Misteri Lukisan Jaka Sungging

Karya . Dikliping tanggal 17 September 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerpen Lawas, Majalah, Majalah Bobo
SEMUA penduduk desa mengakui kehebatan Jaka Sungging melukis. Hasil karyanya indah sekali, seperti aslinya. Banyak orang yang mau membeli lukisannya dengan harga mahal. Kepandaian menggambar Jaka Sungging bahkan terkenal sampai ke istana prabu.
Suatu pagi, Jaka Sungging bangun dari tidurnya. Ia sangat terkejut melihat rumahnya berantakan! Dan semakin kaget saat tahu lukisan kucingnya lenyap! Hatinya bergemuruh, giginya gemertak menahan marah, “Aku harus melapor pada Gusti Prabu. Aku yakin Gusti Prabu yang bijaksana itu bisa menangkap pencuri lukisan kucingku!”
Dalam perjalanan ke kota raja, ia melewati pasar yang sangat ramai. Di depan gapura pasar ada penjual lukisan yang dikerumuni orang banyak. Lukisan yang dipajang berwarna-warni. Salah satu di antaranya tampak lukisan kucing! Persis dengan milik Jaka Sungging yang hilang. Jaka Sungging langsung menghampiri penjual lukisan itu.
“Dari mana kamu dapat lukisan kucing ini?” tanya Jaka Sungging sambil mengamati lukisan itu.
“Kamu ini bagaimana! Ini kan lukisanku!” ujar penjual lukisan tersinggung.
“Tapi ini persis lukisanku yang hilang tadi malam.”
“Kamu menuduh aku pencuri ya?”
Pertengkaran Jaka Sungging dan penjual lukisan menarik perhatian orang-orang. Akhirnya Jaka Sungging dan penjual lukisan itu dibawa ke istana raja. Sang Prabu yang bijaksana diharapkan bisa menyelesaikan masalah itu.
“Benar Gusti Prabu. Lukisan kucing itu betul milik hamba yang hilang tadi malam,” Jaka Sungging menyembah hormat.
“Hamba juga benar, Gusti Prabu,” sambung penjual lukisan. “Ini asli lukisan hamba sendiri.”
Sang Prabu belum memberikan jawaban. Diamatinya lukisan kucing yang ada di tangannya. Dirabanya perlahan-lahan sehingga terasa halus kasarnya cat yang menempel di kanvas.
“Jaka Sungging!”
“Hamba Sang Prabu,” jawab Jaka Sungging tunduk.
“Sudah lama aku dengar kabar tentang kepandaianmu melukis. Orang-orang di kerajaan ini sering membicarakanmu,” ujar Sang Prabu pada Jaka Sungging. “Tapi aku juga tak menyangkal kalau kamu pun pandai menggambar,” Sang Prabu menoleh pada penjual lukisan.
“Iya benar Gusti, benar,” jawab si penjual lukisan tersenyum bangga.
“Apa betul gambar kucing ini lukisanmu?”
“Benar, Gusti! Coba Sang Prabu perhatikan. Di pojok kanan bawah ada tanda tangan hamba. Surogambar!”
Di pojok kanan bawah memang terdapat coretan bertuliskan Surogambar. Jaka Sungging lemas. Dia baru ingat kalau lukisan kucingnya belum ia beri tandatangan. Wajah Jaka Sungging pucat seketika. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi pakaiannya. Ia takut menghadapi kemurkaan Sang Prabu!
“Jaka Sungging.”
“Hamba Sang Prabu,” jawab Jaka Sungging gemetar.
“Jaka Sungging … kapan kamu melukis gambar kucing ini dan bagaimana caranya?” tanya Sang Prabu.
“Gusti Prabu … supaya hasilnya kelihatan seperti aslinya, kucing saya taruh di atas meja. Hamba amat-amati beberapa saat, baru mulai melukisnya. Hamba melukis di siang hari, sebab kalau malam hari dapat merubah coraknya,” Jaka Sungging mencoba menerangkannya.
“Jadi jelas kamu menggambar di siang hari?”
“Benar Sang Prabu.”
“Lalu kamu Surogambar …. Kapan kamu membuat gambar kucing ini dan bagaimana caranya?”
“Sama seperti anak itu, Sang Prabu,” jawab si penjual gambar angkuh. “Kucing hamba taruh di atas meja lalu hamba mulai menggambarnya dengan teliti. Namun karena siang hari hamba jualan, hamba melukisnya di malam hari.”
“Jadi jelas kalau kamu menggambarnya di malam hari?”
“Benar, Sang Prabu. Hasilnya kan sama dengan aslinya.”
Sang Prabu mengangguk dan tersenyum lega. Lalu memerintahkan prajuritnya untuk menangkap Surogambar dan memasukkannya ke dalam tahanan.
“Sang Prabu! Mengapa hamba yang ditangkap? Apa salah hamba?” Surogambar berontak berusaha melepaskan diri dari tangan para prajurit.
“Surogambar, kamu bisa menipu siapa saja. Kamu bisa menaruh namamu di lukisan ini agar semua orang percaya padamu. Tapi kamu tak bisa mengelak dari kenyataan,” jawab Sang Prabu pelan tapi berwibawa.
“Kenyataan apa, Sang Prabu?” tanya Jaka Sungging yang mulai lega.
“Surogambar berkata bahwa cara ia menggambar, sama dengan Jaka Sungging. Bedanya, Surogambar menggambar di malam hari, Jaka Sungging di siang hari. Kalau kuteliti lukisan ini, maka ini pasti lukisan Jaka Sungging yang hilang. Dan Surogambar adalah pencurinya.”
“Mengapa bisa begitu, Sang Prabu?” sergah Surogambar tak puas.
“Coba perhatikan! Mata kucing di siang hari, tidak sama dengan di malam hari. Mata kucing di lukisan ini tidak kelihatan penuh. Hampir segaris. Jelas kalau kucing ini digambar di siang hari!” jawab Sang Prabu arif.
Surogambar lemas. Gara-gara mata kucing, kebohongannya terbongkar. Jaka Sungging tersenyum lega. Gambar kucing kesayangannya akhirnya ditemukan. Sang Prabu bahkan mengangkatnya menjadi pelukis istana. ***
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Joko Catur Samsudi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Majalah Bobo” nomor 50 Tahun XXVII 16 Maret 2000