Perawan Emas

Karya . Dikliping tanggal 12 September 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
BERAPA harga tubuh seorang perempuan jika harus menikah atas nama harta atau balas budi? Jika pernikahan dilakukan atas dasar perjodohan, apakah akan tetap bahagia sepanjang usia? Setidaknya kini aku tahu, harga seorang perempuan itu tidak ternilai. Meskipun ia bagai seekor burung berkaki indah, berbulu cerah, di dalam sangkar emas. Cerita tentang perjodohan begitu banyak terjadi.

Sejak takbir pertama Maghrib, seluruh penghuni rumah besar ini bersiap melaksanakan salat berjamaah, di musala keluarga yang terletak di kebun belakang. Angin senja menyeruakkan aroma kenanga, melati dan sedap malam di sudut teras, juga dari gazebo yang menaungi jarak dari rumah induk ke musala. Mas Setyo, kepala keluarga mengimami. Usai salat, kembali kami masuk kamar masing-masing dan segera berganti pakaian. Sanggul modern dan melati pesanan sudah kusematkan dengan kuat. Segera aku keluar dari kamar dan menanti siapnya seluruh keluarga besar berangkat ke pesta. Aku tak ingin melihat Mbak Hara begitu cerewet dalam mengawasi setiap penampilanku. Ajang ke pesta, entah resepsi pernikahan atau syukuran, adalah ajang pamer kekayaan, menurutku. Untuk hal itulah Mbak Hara selalu cerewet: perempuan, harga diri!

Mbak Hara terlihat gusar. Ia melangkah mondar-mandir sambil memencet-mencet nomor telepon, menelepon adik-adiknya yang tinggal di wilayah lain agar segera bersiap-siap. Resepsi pernikahan keponakan sepupunya akan segera digelar di sebuah hotel berbintang lima. Semua adik-adiknya diberi perintah (kukatakan perintah) untuk berseragam kebaya marun dengan payet di bagian leher. Perintah selanjutnya, jangan lupa siapkan amplop dengan jumlah uang sekian dan sekian, jangan bikin malu keluarga besar, pakai baju yanng kemarin dibelikan di butik ini dan butik itu, jangan pupoa perhiasan ini dan itu dipakai. Intinya, jangan membuat malu keluarga.

Aku menunggu dengan sabar. Kulihat tas mewah untuk pesta serta perhiasan sudah memenuhi pergelangan tangannya. Sebuah berlian besar yang dibelinya di Itali melingkari dadanya. Indah dan mewah berkilauan. Mabk Hara menatapku lagi dan lagi, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sanggulku pun ikut diperiksanya juga leher, tangan dan kaki. Ia hendak memastikan apakah aku telah berdandan sesuai dengan penampilan seorang aristokrat . Puihh! Demi kemiskinan yang kuwarisi turun temurun, inilah aku dalam kepahitan abadi.

Langkah suamiku terdengar, suara langkah yang tidak harmonis antara kaki kanan dan kiri. Kulihat ia menyembul dari balik kamar, berjas hitam, berdasi merah dan sepatu hadiah dari sang kakak, Hara Setyo Adi ketika ia sekeluarga bertamasya ke Paris.

Baca juga:  Perburuan di Pekuburan

Ya, suamiku adalah adik kesayangannya, adiknya yang kurang waras diumpankannya padaku yang ingin mengakhiri kemiskinan. Puihh! Biaya rumah tangga kami ditanggung seluruhnya oleh Mbak Hara, si sulung keluarga besar keturunan bangsawan Sumenep. Begitu pun rumah keluargaku di desa yang sudah reyot dan ‘bukan rumah’ katanya, dihancurkan dan disulapnya menjadi rumah mewah berdinding beton dan bermodel masa kini, “model Spanyol” katanya.

“Tin, bagaimana penampilanku? Keren? Keren kan?” Mas Adi mematut-matut diri di depanku.

Sumpah demi Tuhan aku tetap melihatnya aneh. Giginya yang rusak dan kepalanya yang selalu bergoyang-goyang mendongak ke atas tanpa kontrol, mana mungkin bisa kubilang keren? Sudah dua tahun aku hidup dalam kemewhan, kemanjaan darinya dan dari keluarga besar, belum ada tanda-tanda aku merasa jatuh cinta padanya!

