Adegan Terakhir yang Damai

Karya . Dikliping tanggal 4 April 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
SAKRATUL maut itu seharusnya menjadi urusan paling pribadi antara yang mati dan malaikat maut. Dan adegan ini tidak perlu menjadi bahan tontona orang lain. Apalagi sampai bisa membuat seluruh hidup orang lain tergangu lantaran melihat adegan malaikat maut datang dan mengambil nyawa seseorang, dan emmbawanya pergi entah ke mana. Memang aku masih percaya bahwa kematian seseorang bisa lebih dulu disaksikan oleh kekasihnya, anaknya, istri atau suaminya melalui mimpi, sebuah penglihatan atau juga wangsit, misalnya.
Sesunguhnya, jarak antara fantasi dan kenyataan tidak pernah bisa didefinisikan siapa pun, termasuk kau atau dia yang berada dalam fantasi dan kenyataan sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Antara sekarang dan yang lalu, atau antara sekarang dan yang akan datang, ada jarak yang sering membawaku berputar-putar tak karuan, terpental ke sana ke mari dari waktu ke waktu. Aku begitu saja bisa berada pada amsa lalu seseorang sambil menonton film tentang masa depan orang lain. Tiba-tiba saja aku ada di masa depan seseorang sambil melihat aku sedang mengantar makan siang untuk ayah di kebun kami. Itu sungguh menyiksa dan tentunya memaksaku menemukan alasan-alasan yang tak kupahami tentang semua kejadian ini.
Ayah pernah bercerita padaku betapa aku adalah bayi yang sangat mengkhawatirkan di awal kehidupanku. Aku dilahirkan prematur, sebulan lebih awal dari waktu normal untuk seorang bayi perempuan. Waktu dilahirkan, tanganku yang lebih dulu muncul. Ini emmang pertanda yang segera terbaca maknanya oleh bidan yang membantu persalinan ibuku.
“Bayi ini pasti membawa sesuatu yang istimewa dalam dirinya.” Begitu sang bidan berkata setelah aku pertama kali dibaringkan di atas dada ibuku.
Sebagai kanak-kanak, aku sama sekali tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dalam diriku sebagaimana disadari oleh semua anggota keluargaku. Kau tahu kan, bagi seorang anak, fantasi tak ubahnya realitas yang diciptaan sendiri di kepalanya. Dan apa yang dikira orang dewasa sebagai kenyataan, justru dianggap imajinasi yang menjelma sebuah tontonan menarik, untuk kebutuhan seorang anak kampung yang haus permainan dan hiburan. Melihat khayalanmu sebagai sesuatu yang sedang terjadi di depan mata adalah hiburan, yang tidak akan diperoleh anak-anak mana pun di kampungku. Saat televisi belum begitu populer, aku sudah terlalu banyak menonton film. Sialnya, semua itu film tentang kematian orang-orang. Itulah sebabnya di tahun kelima kematian ayahku, aku baru menyadari bahwa kematiannya lima tahun lalu itu bukan sesuatu yang hidup di kepalaku saja. Bukan kejadian yang kukenang sebagai sebuah kisah film saja.
Pagi itu aku menemukan ayahku sedang berbaring di kebun jagung kami. Kukira dia kelelahan. Aku meletakkan rantang makan siangnya tepat di samping tempatnya berbaring. Aku putuskan untuk tidak mengganggu istirahatnya, lalu segera kembali ke rumah.
Belum beberaoa langkah kujangkau, aku melihat beberapa pria seumuran ayahku berwajah sangat menyeramkan. Mereka mendekati ayah yang sedang berbaring lalu mulai mencincang tubuhnya menjadi beberapa bagian lalu membagikannya di antara mereka sambil mengucapkan kata-kata seperti sebuah doa. Aku berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Aku tahu saat itu aku yang berada di dekat ayah akan dicincang juga, mungkin dengan cara yang lebih mengerikan. Aku ingat cerita ibu tentang suanggi yang suka memakan daging anak-anak. Semua itu membuat aku mual dan aku seperti ada dalam sebuah pusaran besar.
Rasanya seperti jarak satu kedipan ke kedipan mata yang lain, aku terpental kembali menuju jalan setapak menuju kebun kami sambil menenteng rantang makan siang untuk ayah. Beberapa pria yang tadi kulihat mencincang ayahku berjalan bersamaku seperti para pengawal yang menjaga seorang tuan putri. Dari jauh ayahku sudah menunggu dengan senyum merekah. Apa ini? Apa yang telah terjadi? Mengapa aku berada di sini sekarang?
Tentu saja film kematian ayah yang dicincang teman-temannya itu tidak kuceritakan pada siapa pun termasuk ibu. Pelan-pelan aku yang kanak-kanak itu belajar membedakan fantasi san khayalan-khayalanku dengan apa yang sungguh-sungguh terjadi. Fantasi dan khayalanku berlangsung cepat saja. Memang pengalaman itu mengerikan dan sangat membekas tapi begitulah aku membuat patokan berdasarkan waktu saja.
Sebentar atau lama ternyata bukan kasus yang mudah dipecahkan. Fantasi dan kenyataan seperti saudara kembar yang hanya bisa dibedakan jika kau melihat tahi lalat di dekat kemaluan mereka. Yang satu punya dua dan yang satu lagi punya tiga. Sayangnya mereka tidak selalu tampil tanpa penutup kemaluan supaya aku mudah mengenali mereka.
Suatu pagi, masih pagi sekali, aku berjalan bersama ayah. Kami buru-buru ke kebun sebelum matahari menjulan di atas langit. Di antara jagung-jagung yang sudah lebih tinggi dariku aku melihat beberapa sosok yang sedang mengintai. Itu wajah-wajah yang sama yang telah mencincang ayahku dalam film sebelumnya. Kulihat seorang pria berjalan dalam kegelapan bersama seorang anak kecil. Aku berharap itu bukan aku dan ayahku. Sebab sekarang aku sungguh sedang berjalan bersama ayah. Atau, yang ini mungkin fantasi saja. Aku melihat diriku yang lain dengan kejadian yang sama dan ayah yang sama, dengan pengintai yang samaterjebak dalam sebuah adegan pembunuhan yang sadis, yang juga sama. Astaga, aku lupa. Selama ini aku tidak pernah belajar membedakan mana tokoh-tokoh asli dan mana pemeran dalam fantasiku saja. Aku segera berlari sekencang-kencangnya. Ayah tiidak mengejarku dan kulihat gadis yang merupakan duplikatku juga tidak meninggalkan ayahnya. Bagaimana mungkin aku meninggalkan ayahku yang akan dibunuh sementara seorang tokoh fantasi setia betul menggandeng ayahnya yang sedang diintai para pembunuh. Kuputuskan berlari kembali mengejar ayah dan menggenggam kuat-kuat tangannya sambil melirik kiri kanan, memastikan saat yang tepat untuk kabur bersama dengan ayah. Tapi kini gadis kecil di sebelah sana tengah berlari kencang meninggalkan ayahnya. Biarkan saja makhluk fantasi itu pergi. Makhluk fantasi memang tidak mungkin bertahan lama, apalagi abadi karena memang mereka tidak suka setia.

