Rejo Malik

Karya . Dikliping tanggal 5 September 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
APA yang membuatnya berpikir aku mau mati di tempat busuk ini? Bau mesiu dan darah bercampur dengan bau pengap selokan. Lampu jalan biarpet. Pandanganku mulai kabur, juga kesadaranku yang rasa-rasanya sekabur pandanganku. Tapi luka ini masih berasa sakitnya, tepat di bagian bawah ulu hati tempat peluru ini menggigitku. Telingaku masih bisa mendengar suara derap kaki Rejo Malik. Mungkin dia, atau ada orang lain?
Sudah 10 bulan aku mengenal Rejo Malik. Sebenarnya dia orang yang biasa-biasa saja. Biasa nangkring di pos ronda, biasa malak yang keamanan di warung dekat kantor desa, biasa suka pamer wanita, biasa jadi rentenir gila. Di kebiasaannya yang terakhir itulah aku berkenalan dengannya.
”Rejo Malik?“ tanyaku padanya, tepat setelah dia menyelesaikan seruputan kopinya yang pertama.
Kopi di Warung Kahar memang terkenal dengan kenikmatannya kalau diseruput perlahan. Karena itu orang senang kemari.
”Siapa?“
”Saya Halman. Mas, Rejo Malik-kah?“
”Iya, kenapa?“
”Saya ada perlu sedikit, ada masalah. Kata teman saya, Resno, kalau ada masalah bisa datang ke Rejo Malik. Kenal Resno?“
”Oh… Resno. Mari, bicara di tempat lain,“ jawabnya sambil tertawa.
Aku melihat gigi putihnya berderet rapi. Perawakannya yang sedang tapi padat serta wajahnya yang bersih membuat dia terlihat sebagai orang yang ramah. Kecuali jenggot yang tumbuh tipis di dagunya, aku kira itu kurang pas dengan wajah ramah itu.
“Kurang baik membicarakan masalah di tempat makan. Di sini seruputan kopi harus dinikmati pelan-pelan,d engan tenang. sednag masalah itu tidak akan pernah bisa bikin tenang kan? Mari, kita ke rumahku saja,“ lanjutnya sambil tertawa lagi. Aku kira aku juga perlu ikut tertawa. Maka aku tertawa bersamanya.
Rumah Rejo Malik memang tidak jauh dari warung Kahar. Ada di ujung gang, sekilas aku kira rumah itu terlihat suram. Pagar luarnya tinggi, tanpa halaman. Rumah dan pagar mungkin hanya berjarak kurang dari setengah meter. Dia mempersilakanku masuk. Di ruang-tamunya tidak ada hiasan apapun. Dengan warna tembok coklat pudar, rumah ini terasa lebih suram lagi.
Rejo Malik keluar dari ruang sebelah –mungkin dapur—sambil membawa dua cangkir berisi kopi. Cangkir itu ditaruhnya di depanku karena kami duduk tanpa kursi dan menja. Sebungkus rokok dikeluarkannya dari dalam kantong celana. Dia mengambil satu batang dan mulai menghisapnya.
”Jadi, ada perlu apa?“
”Iya, begini. Tadi sudah saya perkenalkan nama saya Halman, saya temannya si Resno. Saya ada sedikit masalah. Kata Resno, Mas Rejo bisa bantu saya. Saya sedang butuh pinjam uang, sekitar lima juta rupiah, Mas.”
“Hmmm… lima juta, ya?”
”Iya, Mas.”
“Tahu syarat-syaratnya?”
”Belum?”
”Waktunya enam bulan. Uangnya kembali tambah bunga dua puluh persen. Bisa?”
”Dua puluh persen, Mas?” Nada suaraku mulai tidak pasti. Ada sedikit keraguan di sana. Hanya sedikit, hampir tidak terbaca. Rejo Malik masih saja menghisap rokoknya sambil menatap hampa ke pojok ruangan.
Aku kira sikapnya berubah. Seingatku tadi di warung dia terlihat ramah. Tapi sekarang dia agak sedikit terlihat dalam, seperti orang marah, atau licik, entahlah. Aku juga merasa aneh, kenapa aku merasa seperti itu.
