Gadis Penyair

Karya . Dikliping tanggal 5 Maret 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

HUJAN baru saja reda saat kubuka tirai jendela, tinggal sedikit gerimis.Tanah yangsempat lama kering kini basah, daun dan rerumputan tampak segar, airjernih mengalir ke selokan dari jalan hitam berkilap. Bau tanah dan mahoni menyelusup melalui lubang-lubang angin.

SAAT-SAAT hujan seperti ini mengingatkan aku pada syair-syairmu. “Sepi di luar. Sepi menekan mendesak Lurus-kaku pohonan. Tak bergerak”

Aku menangkap bayangan wajahku di kaca. Kau per­ nah berucap, wajahku khas seperti perempuan aris­ tokrat: oval sempurna, bibir merah alami, tulang pelipis sedikit menonjol dibalut kulit kencang yang halus. Waktu itu, hujan baru saja reda seperti ini. Dan kau berucap, “Saat hujan pertama turun, hiruplah udara dalam-dalam, kau akan mencium bau segar tanah basah dan pepohonan.”

Ada kesan romantis dari kalimatmu itu, jauh dari ke­ san liar, atau bahkan jalang seperti dalam puisimu yang terkenal itu. Aku tak setuju dengan penilaian beberapa rekanmu dan sejumlah kritikus bahwa puisi-puisimu itu individual is.

Buku kumpulan puisimu tak pernah bosan kubaca. Memang itulah satu-satunya peninggalan darimu un­ tukku, sebagai obat untuk meredam rindu yang kerap berhembus.Semakin kubaca puisimu, aku bukan hanya menangkap teks-teks puitis dan maknanya, melainkan kubayangkan kau sedang berbicara padaku.

Sikapmu perpaduan antara cinta dan kebebasan. Kau tipe orang yang melakukan apa yang kau mau-“Aku mau bebas dari segala,” katamu-tak peduli jika orang lain tak mau, termasuk mengutil buku di toko buku mi­ lik orang Belanda yang banyak merampok negeri ini. Mencuri dari penjajah mungkin biasa dimaafkan, apala­ gi mencuri ilmu pengetahuan, demikian kau menjawab saat aku tanyakan mengapa kau melakukan perbuatan itu. Yang tak kau terima ialah mencuri dari bangsa sendiri, itu yang biadab dan tak termaafkan. Dan aku setuju dengan jawabanmu itu.

Dalam syair lain, kau menulis puisi yang mungkin bikin orang mengira kau ini seorang sufi, yang setiap napas dan tindakannya hanya untuk Tuhan. “Dalam termangu aku masih menyebut nama-Mu,” demikian puisimu yang menggetarkan itu.

Baca juga:  Marlina

Lalu kau menulis sajak heroik menggetarkan jiwa se­ hingga orang yakin kau pejuang 45. Bagiku kau me­ mang pahlawan sesungguhnya, sosok hero yang tak perlu piagam. Monumenmu ialah karya-karyamu. Bagiku itu lebih monumental. Hingga kini sajak-sajak­ mu masih dibacakan di kampung dan di kota, bahkan menyelinap di dalam film dan buku yang ditonton dan dibaca pelbagai generasi. Aku jadi paham syairmu ini, “Sekali berarti. Sudah itu mati.”

Pada sajak lain kau menjelma bagai kekasih kesepian dalam suatu senja di pelabuhan yang murung dan sepi, “di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali.” Kini aku merasa berada pada senja itu, tapi bukan di pelabuhan, melainkan di balik jendela yang baru saja tersiram hujan, cuma gerimis di luar. Entah apa yang kutunggu di sini, kau tak mungkin kembali. Sebab, “Gerimis mempercepat kelam.”

Aku kenal denganmu melalui pamanmu yang masyhur itu. Saat itu, sejumlah penyair berkumpul di kota ini. Pa­ manmu yang mengumpulkannya. Pamanmu dekat de­ ngan anak-anak muda seperti kita. Aku yang dinilai pal­ ing cakap mengetik, terpilih jadi juru tulis pertemuan itu.

Waktu itu, di saat orang lain sibuk, kau tampak acuh dengan rokok dan buku. Sesekali kau bergerak seenaknya, minta cerutu dari pamanmu, menggombal di hadapan perempuan. Teman-temanmu sudah mewanti-wanti aku bahwa kau penyair sekaligus per­ ayu ulung. Belakangan kabar burung mengatakan bah­ wa kau suka main perempuan malam.

Di sisi lain, cerita baik tentangmu juga berseliweran. Kau disebut penyair yang mendobrak tradisi, menulis syair-syair yang sebelumnya tak pernah diolah sas­ trawan Pujangga Baru. Bahkan kau mampu menulis syair di saat bahasa Indonesia masih belia dan keku­ rangan kosakata.

