Anatomi Rindu

Karya . Dikliping tanggal 16 Juli 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi

ADA sebuah rumah yang tercipta di dalam ingatan, meski telah dicoba agar tak terpeta jelas lagi. Tapi sejak hari pertama aku meninggalkannya, si rumah itu amat jelas membayang serta senantisa jadi lokasi rindu saat jaga dan saat tidur. Terus mencekaukan rindu, hingga seperti memaksa aku merindukan dan memimpikannya, meski aku memutuskan tak mengingatnya lagi, bangun tidur, olah raga, bergegas suntuk kerja serta melulu ambil lembur, hingga tubuh capek ketika pulang, dan aku melulu butuh istirahat. Tidur. Berharap tanpa disiksa rindu, tanpa mimpi, dan kalau tersesat ke mimpi berharap ada di wilayah yang tak dikenal, antah berantah.

Tapi apa mimpi bisa didesain? Tapi apa kerinduan bisa ditekan tanpa menjadi suatu kegilaan tak sadar merindukan? Rindu gentayangan bagai hantu dalam mimpi setiap malam, berulang-ulang. Di situ aku mengerti, teryata mimpi itu rindu yang ditekan, hingga semakin dipaksa memasuki lupa, ke wilayah remang, di balik ambang dilupakan dan tak lagi disadari, semakin kuat ambisinya untuk bangkit, teurtama ketika tekanan sadar untuk menghilangkannya, di alam bawah sadar itu, melemah, dan menjelma jadi mimpi perkasa. Di setiap terlelap  mimpi makin penuh dengan rindu, jadi dorongan ingin pulang, ada di rumah lagi, di kejadian di sekitar rumah lagi, dan seterusnya.

Itu membuat tidur jadi siksaan, itu membuat mimpi jadi penghujatan diri sendiri karena sengaja ingin melupakan rumah, dan itu membuat aku terjaga dengan si tubuh menggigil mandi keringat. Tersentak dengan igauan yang terteriakkan keras, sehingga sering mengagetkan orang. Untung aku masih bujangan.  Hanya sendiri di kamar kos. Menggigil tanpa suara, menangisi yang tak tergantikan itu dan terpaksa harus ditinggalkan. Karena itu semakin merindukannya, menginginkan bersigegas pulang sambil (tetap) mengerti, aku tidak mungkin pulang karena aku sudah bukan bagian dari rumah itu, hanya kenangan yang dipelihara. Aku anak pungut, dan banyak saudara yang tak menginginkan terus ada di sana, dan ikut merasa berhak atasnya. Tapi bisakah sebuah rumah hanya berkaitan dan dimiliki seseorang dalil garis waris?

***

AKU menyimpan rumah itu dalam ingatan kasih sayang ayah ibu angkat, yang kekal bagai warna merah dalam darah. Sekaligus aku mengerti, bahwa aku hanya bisa menyimpan rumah itu dalam kenangan, seperti parut luka yang tak bisa dihilangkan, dan tak selalu menunjuk pada sakit kulit dan daging terbuka yang perih berdarah dan pada peristiwa insiden luka itu, tapi menghunjam lebih dalam lagi: kenangan selamanya 28 tahun tinggal di rumah itu. Kasih sayang. Komunikasi rasa. Dan dipersubur fakta bapak dan ibu saat memikirkan, merindukan, dan ingin agar aku kembali berada di sisi mereka, meskit aku bekerja apa-apa dan tak punya penghasilan apa-apa. Mereka begitu bimbang melepaskan aku mengembara, berdiri sendiri, mandiri, dan ada di seberang. Tak bisa terlalu diatur dan melulu hanya bisa didoakan.

Baca juga:  Jumariah Edhan

Memuncak jadi fakta luka lain: bapak yang meninggal ketika aku tiga tahun di rantau, kemudian ibu menyusul empat tahun kemudian. Itu menyedihkan, dan jadi luka traumatik karena aku tidak akan bisa menunjukkan mandiri, dan tak tergantung siapapun. Meski ketika bapak meninggal aku memutuskan agar makin sering pulang — ibu yang memintai– memaksakan diri sesering mungkin bertemu ibu, meski aku tidak kuasa mengabulkan permintaannya agar membawanya ke rantau. Ketika ibu meninggal — dan secara hukum waris aku tidak bisa lagi pulang, karena tanah serta rumah itu jadi milik orang lain, orang asing, karena semua saudaraku sepakat menjualnya– aku memutuskan menetap di rantau. Putus hubungan — sekaligus rumah itu — yang diruntuhkan. Kekal dalam ingatan.

