Perburuan di Pekuburan

Karya . Dikliping tanggal 4 Juni 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Matra
LIMA SEKAWAN ITU hampir selesai makan malam. Mereka semua kaya, separuh baya. Dua di antaranya bujangan, yang lain sudah menikah. Sekali sebulan mereka mengadakan pertemuan untuk mengenang masa muda. Dan selesai makan, biasanya mereka bercengkerama hingga pukul 2 pagi. 
Saat seperti itu, merupakan malam-malam paling membahagiakan di dalam hidup mereka, karena mereka tetap bersahabat dan masih senang kumpul-kumpul. Mereka bercakap-cakap tentang apa saja, tentang semua yang menarik hati orang Paris.
Yang paling periang dari mereka berlima adalah Joseph de Bardon, masih bujangan. Ia menganut gaya hidup tulen orang Paris, penuh gaya dan celotehnya ceplas-ceplos, tanpa menjadi rusak atau bejat karenanya. Gaya hidup itu sungguh menarik hatinya. Dan karena ia masih muda, belum lagi empat puluh, ia menikmati sepuas-puasnya. Pergaulannya luas, dan ia memiliki selera yang baik. Ia pandai bicara, sangat jenaka, memiliki banyak pengetahuan tanpa tampak ilmiah dan cepat mengerti tanpa pendalaman serius. 
Pengamatan dan petualangan-petualangannya, pengalaman serta pertemuan-pertemuannya dengan macam-macam orang membuat ia kaya anekdot. Dia cerdas. Dan cerita-ceritanya yang lucu sering terdengar filosofis. Ia memang pembicara utama dalam kelompoknya. Dan kisah-kisah yang keluar dari mulutnya selalu ditunggu oleh para sahabatnya. Dan biasanya, tanpa diminta pun ia akan mulai bercerita. 
Sambil mengisap cerutu, dengan sebuah siku di atas meja dan setengah gelas brendy di dekat piringnya, ia terbuai dalam udara penuh asap bercampur uap kopi hangat. De Bardon tampak begitu nyaman dan santai. Ia benar-benar seperti makhluk tertentu yang merasa nyaman berada di tempat tertentu dan pada waktu tertentu—biarawati di kapel, misalnya, atau ikan emas di akuariumnya. 
Di antara dua kepulan asap cerutunya, kemudian ia berkata, “Saya mengalami peristiwa aneh belum lama ini.”
Yang lain-lain berkata nyaris serentak, “Ceritakan kepada kami.”
“Dengan hati senang,” jawabnya. “Kalian tahu saya suka sekali ‘ngeluyur di seputar Kota Paris, seperti seorang kolektor mengintai etalase-etalase toko. Saya suka sekali mengawasi orang-orang dan benda-benda, semua yang terjadi, dan semua yang lewat di depan mata.”
“Nah, kita-kita pertengahan September, ketika kita terlena oleh cuaca yang sangat bagus, saya pergi keluar di siang hari tanpa tujuan pasti. Kita kaum lelaki selalu mempunyai keinginan samar-samar untuk singgah ke tempat wanita cantik. Kita mengingat-ingat koleksi kenalan, membanding-bandingkan mereka di benak kita, mengukur daya tariknya dan cara mereka memikat, dan akhirnya kita memilih seorang yang paling menarik. Tetapi bila matahari benderang dan udara hangat, kita sering kehilangan seluruh hasrat kita untuk berkencan. 
Hari itu matahari cemerlang dan udara hangat, jadi saya hanya menyalakan cerutu dan berjalan-jalan mengelilingi boulevard. Kemudian datang gagasan untuk melihat-lihat ke Makam Montmartre.
Saya suka pada kuburan, kalian tahu itu. Ia membuat saya sedih dan menyebabkan saraf-saraf saya kendur, dan itu saya perlukan. Selain itu, di sana ada beberapa teman baik saya, teman-teman yang tak akan lagi ditengok seorang pun, karenanya saya sekali-sekali mengunjungi mereka. 
