Permintaan Terakhir

Karya . Dikliping tanggal 31 Mei 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika
MALAM seperti warna kopi. Daun-daun trembesi di pinggir jalan raya tampak lelah seperti sudah kehabisan tenaga. Ini hari memang sudah lewat pukul satu malam. Namun, masih banyak manusia yang hidup seperti kelelawar.
Aku pun belum memutuskan pulang ke rumah. Sebab, malam-malam begini biasanya masa-masa panen bagi para tukang Gojek. Apalagi aku sedang membutuhkan begitu banyak uang untuk membiayai pendidikan anak-anakku.

Lagi pula, membiayai anak-anak yang sedang menuntut ilmu itu jihad. Mati di jalan Allah itu dijaminnya surga. Muslim mana yang tidak merindukan kematian yang indah seperti itu? Aku pun ingin sekali mati dalam keadaan begitu.

Anakku yang pertama laki-laki dan sedang proses skripsi di Jurusan Kedokteran Unpad. Katanya, kalau sudah lulus akan mengabdi pada masyarakat pedalaman.

Sedangkan yang kedua perempuan kuliah di Unpad juga dna baru semester satu. Ia memilih kuliah di Jurusna Hubungan Internasional. Cita-citanya ingin jadi diplomat. Anak-anakku semua memiliki cita-cita yang tinggi, meski Bapaknya hanya soerang tikang Gojek. 

Aku juga bersyukur dikaruniai anak-anak soleh dan solehah, pintar, cerdas-cerdas, semangat belajar dan menuntut ilmu serta ibadahnya kuat-kuat. Aku tak ingin pendidikan mereka gagal. Masa depan mereka harus lebih baik dariku, orang tuanya. Karena itu, aku mendidik mereka sangat keras sejak ekcil agar menjadi pribadi-pribadi yang bekarakter.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Aku menepikan sepeda motor ke pinggir jalan, tepat di bawah tiang listrik yang lampunya menyala. Terang sekali. Kurogoh telepon genggam itu dari celana, rupanya ada pesan di WhatsApp (WA). “Apa kabar, Wan?” Aku diam sejenak. Nomor pengirimnya tidka kukenal. Asing.

Kubiarkan Wa itu terkapar seperti mayat. Aku tidak tertarik dan tidak memiliki semangat untuk menjaabnya. Aku khawatir itu dari orang-orang yang tidak santun, liar, dan gila. Apalagi, di jaman seperti saat ini banyak sekali setan berwajah manusia  yang mudah berbuat jahat. Tetapi tidka lama kemudian muncul WA berikutnya. “Aku ratih.”

Membaca WA yang kedua, jantungku berdebar. Keras sekali. Ratih pernah mengisi ruang-ruang hatiku ketika di kelas 3 SMP hingga SMA dulu. Tubuh Ratih tinggi. Atletis. Putih. Ramah pada siapa pun. Tetapi yang kutahu dulu, dan ini yang aku agak kurang senang darinya, pribadinya terlalu serius dan ambisius.

“Baik, apa kabar, Rat?” Aku menjawab pesannya agak gemetar.

“Baik juga.”

“Dari siapa tahu nomorku?”

“Memang aku tidak boleh tahu nomormu?”

Aku tak menjawab. Memilih bisu. Jawaban Ratih terasa konfrontatif. Aku tak mau terpancing. Sifatku lebih suka menghindari konflik. Namun dia mengirim WA kembali bertubi-tubi seperti peluru yang menembus dadaku terus menerus.

“Wan, aku sering dimaki-maki suamiku. Aku sering dikatakan sampah, perempuan setan. Rambutku dijambak. Aku tak tahan hidup dengan suami keras kepala, kasarnya melebihi preman jalanan, mudah melakukan kekerasan, dan pemabuk berat. Ah…. salahku sendiri menikah tak direstui orangtua karena beda agama. Wan, Aku lebih baik mati.”

Ulu hatiku seperti ditonjok-tonjok.