“Keren, ganteng Mas! Sini, duduk di dekatku!” Aku menyilakannya duduk di sampingku.

Mbak Hara tersenyum puas, senang melihat adiknya diperlakukan mesra. Ia kerap mengatakan padaku, pelayananku yang baik, adiknya akan berangsur-angsur normal kembali. Kuanggukkan saja kepalaku saat itu demi bujukan untuk mengangkat nasib keluargaku dari kemelaratan.

“Ayo, kita berangkat! Ingat, jangan bikin malu! Smeua harus menyapa kerabat. Ingat, ini pertemuan silaturahmi dalam bentuk resepsi pernikahan,” Ujarnya sambil membetulkan tasnya dan memeriksa amplop. Mulutnya tak henti mengeluarkan kata ‘ingat.’

“Ini amplopmu, tin!”

Ia serahkan sebuah amplop putih. Kubuka isinya, Rp 500 ribu untuk tanda kasih bagi pengantin. Jumlah yang luar biasa dibandingkan dengan selamatan ala kadarnya di desaku. Desa yang dihuni keluarga miskin, keluarga nelayan.

“Ingat! Kasih tulisan ‘Dari keluarga Permadi dan Martinah’ begitu!”

Aku mengangguk seraya mencari pulpen sambil berjalan menuju mobil.

Mbak Hara dan Mas Setyo duduk di depan, Mas Permadi dan aku duduk di belakang. Ia menggenggam tanganku. Aku dibuatnya repot, sementara aku harus menuliskan ucapan selamat dan tanda tangan pada amplop.

“Sebentar Mas, aku menulis ucapan dulu.”

Ia lepas tanganku sambil memandang keluar. Kepalanya bergoyang-goyang  seperti biasanya. KAdang mengeluarkan suara hentakan entah apa. Tak begitu jelas. Kadang seperti bergumam sesuatu, juga tak jelas.

“Sudah ditulis, Tin?”

“Sudah, Mbak.”

Mbak Hara segera mematikan lampu, mobil segera melaju menembus kepekatan Jakarta.

Baca juga:  Burung Nazar

Kembali tangan Mas Permadi mencari tanganku. Ia tak pernah bisa melepas tanganku jika sedang duduk berdampingan seperti ini.

Suasana begitu tertib terjaga. Mbak Hara perempuan yang baik sebenarnya. Ia menyayangi seluruh keluarga dengan tulus dan penuh tanggung jaab. Suaminya pejabat di sebuah instansi pemerintah. Hidupnya begitu berkelimpahan harta. Setiap tahun ia selalu mengajak adik-adiknya melakukan umrah bersama. Sepanjang tahun ia bisa beberapa kali berlibur di luar negeri. Bagiku, seakan-akan Mbak Hara tak akan pernah jatuh miskin. Mungkin Tuhan sudah melempar koin kaya untuknya dan koin miskin untuk keluargaku.

Keluargaku memiliki warisan kemiskinan yang tidak terampunkan. Sebagai anak sulung dari tiga saudara laki-laki, aku harus bekerja keras membantu emak berjualan kue di pasar. Demi menyekolahkan adik-adikku yang katanya  mesti sekolah tinggi karena mereka anak laki-laki, aku dipaksa berhenti sekolah oleh bapak, lalu membantu berjualan kue hingga datang jodohku.

Jodoh? Bagiku jodoh tidak pernah ada. Cinta? Apalagi cinta! Aku tak pernah jatuh cinta. Cinta sama menjijikkannya dengan kemiskinan. Siapa laki-laki yang bisa menaklukkan karang hatiku? Laki-laki pedagang pisau, tukang tambal ban, tukang servis jam atau penjual petis? Laki-laki seperti itulah yang sering kutemui di pasar setiap hari. Bukan mengubah keadaan malah akan memelihara kemiskinan. Selamanya hidup kami tidak akan terangkat.