Baca juga:  Mencari - Mata Coklat - Telepon

Dan ternyata aku tidak keliru. Pagi itu aku menemani ayah melakukan piong dan mohon restu nenek moyang sebelum jagung-jagung kami dipanen. Aku menemani ayah yang berdoa itu sambil menyaksikan seorang lelaki, ya dia itu ayahku dalam fantasi, dihajar beberapa pria sebaya yang sudah kukenal baik. Seorang di antara mereka menikam dadanya lalu mencabut keluar segumpal daging yang masih bersungut-sungut. Dari jauh, anka perempuannya ganti berdoa pada leluhur di hadapan sesajen untuk piong. Entahlah mungkin dia kira ayahnya bisa diselamatkan dengan doanya yang lugu itu. Gadis kecil itu segera berlari menghampiri ayahnya. Wajahnya kelihatan begitu cerah seperti baru saja mengetahui doanya akan terkabul. Ayahnya akan bangun lagi dan mereka berjalan lagi menuju kebun jagung. Ia duduk di aats perut ayahnya yang penuh berlumuran darah itu, mengambil parang ayahnnya lalu mencungkil dadanya. Ia juga mengeluarkan sepotong daging dari dadanya. Ia potong lagi daging itu menjadi dua bagian sama besar, masih sama berdenyut-denyut. Satu diletakkan lagi di dadanya. Dan sambil tersenyum  dengan mata terpejam ia aletakkan sepotong daging itu ke dalam dada ayahnya. Ia rebah di aats ayahnya, memeluk pria itu tiada lepas lagi.