Di makam itu, saya mengubur kisah cinta lama saya, seorang pacar yang membuat saya begitu terikat kepadanya, wanita tercinta, dan kenangan tentang dirinya tidak saja sangat menyedihkan, tetapi juga menyebabkan saya menyesal … segala bentuk sesal …. Saya ke sana dan termenung di samping kuburnya …. Semua sudah terakhir baginya. 
Saya menyukai kuburan, juga karena ia luas, seperti kota yang berpenduduk padat. Coba pikirkan tubuh-tubuh yang ada di ruang-ruang sempit itu, pikirkan seluruh generasi Kota Paris terpendam di sana untuk selamanya, penghuni gua yang terperangkap selamanya di lubang sempit, tertutup batu, atau ditandai dengan salib kecil, sementara orang-orang yang masih hidup—karena bodoh—menggunakan ruangan begitu luas, dan sangat berisik. 
Dan di kuburan, kalian akan menemukan monumen-monumen yang sama menarik dengan yang dijumpai di museum. Walaupun saya tak akan membandingkan, makam Cavaignac mengingatkan saya pada karya masterpiece Jean Goujon, patung Louis de Breze di kapel bawah tanah di Katedral Rouen. Semua yang disebut sebagai seni realistis dan modern bermula dari sana. Patung Almarhum Louis de Breze lebih meyakinkan, lebih dahsyat, lebih memberi sugesti pada manusia tak bernyawa yang masih memantulkan kesengsaraan lantaran direnggut maut daripada patung-patung mayat yang kalian lihat di kuburan modern. 
Tetapi di Montmartre kalian masih bisa mengagumi tugu peringatan bagi Baudin yang mengesankan, makam Gautier, dan Murger. Di sana saya pernah melihat rangkaian bunga berwarna kuning. Siapa yang menaruhnya? Mungkin grisette terakhir, seorang wanita tua yang menjadi penjaga di sana. Patung bikinan Millet itu kecil dan indah, tapi kotor oleh debu, dan terlantar. Nyanyikan kegembiraan masa muda, Murger!
Jadi saya ke sana, ke kuburan Montmartre. Dan tiba-tiba saya merasa sedih. Kesedihan yang tidak terlalu menyakitkan. Sejenis kesedihan yang membuat orang sehat berpikir: Ini bukan tempat yang menggembirakan, tetapi paling tidak sekarang belum waktunya bagi saya untuk sampai di sini ….
Musim gugur, kelembapan yang hangat membangkitkan ingatan akan daun-daun mati dan rasa lelah, sinar matahari yang pucat, rasa sepi yang intens dan puitis yang melingkupi tempat itu, dan mengingatkan kita pada orang mati. 
Saya berjalan pelan-pelan di antara batu-batu nisan, di antara orang-orang bertetangga yang tak pernah saling menyapa, tak lagi tidur bersama, atau membaca koran. Dan saya mulai membaca tulisan-tulisan di batu nisan. Percayalah, tak ada yang lebih menyenangkan di dunia ini daripada membaca tulisan-tulisan itu. Labiche dan Meilhac belum pernah membuat saya tertawa seperti kalau saya membacai batu-batu nisan. Papan-papan marmar dan salib-salib yang oleh keluarga si mati ditumpahi seluruh kesedihan, doa perpisahan agar mereka bahagia di dunia sana, dan keinginan untuk kelak berkumpul kembali dengan yang tercinta—sungguh hipokrit—membuat tulisan-tulisan itu merupakan bacaan yang lebih lucu dari buku Paul de Kock yang mana pun. 
Tapi yang paling saya sukai dari semuanya adalah sepinya tempat itu. Pohon-pohon cypress dan cemara tinggi menyebar di sana sini. Sebuah distrik tua yang dihuni orang-orang yang meninggal lama lampau. Sebab, sebentar lagi ia akan menjadi distrik baru, dan pohon-pohon yang hijau oleh tubuh-tubuh manusia yang menjadi pupuk akan ditebang agar tersedia tempat bagi mayat-mayat pendatang baru, yang akan diletakkan berjajar-jajar di bawah papan-papan nisan marmar kecil.
