Nama Ibuku: Nates!

Karya . Dikliping tanggal 23 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
AKU masih saja bengong di bangku kelas. BU Guru Sasa memberiku tugas paling menakutkan pada pelajaran Bahasa Indonesia kali ini, menulis puisi tentang ibu. Apa yang akan kutulis. Aku letakkan alat-alat tulisku. Aku bergegas pergi.

“Saya mau ke belakang, Bu.”

“Tapi jangan lupa. Kau harus menulis puisi yang terbaik!”

Aku hanya menganggukkan kepala tidak yakin. Aku pergi dengan menahan detak jantung yang tidak seperti biasanya. Cepat penuh amarah. Kubanting pintu kamar mandi sekolah. Bunyi  gelegarnya mengagetkan diriku sendiri.

Di kamar mandi aku bengong. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku hanya memandangi wajahku sendiri dalam-dalam di cermin kotor yang retak. Seretak wajahku sendiri. Aku pun teringat pertanyaan yang selama ini tidak ada jawabannya.

“Ibuku siapa?”

Saat kecil, pertanyaan ini berulangkali kutanyakan pada bapakku. Namun jawaban bapakku hanya kemarahan saja. Selalu bilang, “Ibumu sudah mati!” Dan terakhir kali aku bertanya, bapakku malah balik mengancamku, “Jika kau tanya Ibumu lagi, kau akan kubuang ke sungai.” Aku yang saat itu maish kecil mendadak ketakutan. Sejak saat itu aku tidak bertanya lagi siapa ibuku.

Tanpa sepengetahuan bapak, aku pun memburu jawaban pada kakekku. Kakekku lebih ramah dari bapakku. Setiap kali kutanya siapa ibuku, maka kakek akan bercerita tentang masa anak-anaknya. Dan dalam ceritanya itu, sama sekali tak ada jawaban soal siapa ibuku. Kakek hanya ingin mengalihkan pertanyaanku saja. Lama-lama aku pun bosan. Aku tidak mau bertanya lagi pada kakek.

Tapi, pada suatu hari, kakek menghampiriku. Dia duduk di sampingku yang sedang melamun soal ibuku.

“Kau ingin tahu siapa Ibumu, Odik?”

Aku hanya menganggukkan kepala.

“Ibumu itu tidak ada di rumah ini. Rumah ini hanya untuk laki-laki, Odik. Coba lihat, siapa penghuni rumah ini? Hanya Bapakmu, Pamanmu, Kakek, dan kau. Jadi, sudah takdir kita tidak punya perempuan sebagai Ibu. Jadi terimalah ini semua.

Baca juga:  Kepada Siapakah Dia akan Menyusu?

Setelah memberi penjelasan itu, aku sudah tidak mau bertanya lagi pada kakek. Kakek sepertinya terlalu sakit jika kutanya ibuku. Jalan terakhir adalah bertanya pada paman. Tapi paman yang pemabuk itu tidak bisa diharapkan. Aku pernah bertanya padanya, siapa ibuku? Paman hanya marah dan berkata menyakitkanku.

“Ibumu itu setan.”

Aku ngeri mendengarnya. Sebab waktu itu aku masih anak-anak. Sampai sekarang aku duduk di bangku SMA, aku belum tahu siapa ibuku.

Aku hanya mendengar kabar-kabar omongan dari tetangga, bahwa ibuku meninggalkanku begitu saja saat aku terlahir. Ada juga yang bilang, aku anak yang diambil dari jalanan. Ada yang bilang, aku anak yang ditemukan di sungai sebelah rumah. Dan ada yang bilang aku anak setan yang tiba-tiba ada di kamar bapakku.

Bayangan itu semua membuat kepalaku berputar. Napasku terengah-engah. Bu guruku membuka luka dalamku yang sedang coba kukubur dalam-dalam. Satu-satunya nama yang kuingat dan selalu tertulis di formulir sekolahku, ibuku bernama Nates. Dan adakah yang tahu, Nates itu aku yang menulisnya dengan sembarangan saat duduk di bangku SD. Saat guruku bertanya siapa nama ibuku, sebab aku tak mengisinya di lembar formulir. Saat itu aku teringat pamanku yang mengatakan ibuku itu setan. Aku pun membalik kata setan itu menjadi nates untuk nama ibuku. Sempurna tapi sekaligus menyakitkan.

