Aligator Dari Bisantium

Karya . Dikliping tanggal 5 Juni 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Matra
SUZY PARKER SEORANG YANG KURUS HINGGA TAMPAK SEMAMPAI. DIA seorang model, atau bintang film—sama saja bagi Hollywood tahun 60-an. Majalah berita mingguan TIME pernah menulis tentang dirinya sebagai seorang yang berhasil membuat tulang lebih merangsang daripada daging. Memang elok nian penampilannya. 
Waktu Ganda berjalan-jalan di Malioboro, dia berpapasan dengan seorang turis asing yang sekilas mirip benar dengan Suzy. Atau begitulah menurut penilaian Ganda. Kurus dan semampai. Pendek rambutnya, merah coklat warnanya seperti rambut jagung. Gaunnya dari katun tipis, cocok untuk iklim tropis yang panas lembab; warna kegelapan barangkali agar tak mudah tampak kotor; agak longgar hingga berkibar bagian yang menyentuh betisnya. Dadanya datar saja, namun tampak membayang juga bagian-bagiannya yang bergoyang tanpa penyangga buah dada. Bajunya pun sewarna, tanpa lengan tentu untuk mengurangi gerah—hingga tampak sudut-sudut ketiaknya, sementara pangkal lengannya menonjolkan bahunya, sepasang bonggol yang simetris sempurna. Jalannya melenggang, seperti ada engsel di pinggangnya. 
Ya, itulah Suzy. Keajaiban telah terjadi, sesudah lebih dari dua puluh tahun. Suatu kehadiran kembali di Yogya, di hadapan Ganda, titisan dewi, Suzy Reincarnate!, desisnya. Dari belakang, semakin terasa gerak alun pinggulnya. Ketika matanya hinggap ke tumitnya yang membulat-telur oleh tekanan berat tubuhnya dan memperhatikan secara khusus pertemuannya dengan buah betisnya lewat urat achilles, yakinlah dia, TIME benar adanya: betapa tulang dapat lebih menggairahkan daripada daging. Achilles-nya itu mengaburkan batas antara tulang dan daging, daerah perbatasan yang menegangkan dan memperlihatkan kekuatan tertentu. Sesungguhnya ukuran vital kaum perempuan bukan hanya dada-pinggang-pinggul saja, seperti yang selama ini dilakukan orang. Mereka telah melupakan titik kritis itu selama lebih dari dua ribu tahun. Tokoh Archilles dalam mitologi Yunani bukan kebetulan, begitu pikir Ganda sambil mengepalkan tinjunya. Lihatlah! Tak ada yang tersisa, tak ada yang berlebih, kawasan yang bebas dari kumpulan lemak; detail itu memperlihatkan efisiensi struktur dan faal makhluk manusia yang istimewa.
Luar biasa!
Bergegas, dengan rasa takjub, Ganda mengikuti terus sesudah berbalik arah. Mendekat. Kian mendekat. Kemudian memperlambat langkahnya hingga sejarak yang dianggapnya aman tanpa mengganggu privacy sasaran. Dia sendirian, begitu Ganda menyimpulkan. Tas kulit kecil menggantung di lehernya dan berkelepak menepuk perutnya yang landai selagi dia melenggang. Sebentar berjongkok, memperhatikan mahasiswa yang tengah mewarnai dompet kulit dengan spidol. Barangkali membandingkan dengan dompetnya sendiri. Mahasiswa itu mengangguk saja sambil tersenyum, menghentikan pekerjaannya lalu menyodorkan dagangannya. Tapi, sambil tersenyum dan mengibaskan jari tangannya yang lentik, Suzy tegak berdiri kembali dan berlalu. Berhenti di depan kaca toko batik. Menelengkan kepalanya sedikit, menyiasati gaun batik yang gelap dan pelik ragamnya. Tampak tegang mempertimbangkan sesuatu. Namun, beranjak pergi tiba-tiba, seperti sudah diambilnya keputusan. Meneruskan perjalanan ke Selatan. Pasti bukan turis kaya, dia, tapi bukan pula turis hippies. Tampak terpelajar dan kritis. Tak sedikit pun ia menampakkan kecanggungan. Tentu ia sudah terbiasa bepergian. 
