Mukidi

Karya . Dikliping tanggal 5 September 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
MUKIDI adalah manusia tipe pantang menyerah. Di usia nyaris kepala lima, sudah banyak pertarungan hidup yang dia hadapi, mulai dari buruh perusahaan, bisnis, nyaleg, sampai hidup berkesenian. Jatuh dan bangun membuatnya makin tangguh. Bukan Mukidi kalau menyerah pada nasib. 
Begitulah. Setelah kalah dalam pemilu dua tahun lalu, ia menggelandang ke Kalimantan. Di sana menjadi karyawan di sebuah perusahaan batu bara. Begitu nasibnya baik dan rezekinya menanjak, buru-buru batu bara ambruk. Ia ikut ambruk. Mukidi pindah haluan menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit milik perusahaan Malaysia. Bekerja pada pemodal asing di tanah sendiri, seperti hidup di sangkar emas. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus memberi makan anak-istri. 
Beruntunglah orang yang pintar ngomong. Tak selang lama bekerja, bos memercayainya menjadi mandor. Mukidi membawahi puluhan pekerja di atas perkebunan seluas ratusan hektare. Ia tahu bagaimana menyulap hutan pedalaman Kutai Kartanegara menjadi perkebunan. Membakar, membabat, dan membiarkan untuk beberapa saat. Ia paham suku Dayak Kenyah yang sebelumnya hidup berpindah-pindah di pedalaman di antara sungai Mahakam, dipaksa hidup menetap di sebuah “wilayah buatan”, bernama Kampung Lekaq Kidau. Baginya, miris dan mengenaskan. Tapi mau bagaimana lagi, ia bukan laki-laki pengecut yang membiarkan anak-istri tak terurus.

“Mukidi, besok kalau kamu kawin, jangan sekali-kali kau telantarkan anakistrimu,” pesan simbah putri saat Mukidi lajang.

“Nggih, Mbah.”

“Kalau kamu sampai membiarkan mereka kelaparan, tempatmu di kerak neraka.”

“Nggih, Mbah.”

“Jangan seperti bapakmu. Ibumu jumpalitan cari duit. Lihat wajahnya, tua tak terawat.”

“Nggih, Mbah.”

Oleh sebab nasihat simbah putrinya yang dihamburkan berkali-kali, berulang-ulang di tiap kesempatan, Mukidi pun mencintai anak-istri sepenuh jiwa dan raga. Ia adalah tipe suami-bapak pekerja keras.

Baca juga:  Magena

Tapi, mungkin nasib Mukidi memang ditakdirkan mendapat dera cobaan. Nasib baiknya bersama perusahaan perkebunan kelapa sawit kandas begitu kasus pembakaran hutan (yang sebetulnya sudah bertahun-tahun dilakukan), tahun lalu tiba-tiba ramai di tivi-koran dan ditetapkan menjadi bencana nasional. Mukidi menjadi buronan perusahaan untuk turut bertanggung jawab. Keputusan pun diambilnya: Ia sekeluarga harus pulang ke Jawa.

Berbekal sisa-sisa rezeki hasil perjuangan, Mukidi membeli sepetak rumah tipe dua-satu di pinggiran kota Yogyakarta. Sumber rezeki apalagi tumbuh di sini kalau bukan di ladang kesenian? Yang penting dapur ngebul. Maka, beberapa teman ditemuinya. Ia bersilaturahmi kepada Faruk Tripoli, kritikus jenius dari UGM, yang meskipun tidak akrab, tapi nekat berkunjung. Mukidi menemui Ong Hari Wahyu, pinisepuh Kampung Nitiprayan. Mukidi juga menemui Jayadi Kastari, Redaktur yang mbaureksa Kedaulatan Rakyat. Di satu hari lain, ia singgah di rumah Hairus Salim, juragan penerbitan yang dekat dengan orang-orang LSM. Beberapa kali bertandang ke tempat kerja Brotoseno, seniman teater rakyat yang kini menjadi juragan hotel, bisnis peternakan, dan membawahi SAR provinsi.

Ada banyak lagi seniman-budayawan dikunjunginya. Tujuannya tentu saja membuka peluang pekerjaan yang bisa dikerjakan. Hasilnya cukup lumayan. Pertama, ia diminta pentas ketoprak yang dibayar dengan duit Danais. Lima belas kali latihan dihargai tujuh ratus ribu rupiah. Tak selang berapa lama, ikut pentas teater menjadi aktor dengan bayaran sama. Pentas kedua ini tak hanya lumayan sebab ia turut dalam tim supervisor. Ia juga mendapat duit yang banyak dengan menggarap artistik panggung. Hasil “kerja” ini adalah sebuah sepeda motor bebek baru.