***

Usai shalat SUbuh di masjid, kudengar istriku tengah membaca Alquran di ruang tamu. Ia membaca Surah al-Waqiah. Luar biasa merdunya. Itulah yang membuat aku jatuh cinta padanya. Istriku memang pernah mondok di pesantren dan setiap pagi selalu membaca Alquran.

Baca juga:  Kepergian Rima

Aku tak berani mengetik pintu. Tetapi beberapa menit berlalu, ia membukakan pintu. Kutatap wajahnya seperti cahaya bulan. Indah sekali. Ia tersenyum, mencium tanganku, lalu mencium pipiku juga. Aku membalas dengan mencium keningnya beberapa detik sambil membaca surat Alfatihah dalam hati.

“Sudah kusediakan kesukaan Bapak,” katanya sambil menunjuk meja kecil di ruang tamu. Ada dua gelas teh hangat dan beberapa potong singkong rebus serta irisan gula merah terpisah di piring kecil warna putih.

Aku duduk di kursi panjang diikuti Istriku yang langsung menyandarkan kepalanya pada pundakku. Sikapnya memang tidak pernah berubah. Sejak dulu cintanya kepadaku sangat dalam, hangat, dan ikhlas. Juga selama bertahun-tahun hidup berdua, tak pernah aku melihat wajah istriku bersedih, cemberut, masam, dan marah-marah. Sungguh ia perempuan salehah.

“Ayo dimakan, Pak. Nanti keburu dingin….”

Aku ambil satu potong dan kubagi dua. Potongan satunya kuberikan pada istriku. Kami makan berdua. Itulah cara kami menikmati pagi. Amat sederhana. Kami hidup berdua. Anak-anak kami tinggal di rumah Uwanya di Bandung.

Aku berharap anak-anakku akan berhasil, seperti Uwanya yang sudah meraih gelar doktor dari Universitas Indonesia. Tanda-tanda itu sudah tampak. Dua anakku mendapat beasiswa bebas uang kuliah. Aku hanya tinggal mengirim uang untuk kebutuhn ongkosnya dan membeli buku-buku yang diperlukan.

“Bagaimana Ratih, Pak?” kata Istriku memecahkan suasana.

Aku emnahan nafas sambil menatap wajah Istriku. Istriku tetap tenang, Tersenyum. Ia memang sudah tahu tentang Ratih, karena beberapa hari lalu aku ceritakan kepadanya. Istriku juga satu kampung dengan Ratih. Bahkan mereka pernah satu kelas di SMP dulu. Tentu mereka sudah saling kenal, bahkan akrab dan menjadi sahabat.

“Aku kasihan sama Ratih, Bu. Walau bagaimana pun, ia temanku dan teman ibu juga. Kalau sampai bunuh diri. Nauzubillah, itu dilarang Allah….. Dosa besar…”

Istriku mengangguk. Wajahnya mendadak sayu. “Cobalah Bapak temui, siapa tahu dia membutuhkan pertolongan Bapak. Tolonglah ratis semata-mata karena Allah, Pak.”

Aku diam. Istriku diam. Tak ada kata-kata. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Teh tawar di atas meja nyaris habis, singkong rebus tinggal dua potong lagi. Cahaya matahari sudah menyelusup melalui jeruji jendela.

Aku siap-siap berangkat nge-Gojek. Istriku mencium tanganku, dan berpesan, “Jangan pulang terlalu larut. Nanti tak bisa qiyamullail. Jangan terlalu capek mengejar-ngejar dunia, Pak. Nanti malah jadi sakit. Berserah diri sama Allah, nanti juga rezeki buat anak-anak akan datang pada saatnya.”

Aku mengangguk. Kalimat istriku kurasakan seperti air terjun di pegunungan yang mengalir dari jauh dan terus mengalir hingga ke sungai-sungai jiwaku.

***

Malam. Di sebuah kafe, di sebuah apartemen di jantung Kota Jakarta. Aku duduk berhadap-hadapan dengan Ratih, dipisahkan meja bundar setinggi dada. Di atas kepala kami ada beberapa lampu sorot yang lembut dan remang. Aku terkejut karena di meja ada dua gelas kosong yang cukup besar dan satu botol minuman keras.

