Burung Petaka

Karya . Dikliping tanggal 26 April 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
TIGA burung gagak mengitari rumahnya. Dan perempuan yang kelak menjadi perempuan burung, masih dalam perut. Asyik makan darah ibunya. Kira-kira umurnya delapan puluh sembilan hari. Pukul dua belas malam nanti, ia genap sembilan puluh hari.
Gelap mengguyur Desa Wetan, berteman angin ringan. Enam kaki gagak bertengger gagah di atas atap. Tiga kerongkongan mengeluarkan melodi pemanggil tukang cabut nyawa. Melengking serak memercepat kepakan makhluk yang paling dibenci mereka yang takut masuk taman penuh gundukan. 
“Rasanya sudah waktunya Pak,” ujarnya pada Jainal pelan sambil memegangi perut.
“Kita tak ada selembar uang pun,” balas Jainal, membuang wajah pucatnya pada Sutri.
“Tak ada uang, tak usah pergi pada bidan. Panggil saja Mbok Sar, nanti kita kasih beras saja.”
“Tapi, kemarin Siti mati,” sergah Jainal.
“Ah! orang miskin tak pernah takut mati. Uang tak ada, bagaimana lagi. Tak ada jalan lain. Memang kita ditakdirkan melarat. Lebih baik mati terhormat daripada melarat terus. Siapa tahu Tuhan membalas kekayaan di akhirat saat aku mati. Sebagai ganti melarat di dunia,” jawab Sutri dengan wajah menahan sakit. Kalimat itu entah ia dapat dari mana. Atau ia sudah dibisiki malaikat berkata seperti itu.
“Semoga saja gagak itu bukan tanda buruk bagi keluarga kita.”
“Ayo cepat panggil Mbok Sar. Itu cuma mitos, jangan dipercaya!” katanya meyakinkan Jainal supaya cepat memanggil dukun kampung. 
Jam dinding yang menempel pada kayu keropos, jarumnya berat bergerak. Penunjuk waktu itu malas berputar. Bukan melawan pantha rei, tapi tenaganya hampir hampis. Tuan rumah tak bisa membeli baterai jam. Padahal 12 sudah berharap disapa.
Waktu mengalir seperti gerak air deras. Setiba jam dua belas, pada rumah berlapis kayu keropos, jari-jari Jainal saling meremas, dengan kedua kaki yang tak tenang. Melangkah menuju pintu, terus balik lagi. Dan akhirnya ia menyerah pada kursi yang penuh dengan tambalan kayu.

Baca juga:  Bocah Yang Melawan Mitos

Jainal membuang pandangan kecutnya pada kamar tempat Mbok Sar dan Sutri berjuang mengeluarkan bayi. Hasil cintanya dengan perempuan yang ia lamar hanya berbekal burung. Ya hanya bermodalkan burung.

“Punya apa berani membawa anakku,” tanya Kamto, bapak Sutri dengan bola matanya melotot.

Rekaman percakapannya yang sudah lewat lima tahun lalu, menyeruak kembali. Percakapan panjang saat ia bertandang melamar Sutri.

“Saya tak ada orangtua Pak. Maaf bertele-tele, maksud saya, miskin sejak lahir.” jawab Jainal polos dan jujur, dengan wajah menunduk dan jari-jari gemetar.

“Bagaimana anakku nanti hidup, bila kau tak punya apa-apa. Hidup keluarga ini sudah susah. Nanti saat aku sakit, tak ada uang berobat, aku bisa mati karena tak ada uang untuk pergi ke dokter.”

Kalimat itu keluar dari mulut bapak Sutri dengan nada besar, dan matanya sudah tak sudi melihat muka Jainal. Wajah Jainal semakin menunduk lebih dalam. Tampak otot bapak Sutri sudah keluar semua, tanda ia sudah merasakan pahit getirnya hidup. Lapisan kulitnya hitam. Karena seumur hidup ia hanya mencangkul sawah.

Jainal memang tak punya apa-apa. Orangtunya meninggal saat ia masih duduk di sekolah menengah, karena disantet. Orangtuanya dulu sukses berjualan bubur. Ada saingan iri. Begitulah cerita yang tersebar di mulut warga desa.

Jainal berharap bapak Sutri memberi restu. Ia mengangkat wajahnya menatap orangtua yang rambutnya sudah berhias uban putih.

“Cinta Pak.” Ia mengucapkan kata dungu itu di depan orangtua. Mungkin ia berpikir bahwa kata cinta merupakan senjata ampuh yang dapat merobohkan hati bapaknya Sutri. Hanya sepotong cinta. Ya cinta.

Kata cinta membuat suasana sepi. Tapi, beberapa detik kemudian mulut Kamto bergerak lagi.