Ketika Suzy masuk restoran dan mengambil posisi di sudut, membelakangi dinding yang menghadap jalan, Ganda tidak berusaha mengikutinya. Pasti telah dibacanya buku Ian Fleming atau sebangsanya, pikir Ganda, itulah posisi duduk terbaik untuk menguasai medan! Ganda berhenti sebentar di sudut ambang toko. Menunduk sambil memegang-megang kaus bergambar berpura-pura memilih berbagai kaus oblong yang bergambar warna-warni, tampak Ganda berpikir keras. Pantaskan berkenalan sekarang? Secepat itukah? Berapa lama ia akan tinggal di Yogya? Ah?! Sudahlah! Cukuplah untuk saat ini. Dengan izin Tuhan, akan dibuatnya perhitungan pada saatnya nanti.
Perjumpaan—keajaiban—itu telah membuatnya tersenyum-senyum sepanjang perjalanan pulang kembali ke hotelnya. Demikian banyak turis berkeliaran, tapi hanya seorang mewakili Suzy. 
Dengan semangat Ganda menceritakan pengalamannya itu kepada saya. Sulit bagi saya menggambarkan keelokan Suzy, betapapun rincinya uraian Ganda. Perempuan kurus hanya ada di lingkungan peraga busana, begitulah bayangan saya. Mereka itulah yang sibuk memperhitungkan jumlah kalori yang dilahapnya dan yang bersenam untuk memusnahkannya kembali, setiap pagi, setiap hari. Tak ada perempuan macam begitu di lingkungan rumah tangga. Soalnya, pekerjaan rumah tangga itu sendiri sudah lebih berat daripada senam. Kalau begitu, tentulah Suzy itu seorang peraga busana?, saya menimbang. Melihat caranya melenggang, ya, boleh jadi, sambut Ganda sambil melihat langit-langit berusaha mengingat, sambil saling mempertemukan ujung-ujung jari tangannya. 
Saya katakan juga bahwa seorang perempuan sepatutnya berbadan kokoh, tambun, dadanya pun sewajarnya berisi. Fungsinya jauh lebih penting daripada sekedar bentuknya. Kaum lelaki jugalah yang rupanya telah mengubahnya. Perempuan itu adakalanya aneh-aneh, sudi menuruti keanehan lelaki. Perempuan sesungguhnyalah berdekatan dengan dunia nyata. Mereka yang akan mengandung dan kemudian melahirkan anak. Itu ‘kan konkret!, kata saya, kehabisan kata-kata. 
Tapi, menurut Ganda, Suzy juga mewakili dunia batin. Malah itulah yang penting, katanya menegaskan. Merasa ada kesangsian di wajah saya, dia berbicara sambil membungkuk menghadap ke arah saya, Dengar!, katanya, Cinta pertama Dante jatuh kepada seorang gadis kecil berusia dua belas tahun. Itulah cinta sejati, murni; Dante tidak pernah menikahinya. Dante menghirup dimensi batin seorang perempuan. Sedang apa yang ‘kau katkan adalah ungkapan klise kaum feminis dan marxis. Dia yakin bahwa kehadirannya, munculnya Suzy itu, telah memperkaya khasanah keindahan alam raya. Yogya khususnya, juga di antara kita malam ini! Dia begitu artistik di dalam kesederhanaannya. Kehadirannya itu tidak boleh disia-siakan. Fenomena itu perlu dihargai, dan—katanya sambil menegangkan telunjuknya ke langit-langit—penglihatan sayalah yang telah membuatnya tidak mubazir ….
Istri saya tersenyum mendengar gambaran dan komentar Ganda, sambil menyusun piring bekas makan malam kami. Kopi?, tanyanya untuk sekedar menukas. Tentu saja. Pertanyaan yang tidak perlu, Ganda termasuk perokok berat. Dipijit-pijitnya sebatang, hingga terdesak ke luar sejumput remah-remah tembakau dari dua ujungnya (dia anti kretek-filter; rokok banci, katanya), membuka jalan bagi asap nikmatnya pada setiap sedotan sebentar-nanti. Geretannya dari kayu berfosfor, tunggu sebentar sampai habis kepala apinya, hingga hanya lidah api kayunyalah yang menjilat tembakaunya. Korek api gas memang praktis, itu diakui Ganda, namun gas itu akan menghilangkan harum tembakau pada hisapan pertamanya. Baginya, api gas itu tidak alami, api gas itu dingin, katanya. 
Sedikit menengadah, asap rokoknya pun segera bergulung sejenak di seputar wajahnya, sebelum dihirupnya kembali lewat kedua lubang hidungnya, sambil mendesah. Cengkehnya terasa menjalari seluruh permukaan pembuluh pernafasannya dan sesaat kemudian juga permukaan lidahnya, sangat menyegarkan. Dan tiga langkah hisapannya berlalu sebelum dia tersenyum kembali, dan mulai menyinggung hubungannya dengan Tuti. 
