Kemelun Asap

Karya . Dikliping tanggal 26 Juni 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

MENJELANG Maghrib, orang-orang yang marah itu menyiramkan bensin ke tubuhnya. Batok kepalanya yang retak terasa perih. Bensin membawa sebagian darah yang merembes dari retakan itu. Pandangannya tak lagi jelas. Ia berusaha menyeka matanya. Namun, ia gagal menggerakkan tangan kanannya.

Seseorang di antara kerumunan orang yang marah itu, ia tak tahu lagi yang mana persisnya, beberapa menit sebelumnya menghantamkan sepotong paving ke lengannya. Ia menjerit seraya memohon ampun.

Suaranya terbang ke langit tinggi. Sebelum sampai ke langit, angin telah lebih dulu menyaput suara itu. Sebelum mulutnya terkatup, seseorang lain, yang ia juga tak tahu lagi yang mana, menginjak tulang kering kaki kirinya. Terdengar derak tulang patah yang segera tenggelam dalam amuk orang ramai. Ia kembali menjerit. Sebuah jeritan yang menyayat, namun sia-sia belaka.

Orang-orang, alih-alih berhenti menimpakan penderitaan kepadanya, justru bertambah buas. Ia mendengar semacam perintah. Nyaring dan tajam menembus bunyi keributan. “Potong dulu kemaluannya!” Suara seorang perempuan.

Ia tak sempat bergidik ngeri men dengar perintah itu. Sepotong tangan yang kekar dan berotot telah lebih dulu meraih rambutnya, lantas menjambak dan menyeretnya. Orang-orang bersorak. Mereka orang-orang yang marah. Kemarahan yang, ajaibnya, membuat mereka tak ubahnya segerombolan anak yang tengah girang belaka lantaran menemukan sebuah mainan yang bisa mereka perlakukan semau mereka.

Ia kembali memohon ampun. Seseorang yang lain menyumpalkan sepatu ke dalam mulutnya yang terbuka. Napasnya tersengal dan suaranya tertelan kembali ke dalam tenggorokan. Orang yang menyeretnya berhenti setelah beberapa meter. Lantas membanting kepalanya ke aspal yang terasa panas meski senja semakin berat.

Ia merasa pandangannya gelap seketika. Lantas ribuan kunang-kunang berterbangan di sekitarnya. Ia tahu itu halusinasi belaka. Dulu, dulu sekali, sewaktu ia masih bocah, setelah ia membolos mengaji, bapaknya pernah menghadiahinya sejumlah bogem mentah di pelipis pipi kirinya, dan ia melihat kunang-kunang yang serupa.

***

Kemelun AsapPerempuan itu memasukkan segenggam batang ranting kalendra kering ke dalam mulut tungku. Tungku itu memiliki dua lubang tatakan untuk memasak di atasnya. Suaminya membuat tungku itu bertahun-tahun yang lalu, tepatnya seminggu sebelum pernikahan mereka. Delapan bulan kemudian, ketika janin dalam rahimnya baru menginjak usia empat minggu, tungku itu dipensiunkan. Pemerintah membagi-bagikan kompor gas dan tabung elpiji tiga kilo gram gratis.

“Pemerintah kali ini memang perhatian sama rakyat kecil ya,” kata suaminya waktu itu. Ia tersenyum seraya mengelus-elus perutnya yang belum tampak membuncit.

Namun, beberapa tahun kemudian, tabung elpiji tiga kilogram menjadi langka di desa mereka. Suaminya telah menjelajahi setiap warung di sana. Bahkan hingga ke desa sebelah. Namun, semua pedagang hanya menja wab lirih, “belum ada kiriman.”

Pada waktu itulah, suaminya berkata, “mungkin sudah waktunya kita menggunakan kembali tungku itu.”

Perempuan itu menggunakan sehelai kertas untuk menyulut api dari korek. Lantas menjejalkan kertas yang terbakar tersebut ke dalam mulut tungku, tepat di bawah tumpukan batang ranting kering kalendra yang ia kumpulkan dari bantaran Kali Baya. Kemelun asap mengepul dari tungku itu, menerobos melalui mulut dan lubang tatakan sebelah belakang yang tidak menyangga apa-apa.

Baca juga:  Patung Pristy

Perempuan itu meniup mulut tungku. Menghalau asap agar ia bisa memastikan bahwa api telah menyala dengan sempurna seperti yang ia ingini. Setelahnya, ia memeriksa dandang yang ia taruh di lubang tatakan sebelah depan.

“Bu…” ia mendengar suara kecil dari belakang. Ia menoleh. Anaknya mengucek-ngucek mata.

“Kau sudah bangun, Nak?”

