pilihan lain.”

**

AKU ngelangut. Seandainya Owog merasakan hal yang sama sepertiku, menelembuk tanpa lelah meski tubuh ringsak berat, Owog akan tahu alangkah pahit berdagang tubuh.


Aku tua sebelum masanya. Benar-benar kemudian menjadi tlembuk bodol. Sepi orderan. Balik kampung dengan risiko diusir Owog tidka kuhiraukan. Aku kembali ke desa, lima tahun mengurus rumah, dan kedua anakku sampai mereka sudah bisa dilepas.

Baca juga:  Ingatan - Sepahit Secangkir Kopi

Abdullah, anak ketigaku, pernah hilang sebab otaknya edan. Setahun tanpa kabar berita. Pada puncak fustasiku, seorang tamu singgah ke rumahku. Ia tak menyebut asal, hanya mengatakan bahwa ia pedagang kambing. Abdullah diturunkan dari truk yang berjejalan kambing, tanpa busana. Baunya tujuh rupa dan kulitnya kluwus hitam tanpa mandi setahun belakangan ini.

Aku bersujud dengan kedatangannya. Mengerangkengnya di kamar, bersimpuh dalam sejadah, menyebut nama Tuhan. Owog menyuruh Abdullah dihabisi saja.

“Biar Abdullah tak pateni,” ujar Owog kala Abdullah kumandikan dengan air sumur.

“Jauhi kami, Owog, jauhi. Aku muak denganmu.”

**

SEKARANG ini, kubuka warung mi instan dan wedangan dekat jalan raya. Cukup buat melayani Owog dan makan sekeluarga. Di depan warung kami, dua buah pokok sukun menemani kami mengurus warung hingga jauh malam, bahkan sampai dini hari kami menutupnya.

Di pagi berangin dan hujan lebat, datanglah seorang lelaki dengan mengendarai motor matic. Ia memesan indomie telur dengan cabai rawit banyak dan bicara ke sana-kemari. Kini dia jadi suamiku. Suami dengan nikah siri, tak kugugu pendapat Owog meskipun aku dilarang menikah lagi. Asep sangat dewasa, meladeniku tanpa mengeluh. Dia bercerita tentang kegagalannya membina rumah tangga. Istrinya yang pergi ke Arab,  lama tak mengabarinya, dan diam-diam pulang selingkuh dengan remaja kencur. Aku sebetulnya sudah bosa dengan pernikahan, tetapi Asep terus kukuh membujukku.

“Asep, kenapa kamu mau denganku? Jalanku pengkor, miring tanpa gerak lentur. Tubuhku gembrot. Bapuk, orang-orang desa terbiasa menyapaku. Aku mengidap diabet dan jantung koroner akut.”

“Aku sebetulnya tak meyakini pilihanku, Wong Ayu,” ujar Asep saat warung kami sepi pelanggan. Dia hendak menggodaku, rupanya.

“Kata Abdullah, hanya lelaki buta tuli yang mau denganku!” Kujelaskan kondisiku.

“Karena aku ingin mengubah nasibku. Aku ingin utuh. Menyatu dengan perempuan. Melengkapi sandang, sanding, sandung(4) yang sebenarnya. Aku lelaki pengangguran. Namun, aku akan rela merawatmu, memahamimu.”

Meskipun aku ini tlembuk bodol?” Aku pancing dia untuk mengetahui bagaimana reaksinya.

“Tidak ada yang dibilang begitu, mau tlembuk atau guru ngaji. Statusmu bagiku teramat gamblang, kau istriku. Kubur masa lalumu, masa alluku pun gelap total.”

“Kamu yakin dengan memilihku?”

“Aku tidak ingin menjauh dari takdir, yang terpenting kamu lepas segalanya. Tlembuk tak ada lagi dalam benakmu selama-lamanya.”

“Tidak dalam pikiran Owog.”

“Biarkan itu. Ia takkan sadar-sadar, kecuali maut menjemputnya.”

Asep benar-benar memenuhi ucapannya. Ia telaten membersihkan lukaku, mengambil tongkat, menyuapi dan memboncengku belanja keperluan warung. Ketika diriku seminggu dua kali disuruh dokter untuk kontrol penyakitku ke rumah sakit rujukan, dia tak segan mengurus BPJS. Kupercaya, dia bisa diandalkan.

Baca juga:  Nostalgia Gula Merah

Aku berkisah kepada Abdullah di pinggir warung.

“Abdullah, sesungguhnya bapakmu amat sayang dan merindukanmu. IA meninggal jatuh dari bus antarkota antarprovinsi, kejadiannya di mana dan tanggal berapa, Mamah tak mengetahuinya, Nak.”

“Mamah bodoh, Mamah tlembuk bodol.”


“Ya, Nak, maafkan Mamah.”


“Semestinya saya tak lahir ke dunia.”

Aku terpaku menerawang Abdullah di kemudian hari. Siapa yang akan merawatnya? Bila aku meninggal, dia akan sebatang kara. Saudaranya, Ipin ataupun Sri, hanya mementingkan diri sendiri. Kubicarakan ini dengan Sri.

“Sri, kelak bila Mamah sudah tak ada, tolong sekali asuh Abdullah. Dia titipkan Tuhan untuk dilindungi.”

“Mamah tenanglah, jangan dipikirkan. Abdullah akan kujaga sebagaimana anakku sendiri.”

“Terimakasih, Sri.”

“Mamah jangan khawatir. Aku sepenuhnya menanggung rasa sedih melihat adikku. Ia terlahir bukan untuk dihancurkan, tetapi disayangi, sama seperti anggota keluarga kita lain. Owoglah pendurhaka itu.”

“Sri, MAmah capek. Mamah tidur dulu.”

“Biar aku pijiti dan kutemani, Mamahku.”



**

ABDULLAH bermain-main dengan dunianya sendiri. Dunia yang berbuih dan penuh terowongan. Ia tenggelam di sana. Abdullah tak mengeluh, sesekali dia urun pendapat. Tetapi, selalu dengan lucu dan kurespons sebaik mungkin. Mamah sepanjang hidup mengalah demi Owog, sibuk menelembuk. Itulah rintihan Abdullah.

Aku berkeliling di warungku, terlihat tumpukan sampah di sana-sini. Kusapu daun-daun sukun yang berserak menghalangi pemandangan. Kupeluk Asep yang lagi demam sebab sakit gigi. Kulayangkan pandang pada sawah kering, pada jalanan yang senyap tanpa lalu lalang kendaaran. Warung kututup sedari tadi.

Asep, aku berhenti jadi tlembuk bodol. Aku istrimu sepenuhnya.”

Asep tak menjawab, hanya tersenyum dengan menunjukkan raut bahagia. Senajan kula tlembuk bodol, nanging kula masih due rumangsa. Hujan sore meneduhkan kami.***

Yuz, dilahirkan di Cirebon dan menempuh pendidikan hingga Sarjana Pendidikan di kota kelahirannya. Berkelana dan bekerja di Jakarta dan Bandung juga Yogyakarta, bekerja dalam bidang riset sosial, media dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Catatan:
(1) Diguyur
(2) Alat untuk menampih beras/bisa juga digunakan sebagai wadah.
(3) “Meskipun saya pelacur tak laku, tapi saya bisa mencukupi (keluarga)”
(4) Sandang, pangan, nafkahbatin.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuz
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 27 Maret 2016