Cerita Dodit dan Rahasia Penulis Joni

Karya . Dikliping tanggal 7 Mei 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

Cerita Dodit

Dalam pengakuannya, pembunuh itu mengatakan bahwa ia sama sekali tidak berniat membunuh kawan saya, Joni. Begini pembelaannya, “Saat itu saya sedang membawa televisi dan sudah mengantongi beberapa jam tangan serta gawai dari ruang tamu korban, namun tiba-tiba korban keluar dari kamarnya, saya pun reflek dengan melepas televisi tersebut dan segera menodongkan bedil ke arahnya, namun korban malah tersenyum, korban juga menyuruh saya agar segera melepaskan tembakan ke arahnya. Saya heran, dari mana korban tahu saya membawa bedil, saya pun berusaha kabur ke arah jendela yang saya rusak, tapi saat saya mencoba kabur ia malah mengancam akan menelepon polisi dan mengatakan jika saya tidak menembaknya maka rencana masa depannya akan gagal, saya betulan dibuatnya bingung. Ancaman dari korban tidak main-main, ia juga langsung mengambil gawainya dan mengancam untuk segera menelepon polisi. Karena saya tidak punya pilihan lain, saya pun menembakkan timah panas ke arahnya.”

Saya yakin, itu hanyalah omong kosong.

Rahasia Penulis Joni

Setelah menyelesaikan seluruh tugas kantor—mengedit naskah yang akan tayang besok—saya memang terbiasa menikmati sore di taman dekat kantor alih-alih pulang ke rumah. Saya akan membaca, menghisap beberapa batang rokok, menikmati kopi hangat sambil menunggu malam, atau lebih tepatnya menunggu jalanan lenggang. Ya, ini jadi kebiasan yang menyenangkan buat saya ketimbang harus menghabiskan waktu dengan bermacet-macet di jalan. Sayang betul umur jika dihabiskan hanya untuk menikmati macet.

Kebiasan inilah yang membuat saya bertemu dengan Tuan Trout dan kesampaian untuk menjadi penulis terkenal di masa depan.

Waktu itu, tepatnya 20 Mei 2018, saya yang sedang duduk membaca di taman dikagetkan oleh suara seperti benda jatuh. Sebetulnya suara itu tidaklah terlalu berisik, tidak juga mengganggu orang lain yang berada di taman, hanya saja bunyi itu cuma berjarak satu meter di belakang bangku tempat saya duduk yang otomatis membuat menoleh.

Kondisi taman saat itu seperti biasanya, selalu sepi di hari kerja. Hanya beberapa orang yang numpang lewat dan satu penjual kopi keliling—yang ngetem di sudut taman. Oh iya, tentang Tuan Trout, awalnya saya kaget bukan main dan menganggap ia hanya halusinasi saja. Namun setelah saya mengucek mata beberapa kali barulah saya sadar bahwa itu bukan hanyalan. Tuan Trout yang kehadirannya diketahui oleh saya pun langsung mendekat sembari memberi tanda agar saya diam dengan telunjuk yang didekatkan ke bibirnya. Gerak geriknya mencurigakan sekali, ia beberapa kali menoleh untuk memastikan bahwa hanya saya yang melihatnya. Dan setelah memastikan hal tersebut barulah ia duduk di sebelah saya. Ia memperkenalkan diri dengan bahasa asing—meskipun beberapa kata awal terdengar seperti bahasa inggris tapi kata-kata selanjutnya belum pernah saya dengar sama sekali—saya membalas sebisanya dengan bahasa Inggris dan mengatakan bahwa saya tidak terlalu mahir bahasa asing dan hanya menguasai bahasa Inggris sekelebat saja. Setelahnya beliau melepas semacam headset nirkabel dari telinga kirinya dan menyuruh saya memakainya seperti ia memakai benda itu di telinga kanannya. Saya menurut dan memakainya. Setelah itu ia kembali bicara dan saya dibuat takjub bukan main dengan benda itu. Hal inilah yang membuat saya yakin akan asumsi awal saya, bahwa Tuan Trout ini adalah seorang dari masa depan.

Tentang Tuan Trout, ia adalah laki-laki dengan kisaran usia 30 sampai 40, saya tidak tahu pastinya. Ia mengaku bahwa ia adalah ilmuan amatir asal Inggris yang datang dari tahun 2108—atau 90 tahun kedepan. Perjalanannya ke tempat ini adalah ujicobanya yang berhasil dari puluhan percobaan awal yang selalu gagal. Ia senang betul. Alasan sampai di tempat ini juga katanya murni uji coba, ia memilih waktu dan tempat secara serampangan.

