Etalase

Karya . Dikliping tanggal 26 Maret 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

ORANG bilang betapa enaknya jadi aku. Tinggal difoto pakai barang-barang dagangan toko online atau daring, mengeposkannya ke media sosial, uang seketika menclok di rekeningku.

JUMLAH pengikut di akun media sosialku pun terus bertambah seti­ ap hari. Tak jarang para pengikut itu berkomentar di satu postingan, bahwa baju yang kukenakan dalam foto sangat membuat mereka ingin punya juga .Tidak hanya baju, ada dompet, tas, sepatu, aksesori, bahkan alat makan juga mandi. Aku mengulas sebuah makanan pun mereka ingin beli. Kemarin, salah satu kue jualan artis yang sedang banyak orang gan­ drung pun aku ulas.Tak menyangka, para pengikut akunku langsung memesan layanan ojek online untuk membelinya. Ar­ tisnya yang bilang sendiri kepada aku, kalau di hari yang sama dengan postinganku , kue jualannya laris manis.

Padahal, andai orang tahu, kue itu rasanya amat buruk. Aku tak mengerti ke­ napa artis-artis itu memadukan bolu dan pastry dalam satu dus kue, ditambah krim­ nya yang kadang bikin enek. Aku sekali mengajak artis itu, kalau ada kesem­ patan, menemui Bu Otang, pembuat kue bolu terenak sekota kelahiranku. Harusnya mereka tahu, lidah kita ini tidak cocok dengan rasa manis yang alakadarnya, dan kita juga cocok dengan kue dengan harga masuk akal.

Namun kalau ulasanku jujur, manajemenku bisa meradang. Mereka sudah menerima sejumlah uang untuk terus menumbuhkan citraku sebagai selebritas media sosial yang mampu merekomendasikan pemenuh kebutuhan-kebutuhan konsumen.

Orang bilang betapa enaknya jadi aku. Apa enaknya ketika kita harus sering berbohong? Beberapa hari lalu aku mengulas produk pemutih salah satu toko daring. Para pengikutku mungkin saja ada yang percaya aku pakai itu sehingga kulitku cerah terawat. Padahal mana mungkin, dari pendapatanku dari barang endorse/dukungan saja aku bisa berkunjung ke klinik perawatan termahal. Suntik putih, tanam benang di wajah, membersihkan bekas jerawat, dan sederet ritual lainnya setiap bulan aku lakukan. Tidak maalah harus keluar uang berjuta-juta rupiah, daripada harus pakai barang murah dari toko daring. Apalagi aku tidak dapat memastikan pakah produk racikan itu aman 100%?

Baca juga:  Plesetan Pantun Minggu ke-1 Februari 2016

Lain halnya dengan produk baju, manaje­ menku punya selera yang cukup baik untuk mendandani “artis”-nya. Mereka pilihkan toko-toko daring dengan wama dan model pakaian yang sedang tren. Kadang yang membuatku tak nyaman adalah produk tersebut merupakan jiplakan merek terke­ nal. Warna dan potongannya boleh jadi mirip, tetapi bahan yang dipakai kadang buat badanku gerah dan gatal. Namun, ketika fotografer andalanku memotret, aku akan memberikan kesan terbaik seolah ini pakaian kelas atas yang nyaman.

Sebentar, tadi kubilang aku ini artis? Ya sih, teman-teman di manajemen bilang aku demikian. Namun, sudah empat tahun lamanya aku tidak terlibat produk seni di industri ekshibisi. Terlalu lama untuk dise­ but sebagai artis kembali menurutku. Sejak sinetron kejar tayang yang aku bintangi tu­ run layar, wajahku hampir tak pernah lagi masuk televisi, apalagi layar lebar. Sesekali aku diundang stasiun televisi untuk program talkshowyang kadang entah membicarakan apa. Terna tidak penting, kadang, karena aku hanya perlu mengikuti per­ mainan dan tantangan yang mereka se­ diakan. Kalau ada artis utama yang sedang curhat terkait sensasinya, aku biasanya duduk di samping sebagai pendengar atau pemanis.

Kru televisi kadang meminta aku untuk berkomentar sebisaku. Di balik itu, manaje­men memperingatkan aku untuk tidak bicara sembarangan, meskipun aku ingin. Soalnya aku terlanjur punya citra sebagai artis berkepribadian apa adanya, lugu, dan tidak pernah usil dengan urusan orang. Beberapa orang mengecap aku sebagai artis salihah. Apa karena aku pernah menerima dukungan produk mukena dan hijab ya?

Konon, citra baik itu juga hadir setelah aku memiliki kekasih yang bercitra salih. Tentu saja ia dicap demikian, karena sejumlah karakter yang ia perankan adalah ustaz atau ayah yang baik. Namun hanya aku dan beberapa orang terdekatnya yang bisa membuktikan, di balik layar, ia tidak sesolih itu.