Tuti tidak mau tahu tentang pandangan artistiknya, itulah soalnya. Menyusun rambutnya pun tak pernah cocok dengan bentuk kepalanya. Menurut Ganda, Tuti seperti tidak menyadari bahwa kepalanya kecil dan agak benjol. Seharusnya pintalan rambutnya diangkat barang sedikit, menjungkit hingga tampak tengkuknya, ya, seperti Geisha. Pinggangnya pun terlalu tebal. Memang tidak gemuk, tapi tidak juga bisa disebut langsing. Jauh dari semampai, meskipun lehernya cukup jenjang. Semasa SMA dulu, Tuti sering diminta menjadi pembawa acara perayaan kenaikan kelas atau di Kabupaten, kalau ada tamu atau keramaian; selain oleh suaranya juga oleh pembawaannya yang ramah dan lancar berbicara. Tetapi, rupanya makannya terlalu kuat. Apalagi dia pun penggemar tape, bubur candil, dan gudeg. Semua itu makanan primitif, kata Ganda. Penuh karbohidrat yang dilahapnya tanpa pertimbangan apa pun selain sebagai pemuas selera dan pengisi perutnya ….
Barangkali dia masih akan tumbuh, begitu komentar saya. Perbedaan usianya dengan Ganda, hampir dua belas tahun, memang cukup jauh. Pada mulanya, saya kurang mengerti, bagaimana mereka bisa berdekatan cukup lama di tingkah perbedaan wawasan dan usia yang sedemikian bertolak belakang dan jauh itu. 
Istri saya menyela dengan menyatakan bahwa tidaklah pantas membandingkan perempuan Indonesia dengan Suzy. Perempuan India juga saja yang kurus, meskipun wajahnya menampakkan profil yang tajam. Mereka, meskipun serba tebal tubuhnya, lincah menari dan ringan dalam gerak. Bukan hanya kain sari-nya itu yang memberinya kebebasan gerak, melainkan semangatnyalah yang terutama. Sayup-sayup, saya mendengar suara Sri, keponakan istri saya, yang—sebagai penari—terbiasa menghargai gerak daripada suara. Cobalah, bujuk istri saya lebih lanjut, pandanglah kaum perempuan dari sisi tugas-tugasnya sehari-hari ….
Ganda termenung, wajahnya diselimuti kabut asap rokoknya. Ah!, sama saja pendapat orang-orang yang telah berumah tangga itu, pikirnya, perkawinan itu membuat orang menjadi stereotip, rupanya memang begitulah keadaannya selalu. Perkawinan itu seolah selalu memusnahkan perbedaan, mematahkan cita-cita, lihatlah nasib Kartini. Bagi mereka perkawinan itu, ya perkawinan, titik! Tidak lebih daripada sebagai tugas badani. Ganda melihatnya sebagai sebuah lembaga raksasa yang beku. Lembaga yang menyamaratakan semua kaum perempuan. Perkawinan itu menghilangkan dimensi-dimensi keperempuanan lainnya. Tidak ada dalam benak mereka itu perkawinan yang indah, misalnya, mengapa sesudah kawin dimensi akademik itu hilang?, serangnya berulang-ulang dengan sengit. Pasti ada yang salah dengan lembaga dengan sejarah!
Belum juga berubah dia dari sepuluh tahun yang lalu. Penuh perhitungan dalam segala hal. Analitis. Sering kali sangat rumit. Barangkali oleh pembawaan semacam itu pulalah maka sulit baginya untuk menerima pandangan orang lain. Dan betapa seringnya dia bersungut-sungut! Sepuluh tahun tanpa perubahan, semenjak kami berjumpa dalam hubungan kerja. Dia sebagai kontraktor dan saya bertugas abdi negara DIY. Posisi perizinan bangunan, bagi saya, sungguh menguntungkan, terutama dalam menjalin hubungan persahabatan dengan para kontraktor seperti Ganda; saya selalu merasa di atas angin! Pengusaha yang serius ini—tapi tidak selalu sukses, seperti yang sering kali diakuinya—sebenarnya seorang perenung. Perusahaannya pun selalu dipandangnya semata-mata sebagai suatu kasus, satu contoh dalam kemelut peradaban manusia. Itu sekadar praxis, sekadar salah satu kejadian di antara sekian banyak kemungkinan, katanya berulang-ulang. Karena itu, semestinya orang harus mampu bekerja di mana saja. Ada arus besar di atasnya yang lebih menentukan, katanya. Alisnya yang tebal sangat dekat dengan kelopak matanya, meneduhkan sorotannya yang sering menyimpan rahasia, kalau bukan kebimbangan. Saya menyimpulkan bahwa dia bukan seorang pengusaha. Dia tidak bisa melepaskan diri dari keterlibatan kerjanya. Dia makhluk ideolog yang sentimentil, suatu kelemahan besar bagi pengusaha. Dia seperti termakan oleh logikanya sendiri, terjebak oleh hasil analisisnya sendiri sementara praxis yang berlangsung di luarnya, baginya, merupakan kumpulan kebetulan yang primitif, suatu duplikat alam-pikiran. Rupanya, dia seorang platonis tulen!