“Cinta apa? Cinta melarat maksudku, datang malah mengajak sengsara!” hardiknya sambil menunjuk wajah Jainal.

Baca juga:  Ragusa

“Tapi, Sutri juga mencintaiku Pak.”

“Sutri sini!” teriak Kamto memanggil anaknya.

“Sutri sudah di samping Pak,” ucap Sutri setelah ia sampai di samping kanan kursi bapaknya.

“Maaf Pak, sejak tadi Sutri sudah mendengar percakapan.”

“Kenapa ketemu orang melarat, memang tidak ada laki-laki lain di dunia ini?”

“Sudahi saja keinginan Bapak mendapatkan menantu kaya. Takdirnya begini.”

“Yang benar, kamu mencintai laki-laki ini apa tidak salah. Lelaki miskin ini, datang hanya membawa burung, cuma burung yang menempel sejak lahir,” ejek Kamto sambil melemparkan pandangan ke Sutri, lalu mengarahkan telunjuknya ke muka Jainal.

“Tak apa Pak. Sutri sudah lama melarat, apa bedanya hidup dengan Bapak atau Mas Jainal?”

Kamto mendengus dan mengarahkan pandangannya silih berganti, pertama ia melihat wajah anak perempuanya, kemudian ia memindahkan pandangannya pada wajah Jainal, lelaki yang hanya memawa burung pemberian Tuhan.

Lamunannya langsung lenyap ketika mendengar Sutri teriak kencang. Seperti suara pekikan orang terjepit. Bubar sudah kenangannya. Ia membelalakkan mata, lalu berdiri melangkhah membuka pintu kamar tempat Sutri melahirkan.

Malam mencapai puncaknya. Pekik tiga burung serak masuk ke dalam telinga Jainal. Ia gusar dan tangannya bergetar hebat saat melihat Sutri tak sadar. Dan benar yang diduga Jainal. Tiga burung itu, mengantar malaikat mengerjakan tugasnya. Sama nasibnya dengan Siti. Kini tinggal tangis bayi permepuan yang baru berumur semenit, Mbok Sar dan Jainal menangis sedu sedan.

***

IA dikenal dengan sebutan perempuan burung. Julukan itu disandangnya sejak ia mengucapkan sebuah kalimat yang membuatnya tersohor, “dasar burung!” Begitu katanya kepada semua lelaki yang selesai menikmati tubuhnya. Sebagian laki-laki bersikap tak acuh terhadap kalimat itu, namun ada beberapa yang tersinggung dan bertanya-tanya.

“Ada apa dengan burungku, apa punyaku kurang bertenaga?”

Baca juga:  Don Giovanni

“Besar, tapi kurang ajar,” sergahnya langsung membuat lelaki itu tersinggung.

“Apa kau sudah tak butuh uang untuk makan?”

“Maksudku, burung adalah malapteaka bagi keluargaku,” jawabnya meluruskan, dan ia lanjut bercerita, “Ibuku meninggal gara-gara burung yang hingga di atap rumahku dengan pekaikan serak.”

“Apa hubungannya kematian dengan burung?” tanya lelaki itu sambil sibuk memakai celananya. Ia ingin tahu pengaruh burung terhadap kehidupan dan kematian.

“Bapak bilang, Ibu mati karena burung gagak bertengger di atap dengan suara serak, suaranya membaut malaikat datang mencabut nayawa Ibu saat melahirkanku. Dan sepuluh tahun setelah hari kelahiranku, Bapak meninggal karena sakit dan kami tak ad auang untuk berobat. Dan sebelum Bapak meninggal, rumah kami didatangi tiga ekor burung gagak bersuara serak.” Ia menjawab panjang, intinya kisah sedih keluarga.

“Kau memang perempuan burung, hidup matimu ditentukan burung,” ujar lelaki itu sambil memasukkan lembaran uang pada branya.

“Sekarang aku hidup dari burung, termasuk burungmu. Tanpa burung orang-orang di sini, aku tak bisa makan. Aku kesal pada diriku sendiri. Tapi bagaimana lagi, bingung dan suntuk. Tak ada jalan lain. Kabarnya besok lokalisasi ini, akan digaruk.Ke mana lagi aku harus mencari makan? [] k

Yogya, 11 Maret 2016

Pantha rei: filsuf Heraklitos mengatakan, semua hal berubah kecuali perubahan itu sendiri. 

*Anwarul Sholihin: mahasiswa Prgram Studi Ekonomi Syari’ah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogya. Lahir di Lamongan, 5 Juni 1995.  
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anwarul Sholihin 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” Minggu ke-2, 24 April 2016