Setelah berjalan-jalan cukup jauh untuk menyegarkan kembali pikiran, saya sadar saya hampir diserang rasa bosan. Sudah saatnya saya pergi menjenguk tempat tidur terakhir bekas pacar saya dan menyampaikan penghormatan dan kesetiaan ingatan saya kepadanya. Hati saya terasa sedih ketika saya sampai di pusaranya. Pacarku itu dulu begitu manis dan menyenangkan, begitu cantik rupawan … dan kini … seandainya kuburannya membuka ….
Sambil membungkuk ke kubur itu saya bisikkan beberapa kata sedih yang mungkin tak pernah didengarnya. Ketika saya hendak berlalu dari sana saya melihat seorang wanita berlutut di kubur sebelah. Kerudungnya terlempar ke belakang memperlihatkan sebentuk kepala yang manis dengan rambut pirang seperti fajar cerah muncul di bawah malam kelam dari tutup kepalanya yang hitam. Saya berdiri terpaku. 
Tentu ia dalam kesedihan yang luar biasa. Ia menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya dan tepekur dalam-dalam, diam tak bergerak seperti patung. Tenggelam dalam kesedihan seperti itu, ia tampak seperti mayat meratapi mayat. Kemudian, tiba-tiba dari gerakan kecil punggungnya yang seperti pohon willow tertiup angin, saya tahu ia akan menangis. Mula-mula tangisnya pelan, tetapi makin lama makin hebat, leher dan bahunya terguncang-guncang. Tiba-tiba ia membuka matanya yang penuh air mata dan sangat menarik. Dengan panik ia melihat ke sekeliling, seakan baru terbangun dari mimpi buruk. Ia melihat saya memandangnya, tampak malu, dan kembali menyembunyikan mukanya. Lalu ia menangis tersedu-sedu, kepalanya membungkuk ke arah batu nisan. Kepalanya ia sandarkan di sana, dan kerudungnya terurai menutupi sudut-sudut putih kuburan. Saya mendengar ratapnya, kemudian ia pingsan dan pipinya menempel batu nisan. Di sana ia terbaring, tak sadar diri. 
Saya bergegas ke arahnya, menepuk tangannya, meniup kelopak matanya dan pada saat yang sama saya membaca tulisan kecil di batu nisan:
DI SINI TERBARING
LOUIS THEODORE CARREL,
Kapten Infanteri Angkatan Laut, 
Tewas oleh musuh di Tonkin.
BERDOALAH BAGI ARWAHNYA.
Kematiannya baru beberapa bulan yang lalu. Saya terharu sampai hampir menangis, dan saya tingkatkan upaya untuk membuat wanita itu sadar. Dan saya berhasil. Saya bukan orang yang bertampang buruk—umur belum empat puluh—dan pada saat itu saya benar-benar bingung. Dari pandangan matanya saya tahu ia akan bersopan-santun dan berterima kasih. Saya tidak kecewa. Di antara sisa air mata dan sedu-sedannya ia bercerita tentang perwira yang tewas di Tonkin hanya setahun setelah perkawinan mereka. Perwira itu menikahinya karena cinta, sebab ia gadis yatim piatu yang tak memiliki apa-apa kecuali emas kawin. 
Saya menghiburnya, menenangkannya, dan membantunya berdiri. Kemudian saya berkata, “Anda tak bisa di sini terus. Ayo pergi.”
“Saya tak bisa berjalan,” gumamnya.
“Biar saya tolong.”
“Terima kasih, Anda baik sekali. Apakah Anda kemari menziarahi seseorang?”
“Ya, Madame.”
“Istri Anda?”
“Pacar.”