***

RUMAH itu tak lagi berujud. Rirubuhkan, dan dibangun jadi rumah baru oleh orang lain. Hinga saat sesekali pulang karena rindu jadi mimpi menggelisahkan, aku terkadang cuma bisa merokok di seberang jalan. Pilu memperhatikan rumah konkrit, yang lain membayang di balik bangunan modern yang terpancang di seberang. Rumah itu — yang tak begitu mempedulikan halaman, ngepres dengan struktur beton — perlahan jadi rumah tua gaya tahun 1950-an, seperti yang tertera dalam ingatan. Jadi rumah subjektif, yang semakin erat mencengkeram ingatan. Mendera dan bahkan jadi semacam pertanda dari kegagalan mempertahankan rumah kenangan, yang mutlak jadi milikku sendiri, manisfestasi sukses di ranatu hingga tak perlu dirisaukan apapaun, karena telah punya rumah, keluarga, dan pekerjaan mapan!

Bertahun kemudian, siksaan dan deraan itu melembut. Rumah dalam ingatan itu jadi pertanda gaib, berubah jadi sosok kasih sayang bapak dan ibu, keteduhan dan ketulusan dalam membesarkan dan mendewasakan aku, si anak pungut. Jadi bahan bakar doa, dan makin pekat hingga jadi latar  belakang doa, yang sesekali memaksa aku pulang — bila saudara menikah, serta apapun yang harus dihadiri dan tak bisa dihindari dengan alasan jarak serta ongkos — dipaksa berpura-pura mampir rumah bekas tetangga, rumah orangtua teman dan teman sebaya. Dipaksa mengenang lagi bapak dan ibu di luar ziarah kubur, dan instinktif mengawasi bekas rumah yang kekal serta tegak dalam ingatan.

Sekali aku mampir, meminta izin pemilik baru, mengambil sejumput tanah untuk ditanam di bidang tanah yang baru aku beli, serta direncanakan dibangun jadi rumah. Pemilik baru itu — usianya lebih muda tapi sukses sebagai pengusaha garmen — mengangguk, mengiyakan. Aku mengambil sejumput. Membungkus. Artifisial meminta izin bapak dan ibu dalam bayangan, pulang dengan hati lega. Karena pada dasarnya, aku tidak akan pulang lagi dan bertekad meninggal di rantau.

Baca juga:  Kungfu Hustle - Ea! - E-Money - Retreat

***

SAAT itu aku mengunting ikatan di antara aku dengan rumah itu, meski kasih sayang yang menumbuhkan aku di situ: kekal dalam ingatan. Pada dasarnya itu bukan ritual, hanya pertunjukan teater untuk menegakkan tekad mandiri dan hidup tidak tergantung apapun dan siapapun di rantau.

Utang dibawa mati, kata orang-menjadi semacam kesaksian di akhirat di hadapan Allah. Di titik itu aku semakin kuat ingin mencoba melupakan, tapi rumah semakin melekat dalam ingtan, dan perlahan menjadi detail tajam dalam kesibukan baru. Ihwaal yang tidak terlupakan. Yang bersipat onak dalam daging, yang menyiksa setiap diam dan bergerak. Saat aku menikah. Saat aku punya anak. Saat aku semakin gila mengambil banyak lembur. Bahkan karena itu, semua kebiasaan bujangan, setelah bangun tidur dan Subuh, berubah: aku semakin giat aerobik keliling kota, berharap tidak lagi terjebak dalam labirin ingatan.

Tidak bisa. Semua usaha fisikal itu hanya sia-sia, meski makin kejam menyiksa diri, karenanya aku menyerah dengan makin intensif mendoakan bapak dan ibu, malah membuat rumah itu semakin jelas membayang. Persitiwa, semua kejadian yang kecil sepele semakin tajam. Sehingga sore hari, sepulang kerja dan lembur aku menambah jatah olahraga. Bergerak agar lelah dan aku serentak beristirahat, terlelap. Bertemu orang. Bicara. Dan terus bicara bila bertemu dengan siapapun, lantas sukses sebagai salesman. Dan percaya bila itu merupakan kegiatan positif hingga jenjang karier meningkat, seiring tergat pemasaran yang segera teraih.