Tampak setengah terpaksa, dia melanjutkan usaha adiknya yang meninggal mendadak; maksudnya, meninggal sesudah menderita sakit hanya kurang dari dua minggu saja. Padahal sebelumnya selalu dalam keadaan sehat wal afiat. Tuti, ternyata kemudian, adalah adik iparnya, istri adiknya itu. Praktis masih perawan sebab belum cukup tiga bulan mereka menikah ketika musibah itu menimpa pengantin baru itu. Sekarang sudah hampir empat tahun menjanda tanpa anak. Ayah dan ibu Ganda segera mengatur untuk mempertemukan mereka berdua. Itulah pikiran praktis para orang tua, gumam Ganda dengan nada rendah. Ayah-ibu Tuti menyerahkan segalanya pada ayah-ibu Ganda. Itulah ciri masyarakat petani, hidup rutin tanpa cita-cita, Ganda bersungut-sungut terus. Mereka (ayah-ibu Tuti) kembali ke desa sesudah gagal berusaha menjadi pedagang beras, tidak pula terlalu merugi, sebenarnya. Rupa-rupanya karena usia pulalah mereka menyukai alam pedesaan. Alam yang menyimpan gerak-lambat, yang bebas dari perilaku peradaban manusia-baru, yang terasa lebih bersahabat bagi mereka. Namun, bagi Ganda, itu pelarian. Orang praktis selalu tidak punya keberanian mental. Batinnya lumpuh. Dan tumpul!
Tuti nyaris mubazir dilahirkan ke dunia ini, katanya kesal. Tali persaudaraan perlu dipelihara, Ganda menirukan kata-kata ayahnya. Semuanya perlu dijahit kembali. Termasuk Tuti, betapapun kecil sumbangannya kepada peradaban manusia? sergah Ganda dengan angkuhnya. Bukan begitu, tetapi itulah ciri masyarakat manusia, bukan peradaban umat manusia di dunia, sambung ayahnya dengan penuh kesabaran. Apalah arti seorang sarjana yang tidak membina peradaban kekeluargaan? Peradaban usia bukan pula masalah bagi ayah dan ibunya. Perempuan itu telah diciptakan-Nya sebagai makhluk yang sangat adaptif. Tanpa sifat itu, mustahil mereka bisa mengandung dan mampu melahirkan keturunannya. Jiwa dan tubuhnya lentur, jarang patah, dan selain pemurah mereka pun pemaaf. Sumber kasih sayang tak ada batasnya. Berilah dia sesuatu, dan pasti ‘kau akan memperoleh sesuatu pula darinya ….
Kata-kata ayahnya yang seperti itu masuk juga ke dalam benak Ganda, seperti paku-beton, menghujam dan tersimpan dalam-dalam. Ya. Ada khasanah pengalaman yang belum tergapai olehnya. Namun, memang, ada kesenjangan yang diakuinya masih harus ditampung dan dimasukkan sebagai salah satu faktor dalam analisisnya. Hati kecilnya mulai meraba perbedaan antara berpikir dan berpengalaman. Selama ini, memang, ayahnya selalu berhasil membuatnya bimbang dan ragu seperti itu. Tapi—ah—sialan!, gerutunya di antara asap rokoknya itu. 