Setelah duapuluh menit ngobrol, ia mengatakan akan kembali ke masa depan dan meminta saya untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang alat temuannnya itu agar tidak terjadi kekacauan di masa depan. Saya bilang bahwa saya tidak akan memberitahu siapa pun asal ia mau memenuhi permintaan saya. Ia menanyakan apa permintaan saya, saya meminta agar ia membawa saya ke masa depan dan mengajak saya berkeliling selama satu jam. Ia diam beberapa jenak, lalu menyetujuinya dengan satu syarat. Katanya saya harus menuruti apa yang ia katakan dan hanya satu jam saja, tidak lebih. Saya setuju. Lalu ia mulai menunjukan mesin waktu miliknya—yang terlihat seperti tas piano—dan mulai menunjukan cara kerjanya.

Baca juga:  Lengtu Lengmua

Dalam sekejap saya sudah melesat ke masa depan, tepatnya di rumah Tuan Trout pada tahun 2108. Saya takjub bukan main, benda-benda yang dulu hanya ada di dalam film fiksi ilmiah kini saya saksikan langsung dengan mata kepala saya—komputer hologram yang keluar dari kotak kecil, robot pembersih yang berbicara dan masih banyak lagi. Saya sebetulnya tidak sabar untuk keluar berkeliling dan melihat akan seperti apa masa depan, tapi hal itu tidak jadi saya lakukan. Penyebabnya adalah ketika saya berkeliling kamar beliau—saya pikir ada sesuatu yang ganjil di kamar seorang ilmuan ini, meskipun banyak sekali piranti-piranti garib khas ilmuan saya tidak melihat sebiji pun buku. Saya pun menanyakannya, mengapa seorang ilmuan sepertinya tidak mengoleksi buku. Tuan Trout menjawab iya, namun semua buku koleksinya hanya terdapat di komputer dalam bentuk digital dan sudah langka sekali buku yang terbuat dari bubur kayu seperti milik saya yang ia lihat di taman. Saya juga menanyakan apakah sastra masih ada ditahun ini. Ia menjawab tidak tahu, ia juga menambahkan bahwa sudah lama sekali tidak membaca sastra dan mengikuti perkembangannya. Meskipun begitu, hal yang membuatnya terpengaruh untuk membuat mesin waktu adalah karena kebiasaan membaca karya sastra ilmiah sewaktu kecil, katanya.

Cerita Dodit

Mendiang Joni, penulis hebat itu adalah kawan karib saya sejak bangku kuliah dulu. Kami adalah lulusan Sastra Indonesia dari almamater yang sama. Dulu sekali, ia mengaku bahwa ia tidak bisa menulis sastra, baik prosa maupun puisi, meskipun begitu ia adalah seorang pembaca sastra yang tekun. Koleksi buku sastranya banyak betul, bahkan ia sering sekali merekomendasikan bacaan untuk saya. Pernah saya menanyakan hal tersebut kepadanya, tentu dengan modal bacaan yang mumpuni ia bisa saja menelurkan karya sastra yang bagus, tapi ia selalu menjawab bahwa ia tidak memiliki bakat mengarang maupun bersajak. Ia pernah mencoba untuk menulis tapi hasilnya selalu saja menjadi draft dan tidak pernah selesai. Saya pernah memberinya saran agar ia lebih dulu berhenti membaca dan mulai menulis, saya beranggapan bahwa ia terlalu banyak membaca karya bagus sehingga terbebani dengan hasil bacaan yang membuatnya tidak mampu menyelesaikan tulisannya. Saya juga sering memberinya buku kiat-kiat menulis, tapi ia malah menyangkal bahwa ia memang tidak punya bakat, ia menambahkan bahwa menulis itu adalah masalah bakat dan bukan perkara main-main.

Saya ingat, ia pernah berkata begini, “Semua orang tentu bisa menulis, tapi hanya sedikit orang dengan bakat menulis yang bagus. Maka itu lebih banyak buku jelek ketimbang buku yang bagus di toko buku.” Dari situ saya menyerah untuk menyuruhnya menulis, ia betul-betul keras kepala. Tapi kalian tahu sendiri bukan, bagaimana takdir dari mendiang kawan saya itu.

