Surga Terjanji

Karya . Dikliping tanggal 25 Juni 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

Deretan pertanyaan naif anak-anakmu melintas-lintas, seiring dengan hiruk-pikuk yang berlarian ulang-alik di sekitarmu.

MEREKA datang pada suatu malam yang larut. Serupa perantau yang singgah sesudah menempuh perjalanan entah dari mana, entah pula hendak ke mana menuju.

Kau sedang menidurkan putri-putri kecilmu, sembari menikmati kantuk yang merambati perlahan. Selalu kau suka tahapan itu, saat rebah pada tilam saat semua anggota tubuh tak saling menahan beban. Napasmu terhembus ringan. Kau tahu napas itu akan makin teratur ritmenya, memberimu pelepasan yang menenangkan, melarutkanmu pada sesuatu. Itulah larut yang kau tunggu, yang akan melepaskanmu dari segala.

Mendadak pintu kamar terbuka, seketika merenggut detik-detik berhargamu. Larutmu ambyar, kantukmu buyar. Suamimu berdiri di ambang pintu.

’’Mereka ingin bertemu denganmu,” katanya.

Napasmu terhela panjang. Tubuhmu belum bergerak. Energi yang kau punya seolah mengambang di sekitar, bergerak lambat atau malas menghampirimu?

Sesungguhnya kau tak ingin beranjak. Inilah zona nyaman yang melegakan dan terasa berharga bagimu. Bukan sekadar tilam lembut yang menerima rebahmu, melainkan lebih karena berada di antara hangat tubuh buah hatimu. Kau ingat sang kakak ragil tadi tak bisa tidur, mengeluh kelelahan dan mengharap pijatanmu. Anak perempuan sulungmu itu bukan tukang keluh. Dengan usia belianya dia sungguh dewasa menempatkan diri. Pada kedua abangnya dia selalu patuh, sigap membantu membereskan piring mereka seusai makan dan di saat yang lain merajuk meminta dengan manis dipetikkan buah belimbing dari pohon di kebun.

Dia pula yang selalu kau andalkan menjaga adik perempuannya saat kau harus bepergian. Dia akan menjadi penjaga sekaligus pengasuh yang penyayang. Maka ketika dia mengeluh, artinya kelelahan itu telah akut. Maka kau memijat punggungnya dengan lembut, sembari mendengarnya bercerita ini itu. Lalu si bungsu sempat terbangun, merajuk manja meminta pijatan yang sama, meski langsung tertidur kembali dalam pelukanmu. Berada di antara mereka memberimu kebahagiaan yang tak terjelaskan.

’’Sudah kurebus air untuk teh, sebentar lagi mendidih.” Lagi suamimu berkata. Baiklah. Tubuhmu bergerak kemudian, suara air mencapai titik didih berdesis memanggilmu.

Kau hidangkan teh hangat untuk mereka, sembari meminta maaf karena tak ada penganan pelengkap. Stoples di dapur telah kosong sejak sore, isinya tandas oleh anak-anakmu. Para pesinggah itu tentu memaafkanmu, dan menerima harapanmu bahwa minuman itu akan cukup menghangatkan, menepis udara malam larut jelang dini hari. Lalu mereka memintamu duduk.

’’Telah lama kalian menjadi keluarga yang terpilih,” demikian salah seorang di antara mereka berbicara. Matanya menatapmu lurus, memberimu semacam pertanda untuk dipatuhi, mengarahkanmu pada sesuatu. Kau menunduk, serupa gerak menghindar yang santun. Entah bagaimana nalurimu menafsirkan bahwa kepatuhan yang mereka inginkan bukan patuh yang sama yang kau harapkan saat kau inginkan anak-anakmu melakukan sesuatu.

’’Telah tiba saatnya, tidak perlu ditunda lebih lama lagi,” lanjutnya.

’’Anak-anak masih kecil, kami ingin lebih lama bersama mereka,” jawabmu lirih.

