Darbe!

Karya . Dikliping tanggal 23 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
DARI jendela kamar aku menjolorkan kepala melihat bulan sabit melingkar kecil di langit. Bulan adalah segalanya bagiku. Aku sangat menyukainya. Kata agabey, bulan adalah satu-satunya ciptaan Allah yang paling halus dan menebar wangi. Kata Anne, bulan adalah simbol seorang ibu kehidupan yang maha penyabar. Kata Baba, bulan adalah jiwa rakyat Turki. Karena ketika berbentuk sabit, bulan seperti bendera kami. Aku lebih percaya kata Baba. Setiap bulan sabit, aku selalu keluar ke halaman, melihat bulan di antara daun-daun kiraz. Pernah sekali waktu aku melihat bulan sabit yang tepat di cekungannya ada bintang.

“Bizim bayragimiz iste!” Aku berteriak lantang.

Baba yang baru saja makan Áorba meloncat ke halaman. Mengusap kepalaku sembari mendongak ke langit, “Betul, sayang. Tanah ini direstui oleh Allah,” tukas Baba lalu menggendongku kembali masuk rumah.

Malam ini aku tidak bisa lagi leluasa melihat bulan. Sejak pindah ke kota, sudah lima bulan lebih, cahaya bulan meredup diredam remang lampu kota. Aku juga tidak bisa turun ke halaman sendirian. Rumahku di lantai empat apartemen sederhana di kota Konya. Aku sudah sangat jarang menikmati langsung cahaya bulan yang halus dan lembut itu.

Malam ini Baba belum juga pulang. Aku ingin menunggunya datang dan membawakan bendera buatku, hadiah tambahan untuk ulang tahunku hari ini. Semalam keluarga kami sudah merayakan ulang tahun keempatku dengan banyak hadiah. Buku K¸Á¸k Prens, tas sekolah berwarna kuning kesukaanku dan jaket tebal untuk musim dingin nanti. Saat Baba tanya mau minta hadiah tambahan apa, aku ingat bendera kecil dengan pegangan kayu yang dilapisi plastik berwarnawarni. Pada malam hari warnanya menyala. Aku minta dibelikan bendera seperti itu, seperti milik Murat dan Fatma, tetanggaku.

Tapi Baba belum datang juga. Kantuk pun menyergap. Sepertinya aku tidak sanggup melek lebih lama. Siang tadi aku terlalu banyak bermain bersama Hasan, Tuba dan Ayla. Jika tidak, tentu rasa capai dan kantuk tak akan meringkus sedahsyat ini. Tapi aku sangat senang bersama mereka. Mereka ingat ulang tahunku dan memberikan hadiah kejutan.

“Sedef, ayok keluar! Ke Ana Yol,” Anne memanggilku dari ruang tamu. Televisi yang sedari tadi menyala tiba-tiba sepi dan Anne langsung menuju kamarku.

Ini sudah malam, pukul sebelas lebih sebelas menit. “Aku mengantuk sekali, Anne.”

“Anakku, kita harus keluar segera.”

“Aku mau bendera?”

“Iya lihat bendera, sayang.”

Baca juga:  Jalan Suriah

Anne menyelempangkan kerudung dan syal tipis yang biasa dipakai ke Áarsamba pazari. Aku juga mengambil topi kain berwarna merah putih. Tangan Anne langsung menyambar lenganku dan menggendongku sambil berlari menuruni tangga. Anne sangat tergesa-gesa.

Tepat di luar pintu tetanggaku berjubel memenuhi jalanan yang tak lebar itu. Aku melihat Hasan dan Ayla berlari membuntuti ayah dan ibu mereka. Malam ini teman-temanku keluar semua. Mungkin ada perayaan atau malam hiburan, desisku. Jalanan ramai sekali. Mereka mengangkat bendera tinggi-tinggi sembari berteriak ‘darbeye hayir’ dan ‘darbeye karsi.’ Aku sama sekali tak paham apa yang mereka teriakkan. Anne juga meneriakkan katakata yang sama.

“Anne, darbe apa?”