Rahasia Penulis Joni

Kau tahu, satu jam di masa depan tidak saya habiskan dengan berjalan-jalan, saya hanya duduk di depan komputer milik Tuan Trout tanpa beranjak sedikitpun. Lewat komputer itu, saya mencari tahu siapa saja pemenang Nobel Sastra di masa depan, membaca sekilas karya sastra masa depan, bahkan saya juga turut mencari tahu masa depan saya (asal kau tahu, mesin pencari di masa depan memang betulan canggih! Kau hanya cukup mengetik identitasmu atau hal yang ingin kau cari dan semua informasi akan muncul.) Saya bahkan tahu kapan saya akan mati, siapa nama istri saya, akan ada peristiwa apa kedepan dan masih banyak lagi. Salah satunya adalah, pada 22 Desember 2019 dini hari, seseorang akan melakukan perampokan di rumah saya saat kedua orang tua saya pergi. Saya yang ada di rumah bahkan tidak menyadari hal itu, tapi aksinya itu dilihat oleh tetangga saya saat ia hendak kabur dengan kendaraannya, lalu perampok itu menembak tetangga saya yang memergokinya. Dua hari berselang ia akan tertangkap. Gila bukan.

Baca juga:  Kabut Api

Oh iya, sebelum saya anteng di depan layar komputer Tuan Trout ini, saya lebih dulu ia berikan kacamata canggih dari masanya yang mampu menerjemahkan pelbagai bahasa asing ke bahasa ibu penggunanya.

Sebetulnya Tuan Trout tidak menyarankan saya untuk mencari tahu berbagai hal yang akan terjadi di masa depan, selain dapat menimbulkan kerusakan di masa depan hal itu juga diyakini dapat memengaruhi hidup saya kedepan. Tapi saya menyakinkannya bahwa saya ini bukanlah siapa-siapa di semesta yang luas ini dan tentu saja tidak akan menimbulkan kerusakan apa pun bagi masa depan, malah ia sendirilah yang dapat merusak masa depan dengan mesin waktu miliknya itu. Ia diam setelahnya, lalu membiarkan saya menanggung risikionya sendiri, lagipula apa yang saya katakan itu memang benar, yang dapat mengubah dan mengganti masa depan tentu saja orang yang mempunyai mesin waktu, dan bukan saya.

Cerita Dodit

Malam itu, lebih tepatnya sehari sebelum pengumuman pemenang sayembara Novel Nasional, Mendiang Joni menghubungi saya.Ia mengatakan bahwa karyanya lolos tiga besar. Saya kaget bukan main, pasalnya saya kenal betul kawan saya itu, ia bukan hanya tidak bisa menulis, ia bahkan sudah mengutuk dirinya tidak memiliki bakat menulis.

Awalnya saya menggangap itu hanya bahan candaan untuk saya karena naskah saya gugur setelah masuk sepuluh besar. Tapi ia mengirimi saya screenshot surat elektronik yang ditujukan padanya dari panitia sayembara. Saya baru yakin bahwa ia tidak sedang membual dan saya mulai memberodong berbagai umpatan padanya. Saya jengkel betul, selain naskah saya kalah, sayalah yang sejak lama menyuruhnya untuk menulis dan selalu ia tolak dengan berbagai argumen sok keren. Ia mengatakan bahwa besok pagi ia harus pergi menyusul Ibunya yang pulang kampung. Malam itu juga ia mengirimi saya naskah-naskah yang selama ini ia kerjakan untuk saya baca, termasuk naskahnya yang lolos tiga besar itu, dan bisa saya rekomendasikan untuk diterbitkan di beberapa penerbit kenalan saya.

Rahasia Penulis Joni

Oh iya, sejak membaca sastra dan masuk jurusan sastra saya memang punya ambisi untuk menulis sastra, saya ingat betul kata seorang maestro sastra yang mengatakan bahwa banyak orang yang hilang dari sejarah dan terlupakan karena tidak menulis sastra, itu betul-betul jadi motivasi bagi saya. Sialnya, saya ini tidak dilahirkan dengan bakat menulis yang bagus, saya tidak pernah bisa menulis sampai tuntas dan selalu berhenti di tengah jalan.

Kawan karib saya semasa kuliah sampai dengan sekarang, Dodit namanya, sering sekali menyuruh saya menulis dan memberikan macam-macam kiat menulis.Ia adalah orang yang meyakini bahwa karya saya pasti akan bagus. Tapi ekspektasinya kelewat tinggi, saya memang mampu menghabisakan banyak buku, tapi untuk menghasilkan tulisan, itu cerita lain. Sulit betul.