Keesokan harinya, sungguh di luar dugaan saya, Ganda menelepon langsung ke kantor Kodya. Sesudah menggerutu oleh lamanya menunggu kesempatan hubungan telepon, dia menanyakan adakah kami bebas malam ini untuk menerimanya berdua dengan temannya. Makan malam, sambil omong-kosonglah, begitu. Tak usah repot-repot masak segala, kami akan membawa kueh dan gudeg Garuda—meskipun tanpa gizi—tambahnya terkekeh. Saya katakan, kami kurang layak menjamu orang asing seperti Suzy. Apalagi perempuan artistik macam Suzy itu. Bagaimana kami bisa tahu soal selera dan kebiasaannya mengarahkan pembicaraan nanti. Kami sangat khawatir akan mengecewakannya nanti. Bukan hanya kami yang akan merasa malu, bahkan barangkali Ganda sendiri pun bisa merugi kehilangan aset kehormatannya. Tapi, sambil tertawa dikatakannya bahwa kami tidak perlu merasa takut sebab temannya itu bukan Suzy. Dia seorang dosen, banyak ilmunya, karenanya pula tak usah khawatir akan kehabisan bahan pembicaraan nanti.
Hubungan dagang memang tidak mengenal batas, saya mengerti, tapi kaitannya dengan dosen yang selama ini tak pernah disinggung-singgungnya, membuat saya bertanya-tanya. Saya kenal satu dua orang dosen, juga oleh hubungan proyek kerja sama antara perguruan tinggi dan Pemda. Tentang dosen seorang ini, pasti ‘kau belum mengenalnya, katanya dengan cepat, dia baru pulang dari Negeri Belanda.
Segera saya telepon istri saya di rumah untuk sekedar mempersiapkan segala sesuatunya. Istri saya pun heran, ternyata Ganda masih di sini, disangkanya dia sudah pulang ke Jakarta.
Kalau begitu ajaklah Sri, usul istri saya. Hah, jangan mengada-ada, dengus saya. Meskipun dia keponakannya sendiri—dia bekerja pada bagian pertanahan DIY—ini bukan perkara gampang. Kebetulan Sri ini pun kurus semampai, semasa mudanya dulu termasuk penari klasik yang cukup terkenal, lemah lembut, tekun dan semakin tekun bekerja seiring dengan bertambahnya usianya. Ketekunannya, sengaja atau tidak, telah menjauhkannya dari pergaulan. Teman-teman sejawatnya memandangnya sebagai orang yang dituakan, dan penghormatan yang diterimanya itu malah seperti pintu baja yang memisahkannya dari pertemuan laki-perempuan di lingkungannya. Betapa sulitnya mencairkan batas-batas yang diciptakan peradaban manusia seperti itu. Atau oleh peradaban yang menimbulkan salah pengertian. Begitulah. Saya memahami maksud istri saya. 
Ada apa?, tanya Sri ketika saya berhasil meneleponnya. Saya terangkan dengan singkat keinginan Ayu (nama istri saya) untuk sekedar makan malam bersama, dan—seperti biasanya—saya katakan juga bahwa dia pun dapat menginap di rumah kami; Mas Pur (ayahnya, kakak Ayu yang tertua) tentu tidak akan keberatan. Rumah (dinas) kami cukup luas, lagi pula tidak ada anak di antara kami. Ada dua kamar kosong. 
Tentu saja, saya tidak menyinggung soal Ganda dan teman dosennya yang baru pulang dari Negeri Belanda itu. Sesudahnya, dengan sengaja saya menunda meletakkan gagang telepon itu, menunggu bagaimana reaksinya. Lama lenggang. Terdengar desis angin elektronik. Jauh. Inilah pekerjaan yang paling tidak saya sukai, betapapun baiknya niat yang melatarbelakanginya, sampai saya mendengar nada putus beberapa saat kemudian. Saya kira, Sri cukup dewasa untuk curiga tapi kemudian juga untuk mengerti. 
Seperti biasanya pula, Sri bergegas menuju ke dapur membantu istri saya. Itu sebabnya dia datang lebih awal. Wajahnya memperlihatkan beban usia; suatu balada penantian yang menekan. Lagi: satu bentuk peradaban mausia dilihat dari belakang. Namun sorot matanya tetap tajam dan bercahaya, tanggap ke alam sekitar, tak pernah lengah atau kehilangan pumpunan. Kulitnya halus, rambutnya pun lebat, memperlihatkan kasih sayang Mas Pur sekalian dalam mengatur kesehatan keluarga. Usianya yang mendekati empat puluh itu, tidak mengurangi kesigapan geraknya di dalam keheningan kerjanya. Tak ada timbunan lemak pada bagian-bagian dekat sendi; itulah tubuh penari pilihan. 
