Bincang Lapar – Nak! – Kalender Usia

Karya . Dikliping tanggal 15 Mei 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Bincang Lapar

Selepas maghrib,
kekawan muda, gempita melempar dadu nasib
Mengakar malam, mencakar makna paling dalam
Tentang hiruk, tentang pikuk, tentunya yang paling hidup
Melalui ini, musik paling puisi
panggung berebda, karya-karya udara, dan sejumpit pelaku seni-sastra
masih punya bekal menggelar tikar di degup denyut kota, ternyata
Ini, malam dengkur bagi para traubadur
meniagakan moral kesepahaman dari keberagaman
Sementara segmentasi lini dapat diukur dari secangkir kopi,
kami masih melintasi imaji paling tinggi
dari tafsir lagi-lagi minor, katanya
Di pinggiran, dipinggirkan keramaian
berbincang tentang adab-biadab istiadat hewan-hutan
Ah, beginilah, dalam lapar
Semua saling makan!
Selalu saling buru!
Hingga rasa sakit habis
sisa sedikit tak begitu sadis

Baca juga:  Pertunjukan Menyapu Jalan

Nak!

Kepada Para Peneror

Ialah pepatah panah kamu, Nak!
Yang melesat hujan tiap badan musim
menunggu ayun temali busur
merobek mata-mata jala
menyumpal lidah-lidah mala
Tak secabikpun kau terseok riak sekitar
Namun jika pelan, bergegaslah, hari telah malam
dan bila ragu, bersiaplah binasa dibakar siang
Nak, jangan sesekali kamu mau dilayang angin
Ia yang harus kaulahirkan: dari kebisingan, dari keterasingan!
Tuamu ini telah banyak terkoyak
Di dinding-dinding goa, di doa-doa petapa
Carilah dari yang sudah
Carilah dari yang entah
Ingat tumpu, tuju, ingat waktu
Hingga masa bermuara
dalam pangku rindu Mahabunda

Baca juga:  Harapku - Nocturnal - Kidung Sore

Kalender Usia

Kepada yang Ingin Berjihad

Dalam hitungan masehi
Kau masih menghamba berhala masa muda
Timang-timang semboyan hawa moyang, hanya dongeng pengantar tidur yang suri,

“Memang usia adalah wasiat waktu dan waktu adalah warisan usia”


Sedang kita, hanya manusia yang meraja usia dan membabu waktu,
Begitu katanya, zikir para fakir pikir,
Tapi seorang ini bukan penyair,
dia hanya putera terluka tuba yang terlahir dari batu, tanah, api, angin dan air
Sebab, masih dalam hitungan Masehi:

Baca juga:  Batang - Alas Roban - Terompet - Cerita Di Taman - Menulis Di Pohon

kaumelidah, kutetap meludah!


Muhamad Firman Yusup, guru SMP Taruna Bakti Bandung

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Muhamad Firman Yusup
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi 15 Mei 2016