Kepada Seorang Penari – Sepotong Sejarah Hitam – Syah Jehan

Karya . Dikliping tanggal 8 Mei 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Arsip Puisi, Media Indonesia

Kepada Seorang Penari 

1
Hujan menepi
mungkin ke dalam tubuhmu
dan airnya menggenang
di ingatanku

Sepasang tangan
menjelma rumput diterpa angin
dan sepuluh gelang perak
tak henti berdenting

Lampu-lampu panggung
menyalakan kesenyapannya
dingin menyergap lanskap kota

2
Angin selatan menyibak tirai poni
alismu yang lengkung,
sabit di muara Februari.

Hujan menepi
mungkin ke dalam tubuhmu
dan airnya menggenang
di ingatanku

Dalam hening cahaya lampu
aku ingin menafsirkan gerakmu:
mata yang berayun-ayun,
jari-jari gemetar,
tubuh layuh seperti daun,
kaki yang menjerit terkapar.

Namun untuk siapa kau menari?
di sisa lonceng malam
saat hujan telah lama menepi.

2016 

Sepotong Sejarah Hitam 

Sebelum sebuah bilik
bercahaya di hari ke 55
Sebelum kita dengar
Burung-burung menyanyikan puisi
di bebatang akasia.

Baca juga:  Wasiat Kematian Ben Anderson kepada Seorang Pengamen Jalanan di Jogja

Sepotong sejarah hitam
tergeletak di antara keringat malam
kita saksikan kota-kota
lesuh tanpa cahaya

tanpa derau tawa
boneka-boneka kuda betina.

Sepanjang bukit-bukit tua
dan dinding hitam berkarat
Patung-patung batu
serta patung roti tanpa keju
menjelma sesembahan-
kekosongan yang diwariskan

Seorang raja yang kalah
pada dirinya sendiri
meninggalkan ratusan gajah
dalam luka api.

Hari-hari memucat
minggu kian gelap.

2016 

Syah Jehan 

Kematian yang tak seharusnya
Hanyalah pertemuan
yang berjeda

Baca juga:  Kampung Oloran 1 - Kampung Oloran 2 - Kampung Oloran 3 - Kampung Oloran 4

Kau jelmakan
Arjumand Banu
melalui monumen seputih salju
semegah imajinasi cinta
yang tak pernah beku

Kau alirkan cinta
ke jantung sungai Jumna
di sebuah kerinduan
yang tak henti mendera.

Meski dari bilik penjara
pengap bau batu bata.
sebuah lubang kecil
seakan telah menyisakan harapan
di sisa-sisa tahun yang gigil
dan kau tak henti menatap
monumen seputih salju itu
seputih kafan
yang akan mendekapmu.

Angin meredakan sebuah luka
Cinta yang dingin
menyusuri lekuk Sungai Jumna.

2014-2016




Abdillah Mubarak Nurin lahir di Banjarmasin, 7 April 1990. Antologi puisi bersama, di antarnya Selayang Pesan Penghambaan, Antologi 129 Puisi Islami (Pustaka Nusantara, 2012), Tadarus Rembulan (2013), Nun, Sebuah Antologi Puisi (Yayasan Haripuisi Indonesia, 2015).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Abdillah Mubarak Nurin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 8 Mei 2016