”Iya, dua puluh persen. Bukan saya yang sedang ada masalah kan. Sekarang yang jadi masalah, Masnya mau atau tidak?“ jawabnya kemudian. Ada sedikit senyum yang menyungging saat dia mengatakan hal itu. Tapi menurutku arti senyum itu tidak terlalu baik. Malah dengan cara-cara yang aneh, aku merasa sedikit tersinggung karena senyumani tu. Entah kenapa, aku merasa dia melucuti ketidakmampuanku dan menghidangkannya tepat di depanku, seperti orang yang disuruh makan kotorannya sendiri. Untuk saja dia menyuguhkanku secangkir kopi.
”Baiklah. Saya terima.“
”Nah, jadi beginilah.“ Dia kembali tersenyum kemudian bertepuk tangan sekali. Kali ini aku tidak tersingugng. Tapi aku merasa seperti seekor buruan yang berhasil ditangkap. Andaikata ada harimau di sini, mungkin aku akan merasa seperti diterkam oleh harimau itu, dan andaikata aku tahu bagaimana rasanya diterkam harimau sungguhan, hal ini sepantasnya lebih menyakitkan.
Rejo Malik masuk kembali ke ruang sebelah –mungkin ruangan itu bukan hanya dapur—dan keluar dengan membawa beberapa gepok uang seratus ribuan. Ada lima gepok jumlahnya kalau aku hitung sekilas. Mungkin satunya berjumlah satu juta, ada lima berarti lima juta. Uang itu ditaruhnya di depanku, tepat di sebelah cangkir kopi yang belum aku sentuh sejak tadi.
”Waktunya diingat, enam bulan dan bunganya dua puluh persen.“
”Iya,“ jawabku.
Tidak jadi soal sebenarnya apa pun yang dikatakan Rejo Malik. Aku hanya mengatakan iya saja. Tapi dalam kepalaku kata iya juga sudah tidak ada maknanya lagi. Yang bermakna hanya masalah dan bagaimana masalah itu selesai.
Aku kira hidup jadi penulis itu bisa membuat bahagia. Dulu waktu masih sekolah aku tidak pernah tertarik untuk tahu hal lain selain menulis cerita-cerita. Rasanya jiwaku selalu berubah wajah waktu itu, dan menulis lah yang memperjelas wajahnya. Tidak terpikir, ternyata manusia juga butuh hal nyata, bukan hanya cerita.
Aku mulai kehilangan diriku. Tulisan yang aku hasilkan juga setengah-setengah, tidak berjiwa. Seringnya tidak menghasilkan apa-apa karena keburu aku hapus atau aku sobek. Sisanya jadi bangkai di tong sampah redaktur dan penerbit.
Hidup itu butuh biaya, sialnya satu-satunya hal yang tidak aku punya di dunia ini adalah biaya itu.
Enam bulan berlalu dengan cepatnya. Dengan empat bulan tambahan dari yang enam bulan itu, aku mulai tidak berselera untuk keluar rumah lagi. Sejak tiga bulan lalu Rejo Malik sudah mulai mencariku. Bukan dalam artian mencari yang baik, tapi ini lebih cenderung diniatkan untuk menggasak habis.
Aku kira dia sudah sangat marah padaku. Dia mulai menanyakan tempat tinggalku pada orang-orang. Sialnya, dia berhasil menemukan apa yang dia cari. Setiap siang, aku mengintip dari balik tirai. Rejo ada di luar, berdiri sambil menghisap rokoknya di dekat tiang listrik. Dia menungguiku di sana. Tentu saja, itu membuatku memiliki keahlian baru, aku sekarang bisa bermain peran. Aku rasa aku cukup ahli dalam hal pura-pura mati atau sedangtidak di rumah.