“Mukidi pancen tak punya malu, Mas. Apa-apa mau diuntalnya,” kata Eko Nuryono pada Jemek Supardi.

Baca juga:  Tetaplah Berjarak Agar Kau Tegak (10)

“Mbok biar saja, dia sedang butuh,” jawab Jemek sambil membenahi segelintir rambut gimbalnya.

“Heheheh…” Pinisepuh TBY, Purwadmadi Admadipurwa, terkekeh.

“Besok kalau ada proyek lagi, dikasih semua ke Mukidi, biar mblenger,” tambah Sri Wintala, sastrawan Cilacap yang sedang berkunjung ke Jogja.

“Wong kok nggak paham kalau banyak seniman rebutan Danais,” kata Iman Budhi Santosa, sastrawan sepuh ini menimpali.

Kantin TBY di bawah pohon beringin menjadi ramai. Obrolan yang bermula tentang sinden, kemudian berpindah pada Mukidi. Mukidi mendadak jadi buah bibir seniman-seniman Jogja.

Tuhan mencintai Mukidi. Ada beberapa tawaran pentas, pembuatan film, dan penulisan biografi seniman-budayawan melalui Danais tidak diterimanya. Desas-desus dirinya mau dipajang menjadi Wakil Ketua Divisi Seni Pertunjukan dalam FKY juga tak dihiraukannya.

Tak ada yang tahu bahwa di sela-sela itu, dia mendapat tawaran pekerjaan pendampingan masyarakat pedesaan dari sebuah LSM. Nilainya cukup besar, meskipun pekerjaannya menguras pikiran dan tenaga.

“Mukidi sudah nggak doyan duit cilik.”

“Betul, dia sudah nggak mau berkesenian.”

“Tunggu saja, tak lama lagi dia akan ambruk.”

Sebuah rerasan di angkringan selatan pasar Kotagede membahas Mukidi. Begitulah kehidupan di Jogja, sesrawungan lebih utama ketimbang urusan duit. Di lingkungan seniman apalagi. Ngrasani adalah bumbu layaknya rempah pawah yang menghangatkan dan menyedapkan. Tapi, apa arti sesrawungan jika sehari-hari tak ada uang di tangan. Itu tabu bagi Mukidi. Prinsipnya dia akan berkesenian jika memang sudah mantap secara ekonomi. Dia tidak ingin kesenian dijadikan tempat utama mencari penghidupan. Mukidi pun beralih bidang. Masa depan gemilang yang ditatapnya cukup cerah.

Tuhan mencintai Mukidi. Caranya bermacam-macam, mulai dari nasib baik sampai cobaan-cobaan. Selama ini dia telah membuktikan sebagai laki-laki tangguh. Tapi, tidak untuk cobaan satu ini. Begini.

Baca juga:  Untuk Sebuah Roman Picisan

Anak ragilnya yang duduk di SMP stres. Penyebabnya, beberapa minggu ini dia dibuli teman-teman sekolah. Gara-gara cerita-cerita konyol di media sosial tentang tokoh bernama Mukidi. Cerita begitu santer, di-copy paste sana-sini, dan mashur. Fatal, dia ketahuan bahwa nama bapaknya sama dengan tokoh konyol ini.

Tak selesai di sekolah, teman-teman di kampung juga meledeknya, sebagai “Si Anak Mukidi”. Akibatnya, dia tak mau sekolah. Sering melamun, bahkan mengigau saat tidur malam. Mukidi membawanya ke psikolog. Sarannya adalah membawanya RSJ Pakem agar segera tertangani.

Mukidi berkali-kali izin kerja. Ini tak baik baginya. Mukidi jadi pendiam. Tanpa sepengetahuan istri dan anakanak, dia kadang berjalan sendirian tanpa alas kaki. Tak jelas mau ke mana.

Angin kemarau menciptakan dingin. Sesekali hujan mengguyur. Sampai cerita ini ditulis, Mukidi kadang tak pulang. Sementara, teman-teman seniman tak lagi membicarakannya. Tapi tetap saja masih seperti dulu, ada yang rebutan Danais; ada yang menolak; ada yang pura-pura tak mau. Ada seniman yang karyanya ngomong melulu. Ada budayawan yang tak peduli. Dan sebagainya.

Jogja seperti tamansari yang menguarkan bermacam aroma kembang dan bau-bauan. Sesekali orang gila masuk di dalamnya. Entah, siapa namanya. ❑-k

Gunungkidul, 2016
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hasta Indriyana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” edisi Minggu, 4 September 2016