Istri sayalah yang kemudian menerangkan semuanya, dia ingin agar Sri dapat membantunya untuk mempersiapkan jamuan guna menyambut kedatangan tamu kami. Sri menunduk sebentar, sekejap memejamkan matanya, tapi kemudian kembali sigap menengadah sesudah istri saya memegang pundaknya dan memeluk pinggangnya dengan sedikit tekanan, mengarahkan langkah ke ruang saji. Masak apa, Mbak?, tanyanya tiba-tiba agak terlalu keras seperti memecahkan telur untuk bisa keluar dari suasana yang berat menekan. Ah, biasa saja, hanya perlu ditambah lebih banyak. Lagi pula, katanya mereka akan membawa oleh-oleh. Si Mbok sudah pulang, tapi sudah disiapkan nasi dan air panas di termos untuk kopi. Benarlah perasaannya, semuanya sudah diatur, sebenarnya mereka tidak perlu bantuan. Peradaban manusia memang aneh, gumamnya dalam hati, mereka itu—dan bukan untuk sekali ini saja—ingin membantunya tapi dengan meminta bantuannya pula. 
Piring makan untuk khusus tamu pun dikeluarkan. Disusun terlentang dengan mangkuk sup di atasnya, di depan lima kursi di sekeliling meja bundar. Tidak perlu dibuka lipatannya. Cukup leluasa untuk berlima, namun cukup intim pula untuk memaksa terjalinnya percakapan. Diman-pak-bon sudah mengangkat kursi tambahannya dari kamar kamar belakangan tadi. Memang tidak sama model dan bentuk kursinya, tapi tak apalah. Ganda sudah sering kemari, semenjak ada proyek pemugaran Benteng itu. Karenanya, sudah tidak terlalu asing lagi, formalitas boleh agak kendur. Begitu penjelasan Ayu kepada Sri. Benar-benar telah dipersiapkan semuanya. 
Ketika terdengar taksi merayapi kerikil di halaman depan saya putar kaset klenengan, sayup-sayup mengisi ruang tamu dan ruang keluarga. Saya tercengang melihat Ganda menggandeng perempuan asing itu masuk menaiki tangga teras depan. Tinggi semampai, kurus, dengan rambut pendek seperti rambut jagung. Tampak sangat ramah, matanya mengitari seluruh bagian rumah kami dengan penuh perhatian. Hidungnya lempang seperti angka tujuh. Itulah perwajahan Venus de Milo, wanita dunia klasik, fisionomi intelektual pembentuk peradaban dunia, Ganda pernah mengatakannya ketika melihat gambar-gambar denah Benteng. Senyumnya hemat, namun cukup memperlihatkan giginya yang ampak. Ganda memperkenalkannya kepada kami sambil tersenyum yang dengan susah payah dikendalikannya agar tidak berderai menjadi tawa.
Tidak salah lagi, ternyata Ganda telah mempermainkan kami. Mereka pun tidak membawa kueh dan gudeg, bergizi atau pun tidak. Suzy mengangguk-angguk, sangat sopan tanpa kehilangan harga diri. Namanya Beatriz, orang Belanda totok. Rupanya seorang dante telah menemukan tambatan hatinya! Barangkali sebuah nama juga telah turut menggerakkan roda nasib ganda. Sri turut menyambut dengan gagah berani. Bahasa Belandanya sangat mengejutkan tamunya; perkara tanah membutuhkan penguasaan hukum adat yang pelik; pustaka Belanda yang sempat digelutinya sangat membantunya dalam kefasihan berbahasa. Tas kulit Beatriz dililitkannya ke pergelangan tanganya, duduk di kursi tamu dengan sopan, maksud saya tanpa menyilangkan kakinya. Gaunnya sebatas betis, dari kain batik, warna gelap dalam ragamnya yang pelik. Saya mencuri pandang ke arah Ganda, pandangan kami beradu, dia tersenyum. Kontraktor Aligator!, sembur saya dalam hati. 
Belum juga berubah tabiatnya. 
Pada kedatangan berikutnya ke Yogya, Ganda singgah lagi di rumah kami. Tak kenal lelah, tanpa pertimbangan lebih lanjut, meskipun dengan nada agak lesu, diceritakannya saat-saat perpisahannya dengan Suzy (lebih cocok untuknya daripada Beatriz, katanya ringan) di Denpasar. Ganda agaknya kecewa juga ketika ternyata Suzy ini tidak kenal siapa Suzy Parker itu. Siapa dia?, tanyanya sambil menggelengkan kepalanya, melirik padanya penuh ikal rambutnya yang luruh ke pipinya. Ganda merasa gemas sekali melihat postur tubuh Suzy seperti itu. Ingin rasanya membelai tengkuknya. Saya tarik pinggangnya …, katanya, tapi terhenti tiba-tiba ketika didengarnya istri saya datang menyajikan kopi untuknya. 