Rumah berukuran satu setengah are ini terasa lebih sempit lagi andaikata kau belum pernah keluar selama tiga bulan. Bukan seperti penjara, tapi lebih terasa seperti liang kuburmu sendiri. Sebenarnya, aku kira mati juga tidak jadi soal, karena hidup juga sudah tidak jelas lagi bentuknya. Aku kira, di mana saja dan kapan saja, mati akan terasa sama untukku. Tapi malam ini, dengan alasan-alasan yang tidak pasti, aku putuskan untuk pergi. Mungkin hidup dan mati saja, di mana saja dan kapan saja rasanya akan sama. Tapi aku kira aku juga harus pergi. Entah kenapa.
Di luar, semua yang ada telah dilumat warna hitam. Mungkin yang masih bergentayangan hanya hantu dan tukang ronda. Aku mengira-ngira ini waktu yang tepat untuk pergi. Aku tidak membawa apa-apa, karena yang bisa dibawa juga tidak ada. Sejenak aku berdiri di bawah lampu jalan yang redup. Ada bayangan laron yang berputar-putar mengitarinya. Rasanya sepi, dan aku merasa malam menjadi satu dengan diriku. Tiba-tiba aku merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebentar lagi, aku akan merasa tenang.
Aku mulai berjalan. Entah mengapa, ke arah timur. Santai saja, karena di malam sehitam ini aku tidak perlu lari dari apa-apa. Tidak perlu. Sampai tiba-tiba aku mendengar rentetan sumpah serapah dari arah belakang. Aku menoleh. Tepat di kegelapan ada seseorang yang berlari. Cahaya lampu jalan yang redup memunculkan wajah Rejo Malik dari dekapan malam, menjawa semua rasa kagetku. Dengan insting seorang manusia, aku tahu kedatangan Rejo Malik tidak akan berarti baik. Maka aku berlari. Entah mengapa, ke arah timur.
Rejo Malik masih merapalkan sumpah serapa yang persetan aku mengerti artinya apa. Aku terus saja berlari, dan dia terus saja mengejarku. Sejenak dia diam, tidak kudengar lagi sumpah serapahnya. Tidak lama, sumpah serapah itu digantikan dengan desingan peluru. ”Setan alas!“ teriakku. Dia menembakku. Aku ingat jalan di depan belum dipasang lampu, aku bisa sempurna berlindung dalam gelapnya malam di sana. Aku mempercepat lariku. Jantungku sudah tidak karuan lagi degupnya, juga nafasku yang sama tidak teraturnya.
Tiba-tiba aku ingin tertawa. Aku tertawa! Tawaku semakin menjadi. Untuk beberapa saat badanku terasa remuk redam. Tapi hebatnya aku merasa bebas. Aku merasa persetan dengan kematian kalau dia datang sekarang. Tawaku terus menjadi, semakin menjadi. Kemudian aku mendengar suara tembakan diikuti rasa sakit yang menohok di bagian bawah ulu hatiku. Aku ambruk.
Aku terjatuh ke dalam selokan. Aku kira aku mencium bau bangkai. Ternyata benar di sampingku ada bangkai anjing yang sudah mengembung. Kepalaku mulai pusing. Pandanganku mengabur. Bau mesiu dan darah bercampur dengan bau pengap selokan ditambah dengan bau bangkai. Lampu jalan byarpet. Aku kira, aku mendengar suara derap kaki Rejo Malik. Mungkin dia, atau ada orang lain?
Aku tertawa lagi. Tawaku semakin menjadi. Pikiranku hilang, hilang yang benar-benar hilang. aku meraung. Menangis. Hahahahaha. Apa dia di sana? Ada apa di sana?
”Ambil saja!” tiba-tiba aku berteriak.
Tapi malam tetap diam. Hanya lampu jalan terus byarpet. Juga suara jangkrik yang tiba-tiba terdengar jelas. Aku meludah satu kali ke arah kiri. [] 2015 (k)
*) Bayu Pratama: lahir di Aiq Dewa Lombok Timur, 2 Mei 1994. Belajar penulisan kreatif di Departemen Sastra Komunitas Akarpohon Mataram. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bayu Pratama
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi Minggu, 4 September 2016