Pada Sebuah Jamuan

Karya . Dikliping tanggal 29 November 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
“JADI apa yang aku harus lakukan sekarang?” 
“Tenang, Yang Mulia. Kita tak boleh gegabah.” 
“Iya, tapi jika kita tidak bergerak cepat segalanya akan bertambah buruk.” Malam dingin dan sunyi. Dua orang yang sedang dilamun gundah itu berada di taman belakang kerajaan. Di meja, dua cangkir minuman hangat beraroma rempah-rempah masih mengepulkan asap tipis. Lelaki yang dipanggil Yang Mulia, Raja Adisatva, meraih cangkir dan menghirupnya. Sementara sosok lelaki di sampingnya, Pramudya, penasihat kerajaan, juga melakukan hal serupa. 
“Tadi siang aku mendapat kabar dari telik sandi bahwa Gubernur Awar-Awar sedang merencakan pemberontakan. Ia merasa keberatan dengan pemberlakuan aturan pajak yang baru,” tutur Raja Adisatva. 
“Sejak dulu mereka memang alot, Yang Mulia.” 
“Bahkan kudengar kabar mereka telah menentukan hari penyerangan. Pertanyaanku, apakah perlu kita serang dulu sebelum mereka menyerang?” 
“Rasanya tidak perlu, Yang Mulia. Kita harus tunjukkan bahwa kita masih memegang ajaran luhur: tak akan menyerang jika tidak diserang.” 
“Hmm.. baiklah. Lalu apa usulmu?” 
Pramudya diam sejenak. Ia pandangi cangkir di depannya.  
“Menurut saya, ada baiknya Yang Mulia mengundang Gubernur Awar-Awar makan siang di kerajaan, di taman belakang ini. Sambil menikmati keindahan taman dan berbincang ringan.” 
“Kamu sudah gila?! Jelas-jelas ia telah merencanakan pemberontakan, mana mungkin aku mengundang musuh masuk ke kerajaanku?” 
“Tenang, Yang Mulia. Makan siang bersama dan tidak menunjukkan permusuhan adalah strategi terbaik. Ia akan merasa dihargai dan dimanusiakan. Itu menguntungkan kita. Tidak perlu ada pertikaian, tidak ada darah tertumpah.” 
Mendengar jawaban penasihatnya, Raja Adisatva terdiam. Ia berpikir baik juga usulan itu. Ketegangan harus diredakan, dan makan siang adalah salah satu cara meredakan ketegangan. 
Maka, keesokan harinya, undangan makan siang dari Raja Adisatva telah sampai di tangan Gubernur AwarAwar. Semula Gubernur Awar-Awar menaruh curiga pada undangan itu. Tapi orang-orang kepercayaannya, yang selalu memasok informasi penting dan terpercaya, mengatakan bahwa undangan itu aman, mereka tidak mencium gelagat buruk. 
***
Raja Adisatva masih ingat, Awar-Awar adalah daerah yang paling susah ditaklukkan. Awar-Awar adalah daerah terakhir yang bergabung dengan Kerajaan Pasir Angin yang dipimpin Raja Adisatva. Perlawanan rakyat Awar-Awar begitu gigih. Pasukan Pasir Angin nyaris putus asa, sampai akhirnya mereka menemukan cara yang ampuh: adu domba. Perang saudara di Awar-Awar tak dapat dielakkan. Pasukan Pasir Angin dengan mudah menaklukkan Awar-Awar. 
Hari yang dinanti telah tiba. Putra Rama, Gubernur Awar-Awar, tiba di gerbang Kerajaan Pasir Angin. Raut wajahnya cerah, bahkan penuh senyum. Ia disambut langsung Raja Adisatva. Keduanya berpelukan cukup lama. Kemudian menuju taman belakang kerajaan. Di meja makan telah terhidang sejumlah hidangan. Raja Adisatva yang gemar makan ikan menyajikan ikan nila bakar untuk makan siang kali ini. Ia bisa saja menyajikan gurami bakar atau kambing guling atau ayam kuning, tapi ikan nila yang dipelihara di kolam kerajaan sungguh memiliki rasa gurih yang tiada banding. 