***

Cerita Dodit dan Rahasia Penulis JoniSetelah setengah jam di masa depan dan menjajal pelbagai teknologinya, saya mulai memikirkan rencana yang bisa dikatakan gila, sebetulnya ide ini awalnya hanyalah pikiran liar saja, tapi setelah saya pikirkan dengan masak dan ketimbang saya tidak menjadi apa-apa setelah saya mati, sepertinya hal gila ini memang harus saya kerjakan. Apalagi dari pencarian yang saya lakukan lewat mesin pencari Tuan Trout ini, saya mengetahui bahwa saya tidak akan melahirkan buku apa pun seumur hidup saya, bahkan saya akan mati tertabrak mobil pada umur 40 tahun. Itu kelewat mengerikan.

Baca juga:  Nasihat Sutradara - Saat waktu Terputus-Putus Lagi

Oh iya, hal gila yang saya maksud itu adalah mengambil karya-karya dari pemenang Nobel Sastra masa depan untuk saya plagiasi. Tapi akhirnya saya memutuskan hanya mengambil tiga novel saja dari seorang pengarang bernama Billy Pilgrim, tepatnya pemenang Nobel sastra di tahun 2089. Untungnya format buku digital ini dapat saya ubah ke format lama agar dapat dibuka lewat komputer saya, memang teknologi masa depan itu betulan canggih!

Awalnya saya kerepotan untuk menyimpannya di mana, untungnya gawai saya—yang bisa dikatakan jadul untuk zaman Tuan Trout—bisa dijadikan tempat penyimpanan. Ngomong-ngomong, hal ini tentu tidak diketahui Tuan Trout, ia bisa curiga pada saya.

Masalah selanjutnya adalah bahasa dalam buku yang saya bawa ini, meskipun menggunakan bahasa Inggris tapi banyak bahasa Inggris di masa depan yang tidak saya ketahui. Apalagi Tuan Trout menolak saat saya meminta kacamata canggihnya untuk oleh-oleh. Sia-sia saja rencana saya, kata saya dalam hati.

Tapi saya ini memang bernasib baik, kau ingat headset nirkabel yang diberikan oleh Tuan Trout kepada saya? Nah, ia lupa memintanya kembali saat mengembalikan saya ke masa lalu. Dan dengan bantuan alat inilah saya mampu mengalih-bahasakannya tulisan ini ke dalam bahasa saya.

Cerita Dodit

Mendiang Joni, kawan saya, meninggal pada 22 Desember 2019 dini hari—dua tahun lalu. Ia tewas karena seorang perampok yang menjarah barang-barang di rumahnya menembakan timah panas ke arahnya. Meskipun perampok itu sudah tertangkap dan dihukum, pengakuan dari perampok yang membunuhnya itu membuat saya kesal, mana ada orang yang ingin mati setelah ia tahu hari esok akan mengubah nasibnya?

Tentang Mendiang Joni, nasibnya memang buruk. Apalagi sehari setelah ia meninggal naskahnya menjadi juara satu sayembara Novel Nasional, lalu dua naskah yang ia kirim ke surel saya dan satu naskah terjemahan novel Ulysses karya James Joyce yang di garapnya laku keras dan namanya sebagai seorang sastrawan baru serta penerjemah ulung telah mendapat pengakuan publik sastra sampai hari ini. Bahkan beberapa kritikus besar mengatakan bahwa karya-karya Joni ini melampau zaman dan memberi sumbangsih yang luarbiasa untuk kesusastraan Nasional.Ia barangkali seperti Kafka, mati tanpa tahu pengaruhnya akan begitu besar bagi perkembangan sastra setelah mati.

Saya sepertinya tidak salah untuk menyuruhnya menulis sejak dulu, saya memang sudah meyakini ia akan menghasikan karya yang luar biasa. Saya pikir bukan hanya Chairil yang cocok dengan frasa sekali berarti sesudah itu mati, Joni, kawan karib saya juga cocok untuk itu.

Rahasia Penulis Joni

Bukankah hal terburuk adalah mengetahui bahwa masa depan kita akan seperti apa? Kata Tuan Trout. Saya ingat kata-katanya, ia memang betul dan itu menganggu sekali.

Saat kau tahu kau akan memiliki kematian yang tragis, kau tentu berusaha agar itu tidak terjadi. Dan itulah yang akan saya lakukan, memilih kematian saya sendiri. Saya bahkan sudah memikirkan skenario terbaik untuk hal itu. Dan tentu saja merayakan masa depan saya dengan penuh suka cita.

Jakarta, Januari 2018

Doni Ahmadi, lahir dan besar di Jakarta. Menulis cerpen dan esai. Redaktur sastra di laman Jakartabeat net dan buletin Stomata

[1] Disalin dari karya Doni Ahmadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” edisi akhir pekan 05-06 Mei 2018