Baca juga:  Pohon Berbisik

Aku memandang Ratih dengan perasaan aneh. Kulihat sekilas lehernya yang jenjang memakai kalung salib. Rambutnya yang panjang melebihi bahu dibiarkan tergerai. Badan ratih agak kurus, wajahnya pun pucat dan lelah. Matanya sering kosong. Aku menangkap ada lukisan benang kusut di wajahnya yang sangat rumit.

Ratih menuangkan minuman ke dalam gelas kosong hingga luber. Hanya dengan sekali tegukan, satu gelas minuman itu masuk ke kerongkongannya, ke perutnya.

Ratih menyeka titik-titik busa di bibirnya  dengan tisu. Matanya seketika menjadi merah dan berkeringat. Melihat Ratih seperti itu, Aku seperti berada di ruang-ruang mimpi, di dunia yang aneh, yang tak kukenal sebelumnya.

“Bukankah yang kau minum itu haram? Rupanya sudah banyak yang berubah dalam dirimu, Rat.”

“Ya, semuanya juga sudah berubah. Tidak hanya sikap dan cara berpikirku. Tapi juga agamaku, Wan?”

“Maksudmu?” Aku bertanya. Nadanya agak lantang dan penasaran.

Ratih menundukkan wajahnya. Lama sekali. Wajahnya tertutup rambutnya yang panjang. Air matanya tak bisa dibendung. Mengalir dan terus mengalir ke pipinya. Kudengar isak tangisnya begitu pedih.

“Setelah menikah dan punya anak satu, aku dipaksa pindah agama sama suamiku, Wan,” jawab Ratih sambil mengangkat wajahnya.

Astaghfirullah…” kataku kaget. Mataku menatap wajah Ratih. Belum pernah dalam hidupku menatap perempuan sedemikian tajam dan berkecamuk.

Ratih meneruskan kalimatnya dengan terbata-bata. “Aku sekarang Kristen. Tetapi pengorbananku tidak pernah dihargai oleh suamiku. Aneh, dia malah benci sekali padaku. Sudah dua bulan aku bercerai dari suamiku. Dua anakku perempuan, kutitipkan ke neneknya di kampung. Aku lebih baik mati, Wan.”

Kepalaku terasa mau pecah. Tubuhku seperti ditusuk ribuan jarum.

Ratoih tidak sanggup meneruskan kalimatnya. Wajahnya masih merunduk. Tangisnya masih terdengar pedih. Yang membuatku semakin pedih, Allah  pasti murka padanya. “Tuhan, jangan sampai Ratih dibakar api neraka kelak,” kataku membatin.

Malam sudah larut. Ratih menyeka pipinya dengan tisu. Pelan-pelan Ratih menatapku. Lobi apartemen sudah mulai sepi. Aku berdiri. Pamit.

“Kau harus kembali memeluk islam, lalu cepat-cepat bertoba. Semoga berkah dan kelak kau selamat, Rat.” Aku mencoba menasihati.

Ratih mengangguk pelan sekali sambil menatapku dengan sendu. Tatapan Ratih masih seeprti dulu ketika masa SMP dan SMA. Tulus sekali. Diam-diam Ratih mengeluarkan satu gepok uang dari tasnya.

“Wan, bawalah uang ini. Ini akan sangat berguna untuk anak-anakmu yang sedang kuliah. Jangan tersinggung, Wan. Perusahaanku di Jakarta sudah maju dan memiliki beberapa cabang di daerah. Bawalah uang ini, Wan. Aku ingin berbuat baik, jangan kau halangi…”

Aku menolak dengan halus sambil kembali menatap wajah Ratih. Mata kami kembali bertabrakan. Aku kembali ingat ketika masa-masa SMP dan SMA dulu. Kami saling menyayangi dan mencintai.