Sebelum menjawab, Anne melepasku dan memintaku berjalan kaki. Aku berlari membuntutinya. Orang-orang juga berjalan tergesa-gesa. Mereka bergerak menuju satu arah. Mungkin juga ke Ana Yol.

Ana Yol adalah taman kota yang selalu menjadi pusat kegiatan yang ramai. Aku sudah dua kali ke Ana Yol, bersama Baba sekali dan sekali bersama Anne. Saat bersama Baba mengunjungi taman luas itu, aku melihat panggung besar. Ada orang berpidato berteriak-teriak. Orang-orang di bawah panggung seperti kami ikut dalam komando dan menyeru dengan suara nyaring.

“Hayiiiiiiiirrrr!!!” Eveetttttt!!!” Begitu saja teriakan mereka.

Bersama Anne aku pernah menonton konser Mustafa Ceceli di Ana Yol.

“Anne, darbe apa?”

Anne makin mengencangkan jalannya. Aku sebenarnya bisa berlari lebih cepat dari Anne. Misalnya, kalau berjalan ke pasar atau ziarah ke makam Mevlana Rumi aku pasti selalu ada di depan Anne dan Baba. Tapi malam ini aku membuntutinya. Anak-anak sepantaranku juga begitu. Mereka terus berusaha meragah tangan orangtua mereka. Sesekali aku di samping Anne sembari memegang erat tangannya. Tanpa menjawab pertanyaanku, Anne kerap menoleh kiri-kanan. Seperti sedang mencari seseorang. Tepat di tikungan Aladdin Tepesi, satu jalan menuju Ana Yol, orang-orang makin ramai datang dari semua arah dan meneriakkan kata-kata yang sama. Mereka mengibarkan bendera besar. Aku mulai ketakutan. Ada apa ini?

Dimana Baba? Mataku tak bisa menjangkau lebih jauh di tengah keramaian. Di atasku, langit malam dengan seutas bulan sabit, tertutup kibaran bendera. Entah di mana bulan sabit tipis itu sekarang. Di tengah jalan tadi sebelum seramai ini aku sempat melihat bulan sabit itu sekali lagi, seperti gulungan gozleme. Kecil dan tipis.

Apakah malam ini ada bintang kecil tepat di cekungan bulan sabit? Lalu Baba mengucapkan kalimat yang sama dan menggendongku pulang?

Baca juga:  Gelas - Puisi

“Anne, darbe apa?” Aku memekik keras. Anne terus berjalan kencang. Dengan awas, Anne terus menabur pandang kiri-kanan di tengah kerumunan massa.

Malam ini aku sangat berharap Baba melihat bulan sabit dengan bintang kecil di cekungannya, bercerita apakah bulan sabit dan bintang kecil itu sama seperti dua tahun silam saat kita masih di kampung, sembari menggendongku pulang.

“Negeri ini milik kita! Haram ada pengkhianat yang coba merebutnya. Rakyat harus keluar menjadi benteng! Menjaga negara. Kita tak akan pernah menyerah melawan orang-orang yang ingin menghancurkan negara. Kita lahir di sini dan mati juga di tanah ini! Kakek-nenek kita berperang mempertahankan negara! Mereka semua terkubur menjadi sehit di Canakkale bersama jutaan pejuang yang gugur. Tulang-belulang dan arwah para syahid yang telah mengorbankan nyawanya untuk negeri tidak akan pernah tertebus selain mempertahankannya hingga kita semua habis menjadi mayat!”

Mendengar suara Anne dengan napasnya yang naik-turun, aku semakin ketakutan. Tapi aku tidak akan pernah menangis. Dan tidak boleh menangis! Karena kata Baba, tidak boleh ada air mata getir di bawah bendera Turki. Semua kami yang hidup di tanah ini adalah pemberani!

Aku memegang erat tangan Anne di tengah kerumunan ribuan orang di Ana Yol. Kami terus merangsek menuju titik keramaian. Di tengah-tengah taman kota Ana Yol ada patung Alaeddin Keykubad, simbol kebesaran Kerajaan Selcuk Rum yang pernah menguasai negara kami. Aku paham patung itu, berkali-kali guruku meminta kami melukis tokoh pahlawan dan pemberani. Selain Sultan Fatih dan Mustafa Kemal Ataturk, aku sangat menyukai Alaeddin Keykubad. Gambar-gambar hasil lukisanku ditempel di dinding rumahku. Baba sangat menyukai aku bisa menggambar tokoh-tokoh pahlawan bagi negara kami.