Baca juga:  Kutukan Rahim (25)

Tanpa sadar air mataku meleleh. Rasanya hangat sekali di pipiku. Film itu selesai. Aku baru saja menyaksikan film terbaik dari antara semua film yang pernah kutonton. Rasanya aku telah melihat kematian yang sangat damai. Dan seperti orang yang terhipnotis, aku juga merasa aku ingin melakukan adegan itu dengan ayah. Seorang gadis kecil yang ingin mempertahankan hidupnya dan ayahnya dengan berbagi sepotong daging kecil yang berdenyut-denyut dari dalam dadanya untuk mereka berdua.

Ayah telah selesai berdoa. Aku menghampirinya dan mengajaknya pulang karena sudah hampir malam. Ia tersenyum dan mengajakku berjalan lagi. Mungkin karena matahari masih tinggi ayah mengira ini masih siang. Padahal sejak tadi sudah kulihat orang berjalan pulang. Kamu berjalan begitu lama, aku tak bisa mengira berapa lama. Dan langit tak pernah berganti pakaiannya yang gelap. Ia tetap cerah, secerah wajah dan hati seorang anak yang merasa telah melakukan hal terbaik dalam hidupnya dengan kelebihan yang dimilikinya.

Baca juga:  Paris, Salju dan Gerimis

“Ayah, mengapa kita tidak pernah menjumpai malam? Di mana kita sebenarnya? Aku bertanya sambil terus melihat ke depan. Ada semacam ketakutan melihat wajahnya yang sejak tadi pernah mengajakku bertkar tatap aatu kata.

Kami tiba-tiba saja terpental jauh sekali di waktu yang entah kapan. Kulihat ibu dan beberapa pamanku meneriakkan namaku dan ayah. Ibu meraung begitu ngeri ketika di hadapannya tampak seorang anak perempuan dan pria dewasa tengah berpelukan berlumuran darah. Aku terharu. Aku membayangkan adegan film terakhir yang kutonton tadi akan menjadi kenyataan. Aku melirik ayah. Ia tersenyum padaku, memegang tanganku lalu menarikku keluar dari kerumunan.

Waktu telah menelan kami. Aku dan ayahku. Dalam fantasi yang kabur dan aku kembali mencoba mengenali perbedaan dan jarak. Aku masih ingin menjadi kenyataan yang bisa sesekali bermimpi. Aku masih percaya bahwa aku dan ayahku sedang berjalan menuju kebun jagung kami dan waktu menangkap kami, lalu kami berhenti dalam pusarannya dan jadilah kami sebuah cerita yang turun-temurun menjadi legenda di kampung ini. Seorang gadis kecil berbagi jantungnya dengan ayahnya yanng kehilangan jantungnya. Mereka dipercaya masih tetap hidup menjaga kebun jagung di kampung ini. Dengan jantung yang setengah itu, mereka berada di antara batas waktu, antara mimpi dan kenyataan, antara jauh dan dekat, antara hidup dan mati, antara cerita yang dipelihara dan kenyataan yang tetap tersembunyi.

Suatu hari kami tiba di depan sebuah kubur yang berisi dua mayat. Aku tahu itu aku dan ayahku.

“Ayah sudah berapa lama kita mendekam di dalam sana?”

“Lima tahun, sayang.”

“Itu jarak yang pas untuk melupakan semuanya.”

“Tentu saja tidak semuanya. Ada yang harus tetap dijaga walaupun telah terkubur bersama kita.”  Wairklau, 2015 (k)




Keterangan:
Piong merupakan sebutan untuk ritual memberi makan leluhur yang sudah meninggal dalam masyarakat Sikka-Krowe.

Dimas Radjalewa: tinggal di Maumere. Bergiat di Teater Vigilantia dan Komunitas Sastra KAHE.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dimas Radjalewa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 3 April 2016