Bagaimana dengan Suzy-mu itu?, celoteh istri saya sambil memutar cangkir kopinya sampai pegangannya menghadap tangan kanan Ganda. Menurut pengakuannya, dia seorang sekretaris yang bekerja di suatu biro iklan di Den Haag. Belum, memang belum menikah dia. Namun, dia pulang juga (lewat Tokyo), lebih terdorong oleh habis masa cutinya, dan bukannya oleh enggan menemani Ganda. Dia sangat berterima kasih kepada Ganda yang telah sudi menemaninya hingga ke Bali, dengan percakapan yang menyenangkan dan akrab, seorang pengawal yang mengerti Eropa, makhluk Byzantine penghubung dunia Barat dan Timur. Juga untuk gaun batik gelap dengan ragamnya yang pelik itu. Kapan akan datang lagi ke Indonesia?, tukas Ganda penuh harap, mengabaikan segala pengakuan Suzy akan jasa-jasa dan penampilannya. Belum ada rencana, katanya, soalnya tahun depan dia sudah merencanakan untuk ke Mexico. 
Ganda termenung. 
Saya tidak yakin apakah dia mendengar istri saya pamit untuk mendahuluinya istirahat berangkat tidur. Dua-tiga hisapan rokok berlalu. Sesudah menumpas rokoknya ke asbak, Ganda meregangkan perutnya dengan kedua lengannya lurus ke atas, menggeliat seperti kucing bangun tidur sambil berkata, Tapi kulitnya kasar, dan keras bulunya!, sambil menyeringai, tidak perduli adakah saya dapat menduga bagian-bagian awal kenangan sebelum terloncat kalimat itu. Ternyata mereka sempat pula menginap semalam di Kintamani. 
Sesudah itu, di ruang tunggu airport itu, Ganda tertegun mendapat betapa ringannya Suzy menghadapi perpisahan mereka itu. Malah dimintanya air jeruk segelas lagi. Ganda mencuri-curi pandang dari sudut matanya—sambil menyalakan sebatang rokok—mencari tanda-tanda, getaran di ujung-ujung jarinya, mencoba menangkap geletar di setiap akhir kata-katanya. Dia mendengar desir angin Ac berhembus dari langit-langit ruang-tunggu, tapi selain itu tak ada sesuatu pun. Seluruh tubuhnya yang semampai itu—Ganda melihat di antara gemulai asap rokoknya yang tertarik-tarik angin—seperti benda sejarah yang lewat di ruang angkasa, menyeberangi samudra waktu. Batu granit utuh, tak tergores sedikit pun. 
Ganda termangu. 
Sekarang, waktu seperti terhenti dan menganga di hadapannya. Apa yang telah terjadi? Apa pula yang telah diperbuatnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu seolah berdesakan di dalam kepalanya. Satu menuntut jawaban sebelum lainnya. Sementara satu memperkusut telaah berikutnya. 
Bagaimana dengan Tuti?, tanya saya menyela. Ooo, dia baik-baik saja. Sudah hamil dia sekarang, bulan depan menikah, katanya ringan sambil menyemburkan asap rokoknya. 
Kok? Saya tidak mengerti!?
Rupa-rupanya ada staf muda kantor Ganda yang tertarik padanya. Cocoklah mereka berdua. Ketika ayah-ibu Ganda melarang hubungan mereka (demi masa depan Ganda), maka itulah yang mereka perbuat: fait a compli! Sekarang Ganda malah mulai berpikir untuk menyerahkan pengendalian perusahaan ini kepada mereka saja sekaligus. Saham terbesar masih di tangan ayahnya dan ternyata ayahnya terlanjur sayang pada Tuti. Perkara itu tampaknya akan beres. Bagaimana masa depannya, dia tak peduli. Nantilah. 
Tapi, bayangkan!, kata Ganda bersungguh-sungguh, setengah kepada dirinya sendiri, setengahnya sebagai upaya memahami kenyataan, upaya menerjemahkan nasibnya ke dalam dunia bahasa yang dapat diterima nalarnya. Mereka masih bisa mengisi sejarah dengan langkah mantap. Kutub alam ini seperti bertemu dalam diri mereka bedua dan memancarkan latu api, membentuk makhluk dan meniupkan kehidupan. Ada jalan di hadapannya, pintu terbuka bagi mereka. Ada semacam keniscayaan yang akan diperolehnya; mereka akan memahami pertumbuhan, kemajuan, dan kehidupan ini melalui hasil-hasilnya, bukan dari kerugian, kehilangan, dan kemusnahan. 
