Sayap yang Hampir Patah

Karya . Dikliping tanggal 23 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

OMBAK petan ini masih ombak yang kemarin. Menari dan menghempas mimpi yang sempat kutulis di atas pasir. Tapi bukan aku jika aku lupa menulis kembali ketika ombak beranjak ke tengah laut. Hilang. Ombak kembali ke tepian. Mimpi yang kubangun bagai sayap yang hampir patah.

Ombak petang ini masih ombak yang kemarin. Menari dan menghempas mimpi yang kutulis di atas pasir. Tapi bukan aku jika aku lupa menulis kembali ketika ombak beranjak ke tengah laut. Hilang. Ombak kembali ke tepian. Mimpi yang kubangun bagai sayap yang hampir patah.
Lima meter. Masih dapat kupandang geraian ombak itu. Dan aku terbiasa memaku di teras yang hampir merapuh. Itu aku, anak yang duduk dengan pandangan hampa menunggu ayah yang tak pasti kembali dari cengkeraman hidup. Dan menunggu ibu yang mungkin saja akan pulang. Aku masih terpaku atas kehidupan ini, indah tak bermakna. Hampir patah tapi entah kapan jatuh. LIhat juga dapur yang hampir mencium tanah itu. Aku masih melihat diriku hampir tersungkur tiap kali mengembus bara yang kian meredup.
Pahit. Manis. Aku tak banyak berkata. Kala senja aku tetap terpaku menanti di sini dan terus begini. Aku hampir menyerah kala itu. Lihatlah diriku yang lusuh yang hanya mampu menjangkau luas dunia ini sejauh lima meter dari teras rumah. Tapi aku mampu melihat laut yang hampir tak bertepi.
“Janga, hari lah sanjo.” Suara itu alarm yang tak pernah ku lupa. Mak Tiram, janda renta itu hampir sama sepertiku hanya saja ia lebih mampu menjalani hidup lebih baik. Aku menganggap suaminya salah arah ketika melaut. Aku selalu beranjak ketika suara itu berteriak kecil mengarah ke laut dan selalu kupandangi wajah letih Mak Tiram usai bekerja seharian sebagai tukang cuci. Setidaknya ketika malam aku tidak merasa sendiri, Mak Tiram selalu bertandang ke teras gubuk peninggalan orang tuaku ini untuk bercerita. “Yang ka dinanti urang yang ka babaliak, yang indak cukup dikana jo lah.”
Hampir setiap malam ia memulai petuahnya dengan kalimat itu. Entah penyesalan atau penghibur hati, yang kutahu Mak Tiram mencoba tegar dan menurutnya aku juga harus begitu.
Aku memandang diriku yang menangis ketika nenek mengembuskan napas terakhir. Anak usia 6 tahun yang belum mengerti pahit hidup sebenarnya. Sekolah pun terpaksa berhenti, untungnya baca tulis dapat aku kuasai. Ibu yang pamit merantau, ingin mengubah kehidupan dan masa depanku tinggal harapan manis yang hambar. Ayah yang pamit melaut bernasib sama dengan suami Mak Tiram, kompas mereka menunjukkan arah pulang yang salah.
Sejak itulah Mak Tiram menjadi guru kehidupan yang tak bergelar bagiku. Sabar menantiku bangun dari tidur panjang yang melelahkan. “Awak jang, kau indak bajalan indak tau wak caro mailak’an batu ketek.” Aku masih melihat diriku yang masih termangu dan menyenderkan dagu pada lutung yang lusuh. Aku tak ingin bercerita bagaimana kehidupan ini seakan-akan menghempaskanku pada batu dan memecahkan harapanku. Menyerpih.
Aku masih memandang, teralhir kali Mak Tiram mendatangiku yang termangu di teras bambu yang seribu kali hampir kukatakan merapuh ini. Itu aku yang berusia 7 tahun. “Jang, iko bakal untuak bisuak, Pailah. Jan pulang sabalum tarompa baganti.” Aku hampir lupa bercerita ingin kemana, Pak Haji Miskin yang tinggal di kota pulang menjenguk saudaranya dan mengajakku serta ke kota meninggalkan gubuk yang menua di usia mudaku. Usia muda dan menjadi buruh penimbang gula pasir.
Aku masih mamandang diriku yang letih di tengah unggukan gula yang manis hingga terhampar kembali mengenang masa kecil yang singkat itu dan amat meletihkan. Tapi setidaknya aku tak pernah lupa untuk bermimpi. Kenapa aku harus menceritakan kepahitan menimbang gula yang manis yang akan memicu air mata hambar ini mengalir. Tak perlulah.
Bagiku membayangkan gula yang memang manis itu akan lebih baik. Aku juga kembali memandang gudang yang menjadi tempat peraduan letih dan sepinya kehidupanku. Aku pernah bermimpi itu adallah rumahku yang penuh akan barang mewah.
Meja dan kursi indah di ruang tamu, tempat tidur yang nyaman dan dapur yang bersih. Dan lihatlah jendela belakang menawarkan keindahan kebun kecilku yang rindang. Aku buka mata, sementara bantal, selimut, satu piring, sendok dan gelas plastik serta lemari kecil masih setia mengisi ruang tempatku bernaung itu.
Apakah aku terlalu lama meninggalkannya, hingga Mak Tiram tak lagi dapat kutemui. Banyak cerita iang ingin kubagi dengan beliau. “Tarompa ujang lah baganti Mak Tiram, Ko tarompa ujang bao’an untuk Mak Tiram.” Itulah aku yang kini benar-benar berdiri di atas batu yang menahan hembusan gelombang. Dan setia mendengar teriakanku yang terurai angin berhembus.
Tarompa yang kubawa ternyata tak bisa dipakai oleh kaki renta Mak Tiram. Mak Tiram hanya butuh sebongkah batu nisan untuk menuliskan namanya di atas rumah barinya.
Aku pulang.***
Rujukan:
[1] Dislain dari karya Meldiya Reza
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” edisi Minggu 21 Agustus 2016