“Iya, ibuku Nates. Aku akan menulis puisi soal itu, Bu Guru. Agar kau puas dengan tuntutanmu untuk menulis terbaik pada pelajaran kali ini,” kataku marah dalam hati.

Aku segera keluar kamar mandi. Aku kembali membanting keras pintu. Lari menuju kelas karena sudah tidak tahan menuliskan puisi terbaik hari ini. Aku bergegas masuk. Aku langsung lari menuju tempat dudukku. Aku buka lembaran kertas tugas menulis puisi singkat: Ibuku, Nates!


Aku segera kumpulkan puisiku dengan puisi teman-teman lainnya. Aku letakkan di bagian tengah, Agar tidak ketahuan bu guru. Sebab bu guru terlalu berharap banyak padaku, kalau aku akan menulis puisi yang bagus seperti biasanya. Puisi-puisiku sudah banyak menghias media massa dan memenangi lomba menulis. Tapi, bu guru tidak tahu, bahwa dari ratusan puisi yang kutulis, aku tidak berani menulis puisi ibu. Sebab ibu bagiku bukan puisi yang indah. Tapi penderitaan yang selalu membuatku marah.

Baca juga:  Serpihan Kertas Awi

Aku pun bergegas pulang usai pelajaran bahasa Indonesia di jam pertama. Aku membolos. Sebab sekolah dan pelajaran hari ini telah mengecewakan dan melukaiku. Aku berharap semoga bu guru akan kecewa dengan puisiku. Seperti aku kecewa dengan dia yang telah menugaskanku menulis puisi tentang ibu. Aku terus melangkah pulang. Aku ingin segera melupakan luka ini dengan berendam di sungai yang mengalir di samping rumahku. Sungai yang katanya tempat aku ditemukan oleh bapakku.

Ya, tidak ada orang yang tahu, jika pada suatu malam saya pernah mendengar suara perempuan aneh yang berbisik padaku melalui mimpi. Mimpi yang kuperoleh dari tidur melelahkan setelah aku seharian di sekolah diejek teman-temanku bahwa aku anak jalanan. Ejekan yang menyakitkanku. Ejekan yang membawaku pada halusinasi tentang ibuku.

Dalam mimpi yang aneh itu, aku mendengar suara perempuan yang berbalut kegelapan. Suara perempuan yang berkata pelan, “Kau anak yang ditemukan di sungai… di sungai… di sungai.”

Karena saat itu aku masih kecil. Aku pun jadi begitu terobsesi dengan sungai. Sejak saat itu aku selalu mandi di sungai. Mandi seraya mencari ibuku. Tapi, aku tak menemukan juga. Sampai akhirnya aku yakin bahwa ibuku sungguh-sungguh tak ada, tetapi ada karena telah melahirkanku. Iya, ibuku seperti setan rasanya.

Baca juga:  Tanah Airku - Lampu Kota dan Kebisingan - Kepada Solo

Sejak saat itu, aku merasa menemukan kedekatan dengan sungai. Setiap kali aku terluka karena pertanyaan soal ibu. Terluka karena diejek dengan ibu. Aku pun akan merendamkan tubuhku di sungai itu. Sekadar untuk mengobati luka yang selamanya tak akan pernah sembuh. Dan hari ini, aku akan melakukan ini. Demi mengobati luka karena guruku.

Dan aku yakin, Bu Guru Sasa akan kecewa terhadapku. Karena aku tak bisa menulis puisi yang bagus seperti biasanya. Atua bisa jadi Bu Guru Sasa akan terpukau dengan  puisiku. Sebab Bu Guru Sasa pernah bilang padaku bahwa ia pernah kehilangan anak lelaki pertamanya yang meninggal saat dilahirkan. Dan saat Bu Guru Sasa berbisik seperti itu, aku membayangkan bahwa anak lelaki  Bu Guru Sasa tidak meninggal, tetapi diculik oleh setan, yang kemudian diletakkan di pinggir sungai ini. Di sungai itulah bapakku menemukannya. Aku segera merendamkan diriku di sungai. Menghayati muasalku.

“Maafkan aku, Bu Guru Sasa. Untuk kali ini aku mengecewakanmu. Telah menulis puisi begitu indah tentang Ibu. Semoga kau mengerti.” ❑ (k)

Heru Kurniawan: Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto. Tinggal di Wadas Kelir RT 7 RW 5 Purwokerto Selatan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Heru Kurniawan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 21 Agustus 2016