Kemudian, seperti biasanya, wajahnya tenggelam di semak-semak asap rokoknya yang malas menggeliat. Dalam diam seperti itu, tampak jelas kekecewaannya, hatinya berkabut: perbandingan yang tidak sepadan, keluhnya. Dirasakannya ada sejenis ketidakadilan di sana, di antara segala sesuatu yang terlibat dengan eksistensinya. Segala dalih rasionalnya, yang selama ini sanggup menenteramkan hatinya terasa macet. Nalarnya menjumpai permukaan tembok benteng. Buntu tanpa pintu. Buta tanpa jendela. Atau tanah kosong, sama saja keadaannya: tidak menampilkan perwajahan apa pun. Dunia yang tidak dikenal tanpa padanan sebelumnya. 
Tiba-tiba pandangan saya, seolah ingin mempersamakan atau mempertanyakan nasibnya dengan nasib kami. Saya tergugah. Kamu jangan menyiksa diri begitu, Ganda; semua orang tentu telah berbuat sesuatu untuk umatnya; adakah bangunan yang kau dirikan itu mubazir? kata saya dengan tenang; merasa mengenal medan pembicaraan ini dengan baik, dengan leluasa saya mengatur jarak, diksi, dan frase, seperti Rendra di hadapan penontonnya. Kami, misalnya, menjalani hidup ini juga dengan hasil-hasil, memang bukan dengan memiliki anak keturunan, meskipun sudah hampir lima belas tahun kami kawin, melainkan—seperti pernah dikatakan juga oleh ayahmu dulu itu—dengan dan berkat peradaban manusia. Bekerja, melibatkan orang lain, bergaul dengan mereka, mengubah …. Dan Ayu, syukurlah, telah dapat mengatasinya dengan baik ….
Namun, khotbah saya terhenti di situ. Tercenung saya melihat sikap Ganda. Rupa-rupanya tak sepatah pun kata-kata saya yang klise dan marxis itu didengarnya. Dia masih juga menatap saya. Tampak dia berusaha keras untuk menghimpun keberanian, untuk menghapus kegelisahan yang amat sangat. Matanya semakin dalam berlindung di bawah alisnya.
Saya melihat gurun pasir di wajahnya. Batu berguguran, merekah oleh perbedaan suhu yang dahsyat. Memecah dan membelah setiap bungkah batu hingga ke butir pasir, semakin kecil dan kecil, tinggal debu dan zarah yang sewaktu-waktu akan menjadi mangsa angin. Tampak begitu berat baginya untuk sekedar mengubah sikap, seperti dibutuhkannya perbedaan yang dahsyat, atau gempa, untuk sekedar menggerakkan ujung rambutnya. 
Oh, Ganda, saya berseru, mengapa tak ‘kau katakan saja?
Saya mulai mengerti masalahnya, sekarang; dan semakin jelas juga. Baik, kalau begitu, besok pagi akan saya telepon Sri. Selanjutnya terserah kalian, kata saya muktamad. 
Bandung, 11 Juni 1991
Sarjana Teknik Arsitektur lulusan ITB, 1966, ini lahir di Bandung pada 15 Juni 1938. Gelar Master of Architecture dari University of Hawaii, dia raih pada tahun 1975. Sejak 1977, ia mengajar di almamaternya, ITB, untuk Jurusan Teknik Arsitektur (Bidang Pengembangan Arsitektur dan Ilmu-Ilmu Sosial PAIS), hingga kini. Pada 1985 hingga 1988, ia menduduki jabatan Pembantu Dekan I Bidang Akademik di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP ITB). 

Ia banyak menulis makalah dan artikel tentang arsitektur, pendidikan dan kebudayaan. Juga melakukan berbagai penelitian Arsitektur Tradisional (Aceh, Sumba, Halmahera, Nias). Bapak tiga anak ini, mengaku, “Berfikir dan merenungkan nasib,” adalah minat dan hobinya yang serius. (Matra, Januari 1992)

***

Baca juga:  Kalam Ilahi di Balik Jeruji Besi

Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yuswadi Salya
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Matra” edisi Januari 1992