’’Astaga, mengapa berpikir begitu? Kalian tidak akan pernah berpisah, justru kalian akan selamanya bersama di sana dengan segala kemuliaannya,” sergahnya cepat. Kau masih menunduk. ’’Sepertinya niat kalian melemah.”

Baca juga:  Kembang Pepaya

’’Rupanya masa penundaan justru melemahkan hati kalian, tidak menjadi masa persiapan yang meneguhkan tekad,” sambung seorang yang lain di antara mereka. ’’Sebaiknya kalian bersegera, tidak ada yang perlu ditunggu lagi, segala persiapan telah siap.”

Kau tercekat. Mendadak gemetar. Bukan karena suhu udara yang menurun seiring dini hari, melainkan karena sesuatu yang seolah menggiringmu pada sudut yang buntu. Kau berada pada ruang yang adalah rumahmu sendiri. Lantai di mana telapak kakimu berpijak adalah lantai yang terawat, yang kau sapu dan basuh setiap hari. Itulah lantai yang kalian pakai berbaring saat hari demikian panas. Lantai yang menerima remah-remah penganan saat kalian sekeluarga berbagi kudapan.

Pada jendela di ruang itu kau pasang tirai berwarna pastel, yang kau tafsir sebagai warna musim semi, yang akan menyambut keluargamu dengan semangat musim tumbuh itu setiap kali kalian kembali ke rumah. Si kecil bungsumu menambahkan bungabunga plastik pada vas di meja.

’’Supaya seperti berada di taman bunga,” begitu katanya saat ayahnya bertanya.

Tapi kini alih-alih serasa berada di taman, kau justru kehilangan matahari di rumahmu sendiri. Mereka menempatkanmu pada sudut tanpa cahaya.

’’Tapi …. ,” ucapanmu terhenti. Kau berusaha mencari kata-kata yang tepat, yang akan berbaris sebagai kalimat yang pas untuk menjelaskan perasaan dan pertimbanganmu. Bahwa sesungguhnya belum kau temukan pengantar yang tepat untuk anak-anakmu, yang akan membuat mereka mengerti dan patuh dengan ikhlas atas rencana orang tuanya. Sungguh kau tahu anakanakmu adalah anak yang patuh, namun kepatuhan tidak selalu beserta ikhlas. Itulah yang ingin kau lengkapkan bagi anak-anakmu.

Adalah sulungmu yang menampakkan keraguan itu pada mulanya. ’’Sungguhkah yang terjanji itu, Ibu?” dia bertanya pada suatu hari. ’’Haruskah kita melakukannya?” Sebuah pertanyaan yang membuatmu gagap seketika.

’’Mengapa Nak?”

’’Betul kita akan tetap bersama di sana? Sungguh kita tidak akan berada di tempat yang berbeda dan segera saling menemukan kembali?”

Lidahmu kelu. Hati kecilmu tak mengelak bahwa pertanyaan serupa itu pernah melintasimu pada suatu ketika. Tersimpan jauh di dalam dirimu.

’’Kau bimbang?”

’’Entahlah, Bu,” sulungmu menunduk, suaranya bernada rendah, ’’Aku tidak ingin berpisah dengan Ibu, dengan adik-adik.”

Kau terdiam. Sebentar kemudian kepala sulungmu terangkat tegak, tampak sigap mengendalikan bimbangnya, ’’Aku akan tetap patuh pada Ayah.”

Kau mengangguk. Ingin lenganmu terulur memeluknya, entah demi memberinya keyakinan atau justru berbagi kebimbangan. Namun sebelum lenganmu bergerak, mendadak sulungmu yang beranjak remaja itu menghambur pada punggungmu.

’’Tapi terutama aku patuh padamu, Ibu,” isaknya nyaris tanpa suara. Maka keteguhan niatmu pada yang terjanji itu hilang seketika.

Sebuah batuk kecil terdengar, membuyarkan ingatanmu, sebuah isyarat yang berhasil mengembalikan perhatianmu.

’’Saya…,” bibirmu bergetar, lagi menghentikan kalimatmu.