Baca juga:  Lembaran Kenangan - Membayangimu - Lambaian Jauh

Banyaknya kabar baik dan burung di seputar kehidu­ panmu justru membuat aku bertanya-tanya, apakah harus ada korelasi antara karya cemerlang dan kehi­ dupan pribadi si pembuat karya? Pertanyaan-perta­ nyaan itu menjadi awal ketertarikanku padamu; yang kala kusendiri tanpa sadar jadi lamunan.

Hingga suatu hari, hujan baru saja reda dan menyi­ sakan gerimis seperti senja ini, kau main ke rumahku. Tanpa basa-basi kau melamarku.”Aku ingin hidup dan mati bersamamu,” katamu, di hadapan aku, ibu dan ba­ pakku.

Kata-katamu itu membakar wajahku.lbu dan ba­ pakku amat terkejut, dan berkata, sebaiknya kau men­ cari pekerjaan tetap dahulu. Setelah punya penghasilan tetap, kau baru boleh kembali melamarku. Mereka ke­ mudian meninggalkan kami untuk bicara berdua.

Kata-kata orangtuaku membuatku bisu.Tapi kau tampak tenang, santai, malah.Kau lalu berjanji, bulan depan akan kembali datang bersama sebuah pesta pernikahan.

Aku tahu penghasilanmu tak seberapa, kau tak pu­ nya pekerjaan tetap, lebih banyak hidup dijalan, hing­ gap di satu tempat ke tempat lain. Orang-orang bilang hidupmu seperti gelandangan atau bohemian.

“Rumahku dari unggun-timbun sajak,” katamu, dalam puisimu. “Kemah kudirikan ketika senjakala.Di pagi terbang entah ke mana.” Atau pada puisi lain kau berkata, “Langit bersih dan puranama raya…… Sudah itu tempatku tak tentu di mana.”

Tapi aku yakin cinta akan menghidupi kita. Aku tak berpikir bahwa cinta juga perlu ditopang ekonomi. Meski tak mungkin juga anak kita nanti dikasih makan syair atau puisi. Mereka perlu baju dan sekolah, rumah tangga kita perlu beras dan rumah.Mungkin itu yang menjadi kekhawatiran orangtuaku.

Aku lalu bertanya, mengapa kau ingin hidup dan mati bersamaku? Kau cuma diam sambil memegang jar i­ jariku yang menurutmu lentik dan panjang-panjang seperti jari penari.

“Terkadang,” akhirnya kau berkata, “mati sendiri lebih menyakitkan daripada mati berdua. Kematian se­ orang istri tragedi bagi suami. Begitu ju ga sebaliknya. Sedangkan kematian sepasang suami istri itu puitis. Aku ingin kita selalu bersama termasuk saat maut tiba. Aku tidak ingin maut memisahkan kita. Maut akan tetap menyatukan kita.”

Baca juga:  Cerita Septo

“Bagaimana dengan anak-anak yang kita tinggalkan nanti?” tanyaku. Agak terkejut aku bertanya begitu, sebenarnya, menunjukkan aku berada di bawah pe­ ngaruh orangtuaku.

“Percayalah, mereka akan tetap hidup dengan cinta abadi yang kita wariskan.Karena mereka anak-anak za­ man,” ucapmu, sambil menyulut rokok putih kesukaanmu.

Di lamaran sederhana itu, kau memberiku kumpulan puisi yang tak pernah bosan kubaca. Kau pun kembali ke Jakarta. Sejak itu aku menunggumu sambil berkhayal membangun rumah tangga dengan seorang penyair.

Namun entah siapa yang berkhianat, maut ternyata lebih dulu menjemputmu. Kau “Mati muda, Yang tinggal tulang diliputi debu.” Kau meninggalkan tragedi untukku. Meski karyamu abadi bagai “kerdip lilin di kelam sunyi.”

Dan benar apa katamu, kadang kematian sendiri itu tragedi, aku harus hidup dengan kisah tragis ini sepan­ jang sisa hidupku.Setiap hujan turun, setiap hujan re­ da, setiap bau mahoni dan tanah yang menguap, aku ditemani kenangan-kenan gan singkat bersamamu.

Di luar, langit benar-benar gelap.Aku masih di sini di balik jendela. Kututup tirai itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Aku baru sadar, jari yang lentik itu kini keriput, bayangan wajahku di kaca tak lagi menarik seperti gadis aristokrat. Cuma tulang berbalut kulit, dan mungkin debu.***

Mengenang Chairil Anwar Bandung, 17 Februari 2018

[1] Disalin dari karya Iman Herdiana
{2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 4 Maret 2018