Hikayat Negeri Kunang-kunang

Karya . Dikliping tanggal 31 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

ALKISAH, di sebuah negeri yang tak pernah makmur, hiduplah seorang raja yang kehidupannya sejahtera, bergelimpangan harta dan selalu berhura-hura. Saking tak makmurnya negeri tersebut, kematian rakyat akibat kelaparan sudah menjadi legenda yang kisahnya hinggap ke telinga negeri tetangga. Saban malam, negeri tersebut terang benderang. Bukan, bukan karena penuh dengan kilau lampu. Bagaimana mungkin negeri yang tak pernah makmur tersebut bisa memasok listrik hingga daerah pelosok.

KAU tahu Nak, dari mana sinar terang tersebut berasal? Ya, binar cahaya tersebut berasal dari kunang-kunang hasil metamorfosis mayat-mayat yang setiap hari bergelimpangan. Tak salah jika pada akhirnya negeri tersebut emndapat julukan Negeri Kunang-kunang.
**
AKU tahu, ibuku seorang pendongeng handal. Setiap cerita yang lahir dari lidahnya tak akan pernah jemu disantap telingaku. Bukan hanya olehku yang sudah mengerti sebuah jalan cerita dan telah berhasil menaklukkan aksara di bangku sekolah, bahkan adikku yang masih menyebut kata “mama” dengan terbata pun selalu terhipnotis kalau mendengarkan ibu mendongeng. Rewel dan tangisnya lenyap seketika kala melihat ibu dengan begitu antusias mengisahkan sebuah cerita.
Ya, walau ibu mahir mendongeng, bukan berarti aku menyukai semua kisah yang dilahirkan lidahnya. Ada sebuah kisah yang tak pernah kusukai dari dongeng ibu. Aku selalu tak suka kalau ibu sedang mendongengkang hikayat kunang-kunang.
**
RAKYAT negeri tersebut kerap meneriakkan protes karena sang raja beserta keluarganya hidup bergelimpangan harta di tengah-tengah kesengsaraan rakyatnya. Tapi, apalah daya. Hukum di Negeri Kunang-Kunang tersebut terlalu lemah dan tak berdaya untuk mengusut kejanggalan hidup keluarga raja yang berlimpah ruah kemewahan. Hal tersebut menerbitkan sepucuk curiga di setiap benak rakyat. Seluruh rakyat menebak jangan-jangan ketidakmakmuran negeri ini yang sudah tujuh turunan melanda, disebabkan oleh keserakahan raja yang menyeruput keringat rakyat.
**
KETIDAKSUKAANKU terhadap dongeng ibu yang mengisahkan hikayat kunang-kunang, lenyap seketika. Karena, kini ibu tak lagimengisahkan tentang kunang-kunang yang berasal dari kuku-kuku orang meninggal. Entah apa untuk menakut-nakutiku, atau karena alasan lain, ibu kerap mengisahkan perihal kunang-kunang kepadaku. Entah itu tentang kunang-kunang yang berasal dari seorang ibu yang meninggal dan menemui anaknya agar tak sedih ditinggal pergi. Terus, pernah juga ibu mengisahkan perihal kunang-kunang yang berasal dari kuku seoranng nenek yang meninggal dan menemui anaknya agar tak sedih ditinggal pergi. Terus, pernah juga ibu mengisahkan perihal kunang-kunang yang berasal dari kuku seorang nenek yang meninggal ditabrak lari orang dan menemui orang yang menabraknya agar mengakui perbuatannya. Serta hikayat-hikayat kunang-kunang lainnya yang tak habis ide mengucur dari kepala ibu.
**
KAU tahu, Nak. Kunang-kunang itu hanya berumur satu malam. Ia memanggul sinar di tubuhnya hanya selama putaran waktu pekat. Kala matahari menyapa bumi, ketika itu pula ia kembali ke tanah menemui tuannya, menjelma kembali menjadi kuku. Sama seperti kunang-kunang yang berasal dari kuku-kuku rakyat negeri tersebut yang meninggal akibatkekeringan usus karena tak kunjung juga bersua dengan makanan, mereka pun hanya diberikan umur tak lebih dari dua belas jam. Tak jauh beda dengan kunang-kunang di negeri kita, mereka pun memanfaatkan usia sekejap mereka untuk menemui orang yang paling dicintai.
**

“BU, tahukah mengapa aku tak suka setiap Ibu mengisahkan hikayat kunang-kunang? Seperti kisah yang sedang Ibu ceritakan ini. Kukira ini kisah kunang-kunang yang berbeda. Tapi ternyata sama saja. Mereka hasil jelmaan dari kuku-kuku orang meninggal,” aku memotong cerita ibu yang sudah kutebak akan berakhir seperti apa.

“Memangnya apa yang kamu takutkan dari kunang-kunang? Dari kuku-kukuorang yang meninggal, Nak?” ibu menangkap ketidaksukaanku dengan telisik matanya.
“Bukan perkara kematiannya yang aku takutkan, Bu. Aku hanya tidak menyukai segala bentuk aroma kesedihan. Keterasingan di tempat ini sudah cukup membuatku menjadi anak paling sengsara di dunia. Tak suah lagi ditambah oleh kisah-kisah yang menuai air mata. Lebih baik ibu kembali menceritakan dongeng-dongeng ceria yang bisa melupakanku dari kegetiran hidup ini walau itu hanya sekejap mata,” aku menatap kedalaman mata ibu yang kuyakin di lubuk bola matanyaitu tersimpan rasa pilu yang begitu mahir disembunyikannya lewat dongeng-dongeng ceria yang selalu ia kisahkan kepadaku, kepada adikku, bahkan kepada anak-anak satu kampung.
Ibu membiarkan suasana hening sejenak. Menatapku dengan lamat. Mengusap rambutku dengan lembut. Lantas, membuyarkan keheningan dengan ujarnya, “Kisah ini akan berakhir dengan beda. Kau tak akan bisa menebak akhir kisahnya. Ibu justru sedang menceritakan asal-muasal bagaimana kita bisa sampai ke negeri ini.”
Kukatupkan kelopak mata. Kubuka telinga lebar-lebar untuk menangkap suara jangkrik di tempat pengasingan ini, sebelum kembali mendengarkan kelanjutan kisah ibu.
**
KEMATIAN rakyat Negeri Kunang-Kunang yanng dari ke hari semakin bertambah, membuat dendam tumbuh subur di dada mereka. Bagaimana mereka tidak menanam dendam, kematian setiap harinya tak hanya merenggut satu nyawa, tetapi belasan jiwa. Tak ingin tinggal diam dengan keadaan seperti ini, mereka menjejali kepala mereka dengan berbagai pemikiran bagaimana caranya agar sang raja lekas tumbang dari kursi singgasana. Mereka lebih baik tak memiliki raja ketimbang memiliki penguasa yang tak henti-hentinya menabur gelak tawa di tengah isak tangis rakyat.

Baca juga:  Tentang Kerudung Baru lmpian lbu

Kala itulah, muncul ide tak terduga. Tak ingin kematian mereka berakhir sia-sia, mereka mengikrarkan janji jika meninggal dan kuku-kuku mereka menjelma menjadi kunang-kunang, mereka tak segan-segan akan menyerang istana raja dalam bentuk kunang-kunang. Walau mereka harus merelakan umur yang hanya satu malam tersebut untuk tidak menemui orang-orang yang dicintai.

Puluhan kunang-kunang yang setiap malam bangkit dari pemakaman, menyerang istana raja secara diam-diam. Mereka tak ingin aksi mereka terendus pengawas istana. Keesokan harinya, ketika para kunang-kunang melancarkan aski keduanya, para pengawal istana sudah siap sedia menghalau mereka. Api unggun menyala di setiap sudut pekarangan istana dan dengan bengisnya asap-asap api unggun tersebut membuat dada mereka sesak dan berjatuhan sebelum mencapai istana.

Baca juga:  Seseorang yang Tetap Kunanti

Aksi ketiga, keempat, hingga aksi keseratus mereka selalu berhasil digagalkan para pengawal istana. Tawa raja semakin membahana melihat upaya mereka untuk menjatuhkannya tak mempan. Raga raja masih utuh tanpa tercela sedikitpun. Rakyat Negeri Kunang-Kunang kembali memutar otak. Mereka sadar, jumlah kunang-kunang yang menyerang istana hanya berjumlah puluhan dari kuku-kuku belasan orang yang meninggal setiap harinya. Itu tak akan cukup, bahkan hanya dianggap serangan biasa untuk meruntuhkan istana.

Cara terakhir pun mereka lancarkan. Kala itu, hujan sangat deras, jadi tak akan ada api unggun yang membara di pekarangan istana. Musim penyakit sedang bertandang, para pengawal yang berdiri di jantung pertahanan istana tak maksimal jumlahnya. Saat itulah rakyat Negeri Kunang-Kunang yakin kalau aksi mereka kali ini akan menuai keberhasilan. Mereka sepakat untuk bunuh diri massal hari itu juga.

Baca juga:  Perjalanan Pulang - Garba Cahaya

Malam itu, lautan kunang-kunang dari kuku rakyat yang bunuh diri massal menyerang istana secara membabi-buta. Pengawal istana terkejut melihat serangan kunang-kunang. Aliran listrik dihancurkan terlebih dahulu. Dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh tubuh mereka, para kunang-kunang menggerogoti tubuh sang raja hingga tandas. Seluruh penghuni istana pun tak luput menjadi korban luapan amarah mereka. Semenjak itu, tak ada satu manusia pun yang tinggal di sana. Lenyap tak bersisa. Setiap malam, negeri tersebut selalu terang benderang oleh cahaya kunang-kunang hingga sekarang.

**

IBU menutup ceritanya dengan bulir air mata yang mengaliri pipi. Kerlap-kerlip cahaya kunang-kunang yang diceritakan ibu menyelusup ke kepalaku. Cahaya tersebut mengingatkanku akan seberkas sinar. Sinar yang melahap dengan rakus rumah megahku di tengah kota. Sinar yang berasal dari kemarahan rakyat karena kecurigaan mereka kalau ayah yang memimpin kota ini, bermain-main dengan keringat rakyat telah terbbukti. Tapi, mereka tidak menerima hasil sidang yang memberi hukuman kurungan terhadap ayah tak lebih dari sepuluh tahun lamanya. Dan alhasil, rumah megahku itu menjadi korbannya.

Sinar itu pula yang membawaku ke tempat pengasingan ini. Ke rumah nenek yang berada di sebuah kampung pelosok. Sebuah pemukiman di ujung peta. Itulah alasan utama yang tak pernah kuungkapkan kepada ibu mengapa aku selalu tak menyukai dongeng-dongeng tentang kunang-kunang. Karena hikayat kunang-kunang selalu mengingatkanku kepada sinar itu. Sinar yang telah membuat aku kerap berdoa agar ayah mendekam selamanya di dalam penjara!***

Garut, 2014-2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sandza
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 28 Agustus 2016