’’Tidak ada lagi yang perlu dirundingkan,” mendadak suamimu berkata, memegang kuat bahumu. ’’Kami akan segera melaksanakannya sesuai rencana semula.”

’’Syukurlah.” Para pesinggah seketika mengucap syukur. Menarik napas dengan kelegaan penuh, menandaskan teh terhidang yang telah dingin dan pamit kemudian. Rumahmu senyap sesudah itu. Larut malam telah beralih menjadi dini hari dengan langit yang masih gelap. Pagi yang bercahaya masih akan lama datang tapi rasa kantukmu tak lagi tersisa.

Baca juga:  Kredit Janda

***

Hari ini adalah sebuah akhir pekan. Kau tak tahu bagaimana menafsirkan hari ini. Sejak siang kau memasak beragam lauk. Kau hidangkan segala yang disuka putra-putrimu selama ini. Sulungmu suka kuah rawon dengan potongan kentang dan tauge yang direbus. Adiknya memilih sayur bayam bening dengan jagung manis yang tidak disisir, melainkan disajikan utuh dengan bonggolnya. Selera ini adalah warisanmu. Persis sepertimu, dia akan menyesap berulang-ulang sari yang manis dari bonggol itu.

Sepanjang hari itu kau sibuk di dapur, dan keempat anakmu membantu sembari bercanda dengan seru. Kau tersenyum pada suamimu yang memperhatikan kalian semua di antara kesibukannya menyelesaikan sesuatu.

Lalu selepas senja kalian makan bersama. Kedua putri kecilmu sudah pandai makan sendiri dengan rapi. Andai ada sisa makanan tercecer, mereka akan sigap membersihkannya tanpa menunggu teguran. Tapi malam itu kau ingin menyuapi mereka. Sebuah keinginan yang entah dari mana datangnya. Kau siapkan sepiring nasi untuk mereka berdua.

’’Mari Ibu suapi kalian,” katamu, ’’seperti saat kalian balita dulu.”

’’Mauuuuuuuuu…,” seru putri-putri kecilmu bahagia, ’’Aku akan makan banyak sekali, Bu.”

’’Tapi tidak boleh kekenyangan, sakit perut kalian nanti.”

’’Dipijat saja dengan minyak serehnya Ayah, segera sembuh,” sergah si bungsu dengan yakin. Keyakinan yang membuat mereka makan dengan lahap. Bergantian kau suapi mulut-mulut mungil yang bersemangat itu, membuat dua kali kau tambahkan nasi dan lauknya.

’’Sangat enak kuahnya, Bu,” kata kakak si bungsu,”Sesampai di sana nanti aku ingin disuapi seperti ini lagi. Ibu mau kan?” Gerak tanganmu berhenti mendadak. Sesuap nasi terhenti dalam posisi di atas piring.

’’Di sana juga tumbuh kentang dan bumbu rawon?”

’’Di sana?” Sendok dalam genggamanmu masih mengapung di udara.

’’Hais, di sana yang ada hanyalah kemuliaan belaka. Akan tertinggal segala lapar dan nafsu yang fana ini…,” jawab suamimu yang mendadak melintas ruang.

’’Tidak ada lapar?” anakmu bertanya dalam bisik, ’’tapi tetap boleh makan ya Bu?”

’’Boleh Nak, boleh …. ,” kau mengiakan.

Mendadak terdengar lirih napas anakmu dalam tidurnya. Kenangan tentang makan bersama semalam itu berhenti. Kau tersenyum menatap sepasang wajah mungil yang lelap itu, erat mereka mendekapmu.

’’Masih ngantuk, apakah kita harus segera berangkat?” seorang di antaranya bertanya dengan mata terpejam. Kau tercenung, hatimu serasa dihantam.

’’Pelukan Ibu hangat,” lagi anakmu bergumam.

’’Karena Ibu sayang padamu, Nak.”

’’Ibu akan terus memelukku di sana nanti?”