“Orang memang bisa mencintai seorang pacar seperti mencintai istri, karena cinta tidak mengenal hukum.”
“Ya, Madame,” jawab saya.
Kami berjalan berdua, ia bersandar ke tubuhku dan saya hampir-hampir menggendongnya sepanjang jalan. Ketika hampir meninggalkan kuburan, ia berkata, “Rasanya saya mau pingsan.”
“Anda mau mampir minum supaya segar?”
“Ya, Monsieur.”
Saya tahu sebuah restoran di dekat situ, tempat teman sejawat orang yang mati merayakan akhir masa wajib berkabung mereka. Kami masuk dan saya menyuruhnya minum secangkir teh yang bisa membuatnya segar kembali. Ia tersenyum tipis, dan mulai bercerita tentang dirinya. Sedih sekali, katanya, hidup sendirian di dunia, sendirian di rumah siang malam, tak punya siapa pun lagi tempat mencurahkan kasih sayang, kepercayaan, dan keintiman. 
Semua itu tampaknya diucapkan dengan jujur. Hati saya tersentuh. Ia begitu muda, mungkin dua puluh tahun. Saya mengucapkan beberapa kata pujian yang ditanggapinya dengan anggun. Kemudian, karena hari semakin sore, saya menawarkan diri mengantarnya pulang dengan taksi. Ia menerimanya. Di dalam taksi kami duduk rapat berdampingan sehingga bisa kami rasakan kehangatan tubuh kami lewat pakaian kami yang merupakan benda paling mengganggu di dunia. 
Sampai di depan rumahnya ia berbisik, “Rasanya saya tidak bisa naik ke atas sendiri, sebab saya tinggal di lantai empat. Anda sudah demikian baik kepada saya. Maukah Anda menolong saya naik ke apartemen?”
Dengan senang hati saya setuju. Pelan-pelan ia naik, terengah-engah. Di depan pintu ia berkata, “Masuklah sebentar agar saya bisa berterima kasih kepada Anda.”
Saya pun masuk. 
Apartemennya sederhana, bahkan agak miskin, tetapi ditata dengan penuh selera. 
Kami duduk berdampingan di sofa kecil, dan ia kembali bicara mengenai kesepiannya. 
Ia memanggil pelayannya agar membuat kopi untuk saya, tetapi si pelayan tidak muncul. Saya gembira, pelayan itu pastilah hanya datang pada siang hari dan hanya bekerja sebagai pembersih rumah. 
Topinya sudah dilepas. Ia sangat menarik. Mata jernihnya menatap tepat ke arahku, begitu cerah dan tenang. Saya terpikat dan menyerah. Saya memeluknya dan mencium matanya berulang-ulang.
Ia berusaha melepaskan diri, mendorong tubuh saya dan berkali-kali berkata, “Please … please … please ….”
Apa yang dimaksud dengan kata itu? Di dalam situasi seperti itu please paling tidak memiliki dua makna. Untuk membuatnya bungkam saya mencium mulutnya dan please saya beri makna pilihanku sendiri. Ia tidak banyak bertahan, dan ketika kami saling memandang lagi setelah selingan penghinaan terhadap kenangan pada Kapten yang tewas di Tonkin, ia tampak lesu namun pasrah sehingga rasa waswas pun lenyap.
Saya tunjukkan rasa terima kasih dengan bersikap sopan dan penuh perhatian. Setelah bercakap-cakap sekitar satu jam, saya bertanya, “Di mana Anda biasa makan malam?”
“Di restoran kecil di dekat sini.”
“Sendirian?”
“Kenapa, ya.”
“Anda mau makan malam dengan saya?”
“Di mana?”
“Di restoran yang baik di boulevard.”
Ia enggan, tapi saya berkeras mengajaknya, dan akhirnya ia menyerah, memaafkan dirinya dengan alasan bosan dan kesepian. Kemudian, katanya, “Saya harus ganti pakaian yang tidak begitu gelap.”