***

Ia sedang menunggu bus sewaktu didengarnya teriakan itu. “Copet… copet…”

Ia menoleh ke sumber suara. Ia melihat sejumlah orang berlari ke arahnya. Ia tersentak. Ia menoleh ke arah sebaliknya—kanan tubuhnya, berupaya mengidentifikasi siapa yang disebut copet dan siapa yang dituju oleh sejumlah orang yang kelihatan marah itu.

Ia melihat orang-orang di sisi kanannya itu juga menatapnya. Ia rikuh. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dalam kebingungan itu, ia mendapati dirinya tiba-tiba telah berlari.

Ia baru berlari sejauh empat puluh meter ketika kaki kanannya terantuk sesuatu. Kaki kirinya sendiri. Ia terjerembap dengan wajah lebih dulu membentur paving. Ia berupaya bangkit. Dan, pada saat itulah, kerumunan orang-orang marah telah sampai di tempatnya jatuh. Mengerubungnya. Lantas seseorang menendangnya.

“Ini copetnya!”

***

“Ibu masak apa?” bocah laki-laki berusia lima tahun itu bertanya. Ia masih mengucek-ngucek matanya. Rambutnya acak-acakan.

“Ketupat, Nak. Besok Lebaran. Nanti malam bapakmu pulang.”

Bocah itu mendekat, lantas mendusel ke pangkuannya. “Kau masih lemas?”

Bocah itu menggeleng pelan.

***

Bulu matanya lengket oleh campuran antara bensin dan darah. Ada semacam tirai yang menghalangi pandangannya. Namun, pandangannya hanya kabur, bukan buta sepenuhnya. Di balik tirai itu, melayang-layang di angkasa, tampak sesuatu yang berkilau.

Bukan kilauan yang dekat dengan warna putih, melainkan hitam. Bagaimana bisa warna hitam yang sepekat itu berkilau? Lagi pula, itu kilauan yang sungguh menyilaukan. Hampir sama mengilaukannya dengan matahari pagi. Bukan kilauan biasa.

Sesuatu itu kian mendekat ke arahnya. Ia berupaya berteriak meminta tolong. Namun, suaranya sudah habis. Yang meluncur dari tenggorokannya hanya desisan pendek. Sesuatu itu kian mendekat. Semakin dekat.

Langit belum sepenuhnya gelap. Dan sesuatu yang kegelapannya melebihi kekelaman malam yang paling kelam itu, sesuatu yang kekelamannya menyilaukan itu, tampak semakin jelas lagi; merentangkan sepasang sayap yang terlihat kokoh dan perkasa.

“Ia akan menolongku dari kesalahpahaman ini,” yakinnya.

Ia mengira sesuatu itu akan mengusir orang-orang marah tersebut. Semakin dekat sesuatu itu, semakin jelaslah bahwa sesuatu itu memiliki ukuran yang luar biasa besar. Sebegitu besar hingga rasa-rasanya ia sanggup menutupi seantero bumi dengan bentangan sayapnya.

Baca juga:  Lolong Kematian

“Tolong aku,” ia kembali mendesis.

“Bakar! Bakar!” ia mendengar teriakan.

“Nyalakan! Nyalakan!”

***

“Bapak sudah tidak jadi banci, kan Bu?” bocah kecil itu mengangkat kepalanya.

Ibunya tersenyum kecil. “Bapakmu tidak pernah menjadi banci.”

“Tapi orang-orang bilang…”

“Sudah berkali-kali Ibu bilang, bapakmu bukan banci. Bapakmu wedhokan, ia sekadar memerankan tokoh perempuan dalam ludruk.”

“Tapi, kata orang-orang, bapak sekarang tidak main ludruk. Bapak jadi banci di Surabaya.”

“Tidak, Nak. Bapakmu ngamen ludruk di kota. Dia main ludruk garingan. Sendirian. Dan, dia paling ahli jadi Simboknya Sarip Tambak Oso.”

“Bapak banci, ya?”

“Bukan, Nak. Nanti kau akan mengerti. Sudah, kau makan dulu ya… biar tipesnya tidak kambuh. Besok kan Lebaran. Ayo, Ibu juga mau buka puasa. Sudah Maghrib.”

***

Ia tidak mengerti kenapa kerumunan orang yang marah itu seperti tidak terusik dengan kehadiran sesuatu yang begitu besar dan berwarna hitam kelam dan menyilaukan tersebut. Mereka terus menghajarnya, melempari tubuhnya dengan batu dan potongan paving. Menendang dan memukul. Menjambak dan meludahi. Sementara seseorang, samar-samar, ia lihat menyalakan korek gas.

Ia juga tak tahu apa yang salah. Terminal ramai seperti biasanya pada musim mudik seperti sekarang. Ia menunggu bis yang masih menyisakan tempat duduk yang akan membawanya menemui istri dan anak semata wa yangnya. Dan tiba-tiba, dengan cepat, ia telah berada dalam situasi ini.