Tapi itu sia-sia saja. Rumah itu makin bercahaya, seperti memanggil untuk pulang. Tapi apa ada yang bisa kembali ke masa lalu, meringkuk sebagai janin atau sekdar berlama-lama sebagai bayi? Tapi apa itu tak bermaknakan aku kembali kepada orangtua biologis bukan kepada bapak dan ibu? Dan aku tahu: itu pengharapan sia-sia. Absurd sekali.

***

AKU memutuskan tak merokok, meski sejak remaja terbiasa merokok. Uang rokok disisihkan, dijadikan dana beramal atas nama bapak dan ibu. Tidak banyak, tak pernah mengganggu kesejahteraan anak dan istri. Dengan itu aku menyumbang menyokong yang sakit, membantu biaya ini itu, serta nombok mendirikan masjid kampung. Sangat memaksakan diri sebetulnya, tapi aku merasa bapak dan ibu harus punya amal yang terus mengalir selama masjid itu tegak dan semua orang kampung memanpaatkannya. Aku merasa seperti membangun rumah baru buat bapak ibu. Mungkin — dalam tinjauan setelah sekian tahun– aku ingin menempatkan bapak dan ibu di luar benak serta ingatan, di dalam sebuah masjid. Rumah para orangtuaa.

Setidaknya, sekian setelah masjid itu jadi dan diramaikan orang kampung, aku seperti melihat bapak dan ibu di sana, aku melihat sosok kasih sayang nan tulus dan bapak dan ibu tumbuh lagi. Aku datang paling dini ke majid, akupun pulang paling akhir dari masjid, hingga jadi tak banyak olah raga dan kegiatan luar rumah. Aku merasa mereka punya rumah baru meski mereka tak pernah mampir di rumah tak pernah melihat menantu dan cucunya. Tapi aku kini merasa: mereka ke luar dari ingatan, dan tumbuh besar di dalam jariyah yang diberikan atas nama mereka.

Baca juga:  Tempurung

Aku mulai bisa melupakan rumah itu. Tak sepenuhnya, karena rumah itu masih kekal dalam ingatan, tapi rindu sudah tidak pernah menjadi mimpi yang menganggu. Detailnya jadi samar, meski akan kembali eksak kalau aku rindu dan mengingat. Tapi makin sering tak berkeinginan mengingatnya lagi. Saat itu, sisa hari — karena telah pensiun –hanya dipakai buat kegiatan di masjid. Dan perlahan sadar bahwa semua rumah itu, pada dasarnya untuk dilupakan, karena memang harus ditinggalkan dan jadi milik entah siapa, yang fisik akan hancur secara fisik, karena dirancang dimanfaatkan secara fisikal, atau dirubuhkan untuk struktur bangunan fisikalistik yang baru. Semua yang fana akan hancur dan kembali jadi baru dalam kefanaannya, meski kebaruan itu menjauhkan yang inti hingga kita dikutuk hanya mengenangkan.

Aku tahu hal itu di usia enam puluh tahun. Dan ketika aku telah bertahun berjanji tidak akan pulang kampung, dan telah memastikan mati di rantau: kini rantau itu jadi kampung halaman baru. Bahkan bapak dan ibu telah dipindahkan secara rohani, dan aku mulai berpikir tidak terlalu terikat padanya. Aku harus meninggalkan rumah di rantau, masjid di rantau, serta apapun yang telah aku lakukan dengan sukses atau gagal di rantau. Dan secara batini mulai bersiap agar secara fisikal tak terkait apapun dan siapapun. Aku memutuskan pergi meski itu fisikalistik membuat aku tidak dikuburkan di tempat itu, di antara orang yang tahu, yang mengenal dengan suka atau tidak suka.

Dan aku akan memilih hari. Di saat semua orang abai dan santai , dikenyamanan dan keabaian (mereka): aku akan pergi tanpa identitas dan ingatan. Dan (tentu saja) tanpa ada tujuan karena hanya pergi sejauhnya. Aku bersengaja munju daerah asing, masuk di komuntas tidak ada yang mengenali dan bis adikenali. Raih dan dilupakan. Aku tidak ingin menjadi beban. Sampai kapanpun tak ingin jadi beban, cukup melintas saja, cukup hanya aku saja yang pernah galau memikirkan sejarah dan kaitannya.

 

2016 – 2018

Beni Setia: pengarang tinggal di Madiun.

 

 

[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” Minggu 15 Juli 2018