Ia masuk ke kamar, dan keluar lagi mengenakan baju sederhana berwarna abu-abu yang mebuat dia tampak langsing dan menarik. Ia benar-benar memiliki perlengkapan yang berbeda untuk ke kota dan ke kuburan. 
Acara makan malam kami menyenangkan. Ia minum sedikit Champagne dan menjadi sangat lincah dan hidup. Saya kembali mengantar dia pulang ke apartemennya. 
Hubungan yang diawali di antara batu-batu nisan itu berlangsung selama tiga minggu. Tetapi lelaki selalu bosan pada segala sesuatu, termasuk pada wanita. Saya tinggalkan dia dengan alasan perjalanan tugas yang tak bisa dielakkan. Ketika berpisah saya sangat bermurah hati kepadanya, dan ia berterima kasih. Ia membuat saya berjanji bahkan bersumpah akan kembali kepadanya bila telah tiba di Paris lagi, sebab tampaknya ia agak memikirkan saya.
Saya tak membuang-buang waktu untuk membuat hubungan-hubungan lain, dan sebulan lewat tanpa tergoda untuk memulai lagi affair yang bermula di kuburan itu, dan yang cukup kuat untuk membuatku menyerah. Tapi saya tak melupakannya. Kenangan akan wanita itu menghantuiku seperti sebuah misteri, sebuah problem psikologis, salah satu pertanyaan yang merengek minta jawaban.
Saya tak tahu mengapa, tapi pada suatu hari saya merasa akan bertemu dia lagi di Kuburan Montmartre, karena itu saya kembali ke sana. 
Lama saya berjalan mengitari tanpa bertemu siapa pun kecuali peziarah biasa, orang-orang yang sama sekali tidak memutuskan pertalian dengan mereka yang mati. Di makam Kapten yang tewas di Tonkin tidak ada wanita yang berlutut menangis, tidak ada bunga di papan marmarnya. 
Tetapi ketika saya berjalan ke bagian lain di kota besar orang-orang mati itu, tiba-tiba saya melihat pasangan yang berkabung berjalan ke arah saya. Dengan terheran-heran, ketika mereka semakin dekat, saya mengenali … dia!
Ia melihat saya dan wajahnya memerah. Ketika saya bergegas melewatinya ia memberi isyarat kecil, lirikan sekilas yang berarti: “Jangan mengenaliku,” tapi yang tampaknya juga berarti: “Kembalilah berkunjung, Sayang.”
Pria yang bersamanya kira-kira berusia lima puluh, terhormat, dan berpakaian bagus, dengan tembaga kecil yang menandakan bahwa ia adalah perwira dari Legion of Honour. Pria itu memapahnya, persis seperti saya dulu memapahnya keluar dari kuburan itu.
Saya berjalan keluar dengan membisu, bingung memikirkan yang baru saya lihat, dan ingin tahu digolongkan ke dalam jenis apa pemburu cinta di pekuburan itu.
Apakah ia pelacur biasa yang mendapat inspirasi menggaet korbannya di antara orang-orang yang dibayangi kesedihan karena kehilangan istri atau kekasih dan terganggu oleh kenangan akan belaian di masa lalu? Unikkah dia? Atau ada beberapa yang semacam dia? Apakah itu sebuah profesi, berkeliaran di kuburan seperti yang lain-lain berkeliaran di jalan-jalan? Ataukah dia sendiri yang mempunyai ide mengagumkan itu, gagasan filosofis yang dalam, untuk mengeksploitasi rasa sesal dan kasih sayang di tempat berkabung itu?
Sungguh saya ingin sekali tahu, memilih menjadi janda siapa dia hari itu ….”
Matra, April 1987
***
Terimakasih dan apresiasi sebesar-besarnya kami haturkan kepada  Dyah Setyowati Anggrahita yang telah berkenan mengirimkan karya cerpen lama ini kepada klipingsastra. Salam Sastra.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Guy de Maupasant

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Matra” edisi April 1987