“Setelah makan, tepat kiranya jika kita menghirup kopi. Ini kopi terbaik yang dibawakan sahabatku, seorang raja dari Negeri Tenggara. Minuman ini baru pertama kali kuhidangkan di sini.” 
Gubernur Awar-Awar merasa tersanjung. Ia tak lupa memuji kelezatan nila bakar yang jadi menu santap siang kali ini. Ia memberi jempol untuk selera lidah raja. 
Keduanya berbincang hangat hingga hari hampir senja. Suasana taman kerajaan memang melenakan. Gubernur Awar-Awar seolah lupa telah menyiapkan pemberontakan dan Raja Adisatva tak lagi merasa terancam. 
Nyatanya setelah hari itu semua berjalan baikbaik saja. Kabar pemberontakan tak lagi terdengar. Hubungan Awar-Awar dan Pasir Angin kembali membaik. 
***
Lain hari Raja Adisatva mendapat kabar pergerakan mencurigakan Pasukan Gardatama, pasukan khusus pengawal raja. Ia mendapat informasi jika pasukan Gardatama sedang menyusun rencana kudeta. Konon, mereka akan menunggangi maraknya aksi protes warga belakangan ini. Setiap hari semakin banyak warga yang bergabung dengan aksi mogok makan di depan gerbang kerajaan. Mereka menuntut sepupu raja diadili karena diduga terlibat pembunuhan seorang pemuka agama. 
Raja segera memanggil penasihat kerajaan. 
“Yang Mulia tentu sudah tahu apa yang seharusnya dilakukan,” kata penasihat kerajaan ketika ditanya pendapatnya oleh raja. 
“Makan siang maksudmu?” 
“Tidak ada cara lain yang lebih baik dan beradab, Yang Mulia.” 
Hari itu, dapur kerajaan menjadi lebih sibuk dari hari biasanya. Hidangan istimewa sedang disiapkan. Kali ini sapi terbaik milik kerajaan disembelih dan dagingnya diolah juru masak terbaik di Pasir Angin. Seluruh Pasukan Gardatama yang jumlahnya tak terlalu banyak hadir semua siang itu. Mereka tampak menikmati hidangan yang disajikan. Sebagai penutup, raja menyuguhkan teh dengan wangi yang begitu menenangkan. Teh itu hadiah dari Raja Gangga, sahabat karibnya. 
Obrolan raja dengan Pasukan Gardatama berlangsung sangat cair. Tak ada kesan kikuk sama sekali. Raja beberapa kali mengucapkan terima kasih atas sumbangsih Pasukan Gardatama selama ini. Tanpa mereka mustahil Pasir Angin berhasil melakukan ekspansi ke negeri-negeri jauh. Pasukan Gardatama juga menyatakan janji setia kepada raja. Apakah janji itu sebuah sandiwara atau memang betul-betul tulus, tak ada yang tahu. 
Malam itu raja berangkat tidur lebih awal. Ia diserang kantuk yang sangat. Ia berangkat tidur dengan dada yang lebih lapang. Ia merasa telah berhasil menyelesaikan satu lagi masalah pelik. Lagi-lagi dengan cara sederhana, tapi tepat guna: makan siang. 
Namun, boleh jadi kali itu adalah jamuan makan siang terakhir raja. Sebab seseorang telah membubuhkan racun ke dalam cangkir teh raja. Kini, racun itu perlahan bekerja. *)
A Zakky, lahir di Ponorogo, 20 Maret 1990. Menyelesaikan studi di SPS UIN Jakarta. Cerpennya telah dimuat sejumlah media. Buku kumpulan cerpennya: Gula Kawung, Pohon Avokad dan cerita pendek lainnya (Surah, 2015)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Zakky
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 27 November 2016