“Meski aku butuh uang untuk anak-anakku dan keluargaku, aku tidak mau menerima uang dengan cara-cara yang mudah. Aku tak mau memanfaatkan situasi. Kau lupa, itu bukan watakku, Rat. Yang kupikirkan sekarang, bagaimana nasibmu kelak di akherat. Aku ingin engkau kembali menjadi Muslim. Kau harus tahu, betapa hatiku  menangis dan jiwaku terasa remuk ketika mendengar kau pindah agama.”

Baca juga:  Melepas Murai ke Sangkar Teman

Ratih diam. Tarikan nafasnya sangat berat. Tatapan matanya jauh. Jauh. Air matanya kembali mengalir lagi membentuk sungai kecil di pipinya. Lebih deras dari sebelumnya. Aku pun diam dan tidka tahan juga membendung kesedihan sendiri. Air mataku meleleh. Namun segera kuhapus dengan ujung-ujung jariku.

“Wan, sudah lama aku tidak shalat. Tidak membaca Alquran. Aku rindu semua itu. Aku ingin sekali kembali memeluk Islam, lalu ingin bertobat di Tanah Suci,” katanya dengan nada mengiba.

Jiwaku lega sekali. Aku bersyukur dalam hati.

“Tetapi… aku ingin kau jadi imamku, Wan. Aku tahu sejak dulu kau orang yang taat dalam agama. Kau anak surau. Juara mengaji. Aku tahu seperti apa juga istrimu. Tak apa aku menjadi istrimu yang kedua. Aku ingin kembali memeluk Islam, Wan. Aku ingin dibimbing olehmu agar bisa bertemu dengan Allah kelak. Tolonglah aku, Wan. Ini permintaanku yang terakhir. Selamatkan aku dari kemusyrikan, Wan…”

Betapa gembiranya aku mendengar Ratih ingin kembali memeluk Islam, dan bahkan ingin bertobat di Tanah Suci. Entah berapa kali kusebut Allah dalam hati. Ada ribuan bintang mengitari kami berdua. Namun, mendengar permintaan Ratih, wajahku terasa seperti disambar petir. Pikiran bingung, perasaanku tak tentu rasa. Tak tahu apa yang harus aku lakukan.

***

Seperti biasa. Libur. Di ruang tamu. Aku dan istriku duduk di kursi panjang. Kami menyaksikan siaran berita pagi dari televisi swasta. Kepala istriku bersandar di pundakku. Tangan kanannya memegang jemari tangan kiriku. Erat dan erat sekali.

Pelan-pelan istriku mencium pipiku. Tiba-tiba Aku ingat Ratih karena sudah satu pekan aku tidak bertemu. Aku sengaja menghindar meski ia sudah beberapa kali menghubungiku dan minta bertemu. Aku tak ingin istriku sakit. Janngan sampai hati istriku yang bening pecah  menjadi serpihan-serpihan kaca. Itu kujaga. Aku sangat menghormati arti pernikahan dan keluarga.

“Tiga hari lalu Ratih datang ke rumah, Pak. Waktu itu Bapak sedang kerja. Ratih sudah menceritakan semuanya pada ibu. Pak, nikahi saja Ratih. Ibu ikhlas sekali. Selamatkan Ratih, ajak kembali dan bimbing Ia masuk Islam, Pak,” kata istriku.

Aku menatap wajah istriku. Ia mengangguk dan tetap tenang.

Betapa mulianya jiwa Istriku, kataku dalam hati. Lalu, kulihat semua televisi sedang menyiarkan seorang perempuan pengusaha bunuh diri dari lantai 20 di salah satu apartemen. Ratih namanya.

Aku dan Istriku saling tatap. Diam. Beku. Ada gelombang air mata menderu-deru dari  mata kami masing-masing.

Cipondoh, Tangerang, Maret 2016

Budi Sabarudin lahir di Desa Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Beberapa karyanya pernah dimuat di media nasional dan lokal. Aktif di Komunitas Penulis Nyi Mas Melati.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budi Sabarudin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” Minggu 29 Mei 2016