’’Tentu saja, selamanya, di mana pun,” jawabmu mencium mereka. Betapa tak ingin kau lepaskan pelukanmu. Mereka mengatakan pelukanmu hangat, namun sesungguhnya pada merekalah kau menemukan penghangat bagi hatimu yang menggigil di kedalaman benak.

Pagi masih senyap, belum ada matahari. Dari ruang sebelah kau dengar suara-suara itu. Gerak langkah putra-putramu dan ayahnya. Gerak berbenah sebuah persiapan.

Baca juga:  Musim Gugur Hay On Wye

Kau tergeletak di pelataran. Napasmu tersengal. Beberapa jarak darimu, kedua putri kecilmu bersimbah darah dan serpihan daging. Kau ingin menggapainya, demi merengkuh mereka dalam lindunganmu, yang pernah kau punya. Tapi tubuhmu tak memiliki daya apa pun. Seluruh tubuhmu serasa kebas, atau justru pedih yang tak terperi sehingga kau tak tahu bagaimana menafsirkannya? Dalam ingatanmu seolah masih tersisa hangat telapak tangan anak-anak dalam genggamanmu sesaat lalu. Sisa celoteh mereka tersisa di ujung daun telingamu yang utuh.

’’Jangan terlalu kencang mengikatku Ibu, perutku masih penuh nasi rawon,” pinta si putri sulung saat kau mengunci ikatan dengan kuat. Sebuah permintaan yang tak bisa kau penuhi. Ikatan itu harus tertali dengan kuat, demi tak lepas yang ada dalam balutan itu.

’’Sungguh kita akan tiba di sana bersama-sama? Aku tidak akan tertinggal? Ibu akan menunggu kami?”

’’Jauhkah surga itu Ibu, berapa lama kita akan sampai…?”

Deretan pertanyaan naif anak-anakmu melintaslintas, seiring dengan hiruk-pikuk yang berlarian ulang-alik di sekitarmu. Asap berkepul memberikan pandangan yang berkabut. Matamu pula makin meredup. Pertanyaan anakmu masih saja melintas-lintas dalam kenangan yang tersisa. Pertanyaan yang acapkali menjadi pertanyaan yang mengambang tak terjawab. Dan alih-alih anak-anak itu mengejar jawabmu, melainkan justru mereka memberi kepatuhan tak bersyarat.

Napasmu makin tersengal. Entah berapa lama lagi waktumu. Kau menunggu sebuah jemputan? Gerangan siapa yang akan menjemput dan menyambutmu? Anak-anakmu, sudahkah terjemput pula?

Mendadak kau merasa betapa sendiriannya dirimu kini. Di mana gerangan para pemberi janji itu? Surga terjanji. Akankah kau miliki surga itu? Siapakah gerangan dirimu atau mereka, yang menjanjikan surga –yang bukan miliknya– pada orang lain? Andai benar surga akan teraih dengan cara yang mereka janjikan, lalu mengapa mereka tak menggapai surga bagi diri mereka sendiri?

Acapkali dikisahkan bahwa surga berada di telapak kaki ibu. Kaulah seorang ibu dengan anak-anak yang mengasihi dan patuh padamu. Kaulah seorang ibu yang mencintai mereka. Sejak mula mereka tumbuh di dalam dirimu, lahir dan besar dalam asuhanmu, tak satu kali pun terucap tegur hardikmu, senantiasa kau bimbing mereka dengan kesabaran dan kasih tiada batas. Niscaya surga ada dalam genggamanmu bukan?

Niscaya. Tapi sebuah tanya mendadak mendekatimu : ’’Layakkah surga terbuka bagi seorang ibu yang meledakkan anak-anaknya sendiri demi mencapai surga yang terjanji padanya, entah oleh siapa?”

Lagi napasmu tersengal, tak tersisa lagi udara dalam tubuhmu yang terburai. Entah bagaimana kau menafsirkan apa yang ada dalam dirimu kini, kau hanya merasa dirimu kosong belaka, hatimu hampa. ***

SANIE B. KUNCORO
Cerpenis, tinggal di Solo

[1] Disalin dari karya Sanie B. Kuncoro
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi 24 Juni 2018