Baca juga:  BULIR-BULIR RINDU

***

EtalaseHP-ku bergetar, layar menunjukkan Emak memanggil. Buru-buru aku ambil tisu untuk membersihkan hidung yang sedang basah kuyup, dan minum segelas air. Baru saja aku mau menjawab panggilan Emak, sambungan putus.

Aku segera menelefonnya kembali.

“Assalamualaikum Emak, damang?”

“Alhamdulillah, Nenggimana?” Belum sempat menjawab, wanita kehormatanku itu lalu cerewet, “Makasih ya Neng, kiriman baju-b ajunya. lni alo-alo pada seneng teh. Makanan, kerupuk juga udah dibagi ke tetangga. Emak seneng sama gamis, kerudungnya meuni heboh, buricak buri­ nong.”

“Hehehe, iya Mak, alhamdulillah. Dipakai ya Mak buat umrah,” aku membersihkan hidungku yang meler. Semua barang yang aku kirim ialah barang endorse, yang tidak mau kupakai. Untuk keperluan jalan-jalan, atau hadir ke pesta, aku akan memakai merek-merek luar negeri atau produk de­ sainer lokal. Kecuali makanan, aku kirimkan yang memang benar-benar enak buat Emak.

“Aeh aeh, Neng teh pilek? Minum obat Neng, terus istirahat.” Aku menjawab “iya”, pelan. “Saal umrah, ada sahabat Emak pengen ikut Neng. Kasihan, masak cuma Emak saja sama sodara-sodara yang be­ rangkat. Sahabat Emak ini, kamu kenal, kok. Namanya Bu Eti. Kasihan Neng, tabungannya baru 10jutaan. Neng bisa kan tambahin?”

Sambil mengingat-ingat wajah Bu Eti, aku menyanggupi saja permintaan Emak. Keberangkatan umrahnya kali ini juga merupakan hadiah. Karena perja lanan um­ rah yang aku lakoni dua tahun lalu bersama beberapa selebritas, biro umrah ini memberi ucapan terima kasih dengan mem­ berangkatkan gratis keluargaku sebanyak lima orang. Bagiku membayarkan sisa ke­ mampuan Bu Eti bukanlah masalah.

“Ditunggu ya Neng transfernya ke Deni, Emak mau ke Bu Eti besok.Bu Eti mau cepet-cepet daftar ceunah Neng.”

Setelah menjawab salam dari Emak, sam­bungan telefon kami putus. Aku lalu mengambil HP lain yang biasanya kupakai untuk melakukan aktivitas perbankan. H P itu juga tempat aku biasa berkomunikasi dengan manajemen. Alih-alih membuka laman bank untuk transfer ke rekening Deni, adikku, aku malah melihat tulisan 19 panggilan tak terjawab. Setelah aku cek, ternyata dari Meyla, asistenku.

Baca juga:  Honeymoon untuk Stefany

Aku pun menghubunginya balik.

“Gue lagi jalan ke tempat elo. Lo macem-macem sih, Vin!” Intonasi Meyla terdengar amat tinggi, aku sedikit kaget. “Macem-macem apa?” “Gue dapet kabar dari temen wartawan, polisi masukin lo ke DPO.” Aku melirik bubuk heroin yang teronggok di meja makan, sisa sedikit yang harusnya segera kuisap habis sebelum Emak menele­ fon. HP kulepas dari tangan dan terempas di lantai. Aku berusaha merapikan heroin di meja makan untuk kubuang.

BRAK!

Pintu ruang makan tiba-tiba terbuka dan sesosok pria muncul dari baliknya. Bukan hanya sesosok, kini disusul beberapa perempuan berkaus polo.Belum habis kaget yang aku rasakan, seorang perem­ puan berambut merah ombre tergesa ma­ suk ruang makan.

“Sial gue telat,” kata Meyla berbisik.

Dua jam kediamanku digeledah, mereka menemukan stok heroin lainnya yang kusimpan di rak sikat gigi. Aku menjawab beberapa pertanyaan singkat, sebelum akhimya mereka memperlihatkan surat perintah penahanan kepada Meyla.

Sambil terisak aku meminta maaf kepada Meyla.”Bilang ke anak-anak manajemen ya Mey, gue minta maaf.”

“Gue nyesel lu gak pernah cerita. Kaiau lu ada masalah, kita selalu bisa bantu Vin,” ujar Meyla yangjuga berurai air mata.

Aku juga memintanya mengirim sejumlah uang kepada Deni.

Di mobil aku duduk di kursi belakang ke­ mudi, diapit dua petugas perempuan. Dalam hati aku mengingat sejuml ah toko daring yang sudah membayar sejumlah uang untuk postinganku selama satu bulan ke depan, yang berharap aku tetap men- jalani peranku meski sedang dalam penjara. Sebagai sebuah etalase.

[1] Disalin dari karya Gita Pratiwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 25 Maret2018