Kabung – Kubang

Karya . Dikliping tanggal 25 September 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Arsip Puisi, Koran Lokal, Minggu Pagi

Kabung I

Seperti jarum pada waktu
kita bersatu dlaam sebentar
setelahnya tinggal jejak bisu
menyisa kenangan terlantar
angka-angka yang mengepung
membikin aku kau terkungkung
hingga sisa-sisa rencana 
menjelma tujuan sia-sia

Kabung II

Untuk kesekian,
ketika usia repak, menelusup ke arah entah
tertinggal cuma hening buncah
sementara jarum jam terus mengejar
angka-angka usia yang usai dan sia-sia
Siapa yang sebenar tinggal dan ditinggalkan?
Antara rencana-rencana berantakan
senyap sunyi ngintil di sela selangkangan
waktu jadi suara lain, acapkali terpilin
oleh kemabukan dunia beraroma bacin
Maka kutiupkan nada paling
sederhana, suara sukma dari palung
samudra, muara alir alur perjalanan
nuju pangkuan akhir titian

Kabung III

: slamet riyadi sabrawi
Kemerdekaan telah mendatangimu
sebagai hadiah yang sebenarnya
Keluh kesah keluar dari kata
menjadikan kenyataan sempurna
Hingga lilin-lilin kecilmu terus 
menyala melebihi putaran usia
Tibalah saat perjumpaan
dengan semua binatang yang gagal terselamatkan
dengan puisi-puisi yang gigil terselimutkan
dengan kekasihmu yang tunggal tersematkan
Sampai jumpa pula di dunia entah
galilah sumur dengan segera
agar kau bisa berkunjung menumpang mandi
Sebab sumur di ladnag tempat kita diskusi, 
ditimbuni kota
yang diizinkan penguasa menjulang ke angkasa
Kemerdekaan telah menjemputmu
sebagai kepastian tak terelakkan
Dan kepulangan jadi diksi puisi
yang bagimu bagiku tak mungkin
dihindari
Yogya, Agustus 2016

Kubang

Selalu ada yang menjejak di balik hari-hari sia
Lika laku nyisa tanda, luka lahir dari tindak leka
Maka diri perlu berlari, melesat, tinggalkan sedu sedan
sebab kehidupan di depan, berjalan, jawaban
segala pertanyaan
Dan doa tidka cukup sakti jika pikir dan langkah terhenti
dalam kerangkeng tata warna, kanvas harus digoreskan
bagi sisa usia yang terus dirahasiakan
Selalu ada yang menjejak dalam penyesalan
dan racun masa silam, tindaklah jadi penawar
meski tahu, semua tak lesap, tetap perlu dibayar
Yogya, 2016



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Iqbal H Saputra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 25 September 2016