Hadiah yang Sangat Dirindukan

Karya . Dikliping tanggal 3 Mei 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
MUNGKIN tak ada kata yang lebih fantastis lagi untuk menggambarkan sosok teman satu klub latihanku itu. Belum puas menjuarai kejuaraan di turnamen nasional yang menurutku sudah sangat membanggakan, dia merambah ke level internasional lagi. Baginya, tiada kata lelah untuk menjadi yang terdepan.
“Kenapa masih di sini?” tanyaku melihatnya di bawah naungan gerimis kecil yang masih awet menjatuhkan tetesan kristal kecil dari langit.
“Aku masih nunggu seseorang, Ky….”
Aku celingukan sedari tadi. Mungkin saja ketemu orang yang masih setia ditunggu Yuning. Dia pun terlihat cemas sembari melihat jam tangan kecilya yang jarumnya semakin melangkah jauh. Penantian yang membosankan.
“Apa yang terjadi sama lutut kamu tadi?” tanyaku yang sempat kaget waktu melihat Yuning meringis kesakitan tadi sebelum tim medis datang ke arena lapangannya.
“Nyerinya kerasa lagi, Ky,” ucap Yuning dengan nada sedih.
Bagaimana tidak, dia memaksa main sampai set set selesai di atas ketidakmungkinan lagi lututnya bisa bergerak maksimal.
Ini bagaikan sebuah mimpi buruk yang kami rasakan kalau ada kesakitan yang mengganggu salah satu organ gerak kami, termasuk halnya lutut.
“Harusnya kamu udah berhenti aja, nggak usah dipaksakan. Bukannya coach Hendra nggak pernah memaksa kamu untuk terus bertahan kalau kamu sakit ya?”
“Aku hanya mau bertanding maksimal, dan nggak mau sampai mengecewakan kalau seseorang yang kutunggu datang.”
“Tapi buktinya, dia datang nggak?”
Yuning menggeleng lesu. Aku pun juga tak paham sebegitu spesialnyakah orang yang dinantikan Yuning, sehingga ia mengabaikan sakit yang tengah mendera lututnya? Kalau itu pacar, aku rasa bukan. Ibu? Setahuku Ibunya sudah meninggal. Lalu siapa?”

Baca juga:  Sujiwa Minggat

Yuning mengeluarkan buku tebalnya sambil mencoret-coret sesuatu. Tanpa ia bicarakan, pahamlah aku apa yang anak itu kerjakan dengan keasyikannya. Tentu sebuah buku TOEFL serta soal-soal seabrek yang menurutku amat membingungkan.

***

GADIS itu tak pernah mengeluh dengan kesendiriannya setelah ibunya meninggal. Tiada juga saudaranya yang kerap kali datang ke klub kami saat latihan sedang libur. Dia anak tunggal. Tidak pernah pula kulihat dia menangisi keadaannya yang membuatku ngilu dengan cederanya.

“Gimana perkembangan lutut kamu, Ning?”

“Cairan di ligamenku berkurang, dan itu buat gerakan di lututku terasa ngilu kalau buat latihan.”

“Terus, terapi?”

“Nggak akan bisa maksimal, Ky. Terapi hanya mengurangi sakit untuk sementara.”

“Orangtua kamu tahu soal ini? Maksud aku, Ayah kamu?”

“Dalam prinsip hidupku, aku nggak mau dan nggak akan berbagi kesedihan sama orang lain. Kalau aku sakit, aku harus tanggung sendiri. Aku baru akan mengabari Ayahku kalau aku dapat berita gembira.”

“Terus kalau Ayah kamu datang, apa hadiah yang kamu minta?”

“Aku mau Ayahku selalu ada di sampingku selamanya. Aku kangen Ayah yang dulu. Ayah yang selalu ada menyemangati aku sama seperti waktu Ibu masih hidup.”

Ayah Yuning mengalami perubahan besar saat ibunya tiada. Aku pun tak tahu karena hal apa. Mungkin ini sangat bersifat pribadi. Bahkan yang lebih mengejutkan, Yuning pun tak pernah tahu kenapa ayahnya seakan berubah total.

Baca juga:  Istri Sang Ilmuwan

Gadis itu tak menginginkan apa-apa, bukan hadiah mahal seperti mobil mewah, emas berlian, voucher jalan-jalan ke Eropa, atau yang lain, padahal setahuku, tak perlu pikir dua kali bagi ayahnya untuk menyanggupi semua hadiah yang Yuning inginkan.

“Kita senasib, Ning. Bukan hanya kamu saja yang rindu sama Ayah kamu.”

“Bukannya orangtua kamu masih lengkap, Ky?”

“Ya, itu dulu sebelum kecelakaan itu terjadi,” ucapku tak menyelesaikan cerita akhirnya.

***

UNTUK belajar saja pun dia tak pernah lelah. Lelahnya latihan yang menguras tenaga tak pernah ia hiraukan. Tangan kecilnya selalu saja bergerilya pada buku tebal dengan soal rumit yang selalu jadi penyemangatnya.

“Mungkin ini akan jadi pertandingan terakhirku, Ky,” ucapnya dengan nada sendu.

“Mau kemana, Ning? Kenapa bilangnya pertandingan terakhir?”

“Ke Singapura.”

Kalau dia bilang ke Singapura untuk operasi lututnya, aku percaya karena itu rekomendasi dari pelatih kami. Tapi kalau Yuning sampai bilang pertandingan terakhir? Itu yang menurutku kurang masuk akal.

“Maksudnya kamu mau pensiun dini?”

“Aku harus fokus pilih salah satu.”

“Tentang?”

“Nanti akan aku bicarakan kabar bahagia ini dengan Ayahku.”

Dia pergi dengan langkah girang. Gadis yang aneh. Melihatnya dengan ekspresi berseri seharusnya turut mendukung aku untuk merasa bahagia, tapi yang ada di kepalaku malah segereombol pertanyaan yang siap menyerang seakan bisa meledak seperti bom molotov.

***

BELUM datang juga orang yang Yuning tunggu. Gadis itu memberikan ucapan selamat padaku seraya mengulurkan tangan. Ini pertama kali aku merasakan podium tertinggi meski hanya sebatas level sirna.

Baca juga:  Bapak

“Kenapa Ayahku belum datang juga?”

“Memang kamu tak coba menghubunginya?”

“Sudah, tapi hapenya tidak pernah aktif sama sekali,” dengusnya bernada kesal. Waktu hape Yuning menyala, tak sengaja kulihat foto seorang lelaki gagah dengan jas hitamnya. Foto itu seakan menjadi yang spesial karena dipasang jadi wallpaper.

“Aku mau memberi kabar Ayah kalau aku lulus beasiswa kedokteran di Singapura, Ky. Jadi, setelah aku operasi lutut nanti, aku bisa kuliah dengan tenang.” Yuning membeberkan rahasianya padaku sebagai orang pertama yang ia ceritakan.

Deg. Jantungku menyeruak keras. Melihat foto lelaki itu mengingatkan aku akan sebuah foto menyakitkan bagiku. Mungkin kalau aku ceritakan  secara langsung pada Yuning, dia juga tak kalah shock.

Kenapa ibu tega secepat itu menemukan  pengganti ayah, saat ayah sedang  membutuhkan banyak doa dan dukungan agar ia cepat sadar dari komanya?

Yuning, aku memang teman baikmu, tapi aku tak tahu apa reaksimu begitu tahu kalau aku sudah merangkap menjadi saudara tirimu juga.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Dyah Eka Kurniawati
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 1 Mei 2016