Kini lihatlah, dua pasang gelang emas berukuran besar melingkari peergelangan tanganku. Seuntai kalung emas berliontin berlian berbentuk hati menghiasi dadakui. Kebaya modern dengan payet mahal dan kain sutra melekat di tubuhku. Wajahku kian cantik, dirias perias andal, langganan Mbak Hara yang sengaja dipanggil ke rumah. Jangan tanya di mana aku tinggal: di rumah Mbak Hara! Rumah yang luasnya seperti sepuluh kali lipat besarnya daripada rumah ibu di desa. Bentu bangunan yang mewah dan bergaya Spanyol. Kamar mewah, berpendingin dan lengkap dengan kamar mandi marmer. Persis seperti yang kulihat dalam sinetron televisi. Hebat, bukan?

“Tin, siap-siap, sebentar lagi samapi,” ujar Mbak Hara memecah lamunanku.

Kubetulkan kembali kainku, kebayaku dan tas tanganku sebelum melangkah. Mas Permadi menggandeng tanganku. Berempat kami melewati para among tamu. Semua berebut hormat pada Mbak Hara dan mas Setyo suaminya, tapi tidak padaku san suamiku.

Mas Permadi berkali-kali merangkulku di suasana pesta, aku menolaknya! Ia marah dan tak terkontrol. Kubentak ia dan kusorongkan sebuah garpu tepat di depan perutnya, sekadar mengancamnya. Rambutnya yang gondrong berkilauan penuh uban, bergoyang-goyang. Demi Tuhan, aku tidak mau dibuat malu!

Baca juga:  Gerutu Hamba Negeri - Pidana Tak Kasat Mata - Pada Tuhan Tinggal Percaya - Bukan Agar Negeri Ber-mandi-ri - Mungkin Azab Adalah Jawab

Sepulang pesta aku merasa sunyi. Malam kian larut, jalanan di Jakarta masih ramai. Suamiku semakin menjadi-jadi, kepalanya mendongak-dongak tak terkontrol, ceracaunya kian tak terkendali.

“Kalau saja bukan karena Hara, aku tidak mau menikahimu!” teriaknya sambil menangis. Aku terkejut!

“Maksudmu?” kataku berbisik.

“Karena Mbak Hara membeli keluargamu dengan harta berlimpah! Akui saja! Bilang pada Mbak Hara bahwa aku belum pernah menyentuhmu! Bilang padanya bahwa kau jijik padaku.”

Dadaku berdegup turun naik, aku tidak bisa berkata apa-apa. Tanganku gemetar ingin menampar mulutnya. Lelaki tidak waras ini, suamiku ini, kata-katanya membuatku hancur!

“Apa benar Tin? Kamu tidak pernah tidur dengan Permadi?” Suara Mbak Hara terdengar dingin dan kejam.

Air mataku berjjatuhan, bibirku gemetar. Ingatanku kembali pada kamar kami: kaca rias yang ditinjunya saat aku hanya berdiam di pojok tempat tidur. Pintu lemari yang rusak ditendangnya, cakaran di punggungku yang masih membiru bekas luka, semua tergambar jelas.

“Martinah tidak mau tidur denganku, Mbak! Ia tidak mau kusentuh!”

Mas Permadi memukul-mukul wajahnya sendiri. Sesekali ia meninju-ninju jok belakang.

“Kenapa kau tidak mau, Tin? Padahal itu akan menyembuhkan Adikku. Seorang istri akan berdosa besar jika ia durhaka kepada suaminya! Kamu tidak ingat pemberianku pada keluargamu?”

Kata demi kata dan semua celotehan itu terus bergema. Sanggulku berantakan, melati terurai dan terlepas dari roncenya. Tangisku kian lepas. Aku berlari seturunnya dari mobil. Menuju kamar dan berkemas. Neraka ini harus kutinggalkan!

Maka di sinilah aku kini, bersama setiap kenangan yang kularung ke laut, bersama pasir pantai yang sesekali datang dan pergi.

Jika kalian datang ke kampungku, kalian akan bertemu denganku di pojok jalan dekat taman rekreasi Lombang, sambil melayani pembeli. Aku akan ceritakan kejadian sesungguhnya, selengkap-lengkapnya!

❑ Jatiasih, 2009-2016
Weni Suryandari: tinggal di Bekasi. Aktif di Komunitas Sastra Reboan Bulungan.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Weni Suryandari
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 11 September 2016