Darbeye hayiiiiiiir! Darbeyeeee hayir! Darbeye hayiiiiiiiir!!!!

Suara histeris menyatu, seperti membentuk gelombang ganas yang menghantam telingaku. Tapi semakin dalam menyergap tubuhku, gema suara dahsyat itu seperti alunan zikir yang diiringi tiupan Ney di makam Rumi. Bedanya, kali ini tekanan suarasuara itu mereka pekikkan histeris, memancar gelombang tenor yang menghantam semesta. Dan suara-suara itu merasuk di tubuhku dengan getaran yang hebat. Pandanganku buram dan tubuhku berputar, seperti para semazen yang tengah menarikan Sema.

Di tengah gema suara yang terus membumbung memenuhi lapangan Ana Yol dan langit malam ini, aku ikut mengucapkan kata-kata yang sama sekali tak kumengerti maknanya. Darbeye hayiiiiiiir! Darbeye hayiiiiiiir! Darbeye hayiiiiiiir!!!

Baca juga:  Semuanya Lahir Kepada Namanya Sendiri Gus Zainal Arifin Thoha - Malam di Laut Mediterania - Kepada yang Diam

Karena kerumunan massa semakin ganas, Anne lalu menggendongku dengan terus menerobos. Aku bisa sedikit melihat suasana. Sembari menerobos menuju patung, aku berharap bisa menemui Baba bersama kami.

Namun tiba-tiba suara pekikan dan teriakan semakin menggelora. Ada bunyi tembakan berkali-kali terdengar. Tapi kami tidak mundur sejengkal pun. Anne terus merangsek masuk ke ujung kerumunan. Ternyata di hadapan kami ada tank dan tentara yang kalang kabut. Dengan bendera yang tak pernah tertanggal, orangorang melompat ke atas tank. Di hadapan kami ada empat tank. Sebagian orang tiarap tepat di depan roda besi baja itu!

Tank-tank dan para tentara tidak bisa bergerak lebih lebar. Kami memagari jalan mereka. Aku melihat malam ini seperti sebuah pertempuran. Ada yang terjatuh dan darah mulai bermuncratan. Dari arah tank sebelah kiri, orang-orang memapah dua sosok tubuh yang berlumur darah sambil memekik ‘sehit sehit sehit!’ Kami semakin belingsatan. Anne langsung melepaskanku dari gendongannya dan merengkuh salah satu tubuh yang penuh lumuran darah itu. Suara Anne histeris sambil memeluk erat tubuhnya. Aku terdiam kelu menahan tangis.

Di tangannya aku melihat bendera kecil, pegangannya menyala-nyala.

“Ini Baba, anakku!” teriak Anne.

Aku terhenyak. Panik. Bendera kecil hadiah ulang tahunku itu terus menyala di tangannya. Baba tidak melepaskan bendera itu sebelum aku mengambilnya.

Seketika aku jatuh tersungkur.

Bulan sabit dengan bintang kecil itu malam ini ada di tangan Baba! ❑-k 


Konya Turki, 15-16 Juli 2016 

Bahasa Turki 


Darbe : Kudeta 
Anne : Ibu 
Baba : Ayah 
Agabey : Kakak laki-laki 
Kiraz : Pohon cherry 
Bizim bayragimiz iste: Itulah bendera kami «orba : Sup khas Turki dimakan saat makan siang dan makam malam
 «arsamba pazari : Pasar Rabu 
Gozleme : Jenis makanan sederhana dari tepung gandum yang digulung tipis. 
Hayir – evet : Tidak-iya, adalah kata-kata yang biasa diucapkan oleh massa ketika kampanye atau pidato politik di depan publik 
Darbeye hayir : Tidak untuk kudeta 
Darbeye karsi : Menentang kudeta 
Sehit : Syahid, adalah istilah yang umum dipakai. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bernando J Sujibto
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu 21 Agustus 2016