“Sudah tiba waktunya,” ia mendengar suara. Bukan teriakan. Bukan dengan nada kemarahan. Suara itu lembut dan lebih seperti bisikan. Berat dan dalam. Dan bergema begitu saja di liang kupingnya.

“Apa maksudnya?” ia berdesis.

Sesuatu berwarna hitam pekat dan berkilau di depannya telah begitu dekat, menembus kerumunan orang-orang, lantas merangkulnya, meling kupkan sepasang sayap berukuran kolosal itu ke tubuhnya. Ia merasakan tubuhnya yang telah hancur kian lemah. Semakin payah.

***

“Ibu, ada kepala orang,” ujar si anak seraya menatap kemelun asap yang keluar dari lubang tatakan belakang tungku. Ibunya menoleh.

“Mana?”

“Itu,” si anak menunjuk apa yang ditatapnya.

“Tidak ada apa-apa. Cuma ke melun asap. Kau masih demam ya?”

Si anak bergidik. Keringat dingin mengalir dari keningnya.

***

“Kau akan dibakar di neraka jahanam kalau tidak mau mengaji,” kata bapaknya dulu, puluhan tahun yang telah lampau sewaktu memer gokinya membolos mengaji dan malah pergi ke kampung sebelah untuk menonton ludruk.

“Ludruk kan mulainya malam. Kalau kau mau nonton, kau bisa mengaji dulu,” tambah bapaknya, masih dengan mata merah. Ia sudah empat kali menerima bogem mentah bapaknya.

“Aku takut tidak kebagian tempat di depan,” katanya terisak.

“Lagi pula kau masih kecil. Kau tidak seharusnya nonton ludruk dan pulang dini hari!”

Baca juga:  Azan Menenggelamkan Tanah Keras

“Tapi…” sebuah pukulan mendarat tepat di bibirnya, membuat kalimatnya kembali tenggelam ke dalam tenggorokan.

***

Perempuan itu meraih ponsel butut yang tergeletak di meja makan. Tak ada kabar dari suaminya. Ia memencet nomer ponsel suaminya. Tak diangkat. Mungkin masih di jalan, pikirnya. Ia mengambil bubur untuk menyuapi anaknya.

“Tadi benar-benar ada kepala Bu,” ujar si anak di sela-sela mengunyah buburnya.

“Sudah, kau makan saja biar cepat sembuh. Setelah ini minum obat,” jawabnya. Setiap kali sakit, anaknya memang rewel. Andai suaminya ada di rumah, keadaannya akan lebih mudah. Setidaknya, suaminya bisa membantunya merawat anak itu.

Namun, keadaan memang sedang tidak begitu baik. Kelompok ludruk yang diikuti suaminya vakum selama bulan puasa. Itu hal yang wajar. Tidak ada orang yang menikahkan atau menyunatkan anaknya pada bulan puasa.

Jadi, tidak ada permintaan terop untuk kelompok ludruknya. Suaminya berkata bahwa tabungan mereka tidak akan mencukupi untuk keperluan Lebaran tahun ini. “Beberapa bulan terakhir ini kan kau tahu sendiri, tanggapan ludruk nerop sedikit. Tidak seperti tahun-tahun lalu.”

Tentu saja ia tahu. Ia tahu keberadaan orkes dangdut koplo benar-benar menghancurkan bisnis ludruk. Itulah sebabnya, pada bulan puasa kali ini, suaminya pamit untuk ngamen ludruk garingan, keliling ke mana-mana. Bermain sendirian. Semacam monolog. Persis seperti yang bertahun-tahun sebelumnya dikerjakan oleh seorang legenda ludruk bernama Cak Markeso di Surabaya.

“Aku akan pulang pada malam takbiran. Selambat-lambatnya, pagi-pagi pada hari Lebaran, tepat sebelum shalat id,” pamit suaminya sebulan yang lalu.

***

“Inikah api neraka jahanam itu?” pikirnya. Sesuatu berwarna hitam itu telah sempurna memeluk tubuhnya. Tubuhnya terasa panas. Sangat panas. Ia mendengar orang-orang yang marah masih berteriak-teriak.

“Mampus kau! Mampus!”

Kemelun asap bergulung-gulung ke langit tinggi. Terus ke atas. Terus.

***

“Kau mau kemana? Buburmu belum habis,” perempuan itu meneriaki anaknya yang lari ke dapur. Ia menyusul si anak. Anaknya berdiri kaku di depan tungku. “Ayo makan du…” ia gagal meneruskan kalimatnya.

Lidahnya terasa kelu begitu mendapati bagaimana dari kemelun asap yang keluar dari lubang tatakan belakang tungku, kepala suaminya muncul. Tersenyum manis. Perempuan itu mengucek-ngucek mata.

“Ibu, Ibu, itu bapak Bu,” anaknya menarik-narik ujung dasternya.

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan

[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Republika” edisi Minggu 24 Juni 2018