Ladang Ubi

Karya . Dikliping tanggal 29 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
Ini adalah sebuah ladang di mana rumput-rumput liar mencuat di antara pagar hidup, di antara semak ubi jalar dan bonggol-bonggol jagung yang siap panen. Udara dingin dan lembab. Lima ekor kambing menunduk, seperti mesin penyedot ajaib yang dengan cepat menipiskan rumput-rumput yang tebal. 
Gadis itu duduk di bawah pohon Ki Hujan yang batangnya licin berlumut. Ia menyelempangkan jarit motif batik di lehernya seperti mengenakan sebuah syal. Sementara tangannya tak henti-henti mengetukkan sebatang bambu kurus sepanjang satu meter ke sebuah batu yang meringkuk mirip cangkang penyu. Tanpa sebatang bambu kurus itu, tangannya seperti kehilangan daya. Sebatang bambu itu biasa ia gunakan untuk menghalau kambing-kambing yang serampangan meyerobot ladang orang. 
”Sudah lama?” suara berat seorang lelaki mengagetkannya. Lelaki itu mengenakan celana panjang yang dipotong serampangan sebatas lutut, kepalanya tertutup topi polos berwarna cokelat-mungkin warna aslinya putih. Satu tangannya menggenggam alat penyabit rumput dan satu tangannya yang lain mencangking karung kosong. 
”Lumayan,” gadis itu menoleh sebelum pandangannya kembali ke kambing-kambing. 
Lelaki itu duduk di sebelah si gadis. Terdiam di situ. Angin awal musim hujan berhembus sekilas, menggugurkan daun-daun Ki Hujan yang mungil mirip potongan-potongan kertas yang disemburatkan di pesta-pesta. 
Bagi gadis itu, sejak awal, tempat ini sudah sangat asing. Namun, ia bertekad untuk tetap bernapas, meski hari-harinya terperangkap di antara ladang dan kandang, di antara basah rumput dan udara dingin yang terus memagut. 
Ketika usianya menapak tujuh tahun, ketika ia tak mengerti akan banyak hal, seorang kerabat jauh yang tak punya anak membawanya ke tempat ini. Ibunya menyerahkannya begitu saja, seperti menyerahkan baju usang yang tak dipakai. Ketika ia mengingat kejadian itu, ia selalu menyalahkan ibunya, ia membenci ibunya, meski di relung hatinya yang lain, ia sangat merindui ibunya. Juga adik-adiknya. Juga kampung halaman yang pelan-pelan mulai lenyap dari ingatannya. Kerabat jauh itu mengatakan, bahwa ia akan disekolahkan dan dianggap sebagai anak sendiri. Bocah perempuan istimewa yang akan selalu ia jaga. Si kerabat jauh bersumpah atas itu. Hingga ibunya melepasnya. Namun, tahun-tahun dan kejadian berkata lain. Si kerabat jauh malah pergi, menyusul mati dua lelaki yang pernah ia nikahi dan tak pernah memberinya bayi. Dan meninggalkan gadis itu untuk hidup sendiri. 

Terkadang, gadis itu berpikir, kerabat jauh datang dan mengambilnya hanya untuk satu: memasukannya ke dalam lubang kutukan. Semenjak kematian si kerabat jauh, gadis itu hidup menumpang dan jadi benalu di rumah kerabat dari kerabat jauh. Bertahun-tahun ia menjadi babu kecil yang harus mengerjakan ini itu, sementara bocah-bocah lain pergi untuk belajar di sekolah. Dan beberapa tahun terakhir ini, ia malah beralih menjadi pengurus ternak. Ia harus menerima itu, sebagai balas budi karena ia telah diberi makan dan tempat tidur. 

Baca juga:  Hantu Pelakor
Kini usianya telah 16 tahun. Betapa banyak hal-hal tak lumrah yang ia lewati di tanah asing ini. Rasanya, tak seorang pun peduli padanya. Hanya beberapa lelaki yang meliriknya lantaran tubuh yang mulai mekar dan paras yang menumbuhkan bibit-bibit jelita. Satu-satunya orang yang peduli padanya, melakukan banyak hal dengan tulus padanya, hanya lelaki itu. Lelaki yang kini duduk di sampingnya. Sama-sama pengurus ternak. 
”Bukankah seharusnya kau mulai merumput, keranjangmu masih kosong,” bisik gadis itu tanpa mengalihkan tatapannya dari kambing-kambing. 
”Entah kenapa, hari ini aku malas sekali,” balas lelaki itu. 
”Kalau kau malas, kambing-kambingmu akan mati kelaparan.” 
”Tidak juga, rumput kemarin masih separuh lebih.” 
”Lalu kenapa mau repot-repot pergi ke ladang?.” 
”Menemanimu.” 
”Kambing-kambing itu sudah menemaniku. Mereka lumayan setia dan tak macam-macam.” 
Lelaki itu tak menimpali, matanya turut menerawang ke kambing-kambing yang bagai tak pernah kenyang itu. Keduanya hening sejenak. Di kejauhan, di cakrawala yang hening, mendung berakak. 
”Entah kenapa pagi ini begitu murung?” gumam lelaki itu seperti bicara pada dirinya sendiri. 
”Aku sudah terbiasa, aku sudah banyak melewati tahun-tahun yang murung.” Tak usah diceritakan, lelaki itu tahu dengan baik. 
Kambing-kambing berjalan bergeser mendekati ladang ubi, mereka mulai mencokot daun-daun ubi muda itu dengan tergesa. 
”Kambingmu!” pekik lelaki itu. 
Dengan sigap, gadis itu berdiri dan menghalau kambing-kambing itu dengan tongkat bambu kurus di tangannya, ”syuh… syuh… jangan makan yang bukan hakmu.” 
”Itu yang kau bilang teman setia, suka menyerobot ladang orang,” pekik lelaki itu lagi. 
”Mereka hanya kambing,” balas gadis itu sambari berjalan kembali ke bawah pokok kaki Ki Hujan, ”mereka kan cuma kambing,” ulangnya, ”lagipula mereka mudah diatur kok!” 
”Kau memang ahlinya mengatur kambing.” 
”Sayangnya, bahkan aku tak bisa mengatur hidupku sendiri,” ujar gadis itu tiba-tiba tampak sedih. 
”Eh, di lereng jalan menuju sungai, kulihat rumputnya gemuk-gemuk, sebaiknya kau ke sana,” ujar gadis itu lagi. 
”Sudah kubilang aku sedang malas merumput.” 
”Ya sudah, terserah.” 
Keduanya hening sejenak. 
”MmmÖ apa suatu saat nanti kau akan pergi dari kampung ini?” Tiba-tiba lelaki itu bertanya, membuat si gadis mengernyitkan dahi. 
”Tentu saja, aku harus. Aku sudah mulai menabung untuk mencari jalan pulang. Aku tak sekolah, aku tak pandai membaca. Dan karena itu, aku butuh uang yang banyak untuk sampai ke kampung halamanku.” 
Lelaki itu tampak semakin murung. 
”Kenapa kau tanyakan itu?” gadis itu balik bertanya. 
”Tidak. Aku hanya ingin mendatangi tempat lain. Meski aku lahir di kampung ini, tapi menurutku kampung ini terlalu terpencil, terlalu sunyi, dan terlalu dingin.” 
”Kau aneh,” timpal si gadis. 
”Aneh kenapa?” 
”Ya, aneh, Orang kan harusnya merasa tenang kalau berada di kampung lahir mereka. Kampung lahir itu seperti ibu. Seperti rumah. Orang-orang ingin pulang ke pangkuan ibu, ingin balik ke rumah, dan kau malah ingin pergi. Kan aneh?” 
Betapa tak ada yang memahami. Tak pula ada yang ingin menyampaikan, bahwa lelaki itu hanya tak ingin jauh dari gadis itu. Lelaki itu tahu betul, semenjak mengenal gadis itu, gadis itu tak pernah bahagia. Ia hidup seperti sebuah mesin yang tak henti-henti bekerja. Ia seperti bukan manusia. Sampai-sampai, hatinya seperti kebas dari getar-getar dan perasaan yang hangat lelaki itu hanya ingin membuatnya bahagia. Ia hanya ingin membawanya pergi dari kampung ini. Kampung asing yang tak pernah ingin didatangi gadis itu. Ia rela membahagiakan gadis itu, bahkan jika ia harus pergi meninggalkan kampung ibu. Lelaki itu hanya, tak bisa mengutarakannya. 
”Apa kau pernah jatuh cinta?” lirih lelaki itu lagi. 
Gadis itu seperti tak mendengar apapun, ia hanya terus memandangi kambing-kambing. Dunia gadis itu hanya ladang dan kandang, hanya rumput dan udara dingin yang memagut. Baginya, ‘jatuh cinta’ adalah kata-kata yang datang dari dunia lain. Jauh. Asing. Serupa kampung yang mendekam dan terhimpit bukit ini. ❑ – g 
Malang, 2016 
*)Mashdar Zainal, lahir di Madiun, 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Kini bermukim di Malang. 


